Second Marriage

Second Marriage
Bab 70 Makan siang



Saat aku sudah tidak lagi melihat ke arah dua insan itu, terdengar suara batuk yang sengaja di buat-buat. Ya benar, itu suara batuk suamiku yang sengaja di buatnya untuk menarik perhatian ku dan juga Doni.


Aku dan Doni serempak menoleh ke arahnya. Dia mengeluarkan jari telunjuknya ke arahku lalu menggerakkannya, agar aku mendekatinya. Aku dan Doni saling pandang, lalu Doni menggelengkan kepala, menyuruhku untuk tetap diam di tempat dudukku.


Setelah aku menuruti apa yang Doni suruh, tak lama kemudian wanita itu datang menghampiri kami. Dengan senyum yang merekah dan warna bibir yang merah muda, dia memang terlihat sangat cantik.


"Hai...Doni, apa kabar?" Tanpa canggung wanita itu langsung duduk di kursi panjang yang terlihat seperti sofa itu, bersanding dengan Doni. Saat ini posisiku berhadapan langsung pada wanita yang bernama Vanesa.


"Kak, Kak Nesa?" Sepertinya Doni pura-pura terkejut.


"Iya, Don. Ini kak Nesa" Ucapnya lalu memeluk Doni.


Eh, kenapa Tuan Nathan diam aja di sana? Kenapa dia tidak marah melihat kekasihnya atau mantannya, entahlah sebutan apa yang pantas untuknya? Dia sudah memeluk pria lain di depan matanya sendiri.


Sempat aku melirik ke arah Tuan Nathan yang cuma diam, dan hanya menatapku terus dengan ekspresi datarnya. Tapi sorot matanya itu, aku tidak bisa mengartikannya.


"Kak, aku terkejut sekali dan hampir tidak percaya saat pertama melihatmu tadi. Dan sekarang aku percaya kalau kak Nesa hidup kembali dari kematian yang panjang. Aku tidak menyangka orang yang sudah mati bisa hidup lagi di dunia ini" Ucapan Doni seperti skakmat dalam permainan catur.


Aku pun tidak menyangka Doni akan berkata seperti itu. Kata-katanya pelan tapi dalem maknanya.


"Maafkan Kak Nesa, Don. Sudah membuat kalian semua sedih dan percaya dengan kepergian ku." Vanesa menampakan muka sedih dan menyesalnya.


"Terimakasih, Mbak, Mas." Ucapku pada pelayan yang mengantarkan pesanan kami.


Kedatangan pelayan itu sukses mengalihkan perbincangan mereka. Dan sekarang perhatian Vanesa menuju ke arahku.


"Mbak, kau kan...?" Wanita itu nampak kembali heran bisa melihatku di tempat ini, bersama Doni pula.


"Kenalkan, ini Mbak Jesika. Dia_" Ucapan Doni langsung di potong oleh Vanesa.


"Iya, Kak Nesa tahu. Dia pelayan khusus Tante Sonya, kan...? Oh namanya Jesika"


"Hah?" Doni terkejut mendengar kata pelayan.


"Mbak Jesi itu_" Kali ini aku yang memotong ucapan Doni.


"Doni..." Ku gelengkan kepala ke arahnya. Doni terlihat kesal padaku karena aku tidak membolehkannya untuk jujur pada Vanesa.


Hanya satu alasanku, aku hanya ingin Tuan Nathan sendirilah yang mengatakan dan mengakui ku sebagai istrinya.


"Pesanan sudah datang, kenapa harus di biarkan dingin" Tiba-tiba saja Tuan Nathan datang menghampiri dan duduk bersamaku.


"Eh, Tu_Tuan!"


"Sssst, diamlah. Jangan banyak bicara" Ucapnya lirih padaku.


Hah, datang-datang langsung menyuruhku diam. Dasar seenaknya saja.


"Sayang..., Kau sudah habis banyak tadi. Apa masih lapar? Awas loh, nanti perutnya buncit" Ucap Vanesa yang melihat Tuan Nathan mulai menyantap pesanan kami.


