Second Marriage

Second Marriage
Bab 23 Surprise menyenangkan



Aku sudah berada di depan apartemen Doni, tapi aku masih enggan untuk menekan bel nya. Aku tidak enak hati dengan semua yang telah terjadi, karena aku selalu merepotkan Doni. Tapi jika aku tidak datang ke sini, kemana lagi aku harus pergi?


Aku masih mondar-mandir di depan pintu apartemen seraya menggigit-gigit jari, menunggu pintu di buka setelah setelah aku berpikir lebih baik untuk di sini sementara waktu.


"surprise..." suara Sisi dan Doni mengejutkan aku.


Tanganku menutup mulut yang menganga, terkejut melihat anak ku sudah ada di depanku. Tanpa pikir panjang aku rengkuh tubuh yang agak gembul itu, ku cium pipi kanan kiri juga keningnya. Menyalurkan rasa rindu juga permintaan maaf secara tak langsung.


"Sayang, apa kabarmu?" ku belai rambutnya yang hitam dan berdiri mensejajarkan dengan Sisi.


"Baik, Mama..." jawabnya, "Kenapa menangis, Ma?" tanya Sisi yang melihat air mataku keluar.


"Mama bahagia bisa ketemu Sisi" aku menampilkan senyum terbaikku.


Sebelum bertemu dengan anakku pikiran ini sudah berantakan, takut tidak bisa bertemu dengannya lagi. Takut hak asuh akan jatuh ke tangan mas Arsya saat perceraian nanti.


"Ayo, mari kita masuk dulu" ajakan Doni melihat kami yang masih betah di depan pintu.


Kemudian kami bertiga masuk, Doni langsung mengajakku menuju meja makan. Sudah tersedia beberapa masakan di atas meja. Perutku terasa lapar melihat makanan yang berwarna merah cabe, dan sudah pasti itu pedas.


"Wah, sepertinya enak ni..." ucapku sembari menarik kursi lalu duduk.


"Pasti, Ma!"


"Eits, tunggu dulu! cuci tangan dulu, Mbak" ucap Doni saat tanganku sudah menyentuh sepiring mie goreng pedas.


"Ah, hehehe... iya. Aku hampir lupa saat melihatnya sudah menggoda" mataku menatap mie pedas itu.


"Mama, kalau sudah lihat makanan kesukaannya pasti lupa dengan segalanya" sindir Sisi ketika aku berjalan ke wastafel.


Doni tertawa mendengar sindiran Sisi, begitu juga dengan Sisi sendiri. Aku bahagia bisa melihat tawa Sisi yang seperti itu, berharap selamanya dia akan tumbuh menjadi sosok yang periang. Meskipun dia akan tumbuh besar tanpa keluarga yang utuh.


Rasa lelahku seperti hilang seketika saat melihat anak ku ada di depan mata, dialah yang menjadi obat rasa sakit ku.


"Mari kita makan..." kataku setelah sudah duduk kembali dan siap menyantap makanan favorit.


Kemudian kami makan bersama dengan suasana senang, Doni juga tidak menyinggung kejadian tadi yang bisa merubah mood ku saat di meja makan. Mungkin karena adanya Sisi di tengah-tengah kami. Terkadang Doni bisa bersikap lebih dewasa dari padaku, dia juga mampu mengendalikan emosinya dengan baik.


Selesai makan kami duduk bersama di depan televisi, menemani Sisi menonton acara kartun kesukaannya. Kami tertawa lepas saat melihat kelucuan filmnya, namun tiba-tiba suasana jadi sepi saat Sisi bertanya padaku dan mematikan televisi.


"Mama, apa kita sekarang tinggal di sini?"


Aku dan Doni saling menatap saat mendengar pertanyaan Sisi. Pertanyaan yang wajar bagi anak seumuran dia setelah melihat koper milikku ada di sebuah kamar.


Pertanyaannya membuat ku merasa sedih, mengingat perceraian yang akan aku jalani pasti menyakiti hatinya. Tidak ada anak yang bahagia melihat orang tua berpisah.


"Sisi, apa Sisi tidak nyaman tinggal di sini?" tanya Doni dengan lembut.


"Om, Sisi senang bisa sama Mama daripada harus tinggal di rumah, karena Papa juga jarang pulang ke rumah. Sisi merasa Papa gak kaya dulu lagi!" Ucapan Sisi mewakili perasaannya selama dia sudah jarang bertemu dengan Mas Arsya.


