
Ah, kenapa dia jadi kekanak-kanakan sekali...?
Itu yang ada di pikiran ku sekarang, mungkin sedikit butuh sedikit bujuk rayu untuk mengatasinya.
"Suamiku..., apa ingin minum sesuatu? Biar saya buatin spesial untukmu."
"Bukankah aku sudah bilang, tidak usah ke belakang lagi. Rumah ini banyak pelayan, mereka sudah punya tugas masing-masing. Aku tidak suka kau bau asap."
Niat hati ingin berbuat yang bisa membuatnya merasa tersanjung, eh malah salah.
"Suamiku..." Ku peluk dia dari samping, mungkin dengan cara ini bisa membuatnya menyudahi aktingnya.
"Hem."
"Saya siapkan air untuk mandi ya, sudah bau asem nih." Ku cium lengan kemejanya yang masih harum.
"Belum pernah ada yang bilang seperti itu padaku, dan kau bilang kalau aku ini bau asem. Berani sekali kau..."
Huf, salah lagi. Bikin pening aja.
"Iya, maaf" Aku mengurai perlahan pelukanku.
Kemudian aku bangkit berdiri, dan meninggalkan dia sendiri di ruang tamu. Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, lebih baik aku pergi ke kamar dan mandi.
"Hey, mau kemana?" melihatku yang sudah berjalan, aku diam. Malas untuk menjawab.
"Apa kau menyerah?" teriaknya padaku yang sudah mulai menapaki anak tangga.
Aku masih diam, tidak menanggapi pertanyaannya. Terus berjalan tidak memperdulikannya yang mungkin saat ini sangat kesal padaku.
Setelah sampai di kamar, aku baru sadar ternyata foto Vanesa masih setia tergantung di dinding.Entah kapan foto itu di turunkan?
Sejenak aku memandang foto itu dan terus berpikir untuk kemungkinan yang terjadi kedepannya. Mengingat statusku yang belum jelas, baik itu status pernikahan atau status di hati Tuan Nathan.
Meski aku dan dia sudah melakukan hubungan layaknya suami istri sungguhan, tapi itu belum membuktikan kalau dia benar-benar menginginkan aku untuk terus berada di sampingnya.
"Apa yang sedang kau lihat," suaranya yang tiba-tiba, mengejutkan aku.
"Eh, itu...,tadi ada cicak sembunyi di balik foto Vanesa." Aku sengaja berbohong padanya.
"Oh, selama aku jadi penghuni kamar ini. Aku tidak menemukan hewan apapun bisa berkeliaran dengan bebas di sini."
"Tapi, tadi saya beneran lihat." Mencoba meyakinkannya.
"Jika yang kau lihat itu benar, akan ku pecat pelayan yang bertugas di sini."
Waduh, kasihan dong kalau sampai pelayan itu di pecat.
"Suamiku yang tampan, tidak perlu di pikirkan." Cepat-cepat aku mendekat lalu memegang jas dan melepaskannya dengan perlahan.
"Apa kau sedang mencoba merayuku?"
"Tidaklah, kau sudah terlalu sibuk jadi tidak perlu mengurus hal yang tidak penting."
"Jadi, apa yang kau lakukan? Hem." Ucapnya sembari menarik pinggangku.
"Sa_saya cuma..." Kalau sudah begini nih, bikin aku jadi gugup.
"Tadi merasa tidak berhasil lalu berpura-pura menyerah, meninggalkan aku agar mengikut mu."
Yah, bukan begitu juga maksudku. Aku hanya tidak ingin berdebat.
"Dan sekarang kau berhasil, lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku ingin tahu seberapa hebat istriku memulai."
Menantang wanita yang sudah berpengalaman.
"Baiklah suamiku, akan ku buat kau tidak bisa melupakan malam ini. Jangan salahkan aku jika aku bisa menggantikan posisi wanita itu di hatimu. Dan kau, tidak akan bisa membuang ku sesuka hatimu." Tanganku sudah mulai bermain-main di tubuhnya, setelah sebelumnya ku dorong badannya ke atas ranjang.
"Buktikanlah, istriku." Ucapnya sembari tangannya membelai wajahku.
Sebagai wanita yang sudah pernah menikah aku tahu dan paham bagaimana membuat suami merasa puas dan ketagihan dengan hal itu.
Aku mulai melakukan semua hal yang pernah aku pelajari dan lakukan. Melakukan dengan sepenuh hati itu kuncinya.
