
...Bab 50. Keputusan dari Ketua....
Pertarungan dengan segerombolan High Zombie berhasil di menangkan oleh para Hunter meski kemenangan itu sedikit mengherankan.
"Apa kita menang?" tanya Pria mengenakan pedang dan Armor ringan.
"Apakah sudah berakhir?" tanya Pria Tanker dengan armor lengkap.
"Apakah kalian ada yang terluka? Selama kalian masih bernafas, Healer Rank A kita akan menyembuhkan kalian!" sambung Atha.
Lalu, Hunter yang berada di depan ku juga memberikan komentar nya.
"Aku tidak percaya kalau ada gerombolan High Zombie disini..."
"Kita beruntung tidak ada dari kita yang mati."
Gadis Healer yang juga penasaran dengan kejadian yang menimpanya maka dia pun bertanya kepada Atha.
"Ketua Atha!"
"Ya?" jawab Atha.
"Saat kita bertarung tadi High Zombie barusan ..."
Gadis Healer itu menceritakan semua tentang keanehan yang terjadi pada High Zombie didepan nya.
"Apa? Tiba-tiba High Zombie terlihat tercekik dan muncul goresan pada lehernya? Apakah ada kemungkinan seseorang diam-diam mengunakan sihir nya?" Atha pun mencurigai rekan nya yang seorang penyihir kutukan. "Apakah itu sihir dari mu?"
"Itu tidak mungkin dilakukan oleh skill milik ku. Aku bahkan tidak bisa menghentikan pergerakan mereka dengan sihir telekinesis ku dan kutukan ku. Selain itu, tim penyerang kita yang fokus pada daya serang memiliki assassin yang memiliki skill Stealth."
"Kakak benar, kalau ada seseorang yang melakukan nya pasti dia orang luar," sambung gadis Hunter Summoner yang melihat ku dengan tatapan tajam.
Saat melihat tatapan, aku baru tersadar bahwa dia yang seorang magic Caster atau magician pasti mengetahui keberadaan ku saat mengunakan Skill Stealth.
Menyadari itu, aku hanya tersenyum kecil.
Sesaat kemudian, para Hunter Tim B berkumpul untuk membuat rencana.
Lalu, salah satu pria Hunter bertanya kepada Atha.
"Ketua, Apakah kita lanjutkan penaklukan ini?"
Pria Hunter lain nya menyambung ucapan rekan nya, "Bukankah ini terlalu berbahaya jika dilanjutkan? Kita bahkan tidak jauh dari gerbang masuk dungeon namun, kita sudah bertemu dengan banyak Undead terutama High Zombie."
Pria dengan armor lengkap juga mengutarakan pendapatnya.
"Aku juga setuju, lebih baik kita menyusun strategi ulang di luar Dungeon dan melaporkan nya kepada Ketua Richard dan Wakil Ketua Cindy."
Atha yang penuh kebimbangan, dia pun melihat kearah depan yang mana Dungeon itu sangat gelap dan memiliki aura yang mencekam.
Melihat keraguan nya, aku pun memahami nya bahwasanya saat bekerja di Guild Garuda. Inilah kesempatannya untuk membuat bangga pemimpin nya yang merupakan Hunter Rank S dan penyerbuan hari ini mungkin akan menjadi satu-satunya waktu Atha bisa memimpin tim penyerang.
Dan, dia pun berpikir harus mundur begitu cepat dalam penaklukan pertama nya sebagai seorang pemimpin.
Siapa pun di posisinya akan tergoda untuk maju dan membersihkan tempat ini.
Namun, ini bukanlah dunia damai. Dia harus mengambil langkah cerdas dan bijaksana.
Karena didalam Dungeon ini, pilihan pemimpin adalah mutlak di dalam dungeon. Aturan tak tertulis mengatakan bahwa selama seseorang menjadi bagian dari tim penyerang, seseorang harus benar-benar mengikuti perintah pemimpin.
Sesaat kemudian, Atha menghela nafas panjang dan menutup mata nya seraya menjawab..
"Untuk saat ini. Mari kita mundur!"
Setelah mendengar perintah Atha untuk mundur, semua hunter dengan ringan menepuk dada mereka.
Gadis Healer pun tersenyum kecil dan menyindir Atha, "Aku benar-benar khawatir akan bersikeras untuk tetap pergi."
Atha pun tersenyum kecil, "Aku bukan orang yang bodoh."
"Aku tahu itu. Tapi, lihat disini, Kak! Lihat! Tangan ku yang gemetar," sambung Hunter Pria yang tidak jauh dari Atha.
Disisi lain, aku pun tersenyum lega. Lalu, aku mengambil tas dan meletakkan di punggung.
Setelah itu, kami berbalik arah dan pergi menuju gerbang. Tapi, sesaat kemudian Atha menghentikan langkah seraya mengangkat tangan kanan nya.
"Semua nya, berhenti!"
Semua Hunter pun menghentikan langkah nya seraya melihat kedepan dan mempertanyakan maksud Atha.
"Ada apa, ketua?" tanya Gadis Healer.
