Second Marriage

Second Marriage
Bab 58 Hari yang menyenangkan



Dua kali pertanyaan aku lontarkan pada Pak Didi perihal tentang siapa Vanesa Priscilla, tapi Pak Didi tetap bungkam. Aku tidak bermaksud untuk memaksa Pak Didi untuk menjawabnya, hanya saja mencoba siapa tahu aku mendapatkan informasi dari Pak Didi.


"Maaf kan saya Pak Didi, bukan bermaksud saya untuk memaksa Pak Didi menjawab. Saya hanya penasaran saja"


"Tidak Nyonya, saya yang minta maaf karena tidak bisa menjawab pertanyaan Nyonya. Saya pikir itu bukan hak saya untuk memberitahu tentang Nona Vanesa pada Nyonya."


"Iya, Pak Didi benar" Ucapku seraya tersenyum, aku tidak punya keberanian langsung untuk bertanya pada yang bersangkutan. Takut mengorek luka lama.


"Tenanglah Nyonya, anda tidak perlu khawatir. Sejak kehadiran Nyonya, Tuan tidak lagi seperti dulu. Tidak terlalu dingin dan juga lebih banyak tersenyum, apalagi saat Tuan sedang bersama Nona Sisi. Tuan juga tidak gila kerja seperti dulu, bahkan sekarang Tuan tidak meminta di siapkan obat tidur. Saya berterimakasih sama Nyonya." Ucapan panjang lebar Pak Didi sedikit membuatku besar hati, itu berarti aku tidaklah buruk di mata Tuan Nathan dan semua orang di sini.


"Benarkah? Tapi saya tidak melakukan apapun. Mungkin memang waktunya Tuan berubah." Aku tidak mau terlalu percaya diri pada perubahan Tuan Nathan sekarang itu karena aku. Bisa saja dia memang senang dengan anak kecil, bukan?


"Benar, sepertinya ada hal yang membuat Tuan tertarik pada Nyonya sampai Tuan mau membawa Nyonya masuk ke keluarga Erlangga"


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Pak Didi barusan, karena aku tidak mengerti hal apa yang membuatnya tertarik padaku. Aku saja tidak merasa punya talent apapun, Justru aku merasa dia sedang bermain-main saja dengan hidupku. Kadang dia bersikap garang kadang juga baik, terkadang juga seperti memberi harapan pada hati ini.


Setelah selesai memasak aku meminta Pak Didi untuk menyiapkan sarapan, sedangkan aku harus mandi dan bersiap sembari menunggu sarapan siap di atas meja makan.


Kemudian kami layaknya keluarga bahagia pagi ini menikmati sarapan bersama. Hanya Ibu yang tak terlihat pagi ini. Aku bertanya pada suamiku dia menjawab tidak tahu dan sedikit cuek, lalu aku bertanya pada Pak Didi. Ternyata Ibu pergi ke luar negeri menjelang pagi tadi katanya ada pekerjaan yang membutuhkan Ibu untuk hadir di sana. Yah, maklumlah bukan Ibu biasa sepertiku yang punya banyak waktu luang untuk bersantai hingga membuat aku jenuh dan bosan, yang akhirnya ku putuskan untuk sering bantu-bantu Pak Didi, meski dia melarang tapi aku yang maksa.


Dan senjata yang aku gunakan pada Pak Didi saat di tolak adalah status Nyonya rumah ini, setelah itu baru dia akan mengizinkan aku bantu.


Selesai sarapan kami langsung pergi menuju sebuah tempat di mana kali pertama aku bertemu dengannya. Sebuah tempat bermain yang juga adalah miliknya.


Kami tidak hanya pergi bertiga saja melainkan ada sekertaris Ken yang selalu mendampingi Tuan Nathan. Dan ada beberapa orang pengawal juga di belakang dengan mobil terpisah.


Jujur aku merasa sedikit kurang nyaman dengan keadaan seperti itu karena tidak terbiasa, tapi itu demi keamanan Tuan Nathan. Selalu di jaga selalu di layani, begitulah kehidupannya.


Sampailah kami di tempat itu dan kami di turunkan pas di depan pintu masuk sedangkan mobil yang kami tumpangi memasuki area khusus parkir pemilik tempatnya di lantai atas. Seluas area yang di bawah tidak ku lihat banyak kendaraan hanya ada beberapa kendaraan yang bisa di hitung dengan jari terparkir rapi di lantai bawah.


Sedikit heran melihatnya karena biasanya di waktu weekend pengunjung akan ramai dan area parkir juga terlihat banyak kendaraan yang merapat berjejer rapi, ko sekarang sedikit sekali.


Mungkinkah tempat ini juga di tutup seperti waktu di pantai dulu? Tidak asyik sekali kalau sampai itu terjadi. Itu berarti hanya kami yang akan main di dalam, tidak ada orang lain.


Saat kami memasuki ke dalam, aku di kejutkan dengan keadaan di dalam. Benar sangat sepi dan tidak ada orang lain kecuali hanya ada orang-orang yang menunggu gerai makanan. Lebih terkejut lagi ternyata ada sebuah poster besar bertuliskan 'Welcome to my fammily'. Dan berhiaskan balon warna-warni yang lucu karena ada dalam berbagai macam bentuk.


