Second Marriage

Second Marriage
Bab 56 Rasa ingin tahu



Aku tahu Mas Arsya pasti akan menanyakan tentang kebersamaan anaknya dan Ibu mertuaku. Dia pasti sangat penasaran sekali, tidak mungkin juga aku mengatakan kalau aku adalah menantunya sekarang. Apa yang akan dia pikirkan kalau sampai tahu? Dia pasti membenarkan tuduhannya selama ini.


Aku berharap Sisi tidak bilang padanya tentang kehidupan kami sekarang. Aku masih ingin menjadi istri yang tersembunyi di balik topeng pelayan. Karena memang posisiku bukanlah istri yang sesungguhnya, meski Ibu mertua berharap agar aku tetap bersama anaknya, tapi aku tidak tahu kedepannya akan seperti apa.


Saat aku sedang bingung mencari jawaban dari pertanyaan mantan suamiku, tiba-tiba suara seorang wanita membuyarkan pikiran ku. Suara yang memperlihatkan ketidaksukaan karena kedatangan ku.


"Sedang apa kalian di sini?" Sekali lagi Karla bertanya pada kami.


"Karla, aku turut berduka atas kepergian anakmu. Maaf kalau aku tidak bisa masuk ke dalam karena_" Aku merasa tidak enak Karla mendapati aku di luar sedang bersama suaminya.


"Aku tahu!" Karla menyambar langsung sebelum perkataan ku selesai.


"Sayang, aku hanya mengantar Sisi sekaligus menyapanya sebentar. Kasihan Sisi, di dalam banyak orang apalagi banyak wartawan yang meliput Nyonya Erlangga."


Sayang, dulu kau juga memanggilku seperti itu tapi nyatanya kau mampu berkhianat. Dan sekarang kau juga terlihat sangat mencintainya, Mas. Bahkan kau takut Karla cemburu, ku harap kau tidak lagi bermain api. Dan tenanglah, tidak ada niatku untuk kembali masuk dalam kehidupan kalian.


"Oh, jadi kau datang bersama dengan Nyonya Erlangga? Tante palsu mu itu?" Karla masih ingat kalau Ibu mertua memperkenalkan aku sebagai keponakannya, dan dia sengaja menekankan kata Tante palsu di depan muka ku.


"Tante palsu, apa maksudnya?" Mas Arsya heran dengan ucapan Karla.


Karla sudah membuka percakapan yang tidak seharusnya di bahas sekarang. Situasi yang kurang tepat menurutku, di samping dia sedang berduka tapi juga ada Sisi, yang kapan saja bisa berbicara saat mendengar kenyataan yang tidak benar.


Aku menyuruh Sisi untuk masuk ke dalam mobil agar dia tidak mendengar percakapan kami. Beruntung Sisi pun tidak menolaknya.


"Iya Mas, Jesi telah mengaku sebagai keponakan dari Nyonya Erlangga. Lebih tepatnya si, Nyonya Erlangga yang memperkenalkannya pada ku dan Ibu."


"Jesi, apa benar kau keponakan dari Nyonya Erlangga?" Sorot mata mas Arsya menyelidik mencaritahu kebenaran.


"Setahuku, kau hanya punya paman dan bibi di kampung. Lalu kenapa kau tiba-tiba jadi keponakan Nyonya besar? Apakah Tuan Nathan sudah mengangkat mu sebagai sepupu?" Ucap Mas Arsya mengingat seluk beluk keluargaku.


"Jesi, kau benar-benar pintar. Aku iri padamu!" Ucap Karla.


"Maaf, aku ke sini hanya untuk berbelasungkawa. Bukan untuk berdebat atau harus menceritakan kehidupan ku sekarang. Bagiku, hidupku saat ini tidak ada kaitannya dengan kalian, jadi bukanlah urusan kalian!" Aku tidak habis pikir di saat mereka sedang berduka, mereka masih sempat kepo dengan hidupku.


"Karla, aku rasa banyak orang yang mencari mu saat ini, lebih baik kau kembali ke dalam. Daripada kau di sini hanya untuk mencari-cari kesalahan orang lain, kasihan anakmu yang menunggu doa tulus darimu." Sindir ku langsung pada wanita yang gak tahu diri sepertinya.


Raut muka Karla sudah tampak merah, memendam amarah. Dia mendengus kesal karena perkataan ku yang membuatnya tidak bisa lagi melawan.


"Mas, ayo kita pergi!" Ajaknya pada Mas Arsya.


"Kau, masuklah duluan. Aku masih ingin bertemu anakku dulu."


