
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pintu terdengar di saat aku tengah di sibukkan dengan pekerjaan.
"Masuk" Tanpa melihat aku menyuruhnya untuk masuk.
"Selamat siang Tuan Nathan" Ucapnya lembut.
Deg
Suara itu, suara yang sangat familiar di telingaku terdengar kembali setelah sekian lama.
Perlahan aku mendongak, untuk melihat siapa yang datang. Mungkinkah dia yang ada di pikiranku, saat mendengar suaranya?
Jantungku hampir mau copot melihat sosok yang selama ini aku rindukan. Sekarang dia hadir nyata di depanku saat ini. Seseorang yang telah lama menghilang di telan bumi kini tiba-tiba hadir dengan keadaan yang baik-baik saja.
"Nesa?" Ucapku lirih, aku tidak percaya kalau yang ada di hadapanku sekarang adalah dia, calon istriku dulu.
"Benar sayang...ini aku"
Aku mengerjap beberapa kali untuk meyakinkan kalau aku tidak salah lihat. Kalau dia benar-benar Vanesa, bukan roh-nya yang sedang gentayangan dan merindukanku.
Perlahan aku berdiri dari singgasanaku lalu mendekat ke arahnya yang tengah tersenyum manis padaku. Senyum yang selalu aku rindukan setiap saat setelah aku tahu dan percaya kalau dia tidak akan pernah kembali lagi.
Dan sekarang aku bisa melihat dengan jelas wujudnya dalam keadaan baik-baik saja, tanpa kekurangan satu apapun. Terakhir wajahnya terlihat sangat rusak dan tidak bisa di kenali setelah kecelakaan itu.
"Nesa?" Ucapku sekali lagi. Sungguh sulit di percaya kalau dia ada di hadapanku saat ini. Seperti mimpi di siang bolong.
"Sayang...I miss you so much" Dia lalu berlari dan langsung memelukku yang mematung tak percaya.
Sebuah pelukan yang hangat dan nyata benar-benar aku rasakan sekarang. Sentuhannya membuat aku yakin kalau dia adalah Vanesa, setelah sebelumnya sempat aku ragu antara nyata dan tidak nyata.
Aku membalas pelukannya setelah yakin akan makhluk di depanku ini. Ku peluk erat tubuh yang aku yakini sudah menjadi satu dengan tanah. Hingga tanpa sadar ada air yang menggenang di pelupuk mataku dan siap meluncur terjun bebas tanpa aling-aling.
"Sayang benarkah ini dirimu?" Aku masih tidak percaya kalau bisa memeluk tubuhnya lagi.
"Iya sayang, ini aku. Maaf kan aku telah membuatmu menderita selama ini" Diapun ikut menangis saat aku memeluknya dengan sangat erat.
"Kenapa, kemana saja selama ini, hem?" Tanyaku dengan perasaan sedih dan senang melihatnya baik-baik saja.
"Yang penting aku sudah kembali, aku kembali hidup dalam keadaan baik untukmu."
Memeluknya dengan erat seperti enggan untuk melepaskan karena takut jika saat aku lepas aku tidak akan bisa memeluknya lagi. Hingga suara seseorang yang tiba-tiba sudah berada di ruangan menyadarkan aku.
Aku pun terkejut kembali melihat kedatangan seorang wanita yang belum lama ini sudah aku paksa untuk menjadi istri kontrakku demi menghindari pemaksaan sebuah perjodohan dari Ibuku. Ku buat dengan segala caraku agar dia tidak bisa membantah perintahku ataupun menolak permintaanku.
Meskipun aku tahu statusnya masih istri orang, namun malang nasibnya karena telah di curangi suaminya sendiri. Aku yakin dengan berpisah dari suami brengseknya itu dia akan senang, maka dari itu ku buat mudah perpisahan mereka.
Awal pertemuanku dengannya memang telah membuatku merasa sangat marah dan membencinya karena dia dengan berani telah menyentuhku apalagi mengotori sebuah jas dari kekasihku Vanesa. Aku yang sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan menyentuh dan di sentuh wanita lain setelah kepergian kekasihku, itulah yang membuat ku seperti orang murka. Bahkan karena kepergian kekasihku telah membuat ku berani untuk tidak akan menikah, namun Ibu ku tak henti-hentinya selalu mengingatkan aku untuk mencabut sumpah konyol ku dan selalu mencari celah untuk menjodohkan aku dengan wanita pilihannya.
