Second Marriage

Second Marriage
Ban 9 Masalah dalam toko



Selepas kepergian sekertaris Ken, aku terus berfikir, apakah keputusanku menolak bertemu dengan Tuan Nathan sudah benar. Menolak seseorang yang mempunyai kekuasaan dan kejayaan, jika apa yang di katakan sekertaris Ken itu benar adanya bahwa Tuan Nathan tidak pernah menerima penolakan, berarti aku telah_.


Aaaaa....membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk merinding.


Lelah, memikirkan itu membuat aku lupa jika ini waktunya makan siang, dan yang biasanya ada yang masuk untuk mengajak makan, sekarang tak ada satupun yang muncul di hadapanku. Akhirnya aku keluar ruang kerja untuk melihat para karyawan.


Hari ini ada banyak barang yang harus di kirim dan mereka harus cepat menyelesaikannya agar semua datang tepat waktu. Karena itulah mereka terlihat sibuk, terkadang mereka sampai melewatkan jam makan siang seperti sekarang.


"Doni, ini waktunya makan siang, kenapa belum ada yang istirahat? melihat Doni masih sibuk mengepak barang, melakban kardus-kardus yang masih terbuka.


"Di mana Sisi?" tanyaku, karena tidak melihat anakku.


"Iya mbak, bentar lagi" jawabnya tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Sisi ada di atas mbak dengan yang lain."


"Panggil mereka Don, suruh turun kita akan makan bersama, aku akan mentraktir kalian" pintaku, aku memang sudah sangat lapar, tadi pagi telah melewatkan waktu untuk sarapan karena melihat Mas Arsya yang sibuk dengan putranya dan membiarkan Sisi duduk sendirian di meja makan membuatku kesal. Dan akhirnya perutku hanya terisi oleh sisa roti dari anakku.


"Tapi Mbak, banyak yang belum selesai di kemas barangnya" masih enggan menghentikan pekerjaannya.


"Don, ini perintah!" tegas ku padanya.


Doni menghentikan aktivitas tangannya melihatku dengan tatapan heran yang tak biasanya, karena melihat perubahan sikapku dia lalu naik ke atas tanpa banyak bertanya lagi padaku.


Saat aku sedang asyik bermain ponsel sambil menunggu mereka, terdengar suara bisik-bisik dari arah tangga. Aku melihat putriku memanyunkan bibirnya, dan terlihat lucu dengan mata bulatnya juga pipinya yang mengembung, sudut bibirku mengembang.


"Mama, aku capek dan lapar cacing dalam perutku sudah meronta" ucap Sisi seraya mengusap perutnya.


"Tante Tika dan yang lain sungguh sangat sibuk dan tak ada yang perduli padaku" lanjutnya mengadu.


"Benarkah?" tanyaku, dan di jawab dengan anggukan kepala.


Aku mendengar mereka masih saling bisik dan senggol lengan, ku lihat nampak raut wajah mereka yang bingung, cemas dan takut. Aku menatap mereka dengan tajam, tapi tak ada satupun yang mau melihatku.


"Ada apa?" tanyaku, tapi mereka hanya diam dan saling pandang, seperti saling tunjuk lewat sorot mata mereka.


"Doni, apa yang terjadi? kenapa kalian hanya diam, ada masalah?" tanyaku pada Doni.


"Mbak, a_da ma_salah" jawab Doni ragu-ragu.


"Barang yang harus di kirim hari ini kurang dan harus menunggu barang dari suplayer."


"Oh, bukankah kadang memang terjadi seperti itu kan, apalagi ini masih siang, nanti juga datang agak sore" ucapku seraya tersenyum, karena masalahnya sudah pernah terjadi dan bukan masalah besar, kenapa mereka harus terlihat tegang.


"Tapi_" kata Doni dengan raut wajah yang khawatir, membuatku menautkan alis melihat tampangnya yang serius.


" Tapi apa Don" tanyaku dengan intonasi pelan.


