
Setelah membunyikan klaksonnya, mobil itu menepi tidak jauh dari kami duduk.
"Mau apalagi kak Nathan? Kayanya ada yang ngikutin kita" Pertanyaan Doni sama denganku.
"Entahlah...?"
Tidak lama kemudian keluarlah sekertaris Ken dari dalam mobil dan menghampiri kami.
"Siang Nyonya, Tuan Doni" Sapa sekertaris Ken.
"Ada apa, Pak Ken?" Tanya Doni.
"Saya di minta menjemput Nyonya, Tuan" Jawab sekertaris Ken.
"Di mana Tuan, Pak Ken ?" Aku juga menanyakan sosok orang yang selalu bersamanya, kok tidak terlihat.
"Tuan ada di kantor, Nyonya."
"Pak Ken, saya masih harus bekerja, ini baru setengah hari. Waktunya saya pulang masih nanti sore." Aku belum mau pulang, belum puas rasanya bisa keluar tanpa pengawasan. Hah, tapi tidak. Kalau aku tidak di awasi, apa ia sekertaris Ken langsung tahu kalau aku makan di sini?
"Tuan bilang, jam kerja Nyonya hari ini sudah selesai!"
"Tidak bisa gitu dong, Pak Ken..., saya kan punya tanggung jawab" Aku terus cari alasan agar tidak pulang cepat.
"Nyonya, toko sudah menjadi tanggung jawab Tuan Doni. Nyonya Jesi cukup membantu sekedarnya saja."
"Ck, kenapa tidak bilang sih?" Aku merasa kesal kenapa dia menyuruhku bekerja kalau sekarang semua urusan toko sudah di pegang sama Doni.
"Maaf, bukan maksudku untuk merebut posisi Mbak Jesi. Aku hanya ingin toko Mbak tetap berjalan dengan baik" Sahut Doni yang merasa bersalah.
"Tidak Don, kau gak salah. Hanya saja toko itu bukan milikku lagi, itu punya kakak sepupumu. Jadi terserah dia mau mengatur bagaimana, aku cuma ingin bekerja seperti dulu lagi." Sadar aku sudah tidak punya kuasa apapun di sana.
Pantas saja karyawan toko kelihatan segan dengan Doni sekarang, jadi ini yang membuat jarak di antara mereka. Tidak seperti dulu lagi.
Tidak lama kemudian ponselku bergetar dan berbunyi di dalam tas, tanganku pun cepat meraih benda pipih yang menyala itu. Tertera nama suami tercinta di sana.
Kenapa juga mesti menelepon?
"Iya..., ada apa?"
"Sayang, kenapa kau lama sekali?" Ucapnya di seberang sana.
Sayang...?
Aku menjauhkan ponselku dari telinga dan menatapnya heran. Pasti sedang tidak ada wanita itu di sampingnya, makanya dia memanggilku sayang.
"Iya, tunggu sebentar lagi." jawabku setelah kembali ku tempelkan ponsel di telinga.
"Ok, cepatlah..."
"Hem." Lalu ku matikan Ponselku, sebelum dia berbicara hal lain lagi.
"Pak Ken, tadi Tuan berpesan padaku untuk mengantar Mbak Jesi pulang. Jadi, biar aku yang mengantarkannya pulang, Pak Ken kembali saja ke kantor." Doni pun berusaha untuk mengulur waktu kepulangan ku.
"Maaf Tuan Doni, Tuan Nathan berubah pikiran. Tuan menyuruh saya untuk menjemput Nyonya dan mengantarkan ke kantor."
"Ke kantor...?" Ada apa dia menyuruhku ke kantor? Jangan sampai dia mau menyiksaku di sana.
"Mari Nyonya, bukankah Tuan sudah menelpon?" Ajak sekertaris Ken lagi.
"Doni, kembalilah ke toko. Bilang sama anak-anak, Mbak besok datang lagi." Pesanku pada Doni.
"Iya, hati-hati Mbak. Kalau ada apa-apa, hubungi aku." Ucap Doni.
Setelah itu ku tinggalkan Doni dan ikut bersama sekertaris Ken menuju kantor suamiku. Tak lupa ku ucapkan terimakasih pada Mamang siomay yang sudah melayani kami dengan baik.
