Second Marriage

Second Marriage
Bab 81 Permintaan yang sulit



Entah kenapa tiba-tiba perasaanku jadi kurang enak, melihat ekspresi Karla yang seolah-olah sangat ingin memohon padaku.


"Karla, sebenarnya apa yang kau inginkan? Katakanlah secepatnya." Aku sudah tidak sabar untuk tahu, apa yang ada di pikiran Karla sekarang?


"Baik, aku ingin Mas Arsya bahagia dan aku ingin Mas Arsya tidak meninggalkan aku, karena aku tidak bisa memberikan anak." Dia diam setelah itu.


"Lantas, apa hubungannya denganku?"


"Maafkan aku tapi aku harus bilang, berikan Sisi pada kami."


Deg


Sontak aku langsung bergerak mundur bersamaan dengan kursi yang aku duduki, hingga terdengar suara gesekan kaki kursi dan lantai.


"Karla, tidak! Itu tidak mungkin!" Ucapku sembari berdiri.


Dia meminta anakku, itu sama saja dia meminta hidupku. Selama ini yang menguatkan aku hanya anakku. Dia yang paling berharga dalam hidupku.


"Jesi, aku mohon..., hanya itu yang bisa membuat Mas Arsya bahagia."


"Maaf Karla, jika itu yang kau inginkan aku tidak akan pernah bisa memberikannya."


"Jesi, kau sehat kau sempurna, kau bisa punya anak lagi dengan suami mu sekarang."


"Kau benar, tapi bukan berarti aku bisa menyerahkan Sisi pada kalian. Maaf!"


"Baiklah, aku punya permintaan lain jika itu berat bagimu."


Apa lagi yang ingin dia minta?


"Karla, aku rasa kau perlu istirahat. Mungkin lain kali kita bisa bicara lagi, karena aku juga sedang sangat sibuk." Aku mencoba mengalihkan dan berusaha untuk cepat keluar.


"Lahir kan darah daging Mas Arsya untuk kami."


"Apa?" Aku sangat terkejut mendengarnya, bisa-bisanya dia bicara seperti itu.


"Iya, aku meminjam rahimmu untuk melahirkan anak Mas Arsya."


"Kau gila, Karla" Umpat ku langsung padanya sembari menggeleng kepala.


"Iya aku gila, aku sudah gila! Dan aku ingin kau bisa menyembuhkan kegilaan ku ini." Ucapnya dengan intonasi yang tinggi.


Aku sedikit takut, melihat Karla seperti orang yang kerasukan setan. Aku takut dia akan melakukan hal buruk, karena saat ini emosi nya sedang tidak terkontrol.


"Jesi, kau adalah temanku yang baik. Aku yakin kau bisa melakukannya untukku."


"Karla, sekali lagi maafkan aku. Sungguh permintaan mu sangat tidak mungkin aku lakukan." Terang ku padanya.


Tidak lama kemudian ada seseorang yang membuka pintu, seorang Dokter yang datang bersama perawat, meredakan rasa tegangku.


"Permisi, Nyonya arsya. Saya akan mengecek keadaan anda."


Ketika pintu terbuka dan suara itu muncul, Aku menoleh ke arahnya, dan sepertinya aku pernah melihat dokter itu.


"Loh, Nona! Hai apa kabar?" Ucapnya sembari mengulurkan tangan.


"Hai juga, kabar saya baik Dokter." Ucapku seraya tersenyum.


"Saya periksa pasien dulu."


"Silahkan, Dok."


"Nyonya Arsya, banyaklah istirahat dan jangan terlalu banyak berpikir agar cepat pulih" Pesan dokter itu padanya.


"Dokter, apakah aku bisa meminjam rahim wanita lain untuk melahirkan anak dari suamiku?"


Astaga Karla, haruskah kau bertanya tentang hal itu sekarang.


"Tentu saja bisa, Nyonya. Kita bisa bicarakan itu nanti setelah anda pulih."


"Baiklah, Dok."


Seusai memeriksa, Dokter itu menghampiriku yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Nona, jadi apa Nyonya Arsya adalah saudara anda?"


"Dia teman saya, Dok."


"Masih ingatkan... dengan saya?"


"Ah, iya Dokter. Maaf saya agak lupa."


"Oh, Begitu. Nona lucu ya..., saya Arga. Waktu itu saya yang datang ke rumah Nathan, sewaktu anda..."


"Oh, iya. Dokter Arga, maaf saya lupa."


"Tidak apa-apa, saya rasa kita bisa berbincang sambil minum kopi, mungkin lebih nyaman." Kebetulan sekali Dokter Arga mengajak keluar, aku sekalian pamit saja.


