
Mengakhiri pertempuran dengan ciuman di kening adalah hal yang paling di rindukan pada tiap wanita.
"Terimakasih." Ucapnya lalu ambruk di tubuhku sejenak.
Haruskah aku juga mengucapkan terimakasih karena telah memberi rasa yang sudah lama tidak aku dapatkan.
Aku hanya tersenyum samar. Semua sudah terjadi, menyesal pun tiada guna. Aku hanya berharap setelah ini dia tidak akan membuang ku dari kehidupannya. Meski dia belum mengucapkan kata cinta padaku, akan ku anggap dia mulai mencintaiku sekarang.
Dan apapun akan ku lakukan untuk mempertahankan dia di sisiku, karena sekarang ada wanita yang mencoba memasuki keluarga kami.
Rasa takut dan trauma karena di duakan harus aku lawan dengan kuat. Tidak akan ku biarkan kali ini ada wanita lain yang mencari celah untuk masuk dan tinggal dalam keluarga ku.
Setelah dia mengangkat tubuhku dan membawa ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Dia membaringkan tubuhku kembali di atas ranjang, di selimuti tubuhku yang masih telanjang.
"Tunggulah aku akan mengambilkan pakaian untukmu."
"Tidak, tidak usah." Jawabku cepat.
"Apa kau ingin menggodaku lagi, hem?" Dia yang sudah berdiri kembali duduk mendekatiku.
Aku menggeleng dengan cepat. Bukan itu maksudku, aku hanya ingin mengambil sendiri pakaiannya.
"A_aku bisa ambil sendiri" Aku masih gugup teringat akan hal yang barusan terjadi.
"Aku tahu kau lelah, jadi tetaplah di sini. Biar aku yang ambil." Aku mengangguk menurut saja, memang benar aku merasakan lelah yang amat sangat.
Ku lihat punggung suamiku sampai menghilang di balik pintu, tidak menyangka dia bisa jadi sweet begini. Aku masih tidak percaya aku dan dia sudah melakukannya.
"Ini, pakailah." Dia memberikan pakaian tidur.
Apa ini, kenapa dia ngasih lingerie? Apa dia bermaksud melakukannya lagi? Tadi saja aku pakai pakaian biasa dia ganas, apalagi kalau aku pakai yang seperti ini?
"Kenapa bengong? Ayo pakai, kau tidak bermaksud untuk tidur telanjang kan?"
"Tidak, hanya ini terlalu tipis. Aku merasakan dingin karena habis dari kamar mandi." Sedikit aku buat alasan.
"Tenang saja, aku yang akan menghangatkan tubuhmu." Senyum manis dia tunjukkan untuk menggodaku.
Hei, kenapa dia jadi sangat mesum begini.
"Cepatlah pakai, kalau tidak tombak tajam ku ini siap menusuk lagi."
"Hah! Tidak, iya baiklah." Aku sudah berdiri dan siap untuk berlari ke ruang ganti.
"Hey, mau kemana? Di sini saja. Aku sudah melihat semuanya tidak perlu malu."
"Tapi..."
Dia mulai mendekat dan mengambil alih pakaian yang ku pegang ke tangannya.
Mau apalagi dia?
Batinku reflek bertanya tentang sesuatu yang pasti aku sudah tahu jawabannya.
"Apa susahnya pakai pakaian seperti ini? Ini sangatlah mudah, bukan?" Aku membiarkan dia memakaikan lingerie di tubuhku.
Entah kenapa aku jadi seperti terhipnotis oleh perlakuannya, bahkan aku lupa dengan rasa yang namanya MALU.
Setelah selesai tubuhku terbungkus dengan pakaian tipis itu, dia kembali melihatku dengan senyum. Kemudian dia memelukku erat, hingga aku sulit bernafas.
"Kau harus tahu, aku baru pertamakali melakukan hal itu sepanjang hidupku. Tidak ada wanita lain yang pernah merasakan kehebatan ku selain dirimu." Ucapnya masih dengan memelukku.
Apa benar? Tidak ada yang tahu dia jujur atau bohong.
Dia mulai lagi mengecup leherku, kembali membangkitkan rasa yang tadi sudah hilang.
"Aku menginginkan lagi dan lagi. Kau sudah jadi milikku jangan berharap untuk bisa lepas dariku." Saat ini wajahnya kami sudah tidak berjarak lagi, kening dan hidung kami sudah bersentuhan.
Kembali dia menghisap bibirku dengan lembut. Menuntut dan terus menuntunku untuk mengulang permainan panas lagi.
Membuang lagi pakaian yang barusan ku kenakan. Percuma di pakaikan kalau setelahnya di lepas lagi, belum juga ada satu jam.
.
.
