
Aku tidak berani untuk memulai suatu pembicaraan meskipun yang ada di sini adalah suamiku dengan istri keduanya. Mereka adalah orang terdekat bagiku, tapi aku sekarang merasa terpojok karena situasi ini. Seberapa kuat aku membela diri dan menyangkal akan tuduhan Mas Arsya, itu tidak akan merubah pandangannya tentang aku saat ini.
Beberapa menit berlalu akhirnya Tuan Nathan membuka suara dan mencairkan suasana.
"Sudah puas kalian menatapnya?" tanya Tuan Nathan pada Mas Arsya dan Karla.
"Tu_an, saya tidak menyangka jika Jesi juga ada di sini" jawab Mas Arsya dengan tersenyum.
Mas, bahkan kau sudah tidak Sudi menyebut aku istrimu, sedangkan status ku masih istrimu!
"Seperti yang kau lihat, aku juga mengundangnya" ucap tuan Nathan matanya beralih menatap ku juga tersenyum.
Aku memberikan senyum balik padanya, senyum yang sedikit ku paksakan. Jarang sekali dia tersenyum seperti itu padaku, sekali nya dia tersenyum pasti melihatku dalam keadaan sulit.
"Baiklah, seperti yang sudah Ken ceritakan. Apakah kau bersedia?" bertanya pada suamiku, aku melihat Mas Arsya dan Karla tersenyum kembali sembari menganggukkan kepala.
Apa yang sebenarnya mereka rencanakan? kenapa mereka terlihat amat senang, apakah ini ada hubungannya denganku?
Aku menatap heran pada mereka semua, tapi mereka juga tidak perduli dengan tatapan ku. Tidak ada yang mau memberitahuku terlebih dahulu inti dari pertemuan ini.
"Ini, Tuan" Mas Arsya meletakkan sebuah amplop besar di atas meja yang panjang itu.
Amplop apa itu? mungkinkah isinya surat perjanjian lagi?
Sekertaris Ken mengambil amplopnya lalu membukanya dan menyerahkan pada Tuan Nathan. Setelah melihat-lihat beberapa kertas yang ada di amplop itu, Tuan Nathan kembali tersenyum senang.
kemudian dia memberikan kembali pada sekertaris Ken, setelah itu sekertaris Ken menyerahkan kepadaku.
"Apa ini Pak Ken?" tanyaku sembari menerima amplop dengan kedua tanganku, namun pak Ken tidak mau menjawab seperti biasanya.
Aku menatap kertas yang di berikan dengan teliti dan seksama. Mataku melotot sempurna saat membacanya satu persatu. Jantungku pun ikut bergemuruh, menahan emosi yang tiba-tiba muncul setelah membaca semua kertas yang ada di tanganku.
Aku menatap tajam kepada Tuan Nathan, dia terlihat tersenyum manis padaku. Andaikan dia tidak membuatku selalu dalam keadaan sulit mungkin aku sudah jatuh cinta dengan senyumnya itu. Di pipinya ada lesung pipit seperti Sisi, jika tersenyum maka akan tampak terlihat mempesona. Tapi sekarang rasanya aku ingin meremas mukanya ku jadikan seperti koran pembungkus ikan asin peda'.
Setelah aku menatap Tuan Nathan, aku beralih menatap suamiku juga Karla. Ku tatap mereka dengan penuh tanya, tapi Karla terlihat cuek dan biasa aja sedangkan Mas Arsya menatapku tajam seolah menyuruhku untuk menyetujuinya.
"Apa maksud semua ini, Mas?" tanyaku pada Mas Arsya.
"Jesi, sudah jelas bukan semua yang ada di tanganmu! kenapa harus bertanya lagi?" dengan nada tidak suka dia menjawab pertanyaan ku.
Aku tidak menyangka Mas Arsya jadi seperti sekarang, dia sudah membuang ku dan menghancurkan harapan satu-satunya. Sekarang Mas Arsya berhasil membuat aku sangat membencinya hingga tidak ada lagi rasa yang tertinggal.
"Jesika, sudahlah. Kau hanya tinggal tanda tangan saja dan semua akan beres. Ternyata apa yang di tuduhkan Mas Arsya padamu sudah terbukti kan!" sambung Karla tak kalah sinis berbicara padaku.
Apa yang aku pikirkan benar adanya bahwa situasi ini memojokkan aku dan membuat membuat tuduhan Mas Arsya terbukti nyata.
"Karla, apa kau juga senang melihatku seperti ini?"
"Tentu tidak, jesi. Tapi apa yang ku lihat dari kemarin dan sekarang. Semua sudah membuktikan kau yang telah menyakiti Mas Arsya, dan aku tidak suka!" jawab Karla.
Ternyata semua orang di sini senang melihatku menderita, Karla yang sesama wanita juga tidak punya empati.