Hatiku terasa perih saat melihatnya bersedih, tapi aku juga tidak mampu mengurungkan niatku untuk bercerai. Mengingat Mas Arsya sudah berubah, bukan hanya sikapnya tapi perlakuannya juga.


"Maaf kan Mama, sayang" kembali aku memeluk anakku dengan erat. Ku rasakan tangan sisi mengusap punggungku dengan sayang.


Tanpa terasa air mata ini jatuh lagi. Sisi mencoba tersenyum setelah melihatku menangis, dia berusaha tegar dengan keadaannya. kemudian dia menyalakan televisi lagi.


"Mbak, sebenarnya apa yang terjadi antara Mbak dan Pak Arsya juga wanita itu?" tanya Doni setelah kami duduk kembali di depan televisi.


Aku menarik nafas dalam mendengar pertanyaan Doni. Sepertinya memang sudah saatnya aku berbagi dengan orang lain tentang rasa sakit yang selama ini hinggap dalam hati dan pikiranku.


Aku mulai menceritakan dari awal hubungan ku dengan Mas Arsya, yang awalnya penuh kebahagiaan dan saling mencintai. Memulai hidup baru bersama dengan orang yang kita cintai adalah hal yang terindah, namun pada akhirnya cinta juga tidak semulus jalan tol yang tak berlubang.


Kehadiran orang ketiga telah memberikan hal buruk dalam keluargaku. Dia yang ku anggap sebagai orang terdekat selain suamiku telah menjadi duri dalam hidupku. Pada akhirnya aku sampai di titik ini, berhenti, menyerah karena lelah.


"Lantas, apa hubungan Mbak dengan Tuan Nathan?" kembali Doni memberikan pertanyaan, kali ini dia bertanya tentang apa yang telah di lihatnya.


Mengingat tentang Tuan Nathan, membuat darahku sedikit mendidih. Sikap dan perlakuannya membuatku selalu ingin marah.


"Huff...., Mbak terjebak karena kesalahan yang sepele," aku menghembuskan nafas kasar.


"Maksudnya?" Doni menaikan alis sebelahnya.


"Mbak, tidak sengaja menabraknya dan menumpahkan air ke jas branded nya". Mengingat pertama bertemu dengannya.


"Dia yang sudah membuat kekacauan di toko dan memaksaku jadi pelayan di rumahnya jika tidak, dia tidak akan mengembalikan keadaan toko"


"Jadi Mbak sekarang bekerja dengannya?"


"Sekarang dan gak tau sampai kapan?" Mengingat sekarang aku sudah tidak punya apa-apa lagi.


"Kenapa begitu?" tanya Doni penasaran.


"Tadi Tuan Nathan mempertemukan Mbak dengan mas Arsya juga Karla. Mereka memaksaku untuk tanda tangan surat persetujuan jual beli toko. Mas Arsya juga menyetujui untuk cepat menceraikan aku!"


"Apa? dasar gila!" umpat Doni yang mulai emosi.


"Kenapa itu orang selalu menggunakan kekuasaannya" lanjutnya menggerutu.


Aku memberikan penjelasan yang mungkin tidak bisa di terima Doni, tapi sebisa mungkin aku memberikan pengertian bahwa aku baik-baik saja. Aku akan menjalani dengan iklhas apalagi saat ini aku tidak punya apa-apa.


* * *


Waktu pagi sudah sudah tiba kembali. Rasanya aku belum puas merasakan tidur yang nyaman bersama anakku, harus sudah bangun dan bersiap kembali ke istana Tuan Nathan.


Suara bel terdengar saat aku sedang di dapur, namun sepertinya Doni sudah membuka pintunya. Suaranya sedikit berisik karena terjadi perdebatan di antara tamu dan pemilik apartemen.


"Ada apa Don?" aku keluar dari dapur untuk melihat siapa yang datang dan membuat sedikit kegaduhan.


"Astaga, Pak Ken?" terkejut melihat kedatangan sekertaris yang juga sombong.


Sekertaris Ken yang selalu saja susah menjawab saat aku bertanya. Pagi-pagi sudah datang bertamu, entah darimana dia tahu keberadaan ku di sini. Mungkinkah dia mengikuti ku semalam? atau mungkin dia memang ada keperluan dengan pemilik apartemen?


Bersambung😊


Happy reading 😚


Terimakasih buat teman-teman yang selalu menunggu 🙏


Tetap tinggalin like and komen, biar author tetap semangat dalam karya receh ini😁