"Aku juga tidak tahu," jawab Atha.
Lalu, Hunter yang berada di dekat Atha merasa heran dengan gerbang yang berubah menjadi merah kristal dan tidak bisa dimasuki.
Dari pengamatan ku, gerbang tertutup oleh penghalang sihir yang cukup kuat karena proses ini sama seperti Dungeon Private. Namun, penghalang itu lebih lemah dan aku yakin ini ulah dari penyihir yang mengendalikan para Undead, sosok monster dengan kecerdasan tinggi.
Lalu, Hunter magician ada yang menyadari nya juga. "Ini penghalang sihir. Kita tidak bisa menembus nya kecuali mengalahkan penyihir yang merapalkan penghalang atau meminta nya langsung."
Sesaat kemudian, aku merasakan aura yang luar biasa dan belakang dan energi itu pun semakin besar hingga membuat Hunter yang merasakan nya muntah dan menitihkan air mata darah serta beberapa Hunter terjatuh.
"Bagaimana bisa ...?" gumam gadis Hunter Summoner seraya menahan darah yang keluar dari mulut nya.
"Ini dari aura bos Dungeon?!"
Memahami itu, kami sontak melihat kebelakang yang mana dari luar kegelapan interior dungeon, suara langkah kaki yang tak terhitung jumlahnya, jauh lebih besar dari sebelumnya, bergema dengan keras.
Yang mana, langkah kaki itu berasal dari sosok High Zombie datang kehadapan mereka dan saat aku menghitung nya ada sekitar 50 High Zombie dan satu Lich dengan jubah hitam yang compang-camping berjalan di tengah depan nya.
Aku menduga, dia monster dibawah bos mereka.
Ketegangan gugup terlihat jelas di wajah para Hunter lainnya meski mereka kurang lebih mengetahui musuh dari langkah kaki yang bergema.
Sesaat melihat jumlah High Orc yang lebih banyak, para Hunter sontak berputus asa.
"Tidak ada harapan menang," gumam Atha.
Tidak hanya Atha, terlihat dari ekpresi mereka akan menjawab hal yang sama.
Meski sebenarnya, aku bisa saja mengeluarkan pasukan bayangan dan menang melawan mereka namun, sekarang bukanlah waktu yang tepat.
Aku masih ingin memantau saja.
Tanpa ada pergerakan, Atha dan Hunter lainnya hanya memperhatikan langkah 51 High Zombie yang datang kehadapan mereka.
Meski gemetar, para Hunter memasang posisi siap bertempur dan menunggu perintah dari Atha.
"Kenapa, aku terjebak dalam situasi seperti ini ..." ngeluh Atha.
"Mengapa mereka mengejar sampai sini?" gumam Fransiska.
Memahami situasi ini, aku paham dan dapat merasakan ketidakberdayaan mereka saat ini lantaran tidak adanya satu peringkat S adalah hal yang sangat menyakitkan.
Meski begitu, Atha sebagai pemimpin tidak bisa terus meratapi kemalangannya selamanya. Dia harus membuat keputusan di sini namun ...
"Bertarung disini pasti akan mengakibatkan kematian kita. Tapi, kita tidak lagi punya pilihan dalam masalah ini."
Mendengar itu, Para Hunter bersiap dan membulat tekad untuk bertarung meski berujung kematian.
Ditengah kebimbangan nya, gadis Healer memperkuat tekad Atha, "Kak Atha, kami akan selalu bersama kakak?"
Atha yang mendengar itu, dia sontak melihat Hunter yang lainnya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya yang mana mereka menandakan siap bertarung sampai titik darah penghabisan.
Setelah itu, Atha menghunuskan pedang nya menghadap kearah depan untuk siap bertarung.
Begitu pun aku yang juga menyembunyikan tangan kanan di punggung untuk mengambil Greed dan aku juga menghibur diri dengan memikir jumlah poin pengalaman yang kudapatkan jika membunuh mereka semua.
Hal itu pun membuat ku tersenyum.
Tidak lama kemudian, sosok Lich dengan jubah hitam melangkah maju dan bergumam.
Kurerack tu sheena, wekudo araknaka.
Mendengar itu, para Hunter saling bertukar pandang.
"Ini Apa-apaan?" heran gadis Healer.
“Apakah lich itu mencoba berbicara dengan kita?” tanya Atha.
Lalu, Lich itu memegang leher nya dan merapalkan sihir.
"Manusia, selamat datang!" ucap Lich.
Saat mendengar itu, para Hunter sontak panik dan terheran-heran seraya memberikan komentar nya.
"Seorang Orc baru saja berbicara bahasa manusia!"
"Bagaimana seorang Undead bisa berbahasa Indonesia?"
"Apakah ini sihir?"
....
Mendengar itu, aku hanya bisa menghela nafas panjang lantaran para Hunter tidak bisa menjaga mulut nya pada situasi seperti ini.
"Pemimpin kami ingin bertemu dengan kalian. Ikuti aku!"
Dan, saat ini kami pun berada di situasi yang dilematik.