
Aku masuk ke sebuah kamar menutup pintunya setelah kepergian sekertaris Ken, mataku melihat ke segala arah tempat ini, kamar yang luas untuk ukuran seorang pelayan. Aku ambil benda yang tergeletak di atas ranjang, aku coba tempelkan ke badanku.
"Seragam maid cosplay hitam putih plus apron, jadi aku di suruh pakai ini" ucapku seraya membolak-balikkan benda yang ada di atas ranjang tadi.
"Ok, tidak terlalu buruk" setelah ku pakai seragam, aku melihat diriku sendiri dari atas sampai bawah di depan cermin, tidak ketinggalan kain di kepala juga.
Aku telah siap untuk keluar dan menemui sang majikan, meletakkan tas di dalam kamar karena tidak mungkin aku membawanya kesana-kemari, untung seragam hitam putih ini di apronnya ada kantong besar jadi aku bisa memasukkan ponselku ke dalamnya. Mudah-mudahan pekerjaan yang di berikan padaku tidak terlalu berat dan melelahkan, karena pagi ini pun aku harus melewatkan jam sarapan pagi seperti kemarin demi datang ke rumah ini.
Sebelum keluar kamar aku menyempatkan untuk menyemangati diriku sendiri, agar aku tidak mudah menyerah apapun pekerjaannya nanti. Saat aku keluar kamar sudah ada seorang pelayan yang menunggu ku, matanya tak berkedip saat melihatku, entah apa yang membuatnya seperti itu, aku tidak peduli. Dia mengantarkan aku kembali ke ruang kerja Tuan Nathan.
Ketika aku sudah berdiri di hadapannya, Tuan Nathan juga hanya diam terpaku memandangku, lain dengan sekertaris Ken dia melihatku dengan datar. Aku bingung, apa aku salah berpakaian? bukankah baju ini yang sudah di siapkan dan harus di pakai, aku hanya mengubah tatanan rambutku dengan menguncir kuda.
"Ehem, Tuan, apa yang anda lihat?" aku lambaikan tangan dari jarak dua meter untuk menyadarkan lamunan Tuan Nathan, dia pun sedikit kaget, terlihat mengusap wajahnya lalu melirik tajam pada sekertaris Ken.
"Ken, apa kau tidak salah?"
"Tidak, Tuan" sekertaris Ken terlihat bingung, karena menurutnya apa yang dia lakukan sudah sesuai perintah Tuan Nathan.
"Kemarilah" menjentikkan jarinya, kemudian sekertaris Ken mendekati Tuan Nathan, " kenapa dia terlihat seksi sekali?" ucap Tuan Nathan setengah berbisik tapi aku masih bisa mendengarnya.
Aku yang mendengarnya langsung melihat sekali lagi diriku sendiri, aku memang sedikit merasa seksi dengan pakaian ini, walaupun bagian dadaku tertutup tapi panjang baju ini hanya di atas lutut, dan aku sedikit tidak nyaman tapi aku mencoba percaya diri, tidak mungkin juga aku bisa menolak.
"Ken, kau tahukan? kalau pelayanan di rumah ini lelaki semua, dan masih singgel kecuali Pak Didi dan Pak Satpam" sekertaris Ken hanya mengangguk.
"Tidak adakah baju lain?"
"Tidak, Tuan"
Tuan Nathan terlihat menghembuskan nafas dengan kasar, sepertinya dia tidak menyukai baju yang ku pakai, tapi bukankah ini memang pakaian pelayan wanita.
"Ken, ternyata kau bisa bodoh juga" umpatnya seraya menggelengkan kepala. "Aku bisa sakit mata jika lihat dia seperti itu" mengeratkan giginya karena kesal.
"Jadi, Tuan ingin saya pergi dan membeli costum yang lain? tapi maaf Tuan, saya tidak bisa karena sebentar lagi ada rapat penting, Tuan" ucap sekertaris Ken sebelum Tuannya memberikan perintah.
Aku mengerutkan dahi melihat perdebatan kecil mereka hanya karena seragam yang ku pakai, jika tidak menginginkan untuk di pakai kenapa di berikan padaku.
"Ck!" berdecak kesal lalu bangun dari duduknya, "Persiapkan untuk rapat, aku akan mengantarnya ke belakang."
"Kau, ikuti aku!" perintahnya padaku, kemudian aku mengikuti langkah cepatnya dengan terburu.
Mengikuti langkah seorang Tuan Nathan membuat aku berlari kecil, aku tersenyum manis setiap berpapasan dengan pelayan rumah ini, anehnya mereka tidak ada yang mau membalas senyumku melainkan menundukkan kepalanya.
Hey, para pelayan, ada apa dengan kalian? jangan menunduk padaku, aku sama seperti kalian, hanya seorang pelayan, lihatlah pakaianku, bukan nyonya rumah ini.
