
Suara ketukan pintu terus terdengar karena penghuni kamar tak jua membukakannya dan masih setia duduk sambil menggerutu tak jelas.
"Tuan...kenapa masih saja duduk?" Dia hanya menoleh sesaat ke arahku dengan wajah kesalnya.
"Apa perlu saya yang membukanya?" Tanyaku sembari bangun dan duduk dengan tangan memegang selimut tebal untuk menutupi tubuhku yang sudah polos.
"Kau? Lupa kalau sedang telanjang?"
Aku sengaja mengatakan itu supaya dia cepat bangun dan membukakan pintu yang dari tadi bersuara.
"Kau?" Terdengar suaranya sedikit terkejut.
"Kenapa pulangnya cepat sekali, Ibu?"
"Iya sayang, ku dengar menantu Ibu telah di culik. Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" Suara Ibu mertua terdengar sangat khawatir.
"Iya Bu, dia baik-baik saja. Tidak perlu khawatir?"
"Bagaimana Ibu tidak khawatir? Baru Ibu tinggal sebentar saja kau sudah tidak becus jaga istri!"
"Bukan begitu Ibu..."
"Di mana dia sekarang?"
"Sedang istirahat, Ibu."
"Ibu ingin bertemu sebentar."
"Ja_jangan, Bu"
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu padanya?"
Setelah aku mendengar ada suara Ibu mertua buru-buru aku lari untuk mengambil pakaian ganti lalu cepat menghampirinya.
"Ibu..." Mendengar namanya ku sebut Ibu mertua langsung nyelonong masuk ke kamar menggeser badan anaknya yang menutupi jalan lalu memelukku.
"Kau tidak apa-apa, sayang?"
"Ibu, aku baik-baik saja" Jawabku setelah mengurai pelukannya.
"Kenapa bisa terjadi? Apa Nathan tidak menjagamu dengan baik?" Ibu mengajakku untuk duduk di sofa, aku memutar kepalaku melihat wajah kesal Tuan Nathan, dia melebarkan bola matanya padaku tapi aku hanya tersenyum membalasnya.
"Tidak begitu Ibu, Tuan menjaga saya dengan baik kok" Jawabku setelah duduk di sofa.
"Tuan? Siapa yang kau sebut Tuan?" Tanya Ibu padaku.
"Nathan, kau duduklah!" Menyuruh anaknya yang berdiri saja dari dari tadi.
"Apa kau masih menyuruh istrimu untuk memanggilmu Tuan?" Lanjutnya bertanya setelah Tuan Nathan duduk.
Tuan Nathan hanya mengangkat kedua tangannya sebagai jawaban.
"Ck, kau itu. Jesi, kau bisa panggil Nathan dengan Mas, sayang atau yang lainnya mulai dari sekarang. Jangan lagi kau panggil-panggil Tuan!"
"Sejak kapan Ibu jadi mempermasalahkan?" Tanya Tuan Nathan.
"Iya Ibu, tidak apa-apa" Ucapku.
"Dia itu istrimu bukan pelayanmu, mengerti! Apa kata orang nanti jika mendengar kau di panggil Tuan oleh istrimu?"
"Itu terserah dia mau memanggilku apa?"
"Jesi, kau bisa panggil Nathan dengan suamiku atau sayangku? Kedengarannya lebih baik" Ibu mertua menyuruhku mengubah cara panggilannya.
Sayang, bikin dia kepedean dong nantinya.
"Baik Ibu..." Mengiyakan saja daripada nanti panjang buntutnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa di bawa kabur? Siapa yang membawamu?"
Ibu mengeluarkan banyak pertanyaan karena hampir tidak percaya ada orang yang menculik istri dari Tuan Nathan. Kemudian aku menjelaskan tentang siapa dalang dari penculikan itu dan juga maksudnya tapi aku tidak menjelaskan maksud dari mantan suami yang ingin mengajak rujuk. Aku hanya bilang dia merasa kesulitan untuk bertemu dengan anaknya.
Setelah mendengar itu Ibu memberikan sedikit pengertian pada Tuan Nathan untuk memberi kelonggaran dalam sikap posesifnya pada Sisi.
"Ibu sudah selesai bicaranya?" Tuan Nathan sudah kelihatan malas mendengar setiap nasehat Ibunya .
"Sudah, kau mengusir Ibu?"
"Ini sudah malam, aku harus istirahat menantu kesayangan Ibu juga perlu istirahat, kan..."
Tuan Nathan sudah menyuruh Ibu keluar kamar. Apa mungkin dia mau mengulang permainan tadi? Oh tidak, ku harap tidak terjadi lagi.
"Iya baiklah, Ibu keluar" Ucap Ibu mertua lalu berdiri, tapi ekor matanya menangkap sesuatu lalu melihat ke arah Tuan Nathan yang membuatnya senyum-senyum sendiri.
"Ibu, ada apa?" Tanyaku mengikuti arah mata Ibu memandang.
Ya ampun, Ibu melihat pakaian kami berserakan di bawah. Ranjang pun terlihat berantakan.