Tujuannya hanya satu agar aku bisa hidup normal layaknya orang lain yang hidup dengan baik dan punya keluarga sebagai penyemangat hidup. Hingga aku memutuskan Jesika lah yang ku jadikan sebagi seorang istri karena aku yakin hatinya baik dan tidak busuk seperti wanita yang sering aku jumpai dan hanya melihat hartaku saja. Meskipun dia hanya ku jadikan istri kontrak saja, setidaknya aku bisa lepas dari perjodohan yang akan Ibu lakukan.
Aku bingung dengan situasi saat ini, di mana dia telah memergoki langsung aku sedang berpelukan mesra dengan kekasih lamaku. Dan mungkin dia juga sudah melihat saat Vanesa mencium bibirku.
Aku berusaha untuk tetap bersikap biasa saja di depannya agar dia tidak besar kepala. Aku juga sempat terkejut ternyata dia dan Vanesa sudah bertemu sebelum di sini, sempat terjadi insiden kecil juga yang membuatku tiba-tiba khawatir dia terluka. Aku juga sempat tidak suka saat dia memperkenalkan diri sebagai pelayan di rumah, kenapa dia tidak mengenalkan diri sebagai adik atau keponakan Ibu saja? Ku rasa itu lebih baik ketimbang sebagai pelayan.
Dia datang berniat untuk mengantarkan makan siang untukku. Dalam hati aku merasa senang karena di balik seringnya rasa kesal padaku dia masih ada perhatiannya. Dengan cepat pun aku mengambil kotak makan siang itu setelah Vanesa menyuruhnya untuk membawa pulang. Aku merasa tidak enak jika membuatnya kecewa meskipun mungkin ada hati lain yang kecewa.
Entah perasaan apa yang mendorongku untuk menyusulnya setelah kepergiannya dari ruangan ku. Aku ingin dia tetap berada di dalam rumahku setelah melihat kemesraan ku dengan Vanesa. Bahkan mengancamnya hingga dia merasa kesal, dan kekesalannya itu telah membuatku sering tersenyum dan tertawa sendiri. Sampai pada satu titik aku merasa bisa menghilangkan nama Vanesa dari ingatanku.
Aku pun segera menyudahi pertemuanku dengan Vanesa karena ingin segera pulang, terbesit sedikit rasa bersalah di hatiku padanya. Kemudian aku menyuruh Vanesa kembali ke hotel dan berjanji akan cepat menemuinya lagi karena aku masih butuh banyak penjelasan darinya tentang kebohongan yang sudah dia lakukan pada semua orang.
Harusnya aku tidak bersikap seperti itu pada Vanesa karena dialah wanita yang selama ini aku cintai dan rindukan, namun ternyata rasa bersalahku mengalahkan egoku hingga aku memutuskan untuk segera pulang.
Setelah aku sampai di rumah ternyata aku di buat marah karena tak ku dapati dia ada di dalam kamar atau di ruangan lainnya. Sampai-sampai aku mengumpulkan semua pelayan untuk menanyakan keberadaanya, tapi semua pelayan tidak ada yang tahu. Dan akhirnya aku menelpon dan menyuruhnya untuk cepat pulang, meski aku tidak tahu juga harus ngapain saat dia sampai di rumah.
Namun ku tunggu dan terus ku tunggu tidak muncul juga batang hidungnya, hingga pada akhirnya aku di telepon oleh security depan katanya dia melihat seorang wanita yang tinggal bersamaku telah menaiki sebuah mobil dan dia meninggalkan motornya begitu saja.
Kemudian aku menyuruh sekertaris Ken untuk melacak keberadaannya bagaimanapun caranya, aku ingin Ken cepat menemukannya.
Rasa marah ku di ganti dengan kepanikan dan kekhawatiran, aku takut terjadi sesuatu padanya.
.
.
Sampai di sini aja POV Nathan nya guys...
Untuk kisah selanjutnya di nanti episode berikutnya ☺️
Terimakasih buat semuanya, tanpa kalian saya tidak akan sampai di titik ini🥰🥰