Second Marriage

Second Marriage
Bab 15 Bahagia melihatku kesal



"Selamat malam pak" ucap ku ramah, pak satpam juga tersenyum melihat sudut bibirku yang mengembang.


"Malam non, cari siapa malam-malam begini?"


"Oh, tidak cari siapa-siapa, saya mau antar_"


"Antar paket non?"


Toeweweng


Aduh, ada apa sebenarnya dengan para satpam? kenapa mereka selalu memotong ucapan ku, Aku pikir pak satpam yang ini akan berbeda dengan pak satpam yang di depan, ternyata dugaan ku salah. Apakah satpam di sini semuanya sama, selalu membuat orang kesal.


"Bukan pak, saya mau masuk, tolong bukakan pintu gerbangnya, biar mobil saya bisa masuk, karena saya sedang bawa_" ucapku berniat menjelaskan pada pak satpam tentang maksudku ingin masuk.


"Maaf non, wanita di larang masuk, kecuali nyonya yang punya rumah" potong pak satpam lagi.


"Iya pak, tapi saya sedang bersama yang punya rumah" terang ku padanya.


"Maksud non, sedang bersama nyonya rumah ini?" aku hanya menggelengkan kepala. Ternyata susah, ngomong sama satpamnya orang yang kelewat kaya.


"Saya tadi lihat, nyonya rumah ini sedang ada di dalam, non" sambung pak satpam.


Aku menoleh ke arah mobil, terlihat dari pancaran blue light smartphone nampak senyum mengembang di bibirnya.


Huh, bahagia sekali dia melihatku seperti ini, yang sudah kesal setengah mati, menghadapi para satpamnya.


Kesabaran ku sudah mulai menghilang, aku tarik paksa pak satpam untuk mendekat ke mobil agar dia bisa melihat sendiri siapa yang sedang aku bawa. Pak satpam itu membelalakkan mata tak kalah terkejutnya dari pak satpam yang di depan, ia pun membungkukkan badannya, lalu meminta maaf.


"Tu_Tuan, maaf kan saya" katanya dengan terbata karena takut.


"Bukalah, Saya mau masuk!" jawab Tuan Nathan dengan anggukan kepala lalu menyuruhnya untuk membuka gerbang yang menjulang tinggi.


Pak satpam lari dengan sigap untuk membuka pintu, sedangkan aku dengan sengaja menghentakkan kaki ku karena kesal dengan mulut yang komat-kamit, masuk ke dalam mobil. Aku melirik sekilas Sang Tuan sombong, dia terlihat menyembunyikan tawa kecilnya. Membuatku semakin memanyunkan bibir, supaya dia tahu kalau aku sedang kesal. Mobil ku arahkan ke pas depan pintu masuk dalam rumah.


Aku melihat sekertaris Ken sudah berdiri tegak menyambut kedatangan kami, dia pun menundukkan kepalanya saat mobil sudah berhenti, aku bernafas lega dan menyenderkan badanku ke belakang menunggu sekertaris Ken membuka pintu belakang. Satu menit, dua menit, tiga menit, kenapa sekertaris Ken masih bergeming di tempatnya.


"Hey, apa yang kau tunggu?" tanya Tuan Nathan menyadarkan ku, aku menoleh ke belakang melihat tatapan tajam matanya.


"Cepat turun, buka pintunya?" perintahnya, aku menghembuskan nafas panjang agar tetap sabar, kemudian turun dan membukakan pintu belakang.


"Ken, badanku terasa sakit naik mobil seperti ini" ucapan Tuan Nathan sengaja dikeraskan saat sudah turun hingga aku mendengar dengan jelas sindirannya langsung.


Aku diam saja, karena tidak ingin cari masalah yang akhirnya bisa menahan aku di sini lebih lama lagi.


"Hey, kau..." panggilnya padaku yang sedang berdiri dekat mobil.


"Iya, Tuan"


"Pulanglah, suami tercintamu pasti sudah menunggu"


"Baik, Tuan" aku sedikit menunduk, lalu membuka pintu mobil, saat kaki sebelah sudah masuk, terdengar lagi suaranya di telingaku.


"Hey, tunggu!" ucapnya, aku memutar bola mataku malas. "Ucapkan selamat malam" pintanya datar.


Aku tampilkan senyum terbaikku agar bisa cepat pergi dari sini seraya mengucapkan salam. Saat setengah badanku sudah masuk, lagi-lagi dia bersuara.


"Ingat besok, jangan telat" ucapnya tegas.


Oh Tuhan...aku benar-benar bisa gila.


Jebret


Aku menyalakan mesin mobil sembari ku sempatkan untuk melirik mereka, tawa meledak dari Tuan Nathan dan senyum mengembang dari sekertaris Ken. Begitu bahagianya mereka melihatku menderita. Dalam perjalanan keluar mulutku tak berhenti ngedumel, mengumpatnya sesuka hati. Bisa-bisanya dia tertawa lepas melihat orang lain frustasi.


