
"Nona, ada titipan untuk anda" ucap pelayan laki-laki yang tiba-tiba masuk, dia menyerahkan padaku selembar kertas yang bertuliskan alamat lengkap Tuan Nathan.
"Terimakasih, Mas" ucapku
Tahu saja sekertaris Ken kalau aku tidak mengingat alamat rumah Tuan Nathan, karena waktu sekertaris Ken membawaku ke rumah Tuan Nathan aku tidak fokus ke mana arah jalan yang di tuju.
"Mas, Mas tunggu" aku memanggil pelayan itu yang hendak pergi meninggalkan ruangan.
"Saya sudah selesai, maaf sudah merepotkan" kataku seraya menunjukkan kekacauan meja makan bahkan ada sendok dan garbu yang sengaja aku hentakkan karena emosi tadi hingga jatuh di lantai.
Setelah mengucapkan terimakasih pada pelayan itu yang sedang membereskan meja, aku berjalan keluar meninggalkan tempat bersejarah bagiku. Tempat di mana aku sudah menerima SKP alias surat kerja pelayan di rumah tuan Nathan dengan terpaksa.
"Setiap perkataan saya adalah aturan bagimu."
Hanya satu kalimat isi dari surat itu, tidak ada penjelasan lain di dalamnya. Kalimat yang semakin membuatku frustasi karena tidak ada keterangan yang jelas, apa yang harus aku lakukan dan tidak ku lakukan. Aku langkahkan kakiku dengan berat menuju arah pintu keluar restoran, melihat jelas beberapa pelayan sedang berbisik-bisik saat mereka memandangku, sedikit mendengar kata "wanitanya Tuan Nathan" dari salah satu mulut pelayanan itu. Entah apa yang mereka pikirkan tentang diriku, aku sudah tidak perduli.
Aku berpapasan dengan salah satu pegawai yang terlihat berbeda sendiri dari cara berpakaian, lebih seperti seorang pemilik atau manager restoran ini mungkin, dia menunduk hormat dan mengucapkan banyak terimakasih karena sudah berkunjung di tempatnya. Ekspresi wajahnya terlihat sangat bahagia berbanding terbalik dengan ku, karena bagiku datang ke tempatnya adalah awal dari hidup yang tidak akan baik-baik saja kedepannya. Setelah aku meladeni berbincang sebentar dengannya, aku menghentikan langkah, manik mataku melihat seseorang yang sedang duduk sendirian di depannya ada secangkir latte dan pie manis, dia menatapku dengan tersenyum. Aku menghampirinya dan duduk di depannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku penasaran, mungkinkah dia mengikuti sejak tadi.
"Makanlah...,masak tidur, Mbak" jawabnya sambil terkekeh. "Mbak sendiri ngapain?"
"Doni, Mbak tahu di sini tempat makan. Tapi kamu tahukan kalau tempat ini adalah tempat makan yang_"
"Yang mahal, untuk orang berkelas" timpalnya langsung. "Aku tahu Mbak, tapi tidak ada larangan buat siapapun untuk masuk asalkan dia punya uang kan!"
"Iya sih..."
"Mbak sendiri ngapain? aku lihat mbak keluar dari ruangan khusus"
"A_ku, bertemu dengan suplayer baru, jadi besok kita bisa bekerja kembali seperti biasa, kita akan mengirim barang yang sempat tertunda hari ini, semua masalah sudah beres." jawabku dengan senyum yang sumringah sedikit menjelaskan, agar tidak nampak kesedihanku.
"Yakin, Mbak? tanyanya dengan mata menelisik curiga.
Aku tersenyum seraya menganggukkan kepala
"Iya, suplayer gila" dalam batinku menjawab. Terlihat dia menarik nafas panjangnya melihat senyumanku yang mungkin kurang natural.
"Mbak, sebenarnya apa yang terjadi?" Doni tidak percaya dengan yang ku katakan, dia sedikit mendekatkan wajahnya, menatapku intens. Aku terdiam saat menatap matanya yang penuh arti. Tatapan matanya yang tak biasa, membuatku merasa ada yang aneh.
Tring, tring
Suara pesan masuk dari ponsel, menyadarkan kami. Aku ambil ponsel dari dalam tas.
[Nyonya arsya, sebaiknya anda mempersiapkan diri, dan segeralah pulang] Pak Ken.
"Astaga, apa dia mengawasi ku?" gumam ku lirih. Mataku melihat ke kanan dan ke kiri, tapi tidak ku lihat batang hidung sekertaris Ken. Aku bernafas lega, lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam tas.
"Ada apa Mbak?" Doni heran melihat tingkahku yang clinggukkan
"Tidak" jawabku seraya menggelengkan kepala, tapi sedikit gugup. "Don, sepertinya Mbak harus pulang, ini sudah malam!"
