Second Marriage

Second Marriage
Bab 8 Menemui seseorang di toko



Sebuah bangunan dua lantai berdiri kokoh di pinggir jalan, di apit dengan bangunan-bangunan yang hampir sama bentuknya kanan-kiri. Ada papan nama dan warna yang membedakan siapa pemiliknya.


Jesi Arsya shop online, nama jelas tertera di papan ruko milikku.


Sampailah aku di tempat di mana aku biasa menghabiskan waktu lebih banyak daripada harus tinggal di rumah sejak aku tahu suamiku mendua. Karena di tempat ini aku bisa mengalihkan pikiranku dari hubungan mas Arsya dan Karla.


"Pagi semua" sapa ku setelah ku buka pintu kaca toko.


"Pagi menjelang siang, Bu" jawab mereka kompak.


Aku tersenyum malu pada karyawan ku yang berjumlah empat orang, Tika, Doni, Rara juga Evi. aku lihat jam yang melingkar di tangan, memang waktu sudah hampir siang, karena kejadian semalam yang akhirnya tidak bisa membuatku bangun pagi, belum lagi di tambah drama pagi hari yang membuatku harus menahan diri sedikit lama berada di rumah.


"Hai, putri cantik apa kabar?" sapa Tika pada Sisi, yang di jawab hanya dengan senyuman. Melihat keadaan pikirannya yang tidak baik-baik saja sejak semalam, Sisi sengaja aku ajak ke toko dan tidak membiarkan dia pergi ke sekolah.


"Bu, ada yang nungguin di dalam sudah dari tadi, padahal aku sudah bilang kalau ibu mungkin gak datang tapi dia gak perduli dan memaksa untuk menunggu" sambung Tika seraya menunjuk ke ruang kerjaku.


"Siapa sih..." tanyaku, merasa tidak ada janji bertemu dengan siapapun hari ini.


Tika hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.


Aku menitipkan Sisi terlebih dahulu pada Tika sebelum aku masuk ke ruang kerja, mengingat di depan ada beberapa orang yang berjaga, mungkin benar di dalam adalah orang penting. Tiba-tiba tangan ku di tarik oleh seseorang saat hendak membuka pintu, Seseorang yang tadinya sedang packing barang.


"Mbak, tumben datangnya siang? ada masalah?" tanya Doni penasaran, salah satu karyawan sekaligus adik kelas waktu SMA dulu. Entah kenapa dia melamar kerja padaku padahal yang aku tahu dia anak orang berada.


"Tidak ada, hanya saja bangunannya kesiangan" jawab ku berbohong padanya, Karena aku memang tidak ingin semua karyawan tahu tentang keadaan keluarga ku sebenarnya. Mereka semua tahu kalau aku selalu terlihat bahagia.


"Mbak, serius?" Doni menatapku dengan intens, tak percaya dengan ucapan ku.


"Iya, bener Don..." jawabku, "lagian kenapa sih?apa Mbak terlihat ada masalah?" sambung ku bertanya seraya tersenyum lebar.


"Mata Mbak kelihatan sembab, apa habis menangis?" melihat ke dua mataku dengan tatapan curiga.


"Oh, i_ni karena kurang tidur semalam" jawabku, Doni memang selalu baik padaku dari dulu bahkan sampai sekarang, jika aku tidak sempat makan siang dia akan akan membelikan makanan untuk ku. Terkadang aku sampai gak enak hati karena dia terlalu baik, dia juga rela lembur untuk membantuku mengecek semuanya, meski aku sudah menyuruhnya pulang.


"Oh" ucapnya singkat.


Aku mengangguk seraya tersenyum, supaya dia tidak curiga dan bertanya lagi. setelah itu dia melakukan tugasnya lagi dan tidak bertanya lagi, dia berjalan namun sempat untuk melirikku, aku tersenyum kembali saat dia menoleh ke arahku.


Aku memegang handle pintu hendak membukanya, lagi-lagi ada suara memanggilku.


"Mbak, tunggu" panggil Doni


"Apa lagi Don?"


