Second Marriage

Second Marriage
Bab 19 Bertemu nyonya rumah



Terlihat seorang perempuan yang cantik, putih, anggun dan elegan dengan rambut panjang ikal yang tergerai. Berjalan mendekat, aku meletakkan alat siram yang ku pegang lalu sedikit membungkuk hormat padanya.


Apa mungkin ini istri tuan Nathan?


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Saya, menyiram bunga, Nyonya" jawabku sopan.


"Siapa yang menyuruhmu berada di sini tanpa seizin ku?" kata-katanya terdengar ketus.


"Tuan Nathan, Nyonya"


perempuan itu diam tampak berpikir sembari menyilangkan tangan di dada memperhatikan aku dari ujung rambut sampai kaki, kepalanya juga manggut-manggut.


"Cobalah, aku ingin lihat bagaimana kau menyiram tanaman-tanaman kesayanganku" setelah menatap dia menyuruh ku kembali melakukan tugasku.


"Siramlah bunga mawar merah itu" katanya menunjuk sekelompok tanaman bunga mawar yang berbeda warna.


Astaga, bagaimana ini? aku pasti akan sangat bersin-bersin karena wanginya.


"Ba_baik, nyonya" aku ambil kembali gembor yang sudah ku letakkan tadi, perasaanku ragu dan takut sudah menjadi satu, jantungku yang tadinya tenang kini mulai berdegup kencang.


Aku melangkah dengan pelan, sempat aku menoleh padanya sambil tersenyum supaya dia memberhentikan langkahku, namun dia hanya menganggukkan kepala yang artinya menyuruhku untuk terus.


Menarik nafas dalam-dalam dan menahannya itulah hal yang harus kulakukan agar hidungku tidak menghirup bau wangi dari bunga mawar yang banyak di sukai. satu dua pohon terlewati dengan aman, tapi tidak dengan selanjutnya, aku sudah tidak tahan lagi untuk menahan nafas dan akhirnya.


"Huachi, huachi, huachi" aku bersin terus menerus hingga menjatuhkan gembor yang ku pegang.


Aku menoleh ke arah perempuan itu masih dengan bersin-bersin, dia cepat-cepat mendekat kepadaku. Perasaanku sudah takut, pasti akan kena marah karena bersin ku yang bisa merusak bunga nya, atau mungkin bunganya akan tertular virus. Terlihat wajah wanita itu khawatir dan cemas, matanya tertuju pada tanaman yang di dekatku. Bersin yang tak kunjung reda sampai aku berjongkok dan menutup wajahku.


"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya perempuan itu, tangannya memegang bahuku.


Syiur


Aku seperti mendapat angin segar, karena bukan kemarahan yang aku dapatkan, justru perhatiannya. Aku hanya menggelengkan kepala, karena aku masih bersin juga. kemudian perempuan itu membantuku berdiri dan mengajakku duduk di sebuah kursi panjang tempat aku meletakan buku yang di berikan Tuan Nathan.


"Apa kau sakit?"


"Maaf Nyonya, saya_huachi!" hidungku kembali terasa gatal.


"Kau sedang flu?" tanya nya lagi, "wajahmu kelihatan pucat"


"Tidak, Nyonya saya tidak sakit! saya hanya alergi dengan bunga" jawabku setelah aku bisa bernafas lega dan berhenti bersin.


"Kasihan..., ayo tinggalkan tempat ini"


"Ta_pi Nyonya, ini tugas saya dari Tuan Nathan, saya tidak berani meninggalkan begitu saja" aku menolak niat baik nyonya rumah ini dengan sopan.


Aku tidak menyangka Nyonya yang punya rumah ini sangat baik padaku, bahkan dia tidak membedakan status ku di sini sebagai pelayan. Berbeda dengan Tuan yang punya rumah ini, dia sombong dan menyebalkan.


Hatiku masih ragu untuk mengikuti ajakan Nyonya rumah, karena takut Tuan Nathan marah dan memberi hukuman yang berat padaku atau kalau tidak dia akan menyakiti orang-orang yang dekat denganku.


"Sudahlah, Jagan banyak berpikir. Biar nanti saya yang mengurus Nathan Darwin Erlangga!" ucap wanita itu seraya memegang tanganku mengajak berdiri.


"Terimakasih, Nyonya" kataku bersamaan dengan senyum yang canggung, karena aku merasa segan pada istri tuan Nathan, pikirku.


Wanita itu berjalan dengan menggandeng tanganku menuju rumah utama, sesekali aku melihat, nampak senyum bahagia di wajahnya. Satu sisi aku merasa lega karena aku tidak akan menderita lagi berada di tengah-tengah bunga yang indah tapi di sisi lain aku merasa takut untuk menghadapi Tuan Nathan.


Aku di bawa ke ruang makan, dia menyuruh ku untuk duduk manis di sana, menemaninya berbincang. Aku semakin segan dengan sikap baiknya padaku, apalagi aku hanya seorang pelayan di rumah yang seperti istana. Setiap pelayan yang berpapasan pun tidak berani melihat lebih lama padanya, lalu aku malah duduk bersamanya, aku berharap tidak ada yang menganggap aku telah bersikap kurang ajar.


"Nyonya, ada apa?" tanya kepala pelayan saat melihatku duduk.


"Lihatlah dia, wajahnya pucat. Tolong buatkan teh hangat untuknya" jawab wanita itu. Tanpa banyak tanya kepala pelayan itu pergi untuk membuat secangkir teh.


Aku tersenyum manis pada kepala pelayan yang katanya namanya Pak Didi itu saat melihat ke arahku, dia menggelengkan kepalanya membuatku merasa tidak enak saja.


"Siapa namamu?"


"Saya, Jesika Nyonya, biasa di panggil Jesi" jawabku canggung.


"Saya, Sonya Erlangga" dia mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya, aku juga menyabut uluran tangannya.


"Jesi, di mana kau bertemu dengan Nathan? dan bagaimana dia bisa mengenalmu?" Nyonya Sonya terlihat antusias dalam bertanya


Aku merasa dia sangat bahagia berjumpa denganku, apakah mungkin dia tidak punya teman wanita? aku rasa tidak karena orang sekaya dia tidak mungkin tidak banyak teman. Apa mungkin di sini tidak ada perempuan yang bisa di ajak berbincang?


Aku jadi merasa bersalah padanya saat ingat kejadian tadi yang tanpa sengaja aku dan Tuan Nathan bertabrakan dan bibirnya menyentuh dahi ku Jika sampai dia lihat, tamatlah aku. Teringat juga telah mengotori jas berharganya yang mungkin pemberian dari istrinya sampai dia menjadi sangat marah padaku.


"Loh, kok malah diem melamun Jes?"


"Eh, tidak nyonya, hanya masih mengingat-ingat saja, Nyonya"


"Oh, jadi dimana?" semakin antusias rasa ingin tahunya.


"Hey, kau! kenapa kau bisa duduk di sini?" tiba-tiba terdengar suara bariton


"Nathan..." nyonya Sonya menghampiri Tuan Nathan yang tiba-tiba datang.


Aku langsung berdiri ketika melihatnya berjalan mendekat, menundukkan kepala dan tak berani menatapnya. Dari suaranya saja sudah terdengar marah, apalagi mukanya pasti sudah merah seperti terbakar dan gigi taringnya sudah terlihat. Teringat waktu pertama aku datang ke rumah ini, bagaimana dia marah-marah padaku, sudah seperti singa hutan yang siap menerkam lawannya.


Bersambung...


happy reading ☺️