
"Ehem, ehem!" Sengaja sedikit aku keraskan suaraku agar mereka mendengar. Dan benar saja kedua bola mata yang terlihat basah itu menatapku. Aku hampir tidak percaya dia menangis.
Setelah itu dia menyadari kehadiranku kemudian melepaskan pelukannya pada wanita itu. Ku lihat dia mengusap air matanya.
"Maaf, saya tidak tahu kalau_"
"Mbak yang di bawah tadi ya?"
"Iya, saya mau mengantarkan ini" Aku sengaja mengulas senyum senatural mungkin sembari menunjukkan bekal makan siang.
"Sejak kapan kau datang?" Tanya tuan Nathan padaku.
"Barusan, Tuan" Sengaja aku berbohong agar tidak terlihat bodoh karena telah lama menunggu orang yang sedang melepas rindu.
"Sayang, ko tumben pesan makanan, kenapa gak makan di luar?" Ucap wanita itu seraya bergelayut manja di lengan suamiku.
"Di mana Ken?" Dia tidak menjawab pertanyaan wanita itu malah menanyakan keberadaan sekertaris Ken.
"Em, Pak Ken, tadi katanya keluar sebentar" Jawabku masih dengan tersenyum, aku berusaha tidak perduli dan terpengaruh karena kehadiran wanita itu.
"Mbak, letakkan saja di situ ya. Oh ya Mbak, tadikan sempat jatuh, apa makanan nya masih layak untuk di makan?"
"Jatuh?" Tuan Nathan tampak terkejut mendengarku terjatuh.
"Tenang saja Nona, makanannya aman karena tempatnya juga rapat jadi tidak tumpah sedikitpun"
"Tapi sudah terkena lantai tempatnya, jadi bawa saja kembali. Tadi saya juga sudah kasih uang ganti rugi, kan...?"
"Oh iya benar, biar saya bawa kembali. Dan ini uang yang anda berikan, saya tidak bisa menerimanya" Ku kembalikan uang yang sempat di berikan padaku, karena memang aku tidak mau sebenarnya.
"Kenapa? Jangan sombong deh!"
"Maaf Nona, bukan saya sombong hanya saja tidak memerlukan ganti rugi apapun"
"Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan?" Tanya Tuan Nathan pada wanita itu.
"Aku tidak sengaja menabraknya hingga dia terjatuh, karena aku buru-buru ingin bertemu denganmu, sayang" Masih dengan nada manjanya, dia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa kau terluka?" Dia mendekat dan memeriksa keadaanku.
"Ti_ tidak Tuan. Saya baik-baik saja" Aku merasa tidak enak di perlakukan seperti itu di depan kekasihnya. Meski dalam hati senang dia sepertinya masih peduli.
"Baguslah" Ku lihat dia lega melihatku baik-baik saja.
Apakah dia masih peduli padaku setelah kekasihnya kembali?
"Sayang, dia tidak apa-apa. Kau jangan berlebihan dong, apalagi dia hanya seorang kurir makanan"
"Kurir? Dia ini_"
Aku amati lekat wajahnya dan menunggu ucapan yang akan keluar dari mulutnya. Apakah dia akan mengakui aku sebagai istrinya atau tidak? Tapi kelihatannya dia bingung untuk mengatakannya.
"Dia siapa?" Wanita itu terlihat sangat penasaran, sedangkan Tuan Nathan masih bingung dalam menjawab.
"Saya pelayan baru di rumah Tuan Nathan, dan kebetulan Nyonya Sonya menyuruh saya untuk mengantarkan bekal makan siang" Aku sengaja mengaku sebagai pelayan, karena jika aku mengaku sebagai istrinya maka akan di pastikan wanita itu tidak percaya. Aku juga ingin Tuan Nathan sendirilah yang mengatakan kalau aku adalah istrinya.
"Oh, pelayan khusus Ibu" ku Ulas senyum kembali mendengar ucapan itu, walau hati ini sedikit tidak terima. Ku lihat sorot mata tajam sedang memandangku. Mata suamiku yang seperti juga tidak terima aku bilang sebagai pelayan.
