Second Marriage

Second Marriage
Bab 74 Bicara pada Ibu mertua



Aku tidak peduli bila nantinya Tuan Nathan akan marah padaku karena sikap ku tadi. Andai saja saat dia sampai di rumah dan memutuskan untuk berpisah, aku juga siap. Untuk apa terus terikat dengan status tidak jelas, toh aku juga sudah ada tabungan untuk masa depan Sisi. Uang transferan darinya belum aku gunakan, nanti akan ku buat usaha kecil-kecilan atau bisa juga aku mencari kerjaan yang lain.


Semua kesulitan hidup pasti akan ada jalan keluar. Bertemu untuk berpisah memang sudah jalannya.


Andai sedikit saja ada rasa di hatinya untukku, aku akan mencoba bertahan dan berupaya untuk mempertahankan pernikahanku menjadi pernikahan yang sah di mata hukum dan agama. Dan pastinya hanya ada satu wanita yaitu, aku!.


"Mbak, kau tidak apa-apa?" Tanya Doni di mobil saat dalam perjalanan pulang.


Aku yang dari tadi hanya ingin diam, akhirnya harus membuka mulut karena pertanyaan Doni.


"Tidak, hanya sedikit kesal pada wanita itu juga saudaramu." Sebelum menjawab aku menarik nafas dalam dan menghembuskan cepat.


"Apa yang bisa ku bantu? Biar gak kesal lagi. Aku tidak tahan melihat mu seperti ini. Gimana kalau kita makan ice krim dulu." Tawar Doni.


"Tidak perlu, kau pikir aku anak kecil. Nanti juga pasti akan hilang sendirinya. Mungkin juga aku masih terbawa emosi karena tadi sebelum Vanesa datang ada Mas Arsya dan juga Karla."


Ucapku yang di sela dengan tawa juga.


"Apa? Pak Arsya dan istrinya juga datang ke kantor kak Nathan. Untuk apalagi mereka, Mbak?"


"Hanya ingin minta maaf saja padaku. Tapi, entahlah saat aku berhadapan dengannya tadi aku tidak bisa kontrol emosi. Teringat masa lalu bersamanya membuatku naik darah saja. Padahal perlahan aku mulai melupakannya, namun pada saat rasa sakit itu terkuak kembali, aku seakan masih berada dalam waktu yang sama."


"Aku mengerti perasaanmu. Sepertinya Mbak butuh healing time untuk menghibur diri. Aku akan mengajak Mbak untuk healing."


"Healing? kemana?" Mendengar kata itu aku antusias seperti anak kecil.


"Ke luar negeri."


Apalagi ke luar negeri, sudah lama aku tidak bepergian jauh. Aku sebenarnya ingin, tapi apa mungkin aku di izinkan? Sedangkan sebelum aku jadi istrinya saja dia pernah merusak acara liburanku, apalagi sekarang.


"Tapi Don, sepertinya tidak bisa. Tidak mungkin saudaramu itu membiarkan aku pergi jauh."


"Tidak perlu izinnya, ada Tante yang akan membantu. Sekalian aku ingin tahu perasaan kak Nathan itu gimana? Jika dia masih ingin bermain-main, maka..." Lirikan mata yang menggoda nampak jelas terlihat.


"Maka apa?" Tanyaku sembari tersenyum.


"Aku siap mengibarkan bendera perang padanya"


Aku tergelak mendengar ucapan Doni yang ku anggap candaan saja. Doni memang selalu bisa membuat ku tertawa.


"Kenapa tertawa? Aku serius. Aku akan merebut seorang Jesika dari tangannya."


"Hei, kalian pikir aku piala bergilir, hah? Seenaknya saja lempar sana sini!" Ucapku masih seraya tertawa.


"Enggaklah, Mbak..."


Suasana hati yang tadinya agak buruk kini sudah membaik dengan hadirnya tawa yang menggelegar memenuhi ruang mobil Doni. Dengan adanya musik yang ceria, juga membuat diri ini kembali bersemangat.


Akhirnya kami sampai di halaman yang luas dan banyak terdapat tanaman bonsai di sana.


Ku lihat Pak Didi baru saja membuka pintu.


"Lihatlah, kepala pelayan itu sudah menunggu kita. Aku yakin Kak Nathan pasti baru saja meneleponnya" Ucap Doni saat sampai di depan pintu.


Setelah itu kami keluar dari mobil dan Doni menyerahkan kunci mobil ke salah satu pelayan di luar.


