
Aku mundur selangkah saat nyonya Sonya mendekati ku, rasanya aku ingin lari dari kenyataan ini. Aku masih menunduk seraya mengaitkan kedua tangan yang sudah terasa dingin.
"Jesi, ada apa? kenapa tanganmu dingin?" Nyonya Sonya meraih tanganku.
"Apa kau sakit?" tanyanya dengan nada yang khawatir.
Tenggorokan ku terasa kering dan tercekat, aku tidak mampu mengeluarkan suara, hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Bagaimana aku bisa menjawab kalau nanti jawabanku akan menyakiti hatinya. Seorang wanita bisa terlihat tegar tapi hatinya tetaplah wanita, lemah dan mudah terluka.
"Nathan, ada apa sebenarnya?" Nyonya Sonya bertanya dengan Tuan Nathan yang terlihat tenang-tenang saja.
"Aku setuju untuk menikah!" ucap Tuan Nathan cepat.
"Apa?" Nyonya Sonya berjalan beralih memegang lengan Tuan Nathan. "Benarkah? sungguh senang mendengarnya" wajah Nyonya Sonya terlihat sangat gembira dan lega.
Kenapa dia begitu senang mendengar berita pernikahan ini? bukankah harusnya dia marah, kenapa jadi terbalik? ada apa dengannya?
Nyonya Sonya memeluk Tuan Nathan dengan erat, tangan Tuan Nathan mengusap punggung Nyonya Sonya dengan penuh rasa sayang. Pelukan yang terlihat hangat membuatku merasa sedikit lega karena tidak nampak kemarahan di wajah ayu nyonya Sonya.
"Berarti kau menerima perjodohan yang sudah di bicarakan" ucap Nyonya Sonya setelah mengurai pelukannya.
"Tidak..." ucap Tuan Nathan pelan. kemudian Tuan Nathan mengajak Nyonya Sonya untuk duduk kembali.
Apa? jadi **Ny**onya Sonya sendiri yang menginginkan Tuan Nathan menikah bahkan sampai menjodohkannya.
Aku yang mendengar langsung di buat tidak mengerti dengan keinginan Nyonya Sonya, yang menurutku aneh. Bagaimana tidak aneh, seorang istri menginginkan suaminya menikah lagi.
"Lalu, kenapa kau tiba-tiba setuju menikah? siapa yang akan kau nikahi?" Nyonya Sonya meluncurkan pertanyaan dengan rasa penasarannya.
"Dia" Tuan Nathan menunjukku yang masih tetap berdiri.
"Apa?!" Nyonya terlihat syok mengetahui kalau aku yang akan Tuan Nathan nikahi.
Kembali aku merasakan takut karena keterkejutan Nyonya Sonya saat tahu wanita yang akan menjadi calon istri Tuan Nathan. Nyonya Sonya diam menatap Tuan Nathan lekat, setelahnya beralih kepadaku. Aku menundukkan kepala saat mata nyonya Sonya mengarah padaku.
"Nathan, apa kau yakin?" tanya Nyonya Sonya yang masih tidak percaya.
Benarkan, Nyonya Sonya pasti syok! aku memang tidak pantas bersanding dengannya.
Wajar jika Nyonya meragukan ucapan Tuan Nathan, aku hanya pelayan di sini. Mungkin Nyonya Sonya menginginkan wanita yang sama sepertinya, wanita anggun dan berkelas. Aku sekarang bahkan merasa lebih rendah dari seorang pelayan.
"Ya!" jawab pasti Tuan Nathan.
Kemudian Nyonya Sonya berdiri dan berjalan menghampiriku yang berdiri mematung. Ketegangan Ku semakin bertambah saat sudah berdekatan dengannya, aura dingin seperti keluar dari tubuh Nyonya Sonya.
"Oh...jadi ini yang membuatmu tegang" ucap Nyonya Sonya sambil mendekatiku.
"Jesi, apa benar yang di katakan Nathan?" Nyonya Sonya menatapku intens, mataku melihat ke arah Tuan Nathan dan Tuan Nathan menganggukkan kepala. Dia tahu maksudku melihat ke arahnya.
"Ma_maafkan saya, Nyonya" aku menganggukkan kepala, membenarkan perkataan Tuan Nathan.
"Apa Nathan memaksamu?"
Kembali aku melihat ke arah Tuan Nathan, dia menggeleng seraya menajamkan matanya. Aku tidak berani menjawab, karena apapun jawabanku nanti pasti akan salah, entah itu di mata Tuan Nathan atau di mata Nyonya Sonya. Aku hanya menggelengkan kepala, mengikuti perintah Tuan Nathan.
Terdengar hembusan nafas berat keluar dari Nyonya Sonya yang kemudian kembali duduk dekat dengan Tuan Nathan. Nyonya Sonya duduk diam namun sedikit terlihat cemas, dia mengambil secangkir teh di depannya lalu meminumnya.
"Apa setuju?" tanya lembut Tuan Nathan.