"Pak Ken, apa Nona Vanesa ada di kantor?" Dalam perjalanan ke kantor aku menyempatkan bertanya tentang wanita itu.
"Tidak, Nyonya."
Tuh kan...bener dugaan ku. Dia tidak akan berani memanggilku sayang kalau di depannya. Dasar egois!
"Ada apa Nyonya? Apakah Nyonya keberatan jika Nona Nesa juga ada di sana?"
"Tidak, kenapa harus keberatan? Suruh saja Tuan mu itu cepat menikah dengannya dan menyudahi permainannya denganku."
"Apakah Nyonya yakin?"
"Tentu saja yakin, sekarang kekasihnya yang di tunggu sudah kembali kan..., untuk apa lagi dia masih menginginkan saya?"
"Menurut Nyonya, untuk apa Tuan tetap mempertahankan Nyonya meski wanita yang di cintanya dulu telah kembali?"
"Mana saya tahu...Pak Ken."
Jangan sampai Tuan mu itu berpikir untuk berpoligami.
"Nyonya, maafkan saya jika saya lancang. Tapi, jangan pernah berpikir untuk bisa lepas dari Tuan karena Tuan sangat peduli dengan anda."
Oh ya, benarkah?
Apa aku harus percaya dengan ucapan sekertaris Ken? Melihat sikapnya yang gak jelas, rasanya aku sulit untuk bisa percaya kalau dia memang peduli denganku.
"Nyonya tidak perlu berpikir buruk tentang Tuan, karena sejatinya beliau adalah orang yang baik. Hanya terkadang beliau kurang tepat dalam bersikap saja. Sudah sangat lama Tuan tidak mempunyai orang yang di prioritaskan seperti sekarang, setelah kepergian Nona Nesa dulu." Ucapan panjang lebar sekertaris Ken ku dengarkan dengan baik.
"Dan sekarang, Nona Nesa sudah kembali Pak Ken...!"
"Benar, tapi apakah Nyonya yakin kalau Tuan masih mencintainya dan membutuhkannya?"
"Pak Ken, apa Pak Ken mendukungku kalau aku terus bersama dengan Tuan Nathan, tapi tidak menginginkan wanita lain ada di tengah kami?"
"Saya akan mendukung apa yang terbaik untuk Tuan, Nyonya."
Yah, itu mah sama aja bohong, kalau yang terbaik bagi Tuannya menikah lagi, kau pasti mendukung.
"Terserah kau saja, Pak Ken..." ! Aku sudah malas meladeni omongan sekertaris Ken yang menurutku tidak bisa memberikan pernyataan yang membuatku sedikit bisa mempercayai ucapannya.
"Ternyata benar kata Tuan, Nyonya terlihat menggemaskan kalau sudah seperti itu." Ucap lirih sekertaris Ken yang masih ku dengar.
"Apa, Pak Ken bilang apa?" Aku ingin memperjelas apa yang ku dengar.
"Tidak, tidak ada Nyonya. Bentar lagi kita sampai." Jawab sekertaris Ken, ternyata tidaklah sama dengan yang ku dengar. Tapi aku yakin tidak salah dengar.
"Oh."
Benar, tidak lama setelah itu kami sudah sampai di depan gedung perusahaan milik Tuan Nathan.
Aku mengikuti langkah sekertaris Ken memasuki gedung perkantoran itu, melewati semua karyawan yang sedang sibuk bekerja.
"Eh, siapa sih wanita itu? Ku lihat beberapa kali dia datang ke sini" Ucap salah satu karyawan wanita.
"Mungkin pacar sekertaris Ken." Jawab karyawan yang lain.
Ternyata ada salah satu karyawan yang memperhatikan setiap kedatanganku di kantor ini. Dan mereka juga tidak tahu siapa aku sebenarnya, baguslah itu. Ketimbang semua orang tahu kalau aku hanya istri kontrak saja.
Kami sudah berada di depan pintu ruang kerja Tuan Nathan, lalu sekertaris Ken mengetuk pintu sebelum masuk. Setelah mendengar sahutannya kami berdua masuk.