Aku juga baru sadar kalau suamiku bertelanjang dada. Pantas saja Ibu senyum-senyum sendiri. Aku malu sekali ketahuan sama Ibu mertua kalau tadi hampir sempat bertempur di ranjang.
"Apa Ibu sudah mengganggu aktivitas kalian tadi?" Tanya Ibu seraya tersenyum.
"Tidak, Ibu" Kataku sembari tersenyum malu.
"Hem" Jawab Tuan Nathan bersamaan dengan ucapan ku.
"Maaf, Ibu tidak tahu" Masih dengan tersenyum lalu berjalan keluar kamar.
"Ibu, selamat istirahat..."
"Jesi, semangat ya" Ucap lirih Ibu seraya mengangkat tangan kanannya membentuk kepalan. Lagi, aku hanya tersenyum malu padanya.
Setelah ku tutup pintu, aku kembali melangkah dengan perasaan sungguh malu dengan apa yang sudah terjadi. Sekarang aku malah merasa canggung di hadapannya.
"Lama sekali" Ucapnya datar, sudah berada di ranjang kembali rupanya dia.
Lama apanya? Baru juga sebentar udah di bilang lama.
"Em, saya mau ke toilet sebentar" Aku bingung harus gimana, rasanya sangat aneh setelah hampir saja aku..., ah untuk mengatakan saja aku sudah malu. Lebih baik aku ke toilet sebentar untuk mengusir rasa malu ku.
"Hem"
.
.
"Kau mau kemana lagi?" Tanyanya melihatku yang sudah kembali dan berjalan ke arah sofa, aku berpikir untuk tidur di sana saja.
"Sofa" jawabku singkat.
"Bukankah sudah aku katakan untuk tidur di sini dan jangan di sofa lagi. Apa kau mau membangkang lagi, hah?"
Bukannya aku lupa, tapi aku cuma mau menghindarinya saja.
Mendengar kata membangkang, aku tidak berani lagi menolak perintahnya. Kemudian aku menaiki ranjang tanpa banyak alasan lagi.
"Tidurlah, aku tidak akan mengulang lagi sebelum kau mau mencintaiku. Kecuali..."
Aku tidak mau mencintai orang yang punya wanita lain.
"Kecuali apa?" Apa yang ada di pikirannya? Matanya menatapku penuh makna.
"Kecuali, kau yang menggodaku" Ucapnya dengan tersenyum.
"Hah? Sejak kapan aku menggoda Tuan?"
"Apa kau tidak dengar yang Ibu katakan tadi? Kau tidak boleh memanggilku dengan sebutan Tuan!"
"Aku izinkan kau panggil dengan suamiku sayang. Kedengarannya tidaklah buruk bukan?"
Siapa juga yang minta izin, haduh dasar Tuan muda narsis.
"Gimana kalau saya panggil, Mas aja. Lebih ringan dan simpel"
"No, no, no. Jangan kau samakan aku dengan mantan suami bejatmu itu"
Padahal aku tidak bermaksud untuk menyamakannya, pasti dia sudah negatif thinking. Aku hanya takut kalau sampai baper nantinya.
"Tidak ada penolakan, mulai sekarang kau panggil aku dengan suamiku sayang. Cobalah aku ingin mendengarnya"
"Heh" Aku menjauhkan wajahku dan menaikkan alis sebelah.
"Jangan menggoda lagi dengan ekspresi wajahmu itu"
Ekspresi apa yang dia maksudkan, aku bahkan tidak membuat mimik wajah yang lucu atau aneh.
"Cepat katakan..." aku masih diam seperti patung melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan.
"Baik, su_suamiku sayang..." Sedikit gugup dan mengayunkan kata sayang agar dia puas.
"Sekali lagi" Pintanya, lalu ku ulang lagi kata itu dan selesai di pengulangan kata yang ketiga dia langsung tergelak.
Sesenang itukah kau ku panggil dengan suamiku sayang. Huft, andai kau tidak akan membuang ku suatu saat nanti.
"Ayo, berbaringlah kau boleh tidur dengan memelukku sebagai ucapan terimakasih karena aku telah mengizinkanmu memanggilku dengan sebutan manis itu"
Lagi-lagi aku terlihat seperti yang meminta padanya, bukankah dia sendiri yang memerintah.
Dasar aneh.
Kemudian aku berbaring dengan memunggunginya sembari menggeleng kepala dan memberikan batas guling di tengah kami.
"Hey, bukankah aku mengizinkanmu untuk tidur memelukku. Kenapa aku malah di kasih pantat mu?"
"Tidak Tuan, terimakasih"
"Apa kau bilang?"
Oh ya ampun aku salah menyebut lagi.
"Hehehe, tidak suamiku sayang..." Puas kau Tuan Nathan. Dalam batinku aku merasa geregetan padanya, apalagi melihat senyumnya itu seperti mengejek.
"Baiklah, karena kau sudah benar dalam memanggilku maka aku yang akan memelukmu dari belakang"
Tanpa menunggu jawaban dariku dia mengulang hal yang sama memelukku dari belakang. Memeluk dengan hangat dan lembut.
