Second Marriage

Second Marriage
Bab 62 Menginginkan kembali



Di saat aku tengah berpikir dan terus berharap akan adanya seseorang yang bisa menemukan keberadaan ku, suara pintu yang terkunci terdengar di buka dari luar. Sontak aku langsung berdiri untuk menyambut siapa yang datang. Dan mungkin yang datang adalah Bos dari mereka.


Namun tiba-tiba di otakku muncul sebuah ide,


mataku melirik kearah kanan dan kiri, mencari sesuatu yang bisa aku gunakan sebagai senjata namun tidak ada satupun yang bisa aku pakai. Aku berlari ke samping ranjang melihat ada lemari kecil di sana, dengan cepat aku membuka satu persatu laci, namun juga kosong tak ada satu benda pun di dalamnya.


"CK, kenapa tidak ada apa-apa di sini?"


Setelah tidak ku temukan apapun yang bisa ku gunakan, aku kembali duduk di tepi ranjang. Aku berusaha tenang, rileks dan tidak panik. Menarik nafas dalam dan mengeluarkan perlahan untuk menghilangkan debaran jantungku.


Akhirnya aku akan tahu siapa yang sudah membawaku ke sini.


Klek


Pintu akhirnya terbuka, munculah sosok pria yang ternyata pria yang sama yang telah membawaku kemari.


Aku pikir aku akan bertemu dengan Bos mereka.


Pria itu membawa sekantong kresek yang sepertinya berisi makanan dan menyerahkan padaku.


"Nyonya, makanlah. Di sini tidak ada makanan selain yang saya bawa ini" Ucap Pria itu sembari menyerahkan kresek makanan itu.


"Aku tidak lapar, di mana Bos kalian?" Aku tidak mau menerima makanan dari orang yang sudah menculik ku.


"Nyonya, jangan sampai anda kelaparan"


"Katakan, di mana Bos kalian?" Aku berusaha untuk tidak mengeluarkan amarahku namun tetap memberikan penekanan.


"Bos sedang dalam perjalanan kemari, jadi makanlah lebih dulu sebelum bertemu dengannya"


Jadi masih dalam perjalanan, itu berarti aku masih punya waktu untuk membuat alasan agar aku bisa kabur dari tempat ini.


"Aku butuh ke kamar kecil, aku harus keluar sebentar" Mungkin ini bisa ku jadikan alasan.


"Silahkan Nyonya..."


Kemudian aku beranjak dan hendak berjalan keluar, namun suara pria itu menghentikan langkahku.


"Nyonya, bukankah ada kamar mandi di dalam?"


Gubrak


Hah, ternyata ada kamar mandi di dalam. Kenapa aku tidak menyadarinya?


"Oh, i_iya benar aku lupa" Ucapku seraya tersenyum malu menyadari kebodohan ku. Lalu membalik arah langkahku.


Sial, dia pasti tahu kalau aku berniat kabur dari sini.


"Apa anda masih mau menunggu saya dari toilet?" Ku balikkan badan saat sudah di depan pintu kamar mandi, karena pria itu masih saja berdiam diri di kamar.


"Em maaf Nyonya, saya permisi dulu" Ucap pria itu lalu meletakkan makanan yang dia bawa di atas ranjang.


Aku lihat dia terus sampai benar-benar keluar dari pintu kamar dan dia mengunci pintu kamar lagi.


"Ah, sedikit usaha saja sudah gagal. Bagaimana ini? Tuan Nathan pasti akan sangat marah padaku karena aku tidak juga sampai di rumah"


Mengingat dia sangat pemarah, membuatku gelisah kembali. Aku takut dia akan memberi hukuman berat padaku. Kalaupun aku bisa keluar dari tempat ini, aku juga tidak tahu harus berjalan ke arah mana. Aku telah di buat tak sadarkan diri oleh mereka hingga aku tidak tahu arah.


Ke kamar mandi hanyalah alasanku saja, setelah kepergian pria itu aku kembali duduk di tepi ranjang. Ku lihat makanan itu sejenak sebelum aku mengambilnya.


"Makanan apa yang dia bawa untukku?"


Entah aku harus mendiamkannya atau memakannya agar aku punya tenaga lebih untuk bisa keluar dari sini? Tapi aku juga tidak tahu makanan itu beracun atau tidak?


Sebaiknya aku diamkan saja, sebentar lagi aku juga akan keluar.


Mencoba meyakinkan diri sendiri agar bisa tetap tenang.


Menit-menit berlalu, hingga jam berganti angka. Belum muncul juga orangnya. Seberapa jauh perjalanan kemari? Aku sudah mulai lelah dan jenuh berada di kamar, tak ada hal yang bisa aku lakukan selain menunggu dan terus menunggu. Entah itu menunggu Bos mereka datang atau menunggu orang yang menolongku.


Setelah aku membaringkan tubuhku di ranjang, terdengar suara pintu dibuka dari luar. Aku langsung bangkit dan duduk dengan tenang, meski jantungku kembali berdetak cepat.


Mudah-mudahan bukan pria yang sama kaya tadi.


Klek.


Muncullah sosok pria yang berbeda di hadapanku. Seorang pria yang membuatku sangat terkejut saat aku melihatnya. Aku tidak percaya dia yang melakukan ini padaku. Pria yang sangat aku kenal dengan baik telah berbuat naif seperti ini. Dia masuk dan mengunci pintu kembali dari dalam.


"Mas Arsya?" Aku bergeming mematung melihat kedatangannya.


"Jesi, apa kabarmu?" Sapa-nya seraya mendekat dan hendak memelukku, namun dengan cepat aku menghindar.


