Second Marriage

Second Marriage
Bab 51 Doni dan Erlangga



Doni yang ku kira adalah pria baik dan tulus tapi ternyata tidaklah seratus persen benar. Di balik kebaikannya selama ini ada maksud terselubung dalam dirinya. Mungkinkah benar dia mengharapkan aku? Mungkinkah wanita yang di tunggunya selama ini adalah aku?


Bodohnya aku, kenapa aku tidak menyadari setiap tingkah lakunya? Baiklah, jika memang benar apa yang jadi maksud dalam pikirannya adalah aku, itu tidak sepenuhnya dia salah. Karena selama ini dia tidak pernah berusaha untuk mengusik rumah tanggaku saat bersama Mas Arsya. Hanya saja dia salah dalam menitipkan hati pada istri orang. Andai saja aku tahu dari awal, tak kan ku biarkan dia terus berharap padaku.


Doni Anggara Putra, nama belakangmu bukanlah Erlangga itu berarti kau bukan keluarga Erlangga. Lalu siapakah dirimu? Apa hubunganmu dengan keluarga Erlangga?


Nathan, laki-laki yang punya hubungan dekat dengan Doni juga sudah masuk dalam hidupku, dengan segala cara dan berbagai macam alasan. Membuatku tak bisa berkutik dan menghindar, bahkan sampai sekarang aku juga belum tahu maksud sebenarnya apa.


Dua laki-laki di hadapanku saat ini telah membuat aku jadi bodoh dan terlihat rendah, dengan kehidupan ku yang biasa saja mereka mencoba mempermainkan aku dengan cara mereka masing-masing.


Aku berharap Ibu Sonya, mertuaku sekarang bukanlah orang yang terlihat baik di luar saja, melainkan hatinya juga baik. Rasa sayang yang di tunjukkan padaku dan anakku sepertinya bukanlah pura-pura belaka. Dari awal aku bertemu dengannya sudah terlihat beliau wanita yang humble dan tidak membedakan SARA tiap orang. Sifat itulah yang membuat aku merasa nyaman bersamanya.


Secara perlahan aku akan tahu kehidupan mereka sebelumnya, sebelum aku masuk dalam keluarga ini.


"Doni, bagaiaman kabar ayah dan ibumu? Sudah lama juga Tante tidak bertemu mereka, selama ini cuma by phone aja" Ibu mertua mengajak Doni untuk duduk dekat dengannya.


"Mereka baik, Tante. Kami juga sudah pindah ke kota."


"Maafkan Tante kalau belum sempat berkunjung."


"Tidak apa-apa Tante, ayah dan ibu tahu kalau Tante adalah orang yang sibuk."


Ibu mertua dan Doni terlihat asyik mengobrol, mereka seperti melepas rindu setelah lama tak bertemu. Ku dengar dan amati setiap perbincangan mereka agar aku tahu seberapa dekat hubungan Doni dan keluarga Erlangga.


"Jaga matamu saat melihatnya! Jangan sampai dia salah artikan tatapanmu itu"


Greng


Tuan Nathan menyadari tatapanku yang intens dan aku tidak menyadari kalau dia sedang memperhatikan ekspresi dan gestur tubuhku.


"Sa_saya, biasa saja" Jawabku sedikit gelagapan.


"Biasa saja apanya? Apakah saya tidak cukup menarik di matamu, hem?"


Yeah...,dia mulai bersikap sok cemburu di hadapan mereka. Apa yang mau di tunjukkan? Cintanya padaku? Heh, cinta palsu yang di balut dengan kecemburuan semu!.


Dia hanya tidak suka apa yang sudah jadi miliknya menyentuh dan di sentuh orang lain. Sungguh egois sekali bukan?


Ayolah Tuan yang terhormat, mulailah bersikap normal. Apa yang mau kau tutupi? Semua orang tahu cintamu hanya untuk mantanmu saja.


"Hey, ada apa dengan kalian? Pengantin baru ko ribut mulu" Ibu mertua merasa tergangu dengan adu mulut kami.


"Bukankah keributan dalam rumah tangga adalah pemanis suatu hubungan?"


Hah, omong kosong apa itu?


"Nathan kau bisa saja" Ibu mertua terkekeh mendengarnya.


"Oh ya, Doni kenalkan dia Jesika istri Nathan" Ibu mertua memperkenalkan orang yang sudah lama saling kenal.


"Aku tahu, Tante" Ucap Doni tanpa ekspresi.


