
Pagi yang cerah namun tak secerah hatiku, mengawali hari dengan hal yang buruk akan membuat berat menjalani waktu selanjutnya. Seandainya Mas Arsya tidak menuduhku berlebih dan tidak berbuat kasar, aku akan menjelaskannya semua yang terjadi antara aku dan tuan Nathan dengan detail. Tapi ternyata tindakan Mas Arsya di luar batas pengetahuanku, menjelaskannya pun akan percuma. Orang yang selama ini ku jadikan tempat ternyaman sekarang menjadi tempat yang paling ingin aku tinggalkan.
Setelah beberapa saat aku terisak dalam tangisan aku mengeluarkan suara serak untuk mengatakan bahwa aku ingin berpisah, mengingat waktu satu tahun yang aku berikan pada diriku sendiri untuk bertahan sudah mulai habis. Aku memang bukan orang yang mudah menerima di madu Karena pada prinsip ku, aku hanya ingin jadi istri satu-satunya dan untuk selamanya.
"Mas Arsya, aku menyerah. ceraikan aku" ucapku masih sesenggukan dengan mantap sembari mengusap air mata yang terus mengalir.
Mas Arsya terkesiap, dia menatapku dengan lekat seolah-olah tidak percaya dengan yang aku ku ucapkan, ku anggukan kepala untuk meyakinkannya bahwa perkataan ku tidaklah main-main.
"Maafkan aku, tidak bisa bertahan di sisimu selamanya."
"Jesi, aku tidak bermaksud_" mas Arsya terlihat seperti menyesali perbuatannya yang telah berani berbuat kasar padaku, mengusap wajahnya berkali-kali.
"Sudahlah bersihkan dirimu dan turunlah, ayo kita sarapan bersama" ajaknya menyudahi pertengkaran pagi ini yang ujungnya telah membuat aku minta di ceraikan. Dia beranjak pergi meninggalkan aku sendiri di kamar tanpa memberi jawaban dari permintaanku.
Aku sudah tidak perduli lagi dengan jawabannya, mau dia menolak pun aku tetap akan mengajukan perceraian, tekad ku sudah bulat, ku putuskan menyudahi rasa sakit ku dengan memutuskan hubungan kami.
Aku merenung di bathroom, mengingat keputusan yang sudah aku pikirkan sejak lama dan sekarang saatnya harus pergi dari kehidupannya. Walaupun ini berat di terima untuk anakku, tapi harus aku lakukan. Biarlah aku di bilang egois karena mementingkan perasaan sendiri, daripada aku terus bertahan namun tidak bahagia, aku tidak mampu untuk terus bersandiwara bahagia di depan anakku.
Selesai mandi ku rapikan pakaian dan memasukkan dalam koper, setelah aku pikir untuk tinggal di ruko sementara karena sepertinya mas Arsya berniat mengajak Karla untuk tinggal di rumah ini.
Jika aku tinggal di ruko, bagaimana dengan Sisi? haruskah aku tinggalkan dia di rumah ini?
Pikirku bingung dan menghentikan kegiatanku melipat baju.
"Tidak , aku tidak bisa pergi tanpa anakku" gumam ku.
Aku beranjak menuju kamar anakku, membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk dulu. Terkejut melihat dia sedang menangis.
"Sayang, ada apa?" ku hampiri dan memeluk tubuh yang sedikit gembul itu.
"Hiks, hiks, Mama" Sisi mengeratkan pelukannya.
"Apa kau sakit?" tanyaku dan di jawab hanya dengan gelengan kepala.
"Lantas kenapa kau menangis?" aku mengurai pelukan ku, melihat wajahnya dengan intens merasa khawatir, kedua tanganku menangkup wajahnya seraya menghapus air matanya.
"Ayo, ceritakan sama Mama, apa yang membuatmu menangis di pagi hari?" lanjut ku.
"Mama, apa Papa menyakitimu?" aku terkesiap mendengar pertanyaannya, tatapan sedihnya membuatku memalingkan muka.
*Bagaimana Sisi tahu? apa tadi dia melihat pertengkaran ku dengan M*as Arsya? dalam batinku bertanya.
Aku teringat pintu kamarku tadi tidak tertutup dengan rapat. Sebisa mungkin aku memberi pengertian padanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, mungkin memang saatnya dia harus tahu yang sebenarnya karena dia juga sudah melihat dengan jelas perdebatan keluarga semalam. Dan aku rasa Mas Arsya juga sudah menceritakannya setelah kepergian ku.
