
Setelah aku memberikan semua pakaian ku ke salah satu organisasi penyalur bantuan tanggap bencana, kemudian aku pergi ke sebuah mall untuk membeli pakaian baru.
Seusai belanja aku pergi ke tempat makan yang ada di dalam mall tersebut. Baru saja aku duduk tiba-tiba datang seseorang yang menghampiri dan duduk di hadapanku.
"Mas Arsya!"
"Hai, apa kabar?" Tanya Mas Arsya setelah duduk di depanku.
"Baik sekali" jawabku seraya tersenyum.
"Sudah terlihat kalau kau sangat baik sekarang. Penampilanmu dan semua barang-barang yang kau beli sudah menunjukan bahwa dirimu hidup berkecukupan"
"Terimakasih, Mas." Masih dengan senyum tulus ku perlihatkan.
"Baguslah! Gimana, apa kau masih jadi wanita simpanan Tuan besar?" Tanya Mas Arsya dengan senyum menghinanya.
Saat aku mendengar pertanyaan itu, langsung membuat darahku mendidih. Setelah lama tidak bertemu bukannya menanyakan keadaan anaknya, justru sibuk ingin tahu kehidupanku setelah bercerai dengannya.
"Mas, apa tidak ada pertanyaan lain yang lebih penting?" Tanyaku yang sudah mulai kesal.
"Apa kau tidak ingat dengan anakmu?" Aku menyindirnya terang-terangan. Mas Arsya diam seperti terkena tamparan keras dari perkataan ku.
"CK, kau bahkan tidak pernah sebentar saja meluangkan waktu untuk menelponnya. Kau sepertinya sudah lupa kalau kau juga punya seorang putri!"
"Apa aku boleh bertemu dengannya?" Pinta Mas Arsya, mungkin sedikit merasa bersalah.
"Apa aku pernah melarang mu bertemu dengannya?" Aku malah balik bertanya yang membuatnya semakin bersalah.
"Tidak, hanya saja aku terlalu sibuk dengan pekerjaan. Karena sekarang aku juga di percayai untuk memimpin salah satu perusahaan yang baru berkembang" Mas Arsya memberikan sebuah alasan.
"Alasan yang klise" Ucapku sinis.
"Sungguh Jesi, aku memang sibuk"
"Lalu, sedang apa Mas arsya di sini? Bukankah harusnya ada di kantor mengurusi pekerjaan?"
Mas Arsya terlihat bingung mau menjawab pertanyaan ku. Aku yakin di tempat seperti ini dia tidaklah sendiri.
"A_aku" Mas Arsya sedikit terlihat gugup.
Bunyi pesan dari ponselku terdengar hingga membuat Mas Arsya tidak melanjutkan ucapannya. Aku melihat ada pesan masuk dari sekertaris Ken.
[ Nyonya, anda harus pulang sekarang. Tuan sudah tiba di rumah ] Pak Ken.
[ Kenapa baru bilang sekarang? Kenapa tidak dari tadi sebelum Tuan sampai? ] Balasku dengan pertanyaan.
"Mas, jika kau ada waktu segeralah bertemu dengan anakmu. Dia sangat merindukanmu, sudah lama kau mengabaikannya" Ucapku lalu berdiri.
"Jesi, kau mau kemana?" Tanya mas Arsya yang melihatku sudah berdiri dan siap untuk pergi.
"Aku harus pulang, Mas"
"Kau belum jadi makan, makanlah dulu" Ucap Mad Arsya sembari memegang tanganku.
"Tidak, aku jadi tidak lapar" Ku lepaskan penganan tangannya.
"Kenapa? Apa kau buru-buru karena sudah ada yang menunggumu?"
"Aku rasa itu bukan urusan Mas Arsya lagi" Ucapku lalu beranjak pergi dengan membawa semua belanjaan ku.
"Jesi, tunggu!" seru Mas Arsya sembari berjalan menyusul ku.
"Ada apa lagi?" Tanyaku malas.
"Di mana kau tinggal sekarang? Biar nanti kalau ada waktu aku ingin menjemput Sisi." Tanya Mas Arsya.
Mantan suamiku ingin tahu tempat tinggal ku sekarang. Bagaimana reaksinya kalau dia tahu aku sekarang tinggal di rumah Tuan Nathan dan jadi istrinya?