"Mas, apa ini? Apa maksudmu melakukan ini padaku?" Tanyaku heran padanya, tidak mengerti dengan tindakannya yang nekat.


"Sangat, sangat terkejut! Mas" Seorang Arsya Sanjaya yang ku kenal bukan seperti ini tingkahnya. Kenapa dia jadi begini?


"Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini, tapi kau memaksa ku melakukan hal sampai sejauh ini"


Aku masih tidak mengerti apa maksud ucapan Mas Arsya, dia bilang aku yang memaksanya. Padahal aku tidak pernah melakukan apapun meski tiap kali bertemu dengannya dia selalu menghinaku.


"Apa maksud ucapan mu, Mas? Aku tidak mengerti?"


"Jesi, kau membuatku hampir gila" Ku lihat raut wajah Mas Arsya memang sedikit kacau.


"Aku tidak tahu harus bertemu denganmu bagaimana? Ponselmu sudah tidak bisa di hubungi, sedangkan aku ingin sekali bertemu denganmu dan anak kita"


Deg


Tiba-tiba ada perasaan iba dan kasihan melihatnya seperti itu, aku juga lupa untuk memberikan no ponsel baruku yang bahkan aku juga belum tahu sampai saat ini ni ponselku sendiri, karena lupa menanyakan pada Tuan Nathan.


"Tiap kali aku datang ke sekolah Sisi, aku selalu di hadang oleh beberapa orang pengawal. Dan tiap kali aku ingin menemui mu juga tidak bisa."


"Mas, maafkan aku" Sedikit rasa bersalah timbul di hatiku karena belum mempertemukan dia kembali dan anaknya setelah hari berkabungnya kemarin.


"Jesi, apa kau benar-benar sudah hidup dengan baik tanpa ku?"


"Ak_aku..." Tidak mungkin jika aku menjawab tidak baik-baik saja, meskipun kadang begitu tapi kehidupan anakku sangat baik-baik saja.


"Apa kau benar-benar sudah bahagia, menjadi wanita simpanan yang di sayangi laki-laki kaya raya dan berkuasa?"


"Mas, jaga ucapan mu!" Aku meninggikan suaraku karena tidak terima jika di bilang simpanan.


"Kenapa, kau marah? Benarkan yang aku bilang? Jika tidak, mana mungkin Sisi bisa di kawal dengan ketat, mana mungkin kau bisa se-akrab itu dengan keluarga Erlangga!"


"Sudahlah Mas, sekarang kau sudah bertemu denganku. Apa yang kau inginkan?" Aku tidak mau lama-lama di tempat itu dan bertengkar akhirnya dengan mantan suami.


"Jesi, bisakah kau bersikap lembut padaku seperti dulu." Terlihat mukanya memelas padaku.


"Mas, ak_aku. Tidak seharusnya kau menuntut hal itu padaku" Aku tidak mengerti akan maksud perkataan Mas Arsya. Yang aku tangkap dia mencoba mencari celah lagi untuk masuk ke dalam kehidupanku.


"Jesi aku telah kehilangan anak laki-laki ku. Aku sadar sekarang kau dan Sisi sangat berarti bagiku. Aku tidak mau kehilangan yang ke dua kalinya" Mas Arsya mulai duduk di samping ku.


Apa yang dia sesali sekarang? Semua tidak akan bisa kembali seperti dulu. Tidak bisa dan tidak akan bisa, aku cukup terlalu sakit untuk bisa menerimanya kembali. Aku bisa memaafkan setiap kesalahannya padaku, tapi tidak akan pernah bisa kembali padanya.


"Mas, aku tahu itu berat bagimu. Tapi tidak seharusnya kau seperti ini. Aku tidak mungkin kembali padamu!"


"Kenapa, kenapa tidak mungkin? Aku akan memaafkan kesalahanmu dulu."


Aku mengerutkan kening mendengar ucapannya tentang kesalahan ku. Kesalahan apa yang dia maksudkan? Mungkin dia masih berpikir aku telah selingkuh di belakangnya.


Bukan sebaliknya ya? Kenapa otaknya jadi terbalik gini sih?


"Mas, aku tegaskan padamu sekali lagi biar kau tidak salah paham padaku"


"Apa? Aku akan dengarkan itu"


"Mas Arsya, selama aku jadi istrimu tidak pernah sedikitpun aku bermain di belakangmu apalagi selingkuh"


"Tapi, Jesi aku melihat_"


"Lihat apa? Lihat aku berduaan? Bukan berarti aku selingkuh, Mas"


Ku lihat mas Arsya tampak berpikir mungkin sedang mengingat-ingat kejadian masa lalu.


"Sudahlah Mas, semua itu sudah tidak penting. Mau kau percaya atau tidak, terserah!"


Aku sudah merasa tidak nyaman bersamanya dan ingin segera keluar dari tempat ini.


"Sekarang aku mohon padamu, bawa aku keluar dari tempat ini. Aku tidak mau Sisi khawatir"


"Jesi, bisakah kau pertimbangkan permintaan ku kali ini" Mas Arsya beranjak dari duduknya dan beralih bersimpuh di depanku.


"Mas, jangan begini!"


Saat Mas Arsya bersimpuh di depanku tiba-tiba saja pintu terbuka dengan kerasnya, hingga membuatku kaget.


Braakkk.


Terlihat orang yang ku harapkan menolongku telah hadir di sini. Dengan rahang yang mengeras dan wajah merah padam, sebuah tatapan tajam pun tak luput dia perlihatkan pada kami. Semua orang pasti tahu kalau dia sedang marah.


.


.


Bersambung☺️