Rasa lelahnya bertempur semalam membuatku malas untuk bangun pagi ini. Saat pertama ku buka mata aku di suguhi wajah teduh suamiku yang masih terlelap. Tanpa kusadari sudut bibir ini terangkat, lagi-lagi masih seperti mimpi. Akhirnya aku di akui sebagai istrinya dan dia juga sudah menjadikan aku miliknya sepenuhnya.
Mudah-mudahan datangnya hari yang baru tidak merubah sikapnya yang semalam. Aku berharap dia masih menjadi sosok manusia seperti semalam bukan manusia yang seperti singa saat pertama aku kenal.
Melihatnya tertidur lelap membuatku ingin mencuri sebuah ciuman sekilas lagi di pipinya. Setelah aku melakukan niatku, aku kembali masuk dalam selimut karena hari juga masih gelap.
Posisi tidur miring adalah posisi yang nyaman untuk bisa tidur lagi, tidak lama kemudian aku merasakan tangannya melingkar di perutku.
Jangan-jangan tadi dia sudah terbangun dan merasakan ciumanku.
Hingga matahari menampakkan sinarnya. Masih dengan posisi yang sama, tangan kekarnya masih setia melingkar di tubuhku.
"Sayang...bangunlah, sudah pagi" Aku coba membangunkannya dengan mengusap lengannya.
"Hem, sebentar lagi."
"Apa tidak pergi ke kantor?" Tanyaku yang sudah berbalik arah menghadapnya.
"Nanti saja." Masih dengan terpejam.
Seperti sangat kelelahan sekali, suruh siapa mentang-mentang baru pertama kali langsung aja sepuasnya. Aku juga merasakan badan ini sakit semua.
"Sayang, ada yang ketuk pintu. Lepas dulu, saya mau bukain, siapa tahu itu Ibu?"
Aku mendengar di luar ada yang mengetuk pintu. Mataku melihat ke arah jam dinding ternyata sudah jam 8.
Astaga ternyata sudah siang.
Buru-buru aku turun untuk membuka pintunya.
"Nyonya, sekertaris Ken sudah menunggu Tuan di bawah." Ucap Pak Didi.
"Oh, iya. Tapi, Tuan masih tidur. Nanti coba saya bangunkan lagi."
"Baik, Nyonya"
Kembali aku membangunkan suamiku, namun masih dengan jawaban yang sama. Belum mau bangun dari ranjangnya.
"Sudah selesai mandinya?" Sedikit terkejut melihatnya yang sudah duduk.
"Eh, iya..." Jawabku yang barusan keluar kamar mandi sembari mengikat tali handuk yang ku pakai.
"Kenapa tidak mengajak?" Ucapnya seraya bangkit berdiri lalu menghampiri dan langsung memelukku.
"Suamiku sayang, Pak Ken sudah menjemput untuk berangkat ke kantor." Ucapku agar dia cepat melepaskan pelukannya, aku takut dia akan mengulang lagi kegiatan semalam.
"Ck, Kenapa harus sepagi ini?" Gerutunya sembari berjalan ke kamar mandi.
"Bukankah biasanya lebih pagi dari ini? Kenapa bisa lupa sih?" Ucapku lirih.
"Saya ke bawah duluan, mau siapin sarapan." Ucapku selesai berganti pakaian.
"Salam pagi ku mana?"
"Ha?"
Salam pagi yang gimana maksudnya?
"Lakukan ini tiap pagi sebelum keluar kamar" Ucapnya sembari menunjuk pipinya.
Salam pagi dengan mengecup pipinya harus di lakukan tiap hari dan tidak boleh terlupakan. Mandat dan perintah dari suami.
"Tunggu!" Dia menghentikan niatku untuk turun.
"Siapa yang menyuruhmu menyiapkan sarapan? Itu tugas Pak Didi dan yang lain. Kau tidak perlu melakukannya."
"Tapi, biasanya saya juga ikut nyiapin. Sayang..."
"Mulai sekarang tidak boleh, kau harus melayani ku dulu hingga selesai lalu kita turun bersama."
"Begitu ya?"
"Aku ingin kau mengurusku dari ujung rambut sampai kaki."
Hei, kenapa aku merasa seperti baby susternya?
"Iya, baiklah." Ini memang tugas istri, aku tidak boleh over thinking.
"Lah mana pak Ken?" Tanyaku karena tidak melihat keberadaannya saat sudah turun.
"Entahlah?"
Sampai di meja makan tidak ada siapa-siapa, pastinya Sisi sudah berangkat di antar oleh Ibu. Dan kami hanya sarapan berdua saja.
"Nona, nona tunggu!" Tiba-tiba suara teriakan sekertaris Ken dari arah depan terdengar dan mengalihkan perhatian kami dari makan pagi.
"Pagi semua..." Dengan senyum merekah, dia menyapa kami.
.
.
Bersambung 😊