
Langkahnya semakin dekat, aura kemarahannya sudah nampak jelas di wajahnya yang memerah. Aku lupa kalau satu tanganku masih memegang bahu Doni yang semakin membuat matanya melotot kepadaku.
Ya, yang datang adalah suamiku, Arsya Sanjaya.
"Jesika, apa yang kau lakukan?"
"A_aku hanya ngobrol biasa Mas" menghampiri meraih tangannya dan mengajaknya duduk, namun dia menepis tanganku dengan kasar.
Aku berusaha untuk terlihat baik-baik saja, tidak ingin Doni melihat pertengkaran kami.
"Tadi makan malam bersama, sekarang ngobrol, sudah jam berapa ini? bisa-bisanya kau bawa masuk laki-laki lain saat suami mu sedang tidak ada di rumah"
"Mas, dia Doni, pegawai toko, bukan orang lain!" aku membuat pembelaan, karena tidak terima jika orang yang dekat denganku sejak lama dan sudah seperti saudara di bilang orang lain.
"Aku tahu dia pegawai mu, tapi tidak seharusnya dia bertamu malam-malam begini, oh... apa mungkin tadi kau mengajaknya pulang bersama setelah kalian makan. istri macam apa kamu?"
"Mas!" ucapku lirih, tidak menyangka mas Arsya akan menuduhku seperti itu, kecemburuannya membutakan matanya.
"Jesi, tidak cukupkah bagimu membalas aku dengan satu laki-laki saja? berapa lagi yang kau butuhkan? aku akan mencarikannya. Mau yang seperti apa? kaya miskin, tua muda?" Mas Arsya tak berhenti menghinaku dengan kata-kata pedasnya.
Plak
Emosiku sudah terpancing dengan sempurna, tanganku pun mengepal erat, tanpa aba-aba aku langsung memberikan tamparan keras pada pipi suamiku untuk kali pertama.
"Sekarang bahkan kau sudah berani berbuat kasar padaku, ingat siapa kau dulu? kau tidak akan seperti sekarang jika tidak aku nikahi!" Mas Arsya mengingatkan aku bahwa aku hanyalah yatim piatu yang hidup miskin dan tinggal bersama paman dan bibi ku di kampung.
"Cukup Mas, semua penghinaan mu sudah melewati batasan, aku sudah sabar selama ini menerima penghianatan dan ketidakadilan darimu!" mataku sudah berkaca-kaca sejak ucapan awal penghinaan darinya, tubuhku yang sudah mulai lemah karena lelah, membuat pijakan kakiku tak seimbang hingga aku hampir jatuh ke belakang jikalau Doni tidak menangkap ku.
"Pak Arsya cukup, jangan menghina Mbak Jesi lagi, saya tahu anda seorang yang kaya, tapi tidak sepantasnya menghina istri anda sendiri!" Doni yang tadi hanya diam menyaksikan pertengkaran kami, akhirnya ikut bicara.
"Kau bocah, tahu apa kau tentang kepantasan? kau hanya seorang pegawai toko biasa, tidak lebih" ucap Mas Arsya yang juga merendahkan Doni.
"Sudah Mas, cukup jangan menghinanya"
"Kau membelanya lagi, baiklah aku rasa juga sudah cukup aku mempertahankan mu, aku akan mengabulkan permintaan mu. Aku akan menceraikan mu!"
Deg
Aku tidak mengira Mas Arsya akan secepat ini menceraikan ku, walaupun hati ini sakit, tapi aku merasa lega bisa lepas dari orang yang tidak bisa memegang sumpah setianya.
"Terimakasih, Mas" dengan tersenyum aku mengucapkannya, seraya menghapus air mataku. Akhirnya sebentar lagi aku akan bebas dari rasa sakit yang selama ini menggerogoti hati secara perlahan.
"Pergilah malam ini juga, aku sudah tidak ingin melihatmu lagi!" Mas Arsya mengusirku, dia sudah bukan seperti Mas Arsya yang ku kenal, dia selalu menuduhku tanpa alasan. Awalnya aku ragu untuk bercerai saat melihat sikapnya tadi siang, tapi sekarang aku sudah yakin untuk berpisah darinya. Entah kedepannya aku akan seperti apa, tidak akan ku pikirkan sekarang. Dulu aku mampu hidup di kota ini sendirian, sekarang juga pun aku mampu.
"Mbak, ayo pergi dari sini" ajak Doni.
"Tapi Don, Sisi?" aku teringat anakku, berat rasanya jika harus pergi tanpanya.
"Biar besok, Sisi aku yang jemput."