"Pikirkanlah baik-baik, jangan asal. Waktu satu Minggu cukup untuk memikirkannya. Setelah itu katakan apa keputusanmu. Jika tidak, maka kau setuju untuk di jodohkan!"
"Baiklah, aku setuju" ucap Tuan Nathan.
Setelah itu Nyonya Sonya meninggalkan kami berdua, aku merasa lega ada waktu satu Minggu untuk aku bisa memikirkan cara lain selain menikah dengannya. Mudah-mudahan Tuan Nathan membatalkan rencananya.
"Jangan berpikir, saya akan membatalkannya"
Glek
Aku menelan Saliva ku susah payah.
Lagi-lagi dia bisa baca pikiranku. Mungkinkah nampak di wajahku sebuah tulisan?
"Ingat, kau sudah tanda tangan bahwa kau setuju!"
"Iya, Tuan" jawabku pasrah.
Aku bahkan sebenarnya tidak ingin menikah lagi.
"Apa kau punya kerabat dekat?"
"ada, Tuan" aku teringat dengan orang yang paling dekat dengan ku saat ini adalah Doni, dia sudah ku anggap saudara sendiri.
"Siapa?"
"Namanya Doni, Tuan"
"Siapa?" bertanya sekali lagi dengan menaikan nadanya, padahal aku sudah menyebut jelas namanya.
"Tuan, apa kau tuli?" aku bergumam pelan.
"Apa kau bilang?" sentak Tuan Nathan.
Ups, untung dia tidak mendengarnya.
"Namanya Do-ni, Tuan..." aku pun mengulang lagi dengan menekan nama Doni.
"Hahaha, Doni." Tuan Nathan tertawa lepas mendengar nama Doni, "tidak perlu kau mengundangnya, jika dia itu laki-laki yang menjemputmu kemarin" kemudian dia melarang ku tegas untuk tidak mengundang Doni.
"Tapi_"
"Tidak ada kata tapi. Ada hubungan apa kau dengannya?"
Entah kenapa Tuan Nathan melarang ku dengan tegas untuk tidak mengundang Doni, mungkinkah Doni buat kesalahan hingga dia tidak menyukai doni? dan Doni kemarin juga terlihat berani pada Tuan Nathan.
"Doni sudah saya anggap seperti adik sendiri, dia selalu baik sama saya, dari dulu saat satu sekolah. Dia adalah adik kelas saya"
"Oh, jadi kalian pernah satu sekolah" ucap nya seraya manggut-manggut, dia juga seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Jadi gimana, Tuan?" aku berjalan mendekat ke arahnya.
"Stop! jangan terlalu dekat, berdiri saja di situ" ucap Tuan Nathan seraya menggeser posisi duduknya, dia terlihat gugup, takut kalau aku sampai berani duduk dekatnya.
Aku tersenyum tipis melihat tingkahnya yang takut kalau aku sampai dekat dengannya. Berpikir akan ku jadikan itu sebagai kelemahannya. Dasar aneh, tidak mau berdekatan denganku tapi mau menikah denganku. Tapi syukurlah, dengan begitu dia tidak akan menyentuhku.
"Jadi_"
"Tidak boleh!" tegas Tuan Nathan.
Setelah di pikir-pikir memang lebih baik jika Doni tidak datang dan tahu, kalau sampai dia tahu pasti akan jadi perang nanti.
"Buatkan saya air lemon, antar kan ke ruang kerja" perintah Tuan Nathan lalu beranjak dari duduknya dan pergi ke ruang kerjanya.
"Baik, Tuan."
Kemudian aku pergi ke belakang, kebetulan di sana ada Pak Didi yang sedang mempersiapkan bahan-bahan makanan di bantu dengan pelayan lainnya. Aku tersenyum ramah lalu menyapa Pak Didi yang tengah sibuk.
"Pak Didi, lagi repot ya...?"
"Iya, ada apa?" Pak Didi menghentikan aktifitasnya.
"Begini, Tuan Nathan minta di buatkan air lemon. Pak Didi, lemonnya di mana ya?" mataku memindai ke segala arah.
"Biar saya saja yang buatkan" tawar Pak Didi.
"Tidak usah, Pak Didi kan masih repot" tolak ku halus, sebenarnya aku sendiri masih takut kalau nanti tidak sesuai selera Tuan Nathan.
"Tidak apa-apa, Tuan Nathan tidak suka tersentuh tangan wanita lain"
Perkataan Pak Didi sontak membuatku langsung terdiam, tiba-tiba hati ini sedikit tertusuk. Jika dia begitu sangat mencintai istrinya, untuk apa dia menikah lagi? Apa sebenarnya tujuannya menjadikan aku sebagai istri kontrak nya?
Lalu saat aku menjadi istrinya nanti, apa tugasku? jika dia tidak mau bersentuhan dengan wanita lain. Pantas saja di rumah ini tidak ada pelayan wanita. Mungkin aku akan tetap menjadi pelayan nyonya Sonya.
Bersambung...
Happy reading 😊
Maaf kalau jarang up🙏, masih sambil revisi