"Pufft..." Aku menahan tawa membayangkan perutnya yang rata jadi seperti badut.


"Kak, apa yang kau lakukan? Itukan pesanan kami" Protes Doni melihat pesanannya di lahap kakak sepupunya.


"Kau kan bisa pesan lagi, ini terlalu pedas tidak cocok untuk perut kalian" Ucapnya sambil mulutnya terus mengunyah.


Aku menelan ludah melihatnya makan, sepertinya enak sekali. Aih...,kenapa dia jadi tidak sangat elegan?


Ku mohon, hentikan Tuan. Jangan seperti itu, di rumah saja kau tetap kelihatan berwibawa kenapa sekarang kau jadi seperti orang yang tidak pernah makan.


"Ini, kau bisa makan. Rasanya sangat enak dan pedas. Hati-hati makannya bisa tersedak" Tuan Nathan menyerahkan mangkuk makanannya kepadaku yang masih ada sisa dari makanannya.


Mulutku ternganga ke arahnya, melihat kelakuannya yang konyol, menurutku. Dan di detik berikutnya dia langsung memberikan suapan memakai sumpit ke mulutku. Mau tidak mau aku harus mengunyahnya.


Seenaknya saja, aku selalu di beri sisa dari mulutnya. Apa sih maksudnya? Tadi bilangnya tidak cocok untuk perutku, sekarang di paksa makan.


"Kak, kau keterlaluan...Kenapa Mbak Jesi di kasih sisaan mu?" Lagi-lagi Doni mengajukan protes tak terima.


"Kenapa? Apa aku salah memberikan sisa ku untuknya? Kau tahu dia siapa, bukan?"


"Doni, sudah. Benar kata Kakak sepupumu itu" Ucap Vanesa menimpali, meski terlihat dari mimik wajahnya ada ketidakterimaan.


Doni sudah terlihat kesal sekali dengan dua orang yang menyebalkan itu.


"Tapi, Kak..."


"Doni, cukup. Jangan berdebat di sini!" Giliran aku yang menghentikan Doni yang hendak membelaku lagi.


"Adikku, setelah selesai bekerja antar kan dia pulang ke rumah langsung. Ingat, jangan sentuh yang bukan milikmu" Ucap Tuan Nathan yang penuh dengan penekanan.


"Ku tunggu, kau di rumah" Bisik-nya di telingaku. Tidak perduli dengan tatapan Vanesa yang sudah tidak mengerti dan penuh tanya.


Huaaaa, apa artinya ini? Apa dia akan memarahiku di rumah?


"Ada yang bisa menjelaskan sesuatu padaku?" Pertanyaan Vanesa yang terlihat ingin tahu melihat Tuan Nathan yang dekat padaku. Seperti ada kecemburuan di matanya.


"Aku ikut denganmu saja" Ucapnya seraya berdiri dan bergelayut manja di lengan suamiku.


Hemm, pemandangan yang menyebalkan sejujurnya. Tapi aku harus tunjukkan kalau aku tidak akan terprovokasi oleh tindakan wanita itu.


"Doni, Mbak Jesi. Kami duluan ya..." Ucap Vanesa.


"Iya, Nona. Hati-hati ya...di jalan" Ucapku sembari tersenyum riang.


Kemudian mereka pergi meninggalkan kami berdua. Aku melihat Doni masih kesal dengan kejadian tadi. Dia diam dan cemberut seperti anak kecil.


"Don, ayo makan. Katanya tadi sangat lapar?"


"Kenyang aku Mbak, ngeliat mereka."


Aku tertawa mendengar ucapan dan ekspresi wajahnya yang lucu. Harusnya aku sebagai istri yang marah, bukan dia. Tapi itulah Doni, dia selalu tidak terima saat aku di perlakukan semena-mena, dan di sakiti orang.


"Bagaimana kalau kita makan makanan di pinggir jalan, seperti waktu sekolah dulu. Gimana?"