"Tuan, apakah ini yang anda inginkan?" Aku beralih bertanya pada Tuan Nathan yang sedari tadi hanya diam.
Tuan Nathan hanya menjawab dengan senyum sekilas. Ekspresi wajahnya terlihat berubah, tidak sesenang seperti di awal. Entah apa yang dia pikirkan, tapi matanya memperlihatkan kebencian.
Jika memang ini sudah jadi keputusan Tuan Nathan, jangankan melawan menolak pun itu tidak mungkin. Aku merasa sudah tidak berdaya dengan keadaan ini.
Dengan terpaksa lagi aku harus menorehkan tinta hitam di atas kertas putih. Di satu sisi aku senang Tuan Nathan mempermudah proses perceraian ku tapi di sisi lain Tuan Nathan juga menghancurkan harapanku.
"Benar Jesi, tidak perlu banyak berpikir karena semua akan sia-sia" timpal Karla.
Memang benar apa yang di katakan Karla, sekeras apapun aku berpikir tidak akan merubah segalanya, takdirku sudah tertulis di tangan Nathan Darwin Erlangga. Apa yang dia inginkan pasti akan terwujud.
Tanpa bertanya lagi, aku segera mengambil pena dan mencetak tanda tangan juga namaku di dua lembar kertas. Setelah itu aku melemparkan kertas itu ke tengah meja.
Mas Arsya dan Karla tersenyum puas melihat apa yang mereka inginkan sudah di dapatkan. Setelah itu sekertaris Ken mengeluarkan selembar cek kosong dan di berikan pada Tuan Nathan.
Tuan Nathan menuliskan nominal yang fantastis sama dengan yang tertera di kertas yang ku tanda tangani. Entah apa yang membuatnya begitu tertarik hingga mau mengeluarkan uang yang tidak sebanding dengan yang dia dapatkan.
Mungkinkah dia gila? aku rasa orang gila pun jika mengeluarkan uang yang banyak akan berpikir dulu.
Setelah mendapatkan uangnya, Mas Arsya dan Karla pamit undur diri lebih dulu. Mereka juga mengucapkan banyak-banyak terimakasih pada Tuan Nathan. Begitu bahagianya mereka karena uang itu, bahkan mereka dapatkan dengan menyakiti orang lain. Mereka tidak merasa cukup dengan kehidupannya sekarang, ternyata benar uang bisa membuat orang mudah berubah.
"Jesi, kau sudah beruntung sekarang karena dekat dengan Tuan Nathan" bisik Mas Arsya di telingaku, sebelum meninggalkan tempat ini.
Aku hanya diam, karena bagiku ucapannya adalah hinaan untukku, dia sudah menyamakan aku dengan wanita-wanita ****** yang senang dengan uang.
Setelah kepergian Mas Arsya dan Karla aku juga hanya duduk diam menunduk. Berpikir apa yang harus aku lakukan selanjutnya dengan hidup ku. Jika hati sudah terlampau sakit air mata juga sudah enggan untuk keluar.
Berkali-kali aku menarik nafas panjang, agar sesak dadaku berkurang. Mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaan kesal ku yang membuncah.
"Apa yang akan kau katakan?" aku sudah membuka mulutku untuk berbicara tapi Tuan Nathan mendahuluinya.
"Tuan, bukan seperti itu perjanjian kita bukan?" aku mengingat jelas tidak ada perjanjian tertulis aku harus memberikan yang aku punya.
"Memang bukan! dan bukankah kamu tahu aturan yang sudah di buat, ya_"
"Ya...ya..., aku tahu dan ingat aturan Tuan Nathan Darwin Erlangga!" jawabku geregetan.
"Apa perlu di sebutkan?" tanyanya dengan tersenyum
"Tidak perlu!" jawabku cepat.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
"Apa yang bisa ku lakukan? tidak ada!" jawabku seraya menggelengkan kepala.
Aku sudah memasang muka cemberut dan sudah tidak perduli sopan atau tidak padanya, karena apapun yang aku lakukan tidak mungkin bisa mengembalikan semuanya.
"Tuan, saya mau pulang" izinku padanya seraya berdiri dari tempat dudukku.
"Pulang kemana...?" tanya Tuan Nathan saat aku sudah berbalik ke arah pintu.
Aku menoleh dan menatapnya tajam, dia sedang tersenyum puas melihatku kesal sekaligus benci padanya.
"Persetan dengan pertanyaan mu!" umpat ku lirih saat sudah berbalik badan, dan sialnya pendengarannya juga tajam.
"Hey, berani kau bilang_"
"Selamat malam, Tuan" teriakku sambil berlari membuka pintu lalu menutupnya dengan keras.
Di balik pintu aku mendengar gelak tawanya meledak memenuhi ruangan. Mungkinkah dia hanya bisa tertawa saat melihatku kesal setengah mati?
Bersambung😊