Ku buat dia tidak akan bisa menahan suara yang akan keluar dari mulutnya. Aku benar-benar memegang kendali malam ini, hingga dia merasa sangat terbuai dengan permainanku.
Satu kata yang keluar dari mulutnya setelah ia mampu menabur benihnya di dalam.
"Terimakasih" Ucapnya lalu mencium keningku.
Bahagia itu yang ku rasakan saat ini, membuatnya puas dengan layanan terbaikku. Dia suamiku, dia berhak mendapatkan apa yang dia inginkan dariku.
Setelah dia mengerti aku yang kelelahan karena sudah bekerja keras, aku tidak di biarkan jalan sendiri ke kamar mandi. Dengan entengnya dia mengangkat tubuhku dan di bawanya untuk mandi bersama, ya kali ini hanya mandi bersama.
Berharap setelah dia merasakan kenikmatan yang sudah kami lakukan beberapa kali, dia tidak akan pergi meninggalkan aku.
"Iya, ada apa?" Dia memiringkan tubuhnya menghadap ke arahku.
"Apa kau puas?" Tanyaku dengan perasaan malu.
Dia tersenyum lalu memelukku hangat, membenamkan kepalaku di dadanya dan mengusap-usap rambutku.
"Tidurlah, kau sangat kelelahan bukan?" Aku mengangguk sembari mencium dadanya yang di biarkan terbuka.
"Sudah, jangan menggodaku lagi. Kalau nanti sampai bangun, aku yakin esok kau tidak akan bisa jalan." Aku tertawa tanpa suara.
"Hadiah apa yang ingin kau minta? Katakanlah." Tanyanya sembari mencium pucuk kepalaku.
"Jangan panggil aku hey, hey lagi."
"Hanya itu?" Aku mengangguk.
Semuanya, semua yang ada di dirimu terlebih cintamu. Nyatakan lah cintamu padaku.
Walaupun aku mengangguk tapi pikiranku sudah lain menjawabnya, aku terlalu malu untuk mengatakannya.
"Baiklah, kau juga boleh mencintaiku setulus hatimu."
Hei, kenapa hanya aku yang mencintai? Kenapa tidak saling mencintai saja? Selalu saja begitu, membuat seolah-olah hanya aku yang menginginkannya.
"Apa yang sedang kau lihat tadi? Jawablah jujur." Dia menanyakan lagi perihal aku memandangi foto besar mantan kekasihnya.
"Itu..."
"Foto Vanesa?"
"Iya, maaf aku telah berbohong."
"Apa dengan memandangnya akan merubah posisinya? Menjadi jatuh mungkin atau berpindah tempat?"
Apa maksud perkataannya? Apa itu berarti aku tidak bisa menggantikannya?
"Itu hanya foto, jangan berpikir macam-macam. Apa kau mengerti?"
"Iya."
Mengerti yang bagaimana?
"Sekarang, ayo kita tidur. Besok ada banyak meeting yang harus aku hadiri."
"Termasuk dengan Vanesa?"
"Iya, Jesika. Istriku..." Aku tersenyum mendengar dia menyebut namaku lengkap dengan kata istri.
Dari awal bertemu dengannya, sepertinya baru pertama kali dia menyebutkan namaku sekarang.
"Suamiku, terimakasih."
"Iya, tidurlah dengan tenang. Sisi juga pasti sudah kembali bersama ibu."
Kemudian sunyinya malam mulai terasa. Yang terdengar hanya suara detak jarum jam yang bergerak.
Tidak lama kemudian terdengar suara ponsel suamiku yang ada di atas nakas berdering dan terus berdering, mengganggu telinga.
"Sayang, ada telepon." Aku yang belum tertidur mencoba membangunkan sang pemilik ponsel.
"Biarkan saja." Ucapnya masih dengan terpejam.
"Tapi, aku tidak bisa tidur. Sangat berisik sekali."
Akhirnya dengan mata yang berat, dia bangun untuk melihat siapa yang menelepon. Beberapa kali mengucek mata untuk tahu pasti yang menelpon.
Setelah di angkat akhirnya telepon itu terputus.
"Oh, astaga..." Suamiku terkejut saat membaca pesan.
"Ada apa? Siapa yang telfon?" Aku penasaran melihat ekspresi khawatir dari suamiku. Dia langsung berdiri dan kelihatan bingung.
"Vanesa."
"Vanesa!" Aku pun terkejut.
Ada apa wanita itu malam-malam begini menelepon?
.
.
Bersambung 😊