Second Marriage

Second Marriage
Bab 38 Kebersamaan dengan camer



Setelah sedikit banyak berbincang dengan Ibunya Tuan Nathan dan tahu bahwa sebenarnya Tuan Nathan belum pernah menikah. Aku senang mendengarnya karena sebutan pelakor tidak akan melekat pada diriku, tapi di sisi lain aku sedih karena lagi-lagi merasa tidak pantas menjadi menantu keluarga ini, apalagi punya Ibu mertua yang sangat baik.


Bayangkan saja jika orang lain tahu terlebih pihak media tahu kalau istri dari Tuan Nathan Darwin Erlangga adalah seorang janda beranak satu. Semua itu pasti akan membuat malu Ibu Nathan sekaligus Tuan Nathan sendiri. Pasti akan banyak orang yang tidak menyukaiku, apalagi jika ada wanita di luar sana yang mengharapkan untuk jadi pendamping hidupnya, bahkan awalnya Ibu Sonya pun sempat menolak. Hanya karena Tuan Nathan yang keras kepala dan segala kemauannya harus terpenuhi jadi Ibu Sonya menyetujuinya.


"Tapi, saya merasa kurang pantas. Bagaimana nantinya kalau semua orang tahu istri Tuan Nathan hanyalah seorang janda beranak satu?" Ucapku yang merasa rendah diri.


"Tidak perlu kau pikirkan itu. Semua ini adalah takdir, kita tak akan pernah tahu pada siapa diri ini akan berhenti berlabuh dan menetap? Serahkan semua pada takdir. Jalani apa yang sudah ada dan lewati dengan hati yang gembira" ucap Ibu Sonya memberikan pengertian dan semangat padaku.


"Terimakasih,_"


"Ibu, kau boleh panggil aku Ibu dari sekarang. Kau akan segera menjadi pendamping hidup anakku dan saya berharap kau tidak akan menyerah apapun yang akan terjadi kedepannya."


"Baiklah, terimakasih. Ibu"


Perasaan memanggil Ibu membuatku Nyaman, ini seperti dulu saat kali pertama aku memanggil Ibu dari mantan suamiku. Dulu juga beliau sangat sayang padaku, namun seiring berjalannya waktu dengan kehadiran Karla semua berubah. Aku sungguh berharap Ibu Sonya tidak akan pernah berubah.


"Ingat, jangan terlalu di pikiran apa kata orang!" Pesan Ibu Sonya.


"Ayo, jika kau sudah selesai sebaiknya kita berangkat" Ibu Sonya mengajakku untuk fitting baju pengantin.


"Tapi Bu, anak saya belum pulang" aku teringat Sisi belum pulang sekolah.


"Biar nanti Ken yang menjemputnya."


"Oh, baiklah kalau begitu."


Kemudian Ibu Sonya membawaku pergi ke sebuah butik ternama dengan desainer yang terkenal juga.


"Hallo, Nyonya Sonya. Apa kabar?" Sapa desainer itu sembari saling menempelkan pipinya dengan suara laki-laki tapi khas sedikit manja dan lemah lembut.


"Baik, Steve. Gimana masih lancarkan?" Tanya Ibu Sonya sedikit basa-basi.


"Tentu dong..." Jawab Steve, desainer terkenal itu.


"Ngomong-ngomong tumben kemari Nyonya setelah sekian purnama tidak berkunjung. Mau pesan gaun, Nyonya?" Tanya Steve.


"Oh, iya kenalkan ini Jesika" ucap Ibu Sonya memperkenalkan aku dengan Steve.


"Jesika" ucapku mengulurkan tangan sembari tersenyum ramah.


"Steve" dia pun menyambut uluran tanganku sembari tersenyum tapi sedikit mengangkat sudut bibirnya sebelah.


"Steve, aku mau ambil gaun pengantin yang dulu pernah di buat, masih ingat kan?" ucap Ibu Sonya.


"Tentu masihlah, Nyonya. Apakah sudah mau di pakai?" Tanya Steve dengan raut wajah yang penasaran.


"Iya" jawab Ibu Sonya.


"Buat siapa?"


"Buat Jesi, tolong kau bantu dia untuk mencobanya. Jika kelihatan terlalu besar tolong kecilkan sebentar." Pinta Ibu Sonya.