Aku meminta Doni untuk menungguku berkemas sebentar, selesai berkemas
Doni mengajakku untuk naik motor matic miliknya, aku taruh koper yang tidak begitu besar di bagian depan. Di sepanjang perjalanan aku menangis di punggung Doni yang lebar, aku melepaskan penat yang ku rasakan. Doni yang mendengar tangisku hanya diam saja, dia membiarkan aku menangis hingga puas. Perlahan tangannya menarik tanganku ke depan perutnya yang masih rata, dia menggenggam erat tanganku yang terasa dingin. Aku membiarkannya karena tidak ku pungkiri aku butuh seseorang untuk menguatkan ku di saat seperti ini, aku semakin terisak saat Doni mencoba menenangkan aku dengan mengusap-usap tanganku. Tanpa sadar aku tertidur setelah lelah menangis, aku tidak tahu kemana arah tujuan Doni membawaku pergi, saat sudah sampai Doni membangunkan ku, melihat sekeliling yang terasa asing namun aku mengenali tempat seperti ini. Doni membawaku ke sebuah parkiran luas di bawah gedung.
"Doni, kau bawa aku kemana?" tanya ku penasaran setalah turun dari motor dan melepas helm di kepala.
"Ikut saja Mbak, aku tidak akan membawa Mbak ke tempat yang buruk" jawab Doni yang terus berjalan seraya menggandeng tanganku dan tangan yang satu menggeret koper milikku.
Aku terus mengikuti arah langkah kaki Doni berjalan, kami terus menyusuri lorong parkiran hingga tiba di depan lobi sebuah gedung bertingkat tinggi. Kami masuk ke dalam gedung dan setiap kami berpapasan kepada orang, mereka selalu memberikan salam hormat. Doni terus berjalan membawaku ke sebuah lift apartemen yang aku rasa untuk sewa perbulan di sini tidaklah murah.
Di dalam lift aku memandang heran pada Doni, terlihat dia hanya senyum-senyum saja, tanpa mau berbicara untuk memberitahuku tempat siapa dia membawaku.
"Don, tunggu" aku menarik tangannya saat dia hendak membawaku masuk ke salah satu pintu.
"Ke tempat siapa kita datang, ha?" tanyaku, tapi Doni tidak menghiraukan pertanyaan ku, justru tangannya mulai memencet tombol kode pintu.
Nit, nit, nit
Akhirnya pintu terbuka, gelap yang pertama terlihat, lampu masih dalam keadaan mati.
Kemudian Doni masuk dan menyalakan lampu.
"Mbak, masuklah" ajak Doni yang melihatku hanya diam terpaku di depan pintu.
"Eh, malah bengong, ayo masuk,mbak" Doni menarik paksa tanganku dan mengajaknya masuk, di meletakkan koperku di ruang tamu dan menyuruhku untuk duduk.
"Doni, kau tinggal di sini?" karena aku selama ini memang tidak tahu persis di mana dia tinggal.
Dia tersenyum dengan membawakan aku segelas air putih, lalu di berikan padaku.
"Don, benar kau tinggal di sini?" tanyaku sekali lagi karena dia tidak menjawab, setelah meminum air putih dan meletakkannya.
"Tidak Mbak, aku hanya numpang."
"Numpang, maksudnya? sewa gitu?"
"Bukan sewa, tapi pinjam dari orang yang kusukai" katanya melihatku dengan tersenyum.
"Apa?" aku terkejut, "Don, Mbak gak mau ya di sini, antarkan Mbak ke toko saja" aku sudah berdiri dan memegang koperku, merasa tidak enak jika harus tinggal di tempat pacarnya Doni, kalau dia melihatku bisa cemburu kan.
"Hey... Mbak, aku hanya bercanda" ucapnya seraya menarik aku duduk kembali.
"Benar, tempat ini aku sewa"
Aku menatapnya masih tidak percaya dengan yang dia ucapkan, kemudian Doni membawaku ke sebuah kamar tamu, dan menyuruhku untuk istirahat, dia juga menunjukkan kamarnya padaku yang akhirnya membuat aku percaya bahwa ini memang tempatnya.
Aku merebahkan diri di atas ranjang yang ukuranya lumayan besar, menatap langit-langit kamar, pikiranku terus berputar mengingat setiap kejadian di hidupku dari awal aku bertemu dengan Mas Arsya sampai akhirnya aku memutuskan untuk berpisah darinya. Dan pada akhirnya aku juga teringat bahwa esok akan mulai bekerja di rumah Tuan besar yang menyebalkan bagiku.
Bersambung☺️
Happy reading 😘