Second Marriage

Second Marriage
Bab 28 Ide sekertaris Ken



Wajah Tuan Nathan sudah basah terkena air lemon, kemeja yang dia pakai juga tak luput terkena cipratan. Cepat-cepat aku mengambil tisu yang ada di meja untuk membersihkannya.


"Maafkan saya, Tuan" aku sudah duduk di dekatnya dan mengusap wajahnya dengan tisu.


Saat ini jarak kami sangat dekat, aku bahkan sampai lupa kalau Tuan Nathan tidak mau bersentuhan dengan wanita lain. Dalam pikiranku hanya muncul rasa bersalah karena telah lancang mengotori mukanya.


Tuan Nathan memegang tanganku erat saat tanganku menyentuh wajahnya. Mata kami saling menatap dan mengunci, tatapan matanya lembut tidak memancarkan amarah sama sekali.


Pelan-pelan Tuan Nathan mendekatkan wajahnya hingga membuat detak jantungku tidak berirama dan bau nafas mint yang keluar dari mulutnya juga tercium. Aku takut dan memejamkan mata, pikiran ku sudah terbang kemana-mana. Memikirkan kemungkinan besar yang akan terjadi selanjutnya.


"Maaf, Tuan" sekertaris Ken tiba-tiba masuk dan membuat kami terkejut.


Bruk


Tuan Nathan mendorong tubuhku ke belakang, aku yang tidak siap pun akhirnya jatuh terlentang di sofa dengan posisi kaki di bawah.


"Apa kau mencari kesempatan untuk menyentuhku?" Tuan Nathan berdiri sembari membersihkan wajahnya sendiri dengan tisu dan menjauh dariku.


Aku juga merasa Malu karena telah berani berbuat demikian, apalagi sekertaris Ken melihat tubuhku dan Tuan Nathan yang saling berdekatan.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud untuk_" ucapku seraya bangun dan berdiri dari sofa.


"Ah, sudahlah tidak perlu kau beri alasan!" Ucap Tuan Nathan.


"Tuan, Tuan tidak apa-apa?" Tanya sekertaris Ken yang melihat muka dan pakaian Tuan Nathan terkena air.


"Tidak!" jawab Tuan Nathan. "Sekarang katakan pada saya, kenapa rasanya lemon bisa asin? Apa kau sengaja ingin membuatku punya hipertensi?" lanjutnya bertanya padaku tentang perubahan rasa lemon.


Aku sempatkan menatap sekertaris Ken yang tersenyum samar, mungkin dalam hatinya menertawakan kecerobohan yang telah aku lakukan lagi. Aku juga merasa bingung, kenapa rasa lemon nya bisa jadi asin? Aku ingat tadi aku sepertinya sudah benar menaruh gula dan bukan garam. Lagi-lagi karena aku ceroboh, mungkin aku salah ambil tadi karena letak gula dan garam yang berdekatan. Perasaanku tadi sudah emosi karena merasa Tuan Nathan sengaja ingin melihatku kesal makanya aku jadi tidak bisa fokus.


"Tidak, Tuan. Mungkin tadi saya salah ambil"


"Apa kau buta? Tidak bisa membedakan mana garam dan gula?" Makinya padaku yang sudah salah mengambil antara gula dan garam.


"Dasar ceroboh!" Makian ceroboh keluar lagi dari mulutnya.


"Tuan, mungkin Nyonya merasa lelah, apa sebaiknya memberinya waktu libur sebentar sebelum hari pernikahan tiba." Sekertaris Ken memberikan ide melihat tuan Nathan yang sudah menegang karena emosi.


Pak Ken, ide mu sungguh cemerlang!


Aku tersenyum ke arah sekertaris Ken, dalam hati sangat berterima kasih atas idenya. Mudah-mudahan ide dari sekertaris Ken di ACC oleh Tuan Nathan. Dengan begitu aku bisa merasakan kebebasan walau hanya sebentar.


Tuan Nathan tampak berpikir, mempertimbangkan ucapan sekertaris Ken tentang hari berlibur untuk ku.


"Selain itu, Tuan Nathan juga bisa merasa lebih lega dan leluasa seperti dulu tanpa adanya wanita lain selain Nyonya Sonya" sambung sekertaris Ken di tengah Tuan Nathan sedang berpikir.


Sekalian saja Pak Ken, kau suruh untuk membatalkan pernikahannya.