"Hah! tapi bagaimana bisa gadis ini yang pakai, Nyonya?" Steve saja bisa terkejut kalau aku yang akan memakainya. Aku memang hanya terlihat seperti wanita biasa.


"Sudah jangan banyak tanya, cepat lakukan. Waktuku tidak banyak" ucap Ibu Sonya sembari menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Nyonya tidak bercanda?" Ucap Steve yang masih tidak percaya.


"Apa aku terlihat bercanda?"


"Ya sudah lakukanlah tugasmu, layani dia seperti kau melayaniku"


Lalu Steve mengajakku ke sebuah ruangan untuk mencoba gaun pengantin yang sangat indah. Pantas saja Steve tidak percaya kalau gaun pengantin akan di gunakan untukku, gaunnya memang jelas terlihat mewah, warna putih bersih yg sering di pakai di hiasi beberapa mutiara asli dan berlian yang ukurannya kecil namun masih terlihat. Sungguh sangat fantastis jika di nilai dengan uang.


"Bagaimana Nona Jesika, apakah sudah nyaman seperti ini?" Tanya Steve.


"Panggil saja saya Jesi, tidak usah pakai Nona segala" ucapku. "Saya sedikit kurang nyaman di bagian pinggang dan pinggul karena sedikit kebesaran tapi hanya sedikit saja kok" sambungku.


"Ok, baiklah. Kalau cuma itu, saya rasa tidak butuh waktu lama" ucap Steve.


"Sebenarnya, Jesi mau menikah kapan dan dengan siapa?" Tanya Steve yang dari tadi sudah penasaran.


"Besok"


"Hah!" Steve terkejut kembali hingga suaranya memekik di telinga.


"Dengan siapa?"


"Dengan, Tu_" ucapanku terpotong karena Ibu Sonya muncul.


"Gimana Steve, apakah sudah selesai?" Tanya Ibu Sonya.


"Sudah, Nyonya" jawab Steve.


"Jadi gimana, apa kebesaran?"


"Sedikit saja di pinggang dan pinggulnya, dan saya pastikan akan selesai sekarang" Jawab Steve.


"Baiklah, lakukan yang terbaik. Aku dan Jesi keluar dulu, dan aku ingin saat aku kembali gaunnya sudah selesai" Ucap Nyonya Sonya.


"Siap, Nyonya" ucap Steve sembari mengangkat tangan hormat.


Dalam hatiku sebenarnya penasaran, Ibu Sonya sudah mempunyai gaun pengantin yang indah jauh-jauh hari. Lalu untuk siapakah sebenarnya gaun itu? Mungkinkah beliau akan menikah lagi?


Sekarang Ibu Sonya membawaku ke sebuah mall kalangan orang atas. Banyak orang yang menyapa ramah saat kedatangan kami, tapi mata mereka juga tertuju padaku yang berjalan sejajar dengan Ibu Sonya. Mata mereka yang menunjukkan penasaran dan penuh tanya.


Ibu Sonya membawaku masuk ke toko perhiasan, Apa mungkin beliau juga akan membelikan cincin pernikahan? Atau juga hanya mengambil saja karena sudah pesan terlebih dahulu.


Benar-benar proses menuju pernikahan aneh. Harusnya calon suami yang mengantar aku untuk fitting baju dan memilih perhiasan yang cocok sesuai seleraku dengannya, tapi ini malah calon mertuaku yang sangat antusias, memilihkan aku yang itu dan ini.


Mungkin memang seperti ini menikah tanpa cinta, semua di lakukan sepihak tanpa persetujuan keduanya.


Calon mertuaku sungguh royal padaku, saat aku memilih perhiasan yang sesuai dengan seleraku justru beliau tidak memberikannya. Karena menurutnya pilihanku terlalu sederhana. Kemudian beliau memilihkan yang limited edition dan hanya ada beberapa saja. Benar-benar membuatku merasa semakin tidak pantas saja.


Tapi Ibu Sonya sempat berkata, "ini bisa kau simpan dan gunakan jika Nathan akan menceraikan mu"


Jeb


Ucapan Ibu Sonya langsung menusuk ke hatiku tanpa aku tahu maksud perkataannya.


.


.


Bersambung😊