Second Marriage

Second Marriage
Bab 21 Situasi yang mengejutkan



Pemilik sedan mewah itu keluar dari mobilnya, mukanya terlihat menegang. Aku selalu menarik nafas panjang untuk menetralkan detak jantung yang tak beraturan tiap kali melihatnya. Tiba-tiba Tuan Nathan datang menyusul ku, pasti dia marah karena aku tidak izin dulu padanya saat pulang tadi. Baru sehari bekerja dengannya tapi aku sudah malas berhadapan dengannya.


"Tu_tuan, kenapa anda menyusul saya?" aku memberanikan diri untuk bertanya terlebih dahulu.


"Masuklah ke mobil!" perintahnya padaku, dia menolehkan kepala ke arah mobilnya.


"Tapi, saya harus pulang! jam kerja saya sudah selesai, bukan?"


"Jangan membantah!"


Aku merasa tidak enak pada Doni, karena seharusnya aku pulang bersamanya. Pada akhirnya Doni melihat tentang apa yang terjadi padaku sebelum aku bercerita padanya, meskipun tidak sepenuhnya tahu.


Mata ke dua pria itu saling memberikan sorotan tajam, seolah berbicara dan saling mengancam. Bahkan kedua tangan Doni sudah membuat kepalan erat. Aku tidak bisa membiarkan ketegangan ini berlangsung lama.


"Don, pulanglah dulu, nanti Mbak menyusul" aku pegang tangan Doni, supaya mereda emosinya.


Setelah itu aku mulai berjalan ke arah mobil Tuan Nathan, tapi sebelum aku melangkah jauh , tanganku sudah di tarik Doni.


"Tapi, Mbak. Aku tunggu Mbak saja di sini!"


"Tidak usah Don, pulanglah duluan" kataku seraya menepuk punggung tangan Doni.


"Kau tidak tuli kan?" hardik Tuan Nathan pada Doni. "Jadi, pulanglah!" perintah Tuan Nathan sembari mengibaskan tangannya.


Aku kembali berjalan menuju mobil Tuan Nathan lalu membuka pintu belakang mobil, dan duduk di kursi belakang. Mataku melihat mereka yang masih diam dan tegang tapi sesaat kemudian mereka saling bicara, entah apa yang mereka bicarakan. Terlihat keduanya seperti beradu mulut tapi tidak berlangsung lama.


"Apa, saya pantas jadi sopir mu?" tanya tuan Nathan saat sudah duduk di belakang kemudi.


"hah, iya Tuan" aku linglung sesaat mendengar pertanyaan nya.


"Pindah ke depan!" pintanya.


"Baik, Tuan" jawabku, lalu turun dan pindah ke kursi depan.


Nafasku terasa sedikit sesak jika harus berdekatan dengannya. mataku fokus melihat jalanan depan saat mobil sudah mulai melaju. Sekali aku melirik Tuan Nathan, terlihat ada keringat keluar di keningnya padahal AC dalam mobil cukup dingin, dadanya juga terlihat naik turun tak beraturan seperti habis berlari.


"Tuan, anda baik-baik saja?" aku khawatir melihatnya seperti itu, takutnya dia sedang sakit.


" Saya tidak apa-apa" jawabnya,matanya tetap fokus dengan jalan di depannya, bahkan dia tidak melirikku sama sekali saat menjawab.


Aku akui, wajahnya terlihat sangat tampan dengan kulit yang putih, hidungnya mancung dan bibir yang tipis tapi sayang kelakuannya mines. Setiap wanita yang melihatnya pasti akan terpesona pada pandang pertama.


"Apa yang kau lihat?" tanya Tuan Nathan, aku ketahuan olehnya saat mencuri pandang.


"Sa_ya, tidak ada tuan" tiba-tiba mukaku terasa panas, aku merasa malu.


"Saya memang tampan dari lahir" ucapnya datar.


Percaya diri sekali dia, tapi memang tampan si..., dengan sikapnya yang tegas dia memang pantas menjadi pemilik Cakradana group.


"Tuan, Nyonya bagaimana?" aku ingat akan Nyonya Sonya yang sedang di rumah.


Bukan maksudku menanyakan kabarnya, melainkan bagaimana perasaannya sekarang kalau tahu Tuan Nathan bersamaku. Aku tidak mau di bilang sebagai perusak rumah tangga, karena aku tahu sakitnya saat kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga.