"Wauuu, keren Ma..." Sisi terlihat sangat mengagumi kejutannya, dan aku juga sempat ternganga melihat hal itu. Aku seperti antara percaya atau tidak kalau itu di buat untuk menyambut kami.


"Tuan, itu beneran untuk menyambut kami?" Aku beneran ingin tahu apa itu di buat khusus untuk kami atau pengunjung lain yang sewa tempat ini untuk acara khusus.


"Entahlah?"


"Hah? Entahlah?" Ucapku lirih. Aku tidak menyangka dia akan menjawab seperti itu. Sebuah jawaban yang menunjukkan ketidaktahuan dan itu membuatku sedih. Setelah aku pikir Itu sengaja di siapakan untuk kami. Apalagi Sisi sudah berlari kegirangan menuju balon yang bergelantungan dan juga berserakan di lantai. Tidak bisakah dia sedikit berbohong untuk membuatku senang?


"Ayo kita ke sana" Ajak Tuan Nathan seraya tangannya bergerak meraih tanganku untuk menghampiri Sisi yang sedang bermain Balon. Aku ikuti langkahnya sembari melihat tangan yang tengah di gandengannya.


Sebuah tangan yang terlihat dingin kini terasa hangat. Sebuah tangan yang dulu tidak mau di sentuh sekarang merapat erat dengan tanganku. Pikiranku mulai berkelana, benar kata Pak Didi, Tuan Nathan ada perubahan dalam dirinya.


Setelah puas menemani Sisi bermain balon lalu kami bersiap untuk bermain lompat, lompat dan melompat. Melepas segala penat dan pikiran yang negatif. Membakar kalori dan lemak-lemak jahat dalam tubuh hingga menimbulkan energi yang positif.


Setelah sampai selesai kami bermain ternyata tidak ada pengunjung lain yang datang itu berarti poster itu memang di tunjukkan pada kami.


"Kenapa senyum-senyum lihat saya? Makan, kau pasti lapar kan..." Tanyanya saat kami sedang makan, meski dia tidak sedang menatapku dia tahu kalau aku sedang melihatnya seraya tersenyum.


"Terimakasih Tuan, untuk hari ini"


"Hem, makanlah lalu kita pulang"


"Iya, Yah makasih banyak udah bawa Sisi bermain dengan sangat puas di sini"


"Tentu sayang, kau boleh bermain kapanpun di sini" Ucapnya sembari mengusap pucuk kepala Sisi. Kalau sama Sisi aja bisa seperti itu, lain kalau denganku.


*


*


Weekend sudah aku lewati dengan bahagia bersama dengan orang yang ku sayangi terkecuali Tuan Nathan. Entah tidak atau belum ku sayangi, yang pasti weekend ini aku lewati tanpa beban pikiran apapun. Semua yang terjadi membuatku merasa happy saja.


Hari ini aku berinisiatif untuk mengantarkan makan siang ke kantornya sebagai ucapan terimakasih. Kebetulan tadi pagi ku lihat dia terburu-buru berangkat ke kantor dan tidak sempat sarapan. Aku bahkan terkesan di cuekin karena di sapa selamat pagi pun tidak.


Setelah weekend yang kami lewati bersama dengan akrab, kini dia seperti kembali menjadi dingin. Seolah lupa akan kehangatan kemarin. Mungkin memang karena dia beneran sibuk, wajarlah kalau dia manusia sibuk dan aku tidak mau berpikir negatif.


Aku langkahkan kaki dengan pasti memasuki area gedung perkantoran-nya. Dengan Senyum yang selalu mengembang di bibirku dan membawa Lunchbox di tangan ku. Ku lewati seorang satpam di depan pintu masuk tanpa halangan dan terus berjalan menuju ke ruangannya.


Namun saat aku sedang berjalan santai tiba-tiba ada seseorang yang menabrak ku dari arah belakang hingga aku tersungkur ke depan. Untung makanan yang ada di Tupperware tertutup dengan rapat hingga tidak tumpah saat aku terjatuh. Hanya kedua siku ku yang terasa sakit.


Brukk


"Maaf, maaf Mbak" Ucap seseorang yang mencoba membantuku berdiri. Dia seperti sedang terburu-buru.


"Mbak, tidak apa-apa?" Tanyanya setelah aku berhasil berdiri tegak kembali. Aku hanya menggeleng sembari melihat siku yang sedikit terluka.


"Mbak, kurir makanan ya? Apa tumpah atau rusak makanannya?" Tanyanya lagi padaku dengan cepat.


Sedikit tercengang mendengar kata kurir dari mulutnya, dalam pikiranku tertawa geli. Mungkin memang aku terlihat seperti kurir dengan pakaianku yang biasa saja di banding dengannya dan orang-orang yang bekerja di sini.


"Buk_"


"Kalau gitu saya ganti saja ya Mbak, biar Mbaknya gak rugi" Dengan cepat dia memotong ucapan ku. Kemudian dia memberiku uang beberapa lembar warna biru langsung ke tanganku. Lalu dia cepat pergi menuju lantai atas.


Aku mematung melihat kepergiannya yang begitu saja dan terburu-buru. Mungkin memang seperti itu cara orang kelas atas berlaku.


*


*


Bersambung😊