
Jika semua yang di katakan Nyonya Sonya benar adanya, berarti Tuan Nathan adalah tipe seorang laki-laki yang setia. Sekali mencintai tetap akan mencintai tidak memandang siapa dan bagaimana orang tersebut. Siapakah sebenarnya yang dia cintai? Itu tidak mungkin diriku kan, dari semua sikapnya dia tidak pernah menunjukkan sedikit saja rasa suka padaku. Justru beberapa kali aku mendapat perlakuan kasar darinya.
Setelah kepergian Tuan Nathan, Pak Didi mengantar aku untuk masuk ke kamar.
Aku menata baju di lemari kamarku, kali ini kamarku berbeda karena sekarang terletak di lantai dua yang sebelumnya berada di lantai satu. Sangat jauh berbeda dengan kamar yang dulu sempat aku tempati untuk berganti pakaian. Kamar ini lebih luas dan sudah tertata rapi jejeran make up di meja rias, dan ranjang yang besar untuk seorang diri.
Selesai dari kamarku, langsung ke ruangan Sisi yang letaknya di samping kamarku. Saat ku buka pintu aku langsung terkesiap, kamar yang indah di dominasi warna yang cerah. Sudah terdapat juga lemari khusus yang di penuhi boneka Barbie kesukaan Sisi, sebelahnya lagi ada lemari yang bentuknya sama namun masih kosong. Mungkin untuk meletakkan boneka-boneka Sisi dari rumah Mas Arsya.
Aku yakin Sisi akan sangat senang tinggal di sini, apalagi mengingat Tuan Nathan dan dia cepat akrab. Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri membayangkan ekspresi Sisi nanti saat datang ke rumah ini melihat semua boneka kesukaannya ada banyak. Iya meski kali ini pun aku harus bersandiwara lagi di hadapannya, dia tidak boleh tahu tentang pernikahan kontrak yang aku lakukan.
Semua ini aku lakukan demi anakku demi masa depannya agar lebih baik dariku. Terlepas nanti ayah kandungnya akan ikut berperan atau tidak. Aku tidak perduli dan aku tidak akan mengemis uang padanya untuk Sisi. Akan aku buktikan padanya aku bisa berdiri tanpanya.
Sempat terlintas tentang tuduhan Mas Arsya padaku tentang aku yang menjadi simpanan Tuan Nathan. Apa katanya kalau dia tahu aku menikah dengan Tuan Nathan? Mungkinkah dia akan merubah pandangannya tentang aku? Tapi syukurlah karena pernikahan akan di laksanakan secara diam-diam, dengan begitu tidak akan ada yang tahu kalau aku menyandang nama Nathan Darwin Erlangga.
"Jesi, apa kau sudah selesai?" Suara Nyonya Sonya yang tiba-tiba terdengar mengagetkanku.
"Eh, sudah Nyonya" jawabku sembari tersenyum.
"Apa kau juga dah siap?"
"Siap, siap apa?" tanyaku balik, tidak tahu yang di maksudkan Nyonya Sonya.
"Fitting baju pengantin lah, apalagi?"
"Apa masih sempat?"
"Tenang saja, saya sudah menyiapkan lama baju calon menantu di rumah ini. Saya rasa tinggal sedikit saja mungkin untuk mengubah ukuran" jawab Nyonya Sonya yang sudah terlihat riang kembali.
"Tapi, saya rasa itu berlebihan. Saya bisa pakai apa adanya saja, Nyonya" Tolak ku halus karena aku memang merasa tidak pantas mendapatkan perlakukan spesial.
Aku merasa bahwa aku bukan siapa-siapa, aku hanya wanita yang berasal dari kampung rakyat jelata. Sedikit berubah karena Mas Arsya menikahi ku.
"Hey, apanya yang berlebihan?" Ucap Nyonya Sonya lalu duduk mendekati ku di tepi ranjang.
"Kau adalah calon keluarga ini, itu berarti kau berhak dengan semua yang ada di sini termasuk pelayanan dan fasilitas. Terlebih Nathan, kau berhak memiliki dia seutuhnya?"
hah, memilikinya seutuhnya. Sebenarnya siapa wanita ini? Apa mungkin dia ini bukan istri Tuan Nathan?
Sepertinya aku sudah melewatkan sesuatu saat perbincangan tadi dengan Tuan Nathan dan Nyonya Sonya. Aku justru sibuk dengan pikiranku sendiri sampai aku tidak terlalu mendengar setiap ucapan Tuan Nathan.
"Tapi, Nyonya"
"Stop, berhenti memanggilku Nyonya dari sekarang!" tegas Nyonya Sonya.
"Saya memang Nyonya di rumah ini, tapi kau juga akan menjadi Nyonya muda. Jadi jangan panggil Nyonya lagi mengerti?" Aku hanya mengangguk menjawab tuturan jelasnya.
"Apa?" aku terkejut mendengarnya.
Bukan istri Tuan Nathan, lalu siapa dia? Seorang wanita yang cantik dan terlihat belum tua. Wanita yang masih sangat energik.
"Tapi, saya pikir Nyo_, eh anda istri Tuan Nathan dan aku akan di jadikan yang kedua" ucapku sedikit malu.
Nyonya Sonya terkekeh mendengar perkataan. Mungkin pikiran ku yang menganggap dia sebagai istri adalah hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
"Jadi selama ini kau pikir saya ini istri Nathan?" ucapnya masih sembari terkekeh. Aku mengangguk seperti orang bodoh.
Mungkin memang aku sudah bodoh karena tidak mencari tahu lebih banyak lewat media.
Aku hanya fokus dengan Tuan Nathan saja.
"Lalu, siapa anda?" tanyaku penasaran.
"Saya, Ibunya!" Jawabnya tanpa ragu.
"Hah?" Aku tercengang kembali mendengar tuturnya.
Kenapa ibunya masih terlihat muda?
"Jangan heran kalau melihat saya masih muda. Itu karena saya di jodohkan dengan Darwin Erlangga , Ayah Nathan. Waktu masih sangat muda karena waktu itu saya baru lulus sekolah menengah atas. Makanya saya masih terlihat muda"
"Oh, begitu"
"Walaupun kami di jodohkan tapi karena terbiasa membuat kami saling jatuh cinta. Setelah saya melahirkan Nathan tidak lama ayahnya pergi untuk selamanya meninggalkan Nathan yang masih kecil. Ayahnya meninggal karena kecelakaan" Ibu Tuan Nathan yang tadinya riang sekarang tiba-tiba sedih karena teringat masa lalu yang kelam.
"Nathan besar bersama Pak Didi, Saya menyibukkan diri dengan belajar melukis dan mengikuti setiap pameran hingga saya bisa menerima kepergian ayah Nathan dengan ikhlas. Karena sebab itu juga Nathan tidak terlalu akrab dengan saya, tapi masih menghormati dan menyayangi saya sebagai Ibunya"
Penjelasan Ibunya Nathan membuatku sedikit mengerti dengan sifatnya. Sifatnya yang dingin pada orang dewasa dan juga hangat terhadap anak kecil.
.
.
Bersambung 😊
Tetap minta dukungannya ya readers dalam karya saya yang masih dalam tahap belajar dan belajar.
Terimakasih 🙏