
Terlihat wajah Ibu mertuaku sedikit kesal saat sekertaris Ken meminta izin untuk membawaku pergi. Beliau masih ingin aku untuk tetap di situ , menemaninya mendengarkan cerita yang menarik untuk di jadikan sebagai topik pertemuan.
Sungguh aku tidak menyangka akan bertemu mereka di sini, ku pikir mereka hanya mengenal Ibu mertuaku dari jauh.
"Ck, kau ini. Baru juga sebentar sudah di suruh pulang aja, kenapa juga kau mesti melihat kami di sini?" Ibu mertua menggerutu panjang.
"Bukan saya yang melihat, tapi Tuan sendiri yang melihat Nyonya ada di sini"
"Bisa tidak nanti saja pulangnya?" Ibu mertua menawar agar aku tetap tinggal di situ.
"Maaf Nyonya, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Nyonya Jesi harus pulang!"
Betul Pak Ken, jangan sampai aku bertindak buruk saat aku sudah tak mampu lagi menahan amarah.
"Ck, dia selalu saja begitu" Lagi-lagi Ibu mertua berdecak kesal.
"Ibu, tidak apa-apa saya pulang sekarang. Ibu lanjutkan saja, lain kali saya masih bisa selalu menemani Ibu" Bisik ku lirih mendekat Ibu mertua, agar yang lain tidak mendengar saat aku menyebutnya Ibu.
Ibu mertua mengangguk tanda mengerti bahwa aku juga tidak keberatan saat sekertaris Ken memaksa untuk membawaku pulang.
Kemudian aku berpamitan dengan sopan pada teman-teman Ibu dan memberikan alasan yang tepat agar mereka juga tidak curiga karena kepergian yang tiba-tiba.
"Tidak mengurangi rasa hormat saya harus pamit undur diri, terimakasih untuk jamuan nya."
"Tidak apa-apa, lain kali kita masih bisa bertemu" Ucap salah satu teman Ibu.
"Nyonya Widya dan Nyonya Karla, senang bisa bertemu dan mendengar cerita anda. Hati-hati, tidak baik membuka aib keluarga sendiri" Aku tersenyum puas setelah mengatakannya lalu beranjak pergi dari situ.
Tidak perduli dengan tanggapan teman Ibu mertua yang lain, mungkin mereka akan menganggap ku aneh bicara seperti itu. Mungkin juga dalam benak mereka bertanya-tanya karena tidak mengerti dengan ucapan ku. Bisa jadi Ibu mertuaku sendiri juga tidak mengerti tapi akan ku buat beliau tahu dan mengerti akan cerita sesungguhnya saat di rumah nanti.
"Terimakasih, Pak Ken" Ucapku sembari mengikutinya.
"Untuk apa, Nyonya"
"Karena kau datang tepat waktu"
"Apa mereka menyakiti, Nyonya?"
"Tidak terlalu, tapi kalau tadi saya lebih lama di situ, entah apa yang terjadi" Pikiran ku membayangkan bisa menyumpal mulut pedas mereka.
Sekertaris Ken tersenyum mendengar perkataan ku, kemudian membuka pintu belakang mobil dan menyuruhku masuk.
"Pak Ken, apa Tuan sudah pulang?"
"Belum, Tuan kembali ke kantor"
"Oh, kira-kira Tuan marah tidak saya keluar hari ini ya?"
Sekertaris Ken hanya mengangkat kedua bahunya untuk memberikan jawaban. Dalam perjalanan pulang aku terus berpikir tentang kemungkinan kemarahan suamiku. Apa yang akan dia lakukan kali ini? Tapi aku pergi bersama Ibu dan bukan orang lain. Pembelaan yang harus ku katakan saat kemarahannya nanti meledak.
Sampailah sekertaris Ken mengantarku di depan pintu rumah, dia membuka pintu belakang mobil. Sekertaris Ken memperlakukan aku seperti ratu saja, padahal aku justru tidak begitu senang di layani seperti itu. Aku menyuruhnya untuk cepat kembali ke kantor dan tidak perlu mengantarku sampai masuk ke dalam.
Namun saat dia berbalik dan hendak pergi dia melihat ke arah garasi, seperti menyadari ada sesuatu yang janggal di situ. Mataku pun mengikuti arah pandangannya tapi tak ku temukan yang aneh di situ.
Aku lihat dia juga menghubungi seseorang sebentar, lalu pergi meninggalkan kediaman Erlangga.
"Aneh, apa yang di lihatnya? Tidak ada yang berbeda" Gumam ku.
