Second Marriage

Second Marriage
Bab 27 Gara-gara lemon



Pak Didi memberikan segelas air lemon beralaskan nampan panjang, mungkin biar tidak tersentuh tanganku.


"Terimakasih, Pak Didi" aku menerima nampan itu dengan hati-hati supaya tidak tumpah.


Kemudian aku mengantarkan minuman lemon itu ke ruang kerja Tuan Nathan. Sebelum sampai ke ruangannya aku berpapasan dengan sekertaris Ken yang baru keluar dari ruang kerja Tuan nathan. Dia menghentikan langkahku sebentar.


"Nyonya, apa yang Nyonya bawa?"


Aku mengerutkan kening mendengar kata Nyonya untuk memanggilku.


"Pak Ken, memanggil saya?"


"Iya, siapa lagi"


"Tapi, saya bukan_"


"Sebentar lagi, anda akan menjadi istri Tuan Nathan, kan" ucapnya sembari menaik turunkan kedua alisnya.


Rupanya sekertaris Ken meledekku, sepertinya akan berat jika menyandang status Nyonya Nathan yang sebenarnya.


Aku menatap malas sekertaris Ken, lalu ku tinggalkan dia yang masih memanggilku dengan sebutan Nyonya.


Aku berhenti di depan pintu karena mendengar ada percakapan di dalam, suara Nyonya Sonya sedang mempertanyakan tentang diriku. Mungkin sekertaris Ken tadi hendak memperingatkan aku kalau Nyonya ada di dalam.


"Nathan, apa kau serius akan menikahi Jesi?"


"Tentu!"


"Tidak ada maksud lain?"


"Tidak!"


"Harus di ketahui juga bahwa Jesi punya seorang putri dan barusan bercerai" terang Tuan Nathan.


"Apa?" Nyonya Sonya kembali terkejut mendengar kalau aku sudah janda beranak satu.


"Nathan, sungguh senang mendengar kau mau menikah. Itu artinya kau sudah melupakan sumpah konyol mu dan mau memulai hidup baru.Tapi, apa kau yakin?"


Sumpah apa yang Tuan Nathan ucapkan?


Aku mendengar jelas setiap percakapan di dalam, sepertinya Nyonya Sonya tidak menyukaiku. Biarlah, aku juga terpaksa melakukannya, aku tidak akan memakai perasaanku untuk menjalaninya.


"Sudah ku bilang, aku tidak ragu"


"Nathan, jika kau berubah pikiran. Kau bisa berkenalan dengan wanita yang sudah kau lihat fotonya kemarin"


"Sudahlah, hentikan untuk menjodohkan aku"


"Apa anda sedang menguping?" tiba-tiba suara Pak Didi terdengar di belakangku dan membuatku kaget hingga tubuhku sedikit membentur pintu dan mengeluarkan suara. Untung minumannya tidak tumpah.


"Pak Didi, kenapa mengagetkan saja?"


"Siapa di luar?" teriak Tuan Nathan.


"Masuklah, kalau tidak ingin Tuan marah" kata Pak Didi yang terus pergi.


Kemudian dengan gugup aku memutar kenop pintu, memunculkan wajahku. Tersenyum mencoba menghilangkan kegugupanku.


"Jesi..., masuklah" ucap Nyonya Sonya, " Apa yang kau bawa?" lanjutnya bertanya.


"Ini, air lemon untuk Tuan" jawabku sambil meletakkan nampan di atas meja.


"Duduklah..., di sini" ucap Nyonya Sonya seraya menepuk tempat di sebelahnya.


Aku duduk di sebelah Nyonya Sonya, persaanku sudah tidak menentu. Nyonya Sonya pasti akan menanyakan statusku langsung. Aku berharap Nyonya Sonya bisa mengerti tentang keadaanku yang harus bercerai.


"Jesi, benar kau sudah punya putri?" tanpa basa-basi langsung bertanya pada intinya.


"Benar Nyonya" jawabku tanpa ragu.


"Kenapa kau sampai bercerai?"


"Itu, karena_" aku ragu untuk menceritakan semua pada Nyonya Sonya.


"Karena mantan suami dan sahabatnya sudah berkhianat" Sahut Tuan Nathan langsung.


Terlihat Nyonya Sonya menarik nafas dalam, seolah tahu apa yang sudah aku rasakan. Dia pun terdiam seraya menepuk-nepuk punggung tanganku.


