
Aku bingung dan tidak tahu mau di apakan orang-orang yang sudah menyakitiku selama ini, ketika Tuan Nathan memintaku untuk menghukum mereka.
Seberat apapun aku menghukum mereka, itu tidak akan memulihkan hati yang pernah terluka menjadi seperti semula, meski luka itu sembuh tapi bekasnya masih sangat terasa.
Ya...,walaupun sekarang ini aku merasa hidup lebih baik bersama anakku di bawah tangan Tuan Nathan, yang notabene adalah suami kontrak. Tapi, dia mampu melindungiku dan anakku dari ketidakadilan dunia.
Hanya saja saat ini aku harus mulai menentukan sikap dan bersiap diri untuk kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Sebuah kejutan hidup yang akan di tunjukkan padaku dan dunia.
"Maaf kan kami Jesi, kami sudah berburuk sangka padamu." Karla mulai membuka suara dengan masih tertunduk kepalanya.
Aku beranjak dari pangkuan suamiku lalu berdiri di hadapan mereka.
"Nyonya Karla Sanjaya, apa kabarmu? Ku harap kau tetap baik-baik saja setelah terakhir kita bertemu. Sekarang kau tahu, aku bukanlah wanita yang pernah berselingkuh atau wanita simpanan Tuan Nathan. Aku adalah is-tri-nya!" Ku sengaja menekan kan kata istri dengan jelas.
"Ku harap kau masih bisa mendengar dan melihat dengan jelas, agar jangan sampai nantinya ku dengar kau menuduhku yang bukan-bukan lagi." Lanjut ku, memperingatkannya.
"Tentu, maafkan aku. Selama ini aku sudah salah menilai mu. Aku yang bodoh tidak seharusnya aku menuduhmu hanya dengan sekali lihat saja, ku mohon maafkan aku." Karla berulangkali meminta maaf, sepertinya memang menyesali perbuatannya.
"Karla, sejujurnya aku sudah tidak perduli padamu setelah aku bisa bercerai dengan Mas Arsya. Tapi, tiap kali kau bertemu denganku kau selalu saja memulai pertemuan kita dengan perdebatan untuk menyudutkan ku hingga membuatku jengah untuk malihatmu lagi. Namun, mau bagaimanapun kau tetaplah ibu tiri dari anakku dan Mas Arsya, jadi tidak mungkin aku tidak akan bertemu dengan mu lagi. Aku hanya minta padamu, perlakukan lah anakku seperti anakmu sendiri, jangan abaikan dia saat kau nanti punya anak lagi. Seperti yang pernah kau lakukan." Ucapku panjang lebar supaya dia benar-benar menyadari kesalahannya.
"Sayang, jika kau tidak ingin melihatnya lagi. Aku bisa mengabulkannya untuk mu." Sambung Tuan Nathan.
"Tidak suamiku sayang, itu tidak perlu. Jika sampai itu terjadi, tidak baik untuk Sisi." Aku hanya ingin Sisi menjadi sosok wanita yang bijak, mampu menerima orang lain yang menjadi keluarganya karena takdir. Terlepas bagaimana cara orang lain itu masuk dalam kehidupannya.
"Baik Jesi, aku akan lakukan seperti yang kau mau. Terimakasih sudah memaafkan aku." Ku lihat air mata menggenang di pelupuk matanya, dia juga ingin memelukku.
"Stop! Jangan kau sentuh istriku." Tuan Nathan sampai berdiri melihat tangan Karla yang sudah mengangkat di udara, dan akhirnya dia menurunkannya mendengar ucapan tegas Tuan Nathan.
"Maaf..." ucapnya merasa rendah diri.
"Dan kau, Arsya Sanjaya. Tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu setelah apa yang kau lakukan kemarin? Saya mengundangmu ke sini bukan untuk diam saja!"
"Iya, Tuan, maaf."
"Ucapkan permintaan maaf mu untuk istriku. Dan jangan sampai matamu itu menatap istriku!" Sifat posesif Tuan Nathan kembali muncul.
"Baik, Tuan."
"Jesi...,aku_"
"Panggil dia Nyonya Nathan!" Sambung Tuan Nathan cepat.
Astaga, kenapa juga dia harus bersikap seolah aku adalah istri sahnya? aku takut gak bisa kendalikan hati untuk gak baper.
"Nyonya Nathan, maafkan saya karena banyak menyakitimu. Terlebih perbuatan ku kemarin telah membuatmu takut, dan membuat Tuan Nathan khawatir" Seperti yang sudah di ucapkan Tuan Nathan, Mas Arsya meminta maaf tanpa melihat ke arahku.
"Mas Arsya...,"
"Sayang..." Panggil Tuan Nathan saat aku hendak berbicara pada Mas Arsya.
"Iya," Aku menoleh ke arahnya yang sudah duduk kembali.
"Kau tidak lupa kan..., siapa dia sekarang?"
"Yah...?" Aku menatapnya bingung. Aku tidak mengerti maksudnya.
"Sayang, haruskah aku mengajarimu cara untuk memanggilnya?"
Oh ya ampun masalah panggil memanggil lagi.
"Tidak sayang, aku tahu caranya."
Aku yakin pasti aku tidak boleh memanggilnya dengan kata 'Mas'.
"Arsya Sanjaya..." meski rasanya canggung, aku tetap mengucapkan nama itu.