"Kalau begitu saya permisi" Aku pamit tidak mau berlama-lama di tengah mereka sembari kembali membawa bekal makan siang yang bahkan belum di sentuhnya sama sekali.
"Tunggu, saya belum makan" Ucap Tuan Nathan lalu mengambil Lunchbox di tanganku.
Aku tidak mau bohong, aku merasa senang kalau dia mau mengambil dan memakan makanannya.
"Sayang...Kita kan bisa makan di luar"
"Aku sudah sering makan di luar" Jawaban Tuan Nathan membuatku tak percaya.
"Tuan, makanlah. Anda sudah terlalu sibuk dari tadi" Sengaja aku menyindirnya langsung. "Saya permisi."
Kemudian aku keluar dari ruangan itu tanpa menunggu dia menghentikan dan mencegah kepergian ku. Seperti harapan semu, meski aku berharap itu akan menjadi kenyataan. Aku hanya tersenyum kecut saat membayangkan, nyatanya dia tidak mengeluarkan sepatah katapun sampai aku benar-benar keluar dan menutup pintunya kembali.
"Pulanglah langsung ke rumah" Ku hentikan langkahku saat suara yang ku harapkan itu terdengar di telingaku. Lalu ku balikkan badanku.
"Ada apa Tuan, kenapa?" Apa maksud pertanyaannya, apa dia tahu kalau aku sedang ingin jalan-jalan. Setelah melihat kenyataan yang sebenarnya di mataku, aku ingin sendiri untuk diam dan berfikir sekaligus menata masa depan.
"Apa perlu alasan saya menyuruhmu langsung pulang?"
"Tidak Tuan, tenang saja meski saya memaksa ingin lari saya tidak akan bisa lari kecuali Anda membiarkan saya lari"
"Kau tahu itu, jadi jangan coba-coba lari!"
"Tidak akan! Aku akan selesaikan misi yang anda rencanakan" ku lihat dia tersenyum manis saat aku mengucapkan kata itu. Senyum yang bisa membuat hati para wanita meleleh.
Aku masih berdiri mematung merasakan perlakuannya yang seperti memberi harapan padaku untuk bertahan. Tapi hatiku masih tidak percaya karena seperti yang ku lihat dia begitu menginginkan kekasihnya kembali.
"Nyonya, apa yang di lihat?" Sekertaris Ken tiba-tiba sudah ada di belakangku.
"Pak Ken..."
"Apa Tuan sudah selesai, rapatnya?"
"Belum, tapi saya tadi sudah masuk mengantarkan makanannya"
"Apa? Jadi Nyonya sudah masuk?" Sekertaris Ken terkejut setelah tahu aku sudah masuk dan memergoki suamiku bersama kekasih lamanya.
"Pak Ken tenang saja, saya hanya sebentar mengganggu waktu rapatnya. Tuan tidak akan marah" Aku tersenyum melihat ekspresi sekertaris Ken yang sedikit memucat wajahnya.
"Nyonya, apa Nyonya bertemu? Eh melihat ada_"
"Tentu saja Pak Ken, mana mungkin saya masuk tapi tidak melihatnya. Sebuah adegan drama romance seperti film Korea" Ucap ku sembari tertawa kecil.
"Maafkan kan saya, Nyonya" Kelihatan sekertaris Ken merasa bersalah padaku karena telah berbohong.
"Pak Ken sudah melakukan tugas dengan baik" Ucapku sembari menepuk pundak sekertaris Ken lalu pergi.
"Nyonya, mau kemana?" Sekertaris Ken setengah berteriak padaku yang sudah berlalu.
"Pulang" Jawabku tanpa menoleh.
"Nyonya, biar saya antar sampai di rumah" Ucap sekertaris Ken menyusul ku.