Saat sekertaris Ken sudah membukakan pintu dan menyuruhku untuk masuk duluan, aku melihat dua punggung orang yang ku kenal sedang berdiri menghadap Tuan Nathan yang tengah duduk santai di kursi kebanggaannya.
Dua orang itu tidak berani melihat ke arahku saat aku masuk kedalam. Aku merasa ada hal yang sudah atau akan terjadi, karena kedatangan mereka. Entah apa yang sudah di lakukan Tuan Nathan sebelum aku datang, hingga mereka seperti patung yang hanya bisa menunduk.
"Sayang, kemarilah." Suara tuan Nathan memanggil ku yang masih diam karena terkejut.
"Nyonya, Tuan meminta anda untuk mendekat."
Sekertaris Ken menyadarkan aku.
"Ah, iya" Aku berjalan melewati dua orang itu menghampiri Tuan Nathan.
"Sini, duduklah..." Tuan Nathan menepuk pahanya, menyuruh ku untuk duduk di atas pahanya.
"Hah?"
Kenapa lagi dia sih? Mau pamer kalau dia kelihatan sayang padaku?
"Sayang..."
Tak ada pilihan lain, aku pun lalu duduk di atas pahanya. Dia tersenyum dan mengusap-usap lenganku.
"Ada apa ini? Kenapa mereka ada di sini?" Tanyaku yang ingin tahu alasan Mas Arsya dan Karla ada di kantornya.
"Kalian dengar? istriku yang baik ini bahkan tidak mengerti dengan adanya kalian di kantor saya" Ucap Tuan Nathan pada dua orang yang dulu sangat dekat denganku.
Mereka hanya diam saja, tak ada mereka yang ingin bicara. Ku lihat wajah Mas Arsya masih ada lebam bekas pukulan sekertaris Ken waktu itu.
"Suamiku sayang..., ada apa sebenarnya?" Ku coba berkata lembut agar cepat dia mengatakan alasannya.
"Sayang, tenanglah. Ini hanya sedikit hukuman bagi mereka yang sudah menyakitimu"
Hukuman? Apa yang mau di lakukannya? Aku tidak terluka waktu itu, jadi untuk apa menghukumnya.
"Sayang, berdirilah sebentar saja." aku pun beranjak dari paha suamiku.
"Kalian, bersujudlah di kaki istriku! Minta maaflah padanya atas perbuatan kalian sejak dulu, sebelum dia menjadi istriku."
Aku pun mundur selangkah sebelum mereka benar-benar bersujud di depanku, kemudian aku langsung duduk kembali ke pangkuan Tuan Nathan.
"Suamiku sayang, tidak perlu berlebihan seperti ini, aku tidak mau" Ucapku setelah duduk dan sengaja memeluknya mesra.
"Mereka pantas mendapatkannya, karena mereka juga sudah bertindak berlebihan padamu."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi! Sayang."
Sepertinya aku harus cari cara agar Tuan Nathan menghentikan niatnya. Mungkin aku harus sedikit mengancamnya.
"Sayang, cuaca malam sekarang ini sangat dingin. Aku merasa kasihan kalau Sisi harus tidur sendirian. Bagaimana kalau nanti malam aku menemaninya" Ucapku lirih padanya, mudah-mudahan dia mengerti.
"Sayang kau pintar sekali..."
"Kalian lihat? Wanita yang jadi istriku ini tidak mau menerima caraku. Sungguh dia sangat baik tapi kalian tega menyakitinya."
"Sayang, sudahlah. Tidak perlu di perpanjang, toh aku juga baik-baik saja bukan? Aku masih di sini dalam keadaan baik sekarang." Berkali-kali dia menekankan kata istri agar mereka mendengar dengan jelas kalau aku ini istrinya bukan wanita simpanan.
"Baiklah, aku serahkan mereka padamu. Berikan hukuman yang pantas untuk mereka."
Kenapa malah aku sendiri yang di suruh membalas perbuatan mereka. Aku tidak tahu harus bagaimana? Karena aku merasa mereka sudah mendapat hukuman dari yang Kuasa.
.
.
Bersambung ☺️