"Oh..." Ibu terlihat canggung melihat wajah datar Doni.


"Jesi, Doni ini adalah keponakan Ibu. Anak dari adik Ibu."


Pantas saja waktu itu juga Doni bisa masuk ke perumahan Erlangga, ternyata begitu hubungannya.


Aku hanya tersenyum dan manggut-manggut saja, cukup pikiran ku yang bicara. Karena jika aku bicara akan di pastikan salah lagi di hadapannya Tuan Nathan.


"Doni, kau kemana saja selama ini?" Tanya Ibu mertua.


"Kerja? Kerja dimana? Kenapa tidak ikut Nathan saja ngurus perusahaan"


"Tidak sembarang orang bisa bergabung dengan mudah di Cakradana group" Timpal Tuan Nathan.


"Ck, kau ini. Dia ini bukan orang lain tapi dia adikmu, Nathan"


"Tapi, dia tidak punya skil yang di butuhkan cakradana group."


Dengan adik sepupu sendiri saja begitu, gimana dengan orang lain?


"Aku sudah menyuruhnya untuk meneruskan pendidikan ke luar negeri, tapi dia malah memilih mengejar cinta yang sia-sia"


"Wah, wanita mana yang beruntung telah mendapatkan hati keponakan yang tampan ku ini"


Benar Doni memang tampan dan baik, tapi aku tidak pernah punya rasa untuknya. Aku hanya menganggap dia seperti saudara.


"Bagaimana beruntung? Jika sang pangeran tidak punya masa depan yang jelas!" Celetuk Tuan nathan langsung.


"Kak Nathan!" Seru Doni tidak terima atas penghinaan dirinya.


"Doni, sudah mengalah saja" Aku berusaha untuk menghentikan perdebatan yang sebentar lagi akan di mulai.


"Tidak, aku tidak mau. Aku sudah menunggu bertahun-tahun, mana mungkin aku mengalah begitu saja"


Maksudku untuk mengalah diam, kenapa jadi ngomong ngelantur lagi sih?


"Baguslah, aku suka gayamu" Tuan Nathan tersenyum melihat keberanian Doni yang melawannya.


"Ini kenapa malah jadi berdebat si?" Ibu heran melihat mereka bersitegang dari awal.


"Maaf Tante, tapi kak Nathan yang buat masalah duluan" Doni seperti anak kecil yang mengadu.


"Aku rasa kau harus berpikir ulang, siapa yang salah di sini? Dan siapa yang buat masalah?"


Apa maksud perkataannya? Mungkinkah dia menyindirku?


"Aku tahu, Mbak Jesi punya salah, tapi tidak harus begini juga kali buat bayar kesalahannya" Sekarang Doni terang-terangan membelaku.


"Harus bagaimana dia membayar itu terserah aku, Mengerti!"


"Ck, Mbak Jesi. Bicaralah jangan diam saja, di mana Mbak Jesi yang ku kenal dulu? Mbak berhak untuk mendapatkan keadilan atas kesalahan sepele dan tidak perlu membayar dengan gak masuk akal yakni mengabdi seumur hidup."


"Ak_aku" Merasa tidak tahu apa yang harus di ucapkan. Semua sudah terlanjur terjadi sejauh ini untuk apa harus mengulang kembali, biarlah aku jalani takdirku.


Tuan Nathan memang orang yang pemaksa, pemarah dan juga bisa kasar pada wanita, tapi dia tidak pernah kasar pada anakku justru ku lihat dia sangat menyayanginya. Aku rasa hal itu tidak perlu di bahas lagi, meskipun awal bertemu dengannya adalah kesialan tapi tanpanya juga aku tidak akan lepas dari Mas Arsya dengan mudah. Walau aku harus menjalani hidup tak sesuai dengan keinginanku setelahnya, tapi di sini anakku punya jaminan kehidupan yang layak.


"Wait, wait. Sebenarnya perkara apa yang buat kalian bersitegang seperti ini? Dan kau Doni, sepertinya kau sudah mengenal lama dengan istri kakakmu." Ibu mertua sangat ingin tahu tentang pokok masalahnya.


Beliau memang belum tahu bagaimana ceritanya aku bisa mengenal anaknya hingga sampai di sini, dan bagaimana awal pertemuaku dengan anaknya.


Entah apa jadinya kalau Ibu mertuaku sampai tahu, yang mereka ributkan adalah aku.


.


.


Bersambung😊