Wajah Doni langsung berubah ekspresi, dia terlihat senang saat aku mengajaknya makan di pinggir jalan, meski hanya makan jajanan saja.


"Boleh, boleh. Ayo sekarang!" Dia sudah berdiri dan hendak beranjak.


"Eh, aku bayar dulu sebentar"


"Biar aku aja, Mbak"


"Iya deh, yang banyak uang" Ucapku menyindir.


"Bukan gitu Mbak, tadi kan aku yang ngajak"


"Iya, iya..." Aku terkekeh melihat wajah Doni yang sedikit pias.


Setelah menyelesaikan pembayaran kamipun meninggalkan tempat itu. Perjalanan makan kali ini menyasar ke jajanan pinggir jalan setelah tadi tidak jadi makan. Mencari makanan yang dulu sering di jumpai semasa sekolah.


Kami berhenti di sebuah gerobak siomay yang ada di pinggir jalan dan pas di bawah pohon yang rindang. Di sana Mamang siomay sudah menyediakan kursi plastik dan meja untuk memudahkan pelanggannya makan.


Kami makan dengan lahap karena sangat merindukan makanan ini, kami berdua bahkan tidak malu untuk menambah dua porsi lagi untuk memenuhi perut. Aku sangat senang menikmati waktu yang seperti ini, bercanda tawa, riang tanpa beban. Seperti saat masa sekolah dulu.


Hingga Mamang siomay memutar lagu di salon bluetooth-nya yang membuat Doni senyum-senyum namun membuatku jadi salah tingkah dan gugup merasa tidak enak hati.. Sebuah lagu yang romantis dari salah satu penyanyi terkenal. Berjudul 'Kekasih bayangan'.


Lagu itu seperti menyindirku dan menggambarkan isi hati Doni yang sesungguhnya. Suasana hati yang tadinya riang berubah menjadi sedikit kelabu.


"Mbak, ayo habiskan! Kenapa malah jadi bengong?" Doni masih tersenyum ke arahku.


"Ah, iya..." Aku kembali makan tapi tidak menikmatinya lagi seperti saat awal memakannya.


"Apa yang kau pikirkan, Jesi?" Lagi-lagi Doni menyebut namaku langsung. Membuatku menghentikan suapan yang sudah di depan mulut.


"Apa kau merasa nyaman menyebutku hanya dengan nama saja?" Aku tidak menjawabnya justru malah mengalihkan pertanyaannya.


"Hemmm, sepertinya begitu" Ucapnya sambil mengunyah makanannya dan masih di iringi dengan lagu itu.


"Baiklah, kau boleh mengucapkannya. Tapi..." Aku merasa tidak enak untuk mengatakannya.


"Tenang saja, aku tahu batasan ku." Sepertinya Doni tahu apa yang aku maksudkan.


"Doni, terimakasih" Ucapku tulus padanya.


"Sudahlah, jika kau terus mengucapkan kata terimakasih itu hanya akan membuatku sedih saja."


"Maaf..."


"Apalagi kata maaf, jangan ucapkan itu lagi padaku."


Huh, dasar kalian saudara tak sekandung ternyata ada sifat kalian yang mirip.


"Hem, ok. Aku tidak akan mengulangi lagi. Puas, kau?" Aku sedikit menaikkan volume suara, merasa sikap Doni menyebalkan.


Dia terkekeh melihat ku yang sudah kesal sengaja di buatnya. Aku juga tidak bermaksud sungguh-sungguh marah padanya.


Saat kami sedang tertawa bersama, sebuah klakson mobil mengagetkan kami dan juga Mamang siomay. Aku menatap malas mobil yang sudah membunyikan klaksonnya di depan kami, mobil yang sudah jelas aku tahu siapa pemiliknya.


"Huff, mau apalagi dia?" Gerutu ku lirih sembari menghembuskan nafas kasar.


.


.


Bersambung☺️


Happy Sunday 🤗