"Mas, kau masih betah bersama wanita munafik kaya dia" terang-terangan Karla sudah menghinaku, bukan pertama kalinya dia bermulut pedas padaku. Dan aku sudah tidak perduli, bukan berarti aku tak berani melawan. Aku hanya tidak mau menjatuhkan harga diri di depan banyak orang karena ada nama yang harus ku jaga.


Setelah Karla puas telah berkata pedas padaku kemudian dia pergi kembali ke dalam, namun Mas Arsya masih tetap bergeming di tempatnya.


Dia hanya diam dan terus menatapku. Seolah banyak pertanyaan yang harus dia keluarkan dari pikirannya. Terakhir aku bertemu dengannya, dia masih sama. Masih menuduhku menjadi simpanan Tuan Nathan.


"Jesi, kenapa kau jadi seperti ini?" Tanya Mas Arsya, matanya menunjukkan kesedihan di sana.


"Andai kau masih mau jadi istriku, kau tidak akan jadi begini, hidup dengan kepalsuan"


Benar, aku memang hidup dengan kepalsuan, bukan cuma keponakan palsu melainkan istri palsu juga. Tapi aku lebih baik hidup begini daripada aku harus selamanya hidup dengan berbagi suami, itu jauh dari prinsip ku.


"Mas Arsya, sekali lagi ku tegaskan padamu. Hidupku bukanlah urusanmu lagi! Dan ingat, aku tidak pernah menyesal sedikitpun bercerai dari mu. Justru aku berterimakasih karena berkatmu aku menemukan hidup yang baru, dan yang pasti hidup yang lebih baik."


Setelah kepergian Karla, aku dan mas Arsya sedikit bersitegang. Mas Arsya pikir aku sekarang adalah wanita yang sangat buruk di matanya. Jangan kira aku melihat kesedihan dan rasa kasihan di matanya, aku akan merengek meminta kembali lagi. TIDAK!


"Jesi, Apa kau yakin hidupmu lebih baik" Mas Arsya tidak percaya dengan ucapan ku.


"Mas, sudahlah...Lebih baik kau kembali masuk. Tidak baik jika di lihat orang kau terlalu lama di sini." Aku sudah malas meladeninya.


"Pak Arsya Sanjaya..., ternyata anda di sini" Ibu datang dan menepuk bahu Mas Arsya.


"Nyonya Erlangga" Mas Arsya sedikit kaget lalu menunduk hormat.


"Di mana cucu saya, Sisi"


"Cucu?" Bukan cuma Mas Arsya yang terkejut tapi aku juga, kenapa Ibu harus bilang cucu.


"Nyonya, tidak mengurangi rasa hormat saya. Tapi maaf, Sisi itu adalah anak saya dan Jesika. Bagaimana bisa anda menyebutnya cucu anda, Nyonya?" Mas Arsya menjelaskan siapa dirinya bagi Sisi dan mencoba mencari tahu alasan apa cucu dari keluarga Sanjaya menjadi cucu dari keluarga Erlangga.


"Saya tahu itu, Pak Arsya" Jawab Ibu mertua seraya tersenyum.


"Pak Arsya, sepertinya anda sangat penasaran kenapa saya bisa menyebutkan Sisi sebagai cucu saya" Sambung Ibu mertua.


"Tentu saja, Nyonya."


Ibu, apakah kau akan mengatakan kalau aku adalah menantu mu sekarang?


"Simpan rasa ingin tahu mu dulu, belum saatnya kau tahu. Lebih baik kau sekarang fokus untuk menjadi lebih baik. Jangan pernah kau sia-siakan lagi, saat kau punya anak kembali nantinya"


Deg


Aku tidak menyangka Ibu akan berbicara seperti itu, aku pikir Ibu akan mengatakan yang sebenarnya, ternyata aku salah. Ku lihat mas Arsya langsung terdiam seribu bahasa mendengar ucapan Ibu mertua yang langsung mengena di hati Mas Arsya.


"Sisi dan Jesi adalah keluarga saya, tidak akan ada lagi orang yang bisa menghinanya"


"Keluarga?" Ucapnya lirih. Mas Arsya terbengong terlebih saat Ibu mengatakan keluarga.


"Pak Arsya, belajarlah dari kesalahan sebelumnya, hingga tidak ada lagi hal buruk yang bisa menimpa keluarga anda" Pesan Ibu mertua sungguh luar biasa sampai membuat mas Arsya seperti merasa bersalah saat ini.


*


*


Bersambung😊