Setelah itu aku hendak membuka pintu, namun ternyata Pak Didi tahu kalau aku sudah pulang dan membuka pintu dari dalam.
"Pak Didi?"
"Nyonya ada yang menunggu" Pak Didi memberitahu bahwa ada tamu di rumah.
"Tamu?" Sepertinya tidak ada yang membuat janji hari ini, Ibu juga tidak bilang kalau mau menerima tamu.
"Siapa?" Tanyaku masih di ambang pintu.
"Tuan_" Jawaban Pak Didi terpotong suara seseorang.
"Hai, Mbak Jesi" Seseorang muncul dari arah ruang tamu.
Aku terkejut melihat kedatangan Doni di rumah ini. Bingung harus bagaimana, kedatangannya yang tiba-tiba membuat ku dalam keadaan sulit.
"Apa kabar, Mbak?" Doni menjabat tangan dan hendak memelukku, namun aku terus menjauh.
"Baik, Don...Ayo duduklah" Ajak ku yang sedikit gugup.
"Em, sudah dari tadi?" Aku duduk jauh darinya.
"Lumayan, tadi aku jemput Sisi dulu ke sekolah terus Sisi bilang kalau tinggal di sini"
"Oh, jadi Sisi sudah pulang ya...?"
Haaaaa, bagaimana ini? apa yang harus ku bilang? Alasan apa biar dia cepat pulang sebelum yang punya rumah datang.
"Mbak, tenang aja tidak perlu gugup. Aku bisa ngerti kok" Doni sepertinya tahu kalau aku beneran gugup.
Ngerti yang gimana?
"Enggak Don, hanya surprise aja kau tiba-tiba datang ke sini"
"Lagian, Mbak katanya mau ngabarin kalau udah dapat tempat tinggal, tapi nyatanya nggak kasih kabar sama sekali"
"Hehehe, iya Mbak sampai lupa karena terlalu sibuk"
"Sibuk jadi pelayan di sini?"
"Heh? Iya, benar." Aku belum bisa menghilangkan nervous ku.
"Belum ada minum ya, sebentar Mbak ambilin minum dulu ya ke belakang" Aku melihat belum ada minuman di meja, ini kesempatan ku untuk ke belakang bertemu Pak Didi, agar dia tidak perlu melayani.
"Tidak perlu, saya sudah membawanya. Nyonya"
Jreng
Pak Didi datang membawa minuman sebelum aku jadi pergi ke belakang. Melihat ekspresi Doni yang mendengar Pak Didi menyebutkan kata Nyonya, aku semakin bingung menanggapi situasinya.
"Terima kasih, Pak Didi" Aku tersenyum padanya.
"Tidak perlu sungkan, Nyonya" Lagi Pak Didi menyebut jelas kata itu di depan Doni, dan sepertinya ia lakukan dengan sengaja.
Haduuh...Pak Didi.
Setelah meletakkan minumnya, kemudian Pak Didi kembali ke belakang sembari melirik dan tersenyum padaku.
"Di minum Don..."
Doni hanya diam dan menatapku, tatapan menyelidik dan penuh tanda tanya. Terlihat ada rasa kecewa dan marah dari wajahnya. Aku pun jadi merasa bersalah karena telah menutupi yang terjadi setelah aku keluar dari tempat tinggalnya. Aku hanya tidak ingin dia tahu tentang pernikahan yang ku lakukan, karena aku tahu dia pasti tidak akan percaya aku mau menikah dengan begitu mudah. Apalagi aku belum lama bercerai.
"Doni, Kenapa diam?" Aku pura-pura tak mengerti.
"Kenapa diam? Mbak, apa yang sebenarnya terjadi?"
Sekarang Doni benar-benar butuh penjelasan tentang apa yang terjadi. Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku hanya menikah kontrak dengan Tuan Nathan, yang ada dia pasti akan melakukan perlawanan.
"Beberapa kali aku mendengar Mbak di sebut sebagai Nyonya, tidak hanya tadi tapi Pak Ken pun pernah menyebut mbak dengan Nyonya sewaktu di apartemen" Doni selalu memberikan penekanan pada kata Nyonya.
"Tolong, jelaskan apa yang terjadi?" Doni mendekati ku dan menuntut penjelasan tentang semua yang tidak dia mengerti.
Aku bingung harus menjelaskannya bagaimana, akal sehatku sendiri tak mampu membuat alasan yang tepat kenapa aku mau menjalani semua ini.
.
.
Bersambung ๐
Jesi bingung, author juga bingung mau ngejelasin waktu update nya๐
Tidak bisa di tentukan ๐๐
Yang pasti terimakasih buat dukungan yang terus di berikan๐ฅฐ