Tidak lupa aku memberikan salam saat berpapasan dengan pak satpam yang ku jumpai tadi, sekarang mereka tampak begitu hormat melihatku bahkan dengan senyum merekah mereka memberikan pesan agar aku hati-hati di jalan.


Aku melihat jam di layar ponsel ternyata waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam, aku juga melihat beberapa panggilan tak terjawab ternyata dari Doni dan mas Arsya.


Aku menambah kecepatan mobil supaya cepat sampai di rumah dan berharap saat aku sampai di rumah, mas Arsya belum pulang. Mobil terus melaju membelah jalanan malam hari, yang masih tampak ramai kendaraan berlalu-lalang. Dalam perjalanan aku terus merasa khawatir karena memikirkan sikap mas Arsya yang mudah curiga dan tempramen, belum lagi aku harus cerita tentang pekerjaan ku esok hari.


Bagaimana dia akan menyikapi saat tahu kalau aku akan menjadi pelayan di rumah Tuan Nathan.


Setelah beberapa menit berlalu akhirnya aku sampai ke halaman rumah, ku lihat lampu masih menyala dan pintu juga terbuka, sepertinya ada tamu di dalam. Aku turun dari mobil tak lupa membawa tas jinjing ku, masuk ke dalam rumah. Tampak seseorang tengah duduk bersandar dengan tangan yang sibuk bermain ponsel. Aku berjalan mendekatinya, ternyata dia salah satu pegawai toko yang sudah ku anggap seperti adik sendiri.


"Doni, ada apa kau datang ke rumah?" dia tak menjawab pertanyaan ku, aku tampak heran melihatnya diam saja hanya menatapku seperti sedang merajuk. Tak lama setelah aku duduk mbak asih menghampiri kami dan menceritakan kalau Doni sudah menunggu dari tadi, tidak mau pulang sebelum bertemu denganku. Setelah mbak Asih selesai bercerita, aku sempatkan untuk menanyakan keberadaan Sisi, anakku.


"Non Sisi menginap di rumah Tuan Sanjaya, tadi beliau menelfon katanya sudah mengirim chat ke ibu juga tapi tidak ada balasan" terang mbak Asih, lalu ku buka ponselku dan benar ada chat dari ayah mertua ku beberapa menit yang lalu, mungkin aku sedang menyetir.


"Kalau bapak, sudah pulang belum mbak?"


"Bapak tadi sudah pulang, tapi nyariin ibu dan ibu gak ada lalu beliau pergi lagi" jawab mbak asih menjelaskan.


"Ya sudah, mbak minta tolong buatin saya susu jahe anget ya" pinta ku, saat aku merasa lelah aku selalu minum susu jahe supaya tidurku nyenyak.


"Baik, Bu" jawab mbak Asih, lalu pergi meninggalkan kami, aku tidak menawarkan minum pada Doni karena sudah ada secangkir kopi di atas meja.


"Don, ada apa? kenapa diem aja?" melihatnya yang hanya diem saja dan cemberut.


"Mbak, dari mana?"


"Aku dari restoran tadi, Don" ucapku pelan dan santai.


"Bohong!" ucapnya sedikit meninggikan suaranya.


"Don, kau kenapa sih?" heran melihat sikap Doni yang tiba-tiba marah.


"Aku kenapa?" tanya Doni balik seraya berdiri dan duduk mendekat padaku.


"Aku khawatir, mbak. Takut mbak kenapa-kenapa" matanya terus menatapku intens.


Aku jadi sedikit gugup, karena sikap Doni belum pernah seperti ini, biasanya dia hanya akan sekedar bertanya saja tidak terlihat begitu khawatir dan marah. Tanpa sadar aku menggeser dudukku sedikit menjauh. Sesaat kemudian Mbak Asih datang mengantar susu jahe yang ku minta, membuat Doni mengalihkan pandangannya.


"Terimakasih Don, atas perhatianmu" ucapku seraya meletakkan segelas susu jahe yang baru aku minum. "Mbak baik-baik saja, jangan berlebihan" aku tersenyum padanya, tapi dia malah mengaitkan kedua alisnya.


"Berlebihan...? bagaimana tidak berlebihan setelah aku melihat pak Arsya dengan wanita lain di depan mbak!"


Aku diam teringat kalau Doni tadi juga bersamaku, melihat dan menyaksikan kemesraan mas Arsya dan Karla yang membuatnya marah.


"Don, dia itu_"


"Jesika!" aku hendak menjelaskan tentang siapa Karla, tiba-tiba terdengar suara yang memanggilku, suara yang datang dari arah pintu masuk. Kami sama-sama menoleh ke arah sumber suara, aku terkesiap melihat tatapan tajam matanya.


Bersambung👉


Happy reading☺️