"Su_suamiku sayang, saya sedikit_" Aku merasa sulit bernafas karena pelukannya yang sedikit erat.
"Ssssuttt, diam lah. Aku ingin tidur, ingat jangan kau coba untuk menggoda ku lagi!"
Belum juga aku melakukan protes, sudah di tolaknya mentah-mentah. Dia juga selalu menuduh seolah-olah aku mencoba untuk menggodanya.
Beberapa menit kemudian terdengar dengkuran halus darinya, sepertinya dia sudah tertidur karena pelukannya pun mulai mengendor.
Aku merasa lega karena akhirnya tidak terjadi apa-apa di antara kami malam ini, meskipun hampir saja aku akan merasakan kenikmatan seperti dulu lagi. Perlahan aku juga mulai memejamkan mata karena mataku juga sudah terasa lelah.
.
.
Semua sarapan sudah siap di meja, aku pun sudah duduk di sana tinggal menunggu Ibu, Sisi dan juga suami tersayang. Astaga aku tidak habis pikir bisa memanggilnya seperti itu.
"Pagi sayang..." Sapaan Ibu mertua dengan seulas senyum yang manis.
"Pagi, Bu..." Sembari menarik kursi untuk duduk Ibu mertua.
"Mana Nathan, belum bangun?"
"Bentar lagi juga turun, Bu"
"Gimana semalam?"
Ah, Ibu menanyakan masalah semalam, membuatku malu saja.
"Gimana apanya, Ibu?" Aku pura-pura gak ngerti aja.
"Ih, kau itu pura-pura gak tau. Itu Lo proses bikin baby nya, sukses kan...?"
Ibu mertuaku ternyata to the point' sekali masalah semalam. Apa mungkin sudah gak sabar punya keturunan dari Erlangga? Bagaimana aku menjawab, kalau aku jawab jujur sepertinya dia akan kecewa. Kalau aku Jawab iya, pasti akan sangat berharap padaku. Sedangkan aku tidak mau melahirkan seorang anak tanpa ayahnya mencintaiku.
"Ibu, saya_" Aku bingung harus menjawab apa.
"Pagi, Ma..." Di saat yang tepat Sisi sudah datang bersama Tuan Nathan.
"Pagi, sayang..." Sapa ku bahagia melihat anakku selalu ceria .
"Pagi, Oma"
"Pagi, cantik dah siap mau berangkat?"
"Udah dong, Oma..."
"Kenapa tidak ada sapaan untuk suami" Ucapnya duduk di kursi yang sudah aku persiapkan.
Yah pagi-pagi dah mulai mau ngedrama ni.
"Oh,pagi suamiku sayang..." Ku ucapkan salam pagi dengan senyum tulus, tapi dia tidak ada ekspresi apapun.
Menyebalkan sekali.
"Nah gitu dong, Ibu kan seneng lihatnya kalian baikan begitu, gak berantem mulu"
"Cie...Mama mukanya merah tuh"
Dasar bocil, beraninya meledek Ibu sendiri.
"Sayang, ayo cepat sarapan nanti terlambat Lho..." Mengalihkan perhatian Sisi agar tidak semakin kemana mana ngomongnya.
Pagi ini Sisi akan di antar Ibu mertua berangkat sekolahnya, sedangkan aku seperti biasa hanya akan terkurung dalam sangkar yang membuatku merasa bosen. Ini itu gak boleh dan harus menggunakan pemaksaan pada mereka yang menemaniku di rumah saat aku menginginkan sesuatu.
Setelah selesai sarapan aku mengantar Ibu dan Sisi keluar sampai halaman. Sedangkan Tuan Nathan masih setia duduk di depan meja makan.
Baru saja aku menutup pintu, sudah terdengar lagi bel berbunyi. Mungkinkah ada barang sekolah Sisi yang tertinggal?
Aku membalik badan untuk membuka pintu, karena sepertinya orang di luar sana juga tidak sabar ingin masuk.
Aku buka pintu langsung berhadapan dengan sebuket bunga mawar yang terus membuatku bersin-bersin tak henti.
"Pagi..." Sapa-nya.
"Huachi...huachi...." Hidungku langsung terasa gatal dan aku tidak mampu menahan untuk tidak bersin. Aku sudah tidak sopan menyambut tamu dengan cara seperti itu.
.
.
Bersambung😊
Maaf author nya selalu lambat up-nya. Ada kecelakaan kecil yang bikin susah untuk nulis. Lagi proses pemulihan dari habis jatuh dan kepala bagian belakang membentur lantai jadi perlu waktu untuk istirahat. Ini saya sempatkan up karena udah dari kemarin2 nulis tinggal upload aja. Minta doanya dari teman semua, mudah-mudahan tidak terjadi hal yang buruk kedepannya, agar saya juga bisa menyelesaikan tulisannya.
Terimakasih yang tetap menunggu kisah dari cerita ini🥰🥰🥰