"Perlu aku temani masuk" ucapnya terlihat khawatir, mungkin karena melihat seseorang yang di dalam belum pernah ia temui. Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Aku buka pintu ruang kerjaku dan ku lihat ada seseorang yang tengah duduk sibuk dengan ponsel di tangannya, bahkan dia terlihat sangat serius sampai tidak menyadari akan kehadiranku. Aku terdiam sesaat melihatnya, seseorang yang telah membawaku masuk ke istana mengerikan.


"Selamat siang nyonya Arsya" sapa balik sekertaris Ken seraya memasukkan ponsel ke dalam sakunya.


Sebelum memulai percakapan, aku mempersilahkan sekertaris Ken untuk duduk kembali. Sejujurnya aku bingung dengan kedatanganya ke toko, bukankah seharusnya semalam adalah pertemuan terakhir kami, mengingat masalahku dengan Tuanya sudah selesai, lalu kenapa dia datang lagi mencari ku bahkan dia menemukan tempat ini dan menungguku dan tidak mau pergi sebelum bertemu denganku.


"Pak Ken, ada apa sampai anda datang ke toko saya?" tanyaku langsung tanpa basa-basi.


"Nyonya Arsya, Tuan ingin bertemu kembali dengan anda" jawab Ken.


Aku mengerutkan kening mendengar jawaban sekertaris Ken, karena baru semalam aku bertemu dengannya dan masalah sudah selesai, untuk apalagi bertemu dengan ku, padahal aku sudah merasa lega karena tidak akan bertemu lagi dengannya, tapi seseorang di depanku sekarang berniat membawaku kembali.


"Maaf, Pak Ken untuk apalagi ya? bukankah masalah jas Tuan Nathan sudah selesai" ucapku enggan bertemu lagi, mengingat perbuatan kasarnya dan kemarahannya yang membuat aku takut.


"Saya tidak tahu" jawab Ken singkat.


"Sekali lagi maaf Pak Ken,tapi saya sedang sibuk" kataku sopan untuk menolak permintaannya.


"Tuan Nathan tidak menerima penolakan."


apa maksud ucapannya itu? apakah memaksaku untuk ikut dengannya? tanyaku dalam hati.


"Jangan sampai anda menyesal!" katanya lagi.


"Apa, anda mengancam saya" emosiku mulai terpancing dengan perkataannya, yang sudah seperti ancaman, ah bukan seperti lagi namun itu adalah benar ancaman.


"Tidak nyonya Arsya, saya rasa anda tahu siapa tuan Nathan Darwin Erlangga" dengan menyebut nama lengkap sang Tuan, Ken mencoba mengingatkan ku bahwa Tuan Nathan adalah sang penguasa yang sanggup melakukan apapun.


Aku jadi teringat akan perkataan Mas Arsya tadi pagi yang mengatakan sedikit banyak tentang Tuan Nathan. Aku juga sudah melihat lewat sosmed tentang dirinya dan benar dia adalah orang yang paling berpengaruh dalam segala bidang usaha, dengan kekuasaan yang begitu besar akan mudah baginya mendapatkan apapun yang dia inginkan.


"Pak Ken, bisakah untuk bertemu lain waktu, karena saat ini saya sedang bersama putri saya" pintaku memberanikan diri setelah tadi nyaliku menciut mendengar ucapan Ken Yang terakhir. Aku tidak mau di tuduh macam-macam lagi sama mas Arsya apalagi statusku masih sah istri mas Arsya.


"Baiklah, jika itu keputusan anda" dengan menghembuskan nafas kasarnya lalu tersenyum dia beranjak pergi dari ruang kerjaku.


Aku duduk lemas setelah mengantar sekertaris Ken keluar ruang kerjaku, jantungku berdebar-debar setelah kepergiannya, mengingat ekspresi senyumnya tadi aku jadi teringat, senyum itu persis senyuman yang di tunjukkan nya padaku saat berada di rumah tuan Nathan. Aku jadi punya firasat buruk, apa yang akan terjadi setelah ini, setelah aku menolak permintaan sang Tuan besar yang sanggup melakukan apapun.


Bersambung...


Happy reading😊


Terimakasih buat pembaca setiaku 🙏


semoga tetap menghibur


Terimakasih juga buat yang lain🙏