"Suplayer menghentikan pengiriman barang ke toko, saya juga sudah menghubungi suplayer lain, dan jawaban mereka sama, tidak akan mengirim barang ke toko mbak Jesi" Doni menjelaskan inti dari masalah yang terjadi yang telah membuat mereka tegang.


"Apa!" suaraku memekik, terkejut mendengar penjelasan Doni, Perutku yang tadinya lapar kini terasa penuh terisi dengan masalah.


Aku butuh waktu sendiri untuk berfikir, ku putuskan untuk kembali ke ruangan ku, setelah sebelumnya aku menyuruh mereka pergi mengajak Sisi untuk makan siang dan untungnya Sisi anak yang penurut jadi dia mau pergi tanpa aku. Tadinya juga Doni bersikeras ingin tinggal menemani untuk membantu mencari solusi, tapi aku menolak dengan tegas, akhirnya diapun ikut pergi dengan yang lain.


Setelah punggung mereka tak terlihat, aku kembali masuk ke ruangan. Aku meletakkan tas kembali di atas meja, mengambil ponsel dan menghubungi no para suplayer, aku ingin bertanya alasan kenapa mereka menghentikan pengiriman barangnya, namun tidak ada satu pun yang mengangkat telpon dari ku. Mungkin aku harus menemui mereka satu persatu.


Aku mengingat kembali tidak ada masalah dalam hal apapun, terutama dalam pembayaran, aku juga tidak pernah protes jika mereka menaikkan sedikit harga barang, karena kualitas barang mereka memang bagus. Begitu juga dengan konsumen ku, mereka selalu puas berbelanja di toko ini, bahkan rata-rata mereka memberikan rating bintang 5 dalam penilaian.


Aku duduk bersandar setelah lelah hanya mondar-mandir seperti setrikaan. Menghembuskan nafas dengan kasar berpikir masalah datang satu persatu tanpa memberiku jeda waktu untuk bernafas lega. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, konsumen pasti akan komplain karena menunggu barangnya sedangkan sudah tidak ada lagi stok barang, kalaupun aku harus mencari suplayer baru, itu butuh waktu yang tak sebentar karena aku harus bisa memilih yang paling baik kualitasnya. Haruskah aku meminta bantuan dari Mas Arsya, tapi sejak keadaan rumah tangga ku mulai terusik dengan kehadiran orang ketiga, Mas Arsya sudah tidak perduli dan ikut campur dalam usahaku. Diapun tidak pernah lagi menanyakan berapa penghasilannya dan malah mengurangi jatah bulanan ku. Apalagi saat ini Mas Arsya sedang marah dan mencurigai ku bermain di belakang dengan laki-laki lain.


"Aih..., kenapa aku jadi teringat dengan Tuan sombong itu" gumam ku pelan.


Teringat akan kejadian di tempat bermain yang berlanjut membawaku untuk datang ke rumahnya dan mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan.


Mataku terpejam, otak ku terus berputar mencari akar permasalahan yang terjadi. Menghubungkan setiap hal yang bersangkutan dengan usahaku, tapi nihil, tidak ku temukan kesalahan yang fatal yang bisa membuat suplayer memutuskan kerjasama secara sepihak.


Aku membuka laptop untuk memeriksa setiap laporan yang telah lalu, mungkin ada kesalahan yang belum usai, namun tidak aku temukan juga hal yang salah di sana.


Aku menutup laptop kembali dan tidak sengaja mataku mengarah ke sebuah meja yang belakangnya ada satu sofa panjang. Aku berdiri, mendekat dan mengambil selembar kertas putih yang mengkilat. Aku melihat dengan jelas tulisan yang tertera di kertas itu. pikiranku mulai bertanya-tanya seraya membolak-balik kertasnya, apa maksudnya dengan kertas ini?


Bersambung...


Happy reading ☺️


Terima kasih sudah tetap setia dengan karyaku 🙏


jangan lupa tinggalin jejak nya😘