"Iya baiklah, Dok. Saya tidak enak jika menolak tawaran anda."


"Karla, maaf tapi aku harus kembali ke Toko. Banyak sekali pekerjaan hari ini."


"Aku harap kau bisa memikirkan aku."


Tidak ku pedulikan lagi apa yang yang di katakannya. Bagiku permintaannya adalah hal yang tidak mungkin aku lakukan. Dan aku tidak sebaik itu.


"Jadi, apakah Nona masih tinggal di rumah Nathan?" Tanya Dokter Arga.


Saat ini kami tengah berada di kantin rumah sakit, aku menyempatkan untuk berbincang sebelum kembali ke Toko.


"Tentu saja Dokter." Jawabku setelah menyeruput kopi di depanku.


"Kalau boleh aku tahu, apa hubungan Nona dengan Tuan Nathan."


"Ak_aku..."


"Nyonya, ternyata anda di sini." Belum aku menjawab pertanyaan Dokter Arga, sudah di kejutkan dengan kemunculan sekertaris Ken.


"Pak Ken!"


"Hai, sekertaris Ken..." Sapa Dokter Arga.


"Tuan Arga, maaf saya harus membawa Nyonya Nathan."


Oh, ya ampun...aku lupa, kalau aku di suruh ke kantornya. Matilah aku...


"Ooo... Nyonya Nathan? Berarti kau istri dari Nathan?"


"Benar, Tuan Arga. Saya harap anda menjaga jarak dengan Nyonya Jesi." Jawab sekertaris Ken sedangkan aku cuma tersenyum kuda padanya.


"Tidak menyangka, akhirnya jiwa kelelakiannya bisa hidup kembali." Ucap Dokter Arga sembari tergelak.


"Maaf Dokter Arga, saya harus pergi."


"Sayang sekali, baru saja kita mulai berkenalan. Sudah harus berpisah lagi."


"Bisa di lanjut lain kali, Dokter." Ucapku sembari berdiri.


"Mari Nyonya..."


"Ok, baiklah. Saya akan menghubungi Nathan nanti."


"Saya rasa, anda tahu batasannya. Tuan Arga." Ucap sekertaris Ken, sebelum meninggalkan Dokter Arga.


"Pak Ken, ayo!" Seru ku yang sudah selangkah maju namun harus berhenti mendengar suara sekertaris Ken.


.


.


Setibanya aku di gedung itu, lagi-lagi semua orang di sana melihat ku dengan heran. Mata mereka seperti menunjukkan penuh tanya. Aku hanya tersenyum sembari sedikit menunduk saat berpapasan pada tiap orang yang bekerja di sana.


Aku yakin dalam benak mereka pasti menanyakan, siapa aku ini? Karena sering kali wajahku muncul di sebuah perkantoran yang besar dan megah ini.


Saat aku sudah sampai di depan ruangannya, jantungku sudah berdebar kencang. Mengingat aku akan bertemu dengan orang yang sudah menjadi bagian hidupku yang baru. Terlebih aku sudah melakukan kesalahan lagi, karena aku sudah datang terlambat. Waktu siang hari yang dia minta kini sudah berganti waktu yang hampir sore hari.


Apalagi dia tahu aku sudah bertemu dengan mantan suami dan pergi tanpa seizinnya. Mungkin dia akan marah dan mengeluarkan taringnya lagi? Hah, menakutkan sekali suamiku sekarang.


Untung masalah di Toko sudah di handel sekertaris Ken. Saat dia tahu aku tidak ada di Toko dan keadaan Toko yang kekurangan orang, dia langsung memanggil anak buahnya untuk turun tangan membantu di Toko.


Masalah satu terselesaikan, tinggal mengahadapi yang punya kuasa atas diriku.


Sebelum aku mengetuk pintu, ku ambil nafas dalam-dalam dan perlahan menghembuskan. Menguasai diri agar mampu menghadapi kemarahannya nanti.


"Nyonya, apa perlu saya antar?" Tanya sekertaris Ken.


"Tidak Pak Ken. Aku tahu Tuan pasti akan marah padaku, dan aku tidak ingin kau kena marah juga."


"Ternyata Nyonya sudah mulai pintar sekarang."


"Terimakasih, Pak Ken" Entah apa maksudnya sekertaris Ken?


Aku mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk, setelah mendengar jawabannya aku baru membuka pintu.


Deg


Pemandangan yang membuatku menyesal masuk ke sini sekarang. Sepertinya aku harus benar-benar bersiap diri menghadapi situasi ini.


.


.


Bersambung ☺️


Dukung terus karya ini ya teman-teman 🙏


Like selalu di tunggu🥰