Setelah itu dia berdiri dan pergi meninggalkan aku dan Tuan Nathan berdua di dalam ruangan, tanpa ada kata yang keluar lagi. Entah apa yang dia pikirkan sekarang setelah tahu siapa aku yang sebenarnya.


"Siapa yang buat ini?" tanya Tuan Nathan, matanya mengarah ke gelas air lemon.


"Pak Didi, Tuan"


Aku tahu ucapan Tuan Nathan secara tidak langsung menyuruhku untuk menukar yang dingin.


"Saya akan ganti yang dingin" ucapku lalu mengambil nampan yang berisikan air lemon.


"Hem"


Kemudian aku keluar ke belakang lagi dan meminta tolong pada Pak Didi untuk menggantinya dengan yang dingin. Pak Didi sempat terlihat heran saat aku meminta yang dingin, namun tanpa banyak tanya Pak Didi membuatkan yang dingin.


"Ini yang dingin, Tuan" ucapku seraya meletakkan lagi nampan di atas meja.


Tuan Nathan hanya mengamati dan tidak berniat menyentuh minuman yang sudah jadi seperti yang dia inginkan. Kemudian dia menatapku yang berdiri dengan jarak aman.


"Siapa yang buat?" Tuan Nathan menanyakan hal yang sama lagi.


"Pak Didi, Tuan" aku juga menjawab sama karena memang pak Didi yang membuatnya.


"Apa tadi saya menyuruh Pak Didi untuk membuatnya?"


Yah, mulai deh. Dia pasti berniat untuk ngerjain aku lagi.


"Tidak, Tuan..." ku panjangkan kata Tuan untuk menahan kesal.


"Lalu?"


"Iya, iya, baiklah Tuan saya yang akan membuatnya sendiri" kembali aku mengambil nampan yang sudah aku letakkan.


Aku melangkah keluar dengan menunduk lemas, karena jarak ruang kerja Tuan Nathan dan dapur tidaklah dekat.


"Tunggu!"


Aku berhenti tapi tidak menoleh ke belakang.


"Jangan lupa taruh es batu di dalamnya"


aku masih diam tidak menjawab dan tidak menoleh.


"Kenapa diam, kau merasa kesal?"


"hehehehe, tentu tidak. Tuan" ucapku seraya menoleh ke belakang.


Aku sebenarnya sudah merasa sebal, sejak tahu Tuan Nathan hanya ingin membuat aku kesal. Aku berjalan lunglai ke dapur, Pak Didi terkekeh melihatku kembali lagi dengan air lemon yang masih utuh.


Dia sempat ingin bertanya, tapi aku memberinya kode untuk diam, eh dia malah tersenyum. Sepertinya Pak Didi tahu kalau aku hanya di kerjain oleh Tuan Nathan.


"Apakah yang seperti ini, Tuan" aku letakkan kembali air lemon di depannya.


"Ya, benar. Sepertinya segar sekali" ucap Tuan Nathan lalu mengambilnya.


Aku melihat Tuan Nathan meminumnya, setelah itu dia menelannya dengan susah payah. Seperti ada yang salah rasanya atau mungkin terlalu asam.


"Hem, apa ini rasa baru?" ucapnya seraya meletakkan kembali ke atas meja.


"Maksudnya? Tuan" aku bingung dengan yang Tuan katakan. Rasa baru? bukankah rasanya tetap lemon yang pasti asam.


"Cobalah"


"Apa?" tiba-tiba suaraku memekik.


Aku di suruh meminum dari gelas yang sama, itu artinya secara tidak langsung mulutku akan...


Kenapa jadi begini? bukankah dia tidak mau di sentuh wanita lain?


"Ayo minum! tunggu apa lagi"


Dengan terpaksa aku ambil dan minum air lemon bekas Tuan Nathan. Saat air sudah terasa di lidah, mataku pun ikut melotot merasakannya.


Brushhh


Air lemon yang sudah masuk ke mulut, ke luar dan langsung mengenai muka Tuan Nathan.


Terlihat Tuan Nathan memejamkan matanya namun dia juga mengeratkan gigi dan genggaman tangannya.


Tuan Nathan pasti akan marah besar dengan apa yang telah aku lakukan. Kenapa rasa lemonnya jadi asam asin, bukankah harus asam manis?


Happy reading 😊


Terima kasih buat yang tetap setia dengan karyaku🥰