Tuan Nathan yang sudah duduk di kursi kerjanya tampak senyum smirk mendengar ide dari sekertaris Ken. Entah apa yang ada di otak Tuan sombong itu? Aku berharap dia tidak akan mempersulit saat waktu berliburku.


"Ide mu sepertinya bagus juga, Ken" ucap Tuan Nathan.


Aku merasa lega mendengar Tuan Nathan bilang begitu, itu artinya dia akan menyetujui ide dari sekertaris Ken.


"Apa perlu saya kasih tiket liburannya sekalian?" Tanya Tuan Nathan pada sekertaris Ken.


"Tidak perlu!" Sambung ku langsung. "Hehehe, saya rasa itu akan merepotkan kan anda, Tuan." Memberikan alasan agar Tuan Nathan tidak ikut andil dalam liburan ku.


Aku berpikir jika sampai Tuan Nathan yang memberi tiket liburan untukku pasti akan menyebalkan akhirnya. Aku sama saja tidak bisa menikmati waktu libur ku dengan tenang.


"Apa saya bertanya padamu?" Mata Tuan Nathan sudah menatapku tajam.


"Maaf, Tuan" ucapku tertunduk lesu.


Kau benar sekertaris Ken, aku sungguh berterimakasih padamu.


Aku mengangkat kepalaku lagi dan melihat sekertaris Ken seraya tersenyum sumringah. Ternyata sekertaris Ken tahu kalau aku butuh sedikit udara segar. Butuh waktu untuk berpikir bagaimana caranya nanti menghadapi Tuan Nathan setiap hari dengan segala keribetan nya.


"Hem, benar juga" gumam Tuan Nathan.


Hatiku merasa senang sekali mendengar suara lirihnya yang menyetujui lagi pendapat sekertaris Ken.


"Baiklah... saya setuju dengan ide mu, Ken" akhirnya Tuan Nathan menyetujui semua usul dari sekertaris Ken.


Aku yang merasa begitu bahagia dan semangat tanpa sadar langsung berlari ke arah sekertaris Ken. Memegang pergelangan tangannya dengan erat seraya mengucapkan banyak terimakasih karena telah memberikan ide yang sangat bagus.


Brakkk


Aku kaget saat mendengar suara gebrakan meja yang keras. Aku menoleh melihat rahang Tuan Nathan yang mengeras, matanya melebar dan mukanya memerah. Entah kenapa dia begitu tiba-tiba terlihat marah.


"Ken, apa yang kau lakukan?" Tuan Nathan berteriak pada sekertaris Ken.


"Nyonya, lepaskan saya" bisik sekertaris Ken.


"Hah?"


"Lepaskan tangan saya!" Lirih sekertaris Ken sekali lagi.


"Hihihi, maaf" ucapku setelah sadar apa yang sudah ku lakukan seraya melepaskan tangan dengan cepat.


"Maaf, Tuan" ucap sekertaris Ken dengan sedikit membungkukkan badannya.


Kenapa lagi? Tuan Nathan marah dengan sekertaris Ken.


"Apa perlu saya memberimu cuti setahun?" Ucap tuan Nathan pada sekertaris Ken yang menawarkan liburan sangat panjang dalam arti sama saja dengan memecat sekertaris Ken.


"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja" ucap sekertaris Ken yang sekali lagi minta maaf.


Aku benar-benar tidak tahu, ada apa dengan sekertaris Ken yang tiba-tiba minta maaf. Apa sebenarnya salahnya? Kenapa perasaan ku jadi tidak enak?


"Baiklah, kali ini kau ku maafkan, tapi tidak dengan lain kali!"


"Terimakasih, Tuan" jawab sekertaris Ken yang merasa lega.


"Kau tahu, apa yang harus kau lakukan bukan?"


"Ya. Saya tahu, Tuan"


"Bagus!" ucap Tuan Nathan.


Apa yang sebenarnya mereka rencanakan? Mungkinkah ada kaitannya dengan ku? Setiap ucapan Tuan Nathan mengandung teka-teki bagiku.


"Hey, kau nikmati waktu yang saya berikan padamu. Bersenang-senanglah dengan putrimu, saya tidak akan bersamamu" ucap Tuan Nathan padaku.


"Terimakasih, Tuan" ucapku tersenyum senang juga lega. Pada akhirnya Tuan Nathan memberiku waktu tanpanya.


Bersambung...


.


.


Happy reading 😊