"Apa Mama dan Papa akan bercerai? tanyanya to the point', sepertinya otaknya sudah bekerja keras.
Aku mengerutkan dahi mendengar pernyataannya, dari mana dia tahu opini seperti itu? aku bahkan tidak pernah mengajaknya nonton gosip selebriti, tapi apa yang dia bilang ada benarnya juga kalau tidak akan serumah lagi, namun tidak menuntut kemungkinan untuk bertemu lagi. Yah walaupun aku berharap tidak akan lagi bertemu tapi itu tidak mungkin karena kami punya Sisi.
Aku menggenggam erat tangannya, untuk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, aku juga bilang padanya tidak akan meninggalkan dia di rumah ini, aku akan mengajaknya tinggal bersamaku.
"Selamat pagi..." suara lembut seorang wanita menyapa, yang sudah aku tahu itu suara siapa, aku dan sisi hanya menatapnya tidak menyapanya balik, dia terlihat canggung karena aku dan Sisi hanya diam.
"E_, sarapan sudah siap, mari kita sarapan bersama" ajaknya dengan tersenyum.
Aku menyuruh Sisi untuk turun duluan karena aku ingin membicarakan tentang keputusanku untuk bercerai dengan Mas Arsya, dan dia akan menjadi istri satu-satunya untuk Mas Arsya. Supaya dia juga tak lagi bersembunyi dari orang luar.
"Jesi, aku minta maaf sudah menyakitimu" ucapnya seraya duduk di sampingku, ucapan yang sama ku dengar untuk kesekian kalinya. Aku hanya menghembuskan nafas dengan kasar, jengah mendengarnya selalu meminta maaf agar aku memaafkannya.
"Sebenarnya aku sudah menyukai Mas Arsya sejak dulu, sejak sebelum kau menikah dengannya, tapi karena aku tahu Mas Arsya mencintaimu dan kau juga, aku memilih diam dan mencoba menghilangkan rasa itu. Tapi semakin aku ingin merelakan justru rasa ini semakin dalam" dengan menundukkan kepalanya dia menjelaskan kepadaku tentang perasaan yang terpendam selama ini, rasa cinta yang harusnya terungkap sejak dulu.
"Apa!" ucapku lirih sembari mendekatkan wajah ku untuk melihat ekspresinya, seperti yang tak percaya dengan ucapannya yang begitu jelas terdengar di telingaku. Aku menatapnya lekat tidak menyangka ternyata selama ini Karla menyukai suamiku bahkan sebelum menikah.
Betapa bahagianya dia sekarang, akhirnya impian untuk bersatu dengan Mas Arsya terwujud. Lantas, apa perbuatan zinah mereka itu di sengaja, tidakkah seperti yang mereka katakan kalau yang mereka lakukan karena pengaruh alkohol.
"Apa maksudmu? kau katakan semua isi hatimu setelah semua yang terjadi, tidakkah kau takut aku akan menilai mu lebih buruk" ucapku geram mendengar kejujurannya.
"Aku hanya ingin kau_"
"Sudahlah Karla, aku sudah tidak ingin mendengar curhatmu lagi, aku hanya ingin mengatakan kalau aku akan bercerai dengan Mas Arsya dan kau bisa hidup bahagia dengannya tanpa harus berbagi suami" ku potong ucapannya karena tak mau mendengar kenyataan lain lagi yang bisa menambah rasa sakit hati ini.
dert, dert,
Suara getar ponselku berbunyi yang ku letakkan dalam saku celanaku, aku ambil ponsel dan melihat ada chat dari Tika.
[ Bu, cepatlah datang ke toko, ada seseorang yang menunggu ibu dari tadi, dan katanya tidak akan pulang sebelum bertemu dengan ibu] \= Tika.
[ Di luar juga ada beberapa orang berpakaian serba hitam sedang berjaga ]\= Tika.
Aku sontak berdiri seraya memasukkan ponsel kembali ke saku celana dan terus berjalan meski Karla memanggilku, masuk ke dalam kamar mengambil tas untuk segera pergi ke toko.
Tidak biasanya ada tamu seperti itu? Pikirku bertanya.
Bersambung...
happy reading...
jangan lupa tinggalin jejaknya ya 🥰
Terimakasih 🙏