"Aku tidak tahu pasti letak kesalahanku padamu apa? Hingga kau sudah membuat jalan hidupku rumit dan menyakitkan. Bahkan kau tega menyakiti darah daging mu sendiri dengan bersikap acuh padanya. Kau tahu? Betapa dia sangat merindukan kasih sayangmu semenjak kau bahagia bersama keluarga barumu." Aku keluarkan semua perasaan marah yang terpendam selama ini.
"Maafkan aku"
Jleb
Aku yakin ucapan ku langsung menusuk hatinya. Mungkin ini sangat menyakitkan kedengarannya, tapi ini kesempatanku untuk meluapkan amarah karena perbuatannya yang pernah menyakiti ku.
"Iya aku tahu"
"Tahu? Tahu darimana? Kau sibuk mengurusi dirimu sendiri dan jika kau tahu, kau tidak akan pernah melakukan hal-hal bodoh yang bisa menyakiti hati orang-orang yang mencintaimu" Entah kenapa aku jadi tidak bisa mengontrol emosi dan bicara ngelantur saat berhadapan dengan Mas Arsya, apalagi aku mengingat setiap perbuatan yang menyakitiku.
"Kau tahu? Rasa sakit di sini" Ku tunjuk-tunjuk dadaku. "Rasa sakitnya melebihi sayatan pisau tajam yang mengenai kulit. Bahkan entah sampai kapan aku bisa melupakan perbuatan kalian berdua."
"Tenanglah sayang, aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu lagi" Ucap Tuan Nathan mendekatiku lalu memeluk dan mencoba menenangkan ku yang kalut emosi.
"Suruh mereka keluar dari sini, aku sudah tidak ingin bicara pada mereka. Terserah kau mau apakan mereka." Aku meminta Tuan Nathan mengakhiri pertemuan ini, jangan sampai aku emosi melebihi batas karena di sini aku benar-benar di beri kesempatan untuk membalas perbuatan mereka.
"Iya sayang, baiklah"
"Aku mohon maaf, maaf, maafkan aku" Mendengar Mas Arsya yang terus minta maaf justru membuatku semakin naik darah, karena bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan malah menari-nari dalam pikiranku.
"Ken, bawa mereka keluar. Pastikan apa yang pantas untuk di berikan pada mereka."
"Tuan, aku mohon maafkan aku. Sudah cukup Tuan mencabut jabatan ku dari perusahaan yang baru saya pegang, jangan di tambah lagi yang lain. Aku mohon..." Ucap Mas Arsya sembari berjalan keluar ruangan.
"Jesi, aku mohon jangan biarkan kami terpuruk" Karla pun ikut menimpali ucapan Mas Arsya.
Aku diam dan tidak ingin mengucapkan kata-kata lagi pada mereka. Aku bahkan tidak mau melihat langkah mereka keluar dari ruang kerja suamiku.
Aku tidak sebaik yang mereka kira, selalu saja menerima setiap perlakuan mereka padaku. Aku juga punya sisi yang jahat saat aku sudah tidak mampu mengontrol hati dan pikiran menjadi sejajar.
"Ayo, duduklah..." Tuan Nathan membawaku duduk di sebuah sofa panjang yang ada dalam ruangannya.
"Maafkan aku, entah kenapa lama-lama emosiku tidak tertahan." Ucapku tak enak hati karena sempat menaikkan volume suara menjadi lebih tinggi.
"Hey, untuk apa minta maaf. Aku yakin kau bisa lega sekarang, bukan?" Aku mengangguk.
Setelah mengeluarkan semua unek-unek dalam hati, memang menjadikan perasaan lebih baik dari sebelumnya.
"Sekarang istirahatlah, aku akan meneruskan bekerja lagi." Tuan Nathan beranjak dari duduknya.
"Tuan, apa boleh saya menanyakan sesuatu yang pribadi?"
"Apa itu?"
"Benarkah saya di anggap sebagi istri yang sesungguhnya, Tuan?" Aku harus tahu apakah dia serius atau tidak.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Ya pastinya aku butuh kejelasan dong, masak gitu aja perlu di katakan sih...
"Tuan selalu saja menyebutkan aku sebagai istri di depan mereka, tapi aku belum pernah mendengar Tuan menyebutkan istri di depan Nona Vanesa. Aku tahu dia sangat berarti untuk anda dan aku sadar akan posisiku yang hanya sebatas istri kontrak saja. Aku hanya tidak ingin terbawa perasaan hingga aku akan terluka kedua kalinya. Jangan sampai aku salah mengartikan sikap dan ucapan, anda." ucapku panjang lebar.
"Sudah selesai?" Bukannya mendapat jawaban malah dia bertanya. Aku mengangguk siap mendengar kepastiannya.
"Istirahatlah, jangan mikir macem-macem. Energi mu baru saja terkuras, tidak baik jika kau terus berpikir" Tuan Nathan kembali mendekatiku lalu merebahkan tubuhku di atas sofa.
Aku tatap matanya dalam-dalam untuk mencari tahu isi hatinya. Dia tersenyum padaku melihat mataku yang mengunci pandangan. Dan ternyata sulit aku menemukan jawaban lewat sorot matanya.
Setelah badanku tergeletak dengan sempurna, tangan Tuan Nathan langsung menyambar bantal sofa yang lain, dengan gerak cepat ia menutupi wajahku menggunakan bantal itu.
"Sudah hentikan tatapan mu itu." Ucapnya setelah menutup wajahku.
"Aaaaaa, Tuan..." Suaraku tertahan di bawah bantal.
.
.
Bersambung☺️