Second Marriage

Second Marriage
Bab 36 Di percepat



Saat ini aku sudah sampai di kediaman Tuan Nathan Darwin Erlangga. Sekertaris Ken langsung menurunkan semua koperku dari bagasi mobil. kemudian membawa masuk ke dalam.


"Loh, Pak Ken. Kenapa koper saya di turunkan?" Tanyaku heran sebelum sekertaris Ken membawa kedua koperku masuk ke dalam. Harusnya tidak di sini bukan tempat baru yang di maksud?


"Nyonya, sebaiknya segera masuk! Karena Tuan Nathan sudah menunggu di dalam" ucap sekertaris Ken lalu menggeret koper milikku dan Sisi.


Mungkin benar aku harus pindah ke sini, tapi kenapa harus secepat sekarang. Hari pernikahan masih beberapa hari lagi dan aku masih ingin menikmati waktu kesendirian ini. Lalu dengan berat hati aku pun mengikuti langkah sekertaris Ken masuk ke dalam.


Di dalam sudah nampak Tuan Nathan bersama Nyonya Sonya tengah berbincang serius. Terlihat dari raut wajah mereka seperti ada sedikit ketegangan.


"Pagi, Tuan, Nyonya" sapa ku ramah. Tuan Nathan dan Nyonya Sonya menoleh ke arahku, setelah tadinya saling pandang.


"Pagi Jesi, kau sudah datang. Duduklah di situ" ucap Nyonya Sonya menunjuk kursi Tuan Nathan.


"Tapi_" ucapku bersamaan dengan Tuan Nathan yang tidak ingin duduk bersandingan.


"Nathan!" Seru Nyonya Sonya.


"Duduklah" perintah Nyonya sekali lagi padaku.


"Baiklah, Nyonya" ucapku lalu duduk di sebuah sofa panjang yang sudah berpenghuni.


"Ken!" suara tegas Nyonya Sonya.


"Iya, Nyonya" jawab sekertaris Ken.


"Antarkan koper-koper itu ke kamar Jesi" Nyonya menyuruh sekertaris Ken untuk mengantarkan koper milikku ke kamarku.


Ada apa dengan Nyonya Sonya? Kenapa Nyonya Sonya tegas sekali pagi ini?


Entah apa yang terjadi padanya hingga Nyonya Sonya sedikit berubah tegas, biasanya juga dia selalu lemah lembut.


"Jesi, apa kau tahu Nathan mengajukan hari pernikahan kalian besok?" Tanya Nyonya Sonya langsung yang sepertinya jadi pokok permasalahan.


"Apa?" Suaraku pun langsung melengking, hingga Tuan Nathan menutup salah satu telinganya.


Aku benar-benar terkejut dengan pertanyaannya, karena sebelumnya Tuan Nathan ataupun sekertaris Ken tidak memberitahuku sama sekali kalau mempercepat hari pernikahan. Persis seperti sebuah pernikahan mainan, semua berjalan sesuai dengan dalangnya.


"Ck" Tuan Nathan berdecak kesal melihat keterkejutan ku.


"Tidak, Nyonya" jawabku jujur.


"Lantas, apa yang kalian lakukan selama liburan kemarin, hem? Tanya Nyonya Sonya.


"Bukankah, Nathan bilang kalian akan membahas pada waktu liburan kemarin?"


"It_itu, karena saya_"


"Kemarin terlalu senang dan asyik bermain jadi aku lupa untuk memberitahunya" ucap Tuan Nathan memotong langsung ucapan ku yang hendak menjelaskan yang terjadi sesungguhnya.


"Nathan, apa kamu pikir pernikahan hanya mainan mu saja?" Nyonya Sonya sudah terlihat mulai kesal.


"Seenaknya kau memutuskan akan menikah, tanpa bilang terlebih dahulu dan sekarang bahkan tanggal pernikahan juga kau tidak bicarakan dengan kami, kau tidak melaksanakan apa yang sudah di putuskan kemarin. Aku memberimu waktu satu Minggu tapi belum ada satu Minggu kau sudah memutuskan bahwa Jesika akan menjadi istrimu, aku harap kau tidak main-main." Rentetan kata-kata keluar dari Nyonya Sonya sebagai bentuk kekesalannya yang terpendam.


" Bukankah memang aku harus menikah seperti yang sudah berulangkali di bicarakan, sekarang aku sudah setuju untuk menikah dan tidak akan jadi melajang seumur hidup" ucap Tuan Nathan.


"Tapi tidak begini caranya" ucap Nyonya Sonya yang sudah mulai bisa mengontrol emosinya.


"Tolong persiapkan acara untuk besok, aku tidak ingin ada orang luar tahu kalau aku menikah, terlebih pihak media" ucap Tuan Nathan yang kekeh untuk melaksanakan hari pernikahan esok.


"Aku harus ke kantor banyak pekerjaan yang menunggu setelah kemarin libur dan juga ada rapat dengan pemilik perusahaan baru yang mengajak kerja sama" Sambung Tuan Nathan lalu pergi meninggalkan aku dan Nyonya Sonya yang masih dengan perasaan kesal.


Aku tatap pemilik punggung yang sombong itu sampai menghilang dari pandangan ku yang di ikuti oleh sekertaris Ken. Punggung seseorang yang akan menjadi suami ku yang ke dua. Aku tidak menyangka akan secepat ini menikah lagi setelah bercerai, pernikahan yang sebenarnya sama sekali tidak di inginkan olehku. Tapi, entah kenapa Tuan Nathan sangat ingin menikahi ku? Bukankah banyak wanita yang bersedia dengan rela menikah dengannya, ketimbang memaksaku dengan segala ancaman.


"Jesi, kau harus sabar nantinya menghadapi Nathan" ucap Nyonya Sonya


"Iya" jawabku jawabku seraya tersenyum.


"Nathan bukanlah orang yang mudah dekat dengan wanita-wanita, sekali dia mencintai seseorang maka dia akan tetap mencintainya meskipun wanita itu tidak mencintainya sepenuh hati"


Apa maksud perkataan Nyonya Sonya? apakah dia tidak mencintai Tuan Nathan seperti Tuan Nathan yang mencintainya.


"Saat dia sudah memilih sesuatu yang menurutnya baik, maka dia akan susah untuk melepaskannya. Itulah sifat yang melekat kuat pada dirinya" lanjut Nyonya Sonya bercerita.


Apakah menurutnya aku ini baik, hingga tidak ingin melepaskan aku? Tidak, aku hanya di jadikan wanita pembayar kesalahan yang sepele. Kesalahan yang harus aku bayar dengan sangat mahal bahkan tidak ternilai, yaitu harga diri.


Tuan seperti apakah dirimu yang sebenarnya? terkadang kau juga bisa bersikap lembut seperti pada Sisi. Beberapa kali juga aku pernah mendengar suara yang halus mu tanpa harus berteriak dan menaikkan intonasi.


Sikapnya yang ambigu membuat ku penasaran.


.


.


Bersambung 😊


Happy reading 🤗