"Tidak perlu, banyak pekerjaan yang menunggu Pak Ken. Lagian saya masih tahu jalan pulang"
"Tapi, Nyonya"
"Ini Perintah Nyonya Nathan, Ken!" Kali pertama aku gunakan nama itu sebagai kuasa pada sekertaris Ken, biasanya kalimat itu aku gunakan untuk Pak Didi. Kepala pelayan di rumah.
"Baik, Nyonya" Sekertaris Ken menurut lalu sedikit membungkuk padaku.
Untuk apa sekertaris Ken mengantarku pulang, harusnya dia tahu kalau aku pasti membawa kendaraan sendiri. Aku membawa motor matic yang pernah ku pakai dulu.
Setelah aku benar-benar keluar gedung itu, ku lajukan motor membelah jalanan kota yang ramai. Meski aku saat ini sedang tidak fokus mengemudi tapi aku harus berusaha fokus agar tidak terjadi kecelakaan.
Rasanya aku belum ingin sampai ke rumah saat ini, aku ingin sejenak menyendiri. Melepaskan pikiran yang tiba-tiba penat saat aku tahu kekasih lama suamiku yg telah kembali.
Entah kemana ku belokkan arah motorku dari jalan yang seharusnya menuju ke rumah. Sebuah pertigaan sebelum sampai di gerbang utama perumahan Erlangga. Aku berharap menemukan tempat yang sepi dan tidak ada seorangpun di sana.
Akhirnya aku masih menemukan sebuah dataran luas yang masih di tumbuhi rumput liar yang hijau. Di tempat ini aku bisa mengeluarkan segala perasaanku yang campur aduk.
Aku tertawa puas dan juga menangis, aku tidak tahu apakah aku harus senang atau sedih. Sebuah realita sudah di depan mata, sedangkan aku belum tahu kedepannya harus bagaimana? Haruskah aku tetap bertahan atau aku harus mundur dari pernikahan kedua ku.
Mengingat pesan Ibu mertuaku yang sangat baik, akankah aku bisa mengabaikannya begitu saja? Beliau sangat berharap agar aku tetap bertahan mendampingi anaknya, apapun yang terjadi. Tapi di sisi lain, apakah anaknya menginginkan ku untuk tetap berada di sampingnya? Setelah seorang yang dia tunggu telah kembali.
"Aaaaargh..." Aku berteriak sekencang mungkin, agar aku bisa merasa lega.
"Dasar Nathan sombong, egois, pemarah, menyebalkan" Ku maki terus namanya mengeluarkan amarahku.
"Dasar raja gila! Kenapa harus aku yang kau jebak dalam lingkaran hidupmu?" Sebenarnya aku sudah mulai menerima dan menjalani kehidupan ini dengan senang hati, tapi saat tahu dia telah muncul aku kembali merasa sedih. Harusnya perasaan itu tidak ada karena aku belum mencintainya.
Tapi rasa di permainkan yang membuatku merasa sedih, aku hanya seperti debu di matanya. Kapanpun dia meniup maka aku akan terhempas jauh dari pandangannya.
Drreeet, dreeeet...
Getar ponselku bersamaan dengan bunyinya terdengar. Ku lihat layar benda pipih itu, mataku terbelalak melihat nama panggilan yang ada di ponselku.
"Suami tercinta?" Aku tersenyum kecut saat tahu ada sebuah nama seperti itu di ponsel baruku. Aku tidak merasa membuat nama itu. Apakah dia benar-benar memberikan harapan padaku?
"Hallo..." ku sapa seseorang di seberang sana.
"Kau dimana? cepatlah pulang!" Bertanya lalu memerintah dengan suara tegas, itulah yang selalu dia ucapkan padaku.
"Saya_" Tut...Tut...Tut. Dia mematikan telepon sebelum aku menjawab pertanyaannya.
Waktunya aku harus kembali ke sangkar emas itu.
Hidup harus tetap berlanjut apapun yang terjadi kedepannya. Jalani, nikmati dan syukuri.
*
*
Bersambung☺️