Aku menoleh ke arah mata Doni melihat siapa yang datang. Aku melihat Mas Arsya berjalan masuk dengan Karla, menggandeng tangannya mesra. Sungguh mereka terlihat sangat romantis, dengan senyum yang melebar menunjukkan bahwa mereka amatlah bahagia.
"Siapa wanita yang bersamanya, Mbak?" aku mendengar pertanyaan Doni, tapi mulutku serasa terkunci rapat. Aku diam menatap dengan nanar pada mereka. Karla sungguh berharga di matanya, dulu Mas Arsya juga sering mengajakku makan di luar, tapi sekarang memberikan tawaran pun hampir tidak pernah. Aku pikir perlakuannya tadi siang adalah awal perubahan dari sikapnya, nyatanya hanya pemanis saja, Mas Arsya tidak adil padaku. Cairan bening sudah terasa menumpuk di pelupuk mataku.
"Mbak, Mbak baik-baik saja?" Doni memegang tanganku, hingga aku tersadar dari lamunanku. Hanya anggukkan kepala sebagai jawaban namun kali ini tanpa senyuman, rasanya sudut bibir ini sudah berat untuk terangkat. Aku mengusap cepat air mata yang sudah sempat menetes. Doni menatapku dengan sedih, setelah itu dia menatap ke arah Mas Arsya dan Karla dengan sinis, dia berdiri sembari mengepalkan tangannya dan berniat menghampiri pasangan yang sudah duduk tidak jauh dari kami, tapi aku mencegahnya.
"Doni jangan, sudahlah biarkan saja. Duduklah kembali" aku berdiri menarik lengannya dan memaksanya untuk duduk.
"Tapi, Mbak dia sudah berkhianat, sudah selingkuh di belakang Mbak, kenapa Pak Arsya tega sama Mbak. Oh jadi ini alasan Pak Arsya tidak pernah datang lagi ke toko setahun ini, hanya karena perempuan itu" Doni sudah emosi karena melihat kemesraan mereka berdua, melihat tawa mereka yang renyah, sedangkan dia tahu kalau aku adalah istri satu-satunya.
"Doni, ini tempat umum jaga bicaramu!" Aku mengingatkannya agar dia tidak mempermalukan dirinya sendiri dengan tindakannya.
"Mbak, kenapa diam saja? tidakkah Mbak mau bicara dengan Pak Arsya?" aku hanya menggelengkan kepala.
"Kenapa? apa Mbak takut dengan wanita ****** itu!"
"Doni! jaga ucapan mu!" tanpa sadar aku menyentak Doni, yang akhirnya suaraku terdengar oleh mas Arsya. Perlahan dia menghampiri kami dengan muka mendung.
"Aduh, masalah lagi" lirihku
"Jesi, sedang apa kau di sini dengannya?"
"Pak Arsya, kami sedang makan malam" jawab Doni santai.
"Makan malam?" mas Arsya menatapku tajam, matanya sudah menunjukkan kecurigaan.
"Tidak Mas, bukan. Aku hanya_"
"Jesi, pulanglah ini sudah malam" potong Mas Arsya ketika aku akan menjelaskan padanya kenapa aku di sini. Dia menyuruhku pulang sedangkan dia bersenang-senang di sini, bahkan dia meninggalkan anak-anaknya, egois sekali mereka.
"Pak Arsya, saya rasa ini tidak adil jika Mbak Jesi harus pulang, sedangkan Pak Arsya sedang bersama wanita lain!" sindir Doni yang tidak terima kalau aku harus pulang.
"Doni!" sentak ku lagi
"Benarkan, Mbak?"
"Siapa kau? ikut campur dalam keluarga kami" hardik Mas Arsya.
"Saya_"
"Sudahlah, jangan bertengkar, malu ini tempat umum. Lihatlah semua orang melihat kita, jaga harga diri kalian apalagi di tempat seperti ini" ucapku menghentikan perdebatan mereka, akhirnya Karla menghampiri kami, setelah melihat kami bersitegang.
"Karla, bawalah Mas Arsya kembali ke tempat duduk kalian, aku akan pulang. Bersenang-senanglah, anggap tidak bertemu denganku" setelah itu aku pergi meninggalkan mereka.
Aku tidak menghentikan langkahku meski Karla memanggilku. setelah aku benar-benar keluar dari pintu, aku berlari kecil agar cepat sampai ke mobil, tidak ingin orang melihat kalau aku menangis. Saat aku sudah menekan tombol remote dan membuka pintu, ternyata ada yang mengikuti ku masuk ke dalam mobil.
Happy reading ☺️
Terimakasih buat yang tetap setia sampai sekarang membaca karyaku yang masih banyak kekurangan 🙏