"Nanti telepon saja, biar aku yang mengantar Sisi keluar untuk ketemu kamu, Mas"
"Kenapa, sepertinya aku tidak boleh tahu di mana tempat tinggalmu sekarang?"
"Apa ini?" Tiba-tiba Mas Arsya menarik tangan kananku.
"Apa kau sudah menikah lagi?" Dia melihat cincin yang melingkar di jari manis ku.
"Lepaskan, Mas" aku mencoba melepaskan tanganku yang di pegang nya erat.
"Jesi, semudah itukah kau mencari pengganti ku?" Mas Arsya sedikit terlihat kecewa.
"Apa-apaan kalian?" Suara Karla yang tiba-tiba muncul, lalu melepaskan tanganku dari Mas Arsya.
"Jesi, apa kau berniat ingin rujuk kembali dengan Mas Arsya?" Tanya Karla yang sudah nampak di wajahnya rasa curiga.
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Karla yang sudah salah sangka.
"Karla, kau tenang saja. Aku tidak berniat sedikitpun untuk kembali dengan mantan suamiku!" Aku ucapkan kata-kata dengan penuh penekanan.
"Oh, apa mataku yang buta ya? Dan salah melihat tangan kalian berdua" Ucap Karla yang sudah cemburu.
"Karla..." Mas Arsya mencoba membuat Karla diam.
"Tanya saja pada suamimu itu, maaf aku tidak mau membuang waktuku untuk hal yang tidak penting" Ucapku lalu berjalan melewati mereka.
"Sombong sekali dia sekarang" Umpatan Karla masih sempat ku dengar karena aku belum jauh melangkah.
Jika aku tidak segera pergi maka akan di pastikan Karla akan semakin cemburu padaku dan aku juga akan menyaksikan pertengkaran antara mantan suami dan mantan sahabat.
Bukan hanya itu, kalau aku sampai berlama-lama dengan mereka aku juga pasti akan kena hukuman dari suamiku.
Aku melajukan motor matic dengan kecepatan sedikit tinggi, agar cepat sampai di rumah. Karena di rumah sudah ada seseorang yang siap mengeluarkan tanduknya.
Ku siapkan telinga ini untuk mendengar suara kemarahan yang kadang-kadang marah gak jelas.
"Pak Ken, di mana Tuan?" Saat aku sudah masuk aku berpapasan dengan sekertaris Ken yang keluar dari ruang kerja suamiku.
"Nyonya, ada apa lama sekali?" Sekertaris Ken malah bertanya alasan kenapa aku pergi lama.
"Haruskah saya memberikan jawaban pada Pak Ken?"
"Nyonya, maafkan saya. Saya hanya ingin memastikan Anda baik-baik saja" Ucap sekertaris Ken.
"Iya, saya mengerti. Terimakasih Pak Ken, sekarang di mana Tuan? Apa ada di ruang kerja?"
"Tidak, Nyonya. Tuan sudah ada di atas"
"Oh baiklah, saya ke atas dulu"
"Nyonya biar saya bantu" Ucap sekertaris Ken yang melihatku kerepotan saat membawa barang belanjaan.
"Terimakasih, Pak Ken" Ucapku lalu ku berikan beberapa barang ke tangan sekertaris Ken.
Kemudian aku naik ke lantai dua yang di ikuti sekertaris Ken di belakangku. Saat aku akan melewati kamar Sisi, ku lihat pintunya terbuka. Aku berniat menutupnya tapi tak di sangka ada pemandangan yang membuat hatiku merasa tenang berada dan tinggal di rumah ini. Meski aku tidak di anggap oleh suamiku, yang terpenting dia terlihat menyayangi anakku. Ibu mertuaku pun juga menganggap anakku seperti darah dagingnya.
Mungkin suatu saat nanti aku juga bisa berharap untuk tidak takut lagi mencintai seseorang dengan sepenuh hati kembali seperti dulu.
.
.
Bersambung๐
Saya author second marriage mewakili dari keluarga besar second marriage ๐ mengucapkan, Selamat hari raya idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin ๐
๐ซ๐ซ๐ซ๐ซ
Untuk like dan komen nya tetap di tunggu ya๐ฅฐ
Terimakasih untuk kritik dan sarannya ๐. Mudah-mudahan kedepannya bisa lebih baik lagi. Amin.