Aku juga merasa heran, tidak ada satupun aku bertemu dengan pelayan wanita seperti malam itu, mereka terlihat masih muda dan gagah. Mungkinkah mereka datang juga karena paksaan? satu dari sekian banyak hal yang mampu Tuan Nathan lakukan.
Tuan Nathan membawaku ke sebuah tempat di belakang yang terpisah dari rumah utama, dari kejauhan tempat itu terlihat indah, namun sepi karena tidak ada satu orangpun yang berada di sana. Tempat yang begitu luas dan sejuk membuatku merasakan kelegaan kala memandangnya, ada rerimbunan pohon yang hijau dan terdengar kicauan burung yang merdu, beberapa tanaman yang terpisah di sana, bermacam jenis tanaman bunga yang sudah bermekaran. Bunga matahari yang setiap pagi mekar, Aster, tulip, Lili putih yang memiliki arti kesucian dan kemurnian juga sebagai simbol kesedihan dan masih banyak yang lain bahkan ada sekelompok tanaman langka seperti, Anggrek hitam Papua, Anggrek shenteng nongke, middlemist red, yang lebih membuat aku terpesona adalah bunga Juliet rose, bunga dengan harga yang fantastis.
"Ini, kau baca dan pelajari, lakukan tugasmu dengan baik!" Tuan menyerahkan buku tebal dengan meletakkan di sebuah kursi panjang, sedangkan aku masih berdiri dengan jarak aman.
Setelah itu meninggalkan aku di taman yang luas sendirian, tanpa memberiku satu teman pelayan untuk membantuku.
Bruk
Kali ketiga tubuh kami bertabrakan, saat Tuan Nathan hendak kembali ke rumah utama, mata ku membulat seketika saat tidak ada jarak di antara kita, apalagi aku merasakan ada yang menempel di keningku dengan tepat. Beberapa detik kemudian kami tersadar dan sekali lagi dia mendorongku ke belakang dan akhirnya aku jatuh kembali seperti malam itu, dia acuh pergi tanpa kata dan tanpa membantuku untuk bangun, hanya terlihat mukanya yang putih jadi memerah.
"Astaga, lagi-lagi dia berbuat kasar padaku, tidak bisakah sedikit saja bersikap lembut?" gerutu ku sembari berdiri sendiri
Hah, jangan-jangan dia melihat pahaku saat aku terjatuh? makanya mukanya jadi merah.
Aku mengambil nafas panjang lalu duduk untuk berpikir tenang namun aku teringat kalau tanpa sengaja dia sudah mencium keningku.
"Kenapa bisa sih?" aku mengusap keningku beberapa kali seraya membuka buku yang di berikan. Buku mengenai tanaman-tanaman yang ada di sini, berikut cara merawatnya.
"Mana mungkin, aku bisa selesai dengan cepat mempelajari buku setebal ini, tanaman di sini juga banyak macam dan jenisnya" aku menyandarkan badan ke sandaran kursi sembari menatap bunga-bunga yang indah.
Aku menoleh ke segala arah, tapi tidak aku temukan pelayanan di dekat taman ini, aku kembali fokus dengan buku di tanganku, sesaat kemudian tidak jauh dari tempat dudukku ada satu pelayan yang sedang lewat aku berteriak memanggilnya namun dia hanya berhenti sejenak menatapku lalu menunduk dan pergi. Aku berniat bertanya-tanya sedikit tentang peraturan di sini.
Kenapa semua pelayan di sini sepertinya menghindari ku?
Aku kembali menatap tulisan-tulisan kecil yang berjejer rapi, hingga aku bosan dan mataku lelah. Aku berdiri akan melakukan hal yang utama dalam merawat tanaman di pagi hari, aku mulai mencari-cari alat siram bunga. Setelah aku menemukannya, aku tiba-tiba teringat akan sesuatu dan itu membuat aku ragu untuk melakukannya.
Bagaimana ini? apa aku bisa melakukannya? bagaimana jika nanti malah rusak karena aku?
Aku mengambil ponsel dalam saku apron, ingin menghubungi sekertaris Ken, tapi aku masukkan kembali mengingat setiap perkataan Tuan Nathan adalah aturan bagiku.
"Mungkin aku harus coba" mulai berjalan mendekat ke arah bunga sembari membawa alat siram.
Aku mendekat ke bunga Aster terlebih dahulu, karena menurutku wangi bunganya tidak menyengat.
"Huachi!" hidungku sudah mulai terasa gatal, ternyata aku masih alergi dengan bunga, aku pikir setelah sekian lama tidak pernah menyentuh bunga, alergi ku akan hilang dengan sendirinya.
"Huachi!"
"Hey, siapa kau?" seseorang berteriak dari arah belakang aku. "Berhenti!"
Aku sedikit terlonjak kaget mendengar teriakannya yang kencang, aku menoleh ke belakang untuk tahu siapa yang datang?sedangkan yang punya rumah sudah pergi.
Bersambung👉
Happy reading ☺️