"Tuan, kita mau kemana?" tiba-tiba mobil masuk ke area parkir sebuah restoran.


"Saya mau makan" jawabnya singkat.


Dia mengajakku makan lagi, ah rasanya aku ingin kabur saja, mengingat kemarin dia memberiku banyak sekali makanan dan tidak boleh menyisakan.


"Ayo, turun!" melihat ku masih duduk diam, sedangkan tuan Nathan sudah membuka pintu dan siap keluar.


"Saya sudah makan, Tuan" ucapku sopan memilih untuk menunggu di mobil saja.


"Siapa yang menyuruhmu makan"


gubrak


Tadinya aku sudah tersenyum manis saat meminta izin untuk tetap tinggal, namun senyumku memudar seketika mendengar perkataannya. Aku di buat malu dengan ucapan ku tadi.


Dari awal masuk area parkiran, aku sudah berpikir Tuan Nathan akan mengajakku makan, ternyata aku salah. Lalu untuk apa dia membawaku kemari?


"Dasar aneh" umpat ku pelan sembari turun dari mobil.


Kemudian dia membawaku masuk ke dalam, semua pelayan yang melihat kami menunduk hormat, bahkan manager restoran yang menyambut kami langsung dan mengantarkan kami ke ruangan yang khusus di sediakan bagi kami.


Setelah kami masuk, Tuan Nathan menyuruh manager itu keluar. Dia duduk dengan tenang namun tangannya sibuk bermain ponsel, aku berdiri agak jauh di sampingnya.


Sudah beberapa menit berlalu, tidak ada pelayan yang muncul untuk mengantarkan makanan. Kaki ku juga sudah terasa pegal tapi tidak juga Tuan Nathan menyuruhku duduk.


Aku tidak tahu apa maunya Tuan Nathan datang kemari? jangankan minum, makan juga tidak. Dia justru sibuk dengan ponselnya seperti tak menganggap keberadaan orang lain di sekitarnya. Aku sudah bosan menunggu seperti ini, akhirnya ku beranikan diri meminta izin ke toilet dan Tuan Nathan menganggukkan kepala yang tandanya memperbolehkan aku keluar ruangan.


"Untuk apa dia kemari kalau hanya untuk bermain ponsel? bukankah tadi dia bilang mau makan" gerutu ku sambil berjalan ke toilet. "Dia membuatku seperti patung manekin saja".


Tidak berani berlama-lama di toilet, aku segera kembali ke ruangan. Aku berhenti di depan pintu saat aku dengar ada suara orang lain selain Tuan Nathan. Bukan cuma suara lelaki saja tapi ada suara perempuan dan sepertinya aku mengenal suara itu.


Aku mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk kembali. Saat pintu terbuka ada beberapa pasang mata yang melihatku. Aku sempat mematung saat tahu jika yang ada di dalam adalah suamiku dan Karla. Mata suamiku menatap ku dengan penuh amarah, sedangkan Karla menatapku sinis.


"Nyonya Arsya, silahkan duduk" ucap sekertaris Ken sembari menarik kursi dan menyuruhku duduk.


Mendengar suara sekertaris Ken memanggil, aku langsung mengalihkan pandangan ke tempat kursi yang untuk ku duduk, lalu berjalan dan duduk di sana.


Aku mencoba tenang, meskipun sebenarnya hatiku sangat gelisah. pikiran ku menerka-nerka tentang situasi saat ini, apa yang sebenarnya Tuan Nathan inginkan dengan kehadiran mereka di sini? Mungkinkah Tuan Nathan akan mengancam ku lagi menggunakan mereka?


Suasana hening tercipta saat kedatanganku, tidak satupun dari mereka membuka suara. Tuan Nathan yang tenang memandang suamiku Arsya Sanjaya dan Karla, sekertaris Ken yang berdiri di samping tuan Nathan, menatap kami datar. Sedangkan suamiku menatapku tajam seolah-olah aku benar-benar ketahuan telah selingkuh.


Situasi yang membuatku seperti terdakwa dalam kasus perselingkuhan, membuatku merasakan sesaknya dada saat tuduhan-tuduhan keluar dari mulut suamiku. Dan situasi saat ini seperti membenarkan semua tuduhan suamiku.


Bersambung😊


Happy reading 😚