"Nyonya, untung saja sudah sampai. Baru saja Tuan menelpon menanyakan anda." Ucap Pak Didi.


"Benarkan apa yang ku bilang, Mbak" Bisik lirih Doni.


"Oh, apa Tuan bilang sesuatu yang lain?" Tanyaku sembari berjalan masuk.


"Tuan cuma berpesan untuk persiapkan makan malam."


"Apa Tuan mau makan malam di rumah?"


"Iya, Nyonya."


"Saya permisi ke belakang mau bikin minum buat Tuan Doni" Lanjut Pak Didi.


"Pak Didi, biar saya aja."


"Tidak apa-apa, Pak Didi. Lagian saya juga tahu selera Doni."


"Nyonya maaf, tidak bisa. Tuan pasti akan marah. Saya juga tahu selera minum Tuan Doni." Pak Didi mencegahku pergi ke dapur.


"Ya sudah, baiklah" Daripada nanti jadi perkara hanya karena minum saja, lebih baik aku mengalah.


"Don, tunggu sebentar. Aku panggil Sisi dan Ibu dulu." Kemudian aku hendak berjalan, tapi ternyata Sisi sudah muncul.


"Om Doni..." Panggil Sisi sembari berlari ke arah Doni.


"Hei, cantik. Si pipi cabi, apa kabar?" Tangan Doni mencubit gemas pipi Sisi lalu memeluk tubuhnya.


"I'm good" jawab Sisi.


"Bagus, sayang..."


Setelah melihat mereka asyik ngobrol, aku tinggalkan mereka untuk bersih-bersih dan ganti pakaian rumahan.


"Ibu, boleh saya masuk?" Setelah selesai dari kamar aku langsung menuju kamar mertua yang kebetulan pintunya sedikit terbuka. Ku lihat Ibu masih duduk sembari melihat ponsel.


"Eh, Jesi..., masuklah sini sayang." Ibu mertua menyuruhku untuk duduk dekat dengannya di sofa dalam kamarnya.


"Sudah pulang, Ibu dengar Nathan ngizinin kamu kerja lagi ya?"


"Iya, Bu"


"Pasti senang dong, bisa kaya dulu lagi."


"Iya, pasti."


"Apa Nathan juga sudah pulang?"


"Belum, Bu"


"Ada apa? Tumben masuk kemari, apa kalian bertengkar lagi?"


Kapan kami baik-baik saja, Ibu?


Aku hanya menggeleng sembari tersenyum.


"Lalu, apa yang ingin kau bicarakan? Ku lihat kau sedang tidak baik-baik saja."


Benar, aku sedang tidak baik-baik saja. Aku ingin memberitahu pada Ibu kalau Vanesa, kekasih lama putranya sudah kembali lagi. Aku ingin tahu sikap Ibu bagaimana? Setelah beliau tahu kalau Vanesa sudah kembali.


Apa Ibu akan menyuruhku pergi dari kehidupan putranya atau Ibu akan seperti dulu, menyuruhku tetap bertahan meski apapun yang terjadi?


"Ibu, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan" Ada sedikit keraguan tapi tetap harus di katakan.


"Bilang saja, tidak perlu ragu seperti itu."


"Ibu, saya mau bilang kalau..." Sedikit susah aku untuk ucapkan nama wanita itu.


"Kalau, wanita yang ada di foto itu sudah kembali."


Hening, hening. Ibu terdiam saat mendengar ucapan ku yang terakhir. Aku yakin, tidak perlu menyebut nama wanita itu, Ibu pasti sudah tahu maksudku.


Apakah Ibu syok? Tidak, sepertinya tidak. Dia hanya terlihat sedang berpikir. Ku dengar dia menarik nafas panjang dan berat.


Entahlah apa yang sebetulnya ada di pikiran Ibu saat ini. Melihat Ibu diam, aku jadi bingung harus bicara apa lagi padanya? Mau ku tutup topiknya itu tidak mungkin, karena hal ini memang penting dan Ibu mertua harus tahu.


Aku berharap sikap Ibu nantinya bisa menentukan arah kaki ku akan melangkah. Selama ini beliau selalu berharap agar aku tetap setia mendampingi putranya sebelum dia tahu kalau Vanesa masih hidup. Tapi, apa yang bisa ku harapkan kalau putranya tidak lagi menginginkan aku.


Huh, kenapa aku jadi merasa seperti barang? Yang bisa di pakai saat di butuhkan dan di buang saat sudah tidak di gunakan.


.


.


Bersambung☺️