
Hari ini adalah hari yang membahagiakan untukku, setelah sekian lama aku seperti terikat dalam rantai masalah. Kini aku bisa bernafas lega, merasakan kebebasan yang sesungguhnya setelah lepas dari ikatan mantan suamiku.
Meskipun kebebasan yang aku dapatkan hanya sebentar, tapi aku ingin benar-benar menikmatinya sebelum aku terikat kembali dengan rantai yang lebih kuat.
Kebetulan hari ini weekend jadi tidak perlu meminta izin ke sekolahnya Sisi. Dulu kami sering berkunjung ke tempat trampoline, tapi kali ini aku ingin menghirup udara sejuk. Memandang sejauh mata mampu menangkap jarak yang tak berujung.
"Doni, apa semua sudah siap?" Teriakku dari dapur.
"Iya Mbak, sudah" jawab Doni seraya berjalan dengan menggendong tas ransel miliknya.
"Lah, mana Sisi? Kenapa belum keluar kamar?" Tanyaku saat sudah berada di ruang tamu, membawa tentengan bekal yang sudah aku siapkan dari subuh.
"Sisi...cepat sayang!" Teriakku lagi dari ruang tamu memanggil anakku.
"Sabar, Mbak" Doni terkekeh sembari menggelengkan kepala.
Aku memang sudah merasa tidak sabar untuk sampai tempat tujuan. Ini seperti libur kali pertama aku rasakan dulu. Aku menyuruh Doni untuk memeriksa semua barang bawaan agar tidak ada yang tertinggal.
"Mama, i'm ready" ucap Sisi setelah keluar dari kamar. Sisi yang juga terlihat senang dan antusias untuk pergi berlibur.
"Ok, good. Jangan kau lupakan topi mu, sayang."
"Pasti, Ma" jawab Sisi dengan mengangkat kedua jempolnya ke atas.
Setelah semuanya siap, kami bertiga keluar apartemen. kami menaiki mobil yang pernah di rental oleh Doni menuju tempat tujuan berlibur.
Dalam perjalanan Sisi selalu bernyanyi riang. Doni juga terlihat bahagia.
Bib, bib.
Suara notifikasi pesan dari ponsel, aku merogoh ponsel dalam tas selempang lalu membukanya.
[ Nyonya, hati-hati ] Pak Ken.
"Siapa, Mbak?" Tanya Doni yang masih fokus menyetir.
"Pak Ken" jawabku seraya membalas chat dari sekertaris Ken, mengucapkan terimakasih.
"Sekertaris Tuan Nathan? Mau apa dia?" Doni bertanya lagi.
"Cuma berpesan untuk_" ucapan ku terpotong karena ada chat yang masuk lagi.
[ Nyonya, tidak boleh menonaktifkan ponsel ] Pak Ken.
"Untuk apa?" Tanya Doni penasaran.
"Yah, untuk hati-hati" jawabku seraya tersenyum.
[ Nyonya harus mengabari saya kalau sudah sampai ] Pak Ken. Lagi-lagi sekertaris Ken mengirimkan chat padaku.
Aku menatap layar ponselku malas, aku mendiamkannya tidak membalas, ku masukkan kembali ponselku ke dalam tas.
"Ada apa lagi? Mbak, kenapa ponselnya tidak berhenti berbunyi?"
"Tidak penting!" Jawabku. "Oh ya, apa kita masih lama sampainya?" Tanyaku mengalihkan topik pertanyaan Doni.
"Sebentar lagi, Mbak" jawab Doni.
Tiga puluh menit kemudian kami sampai di tempat tujuan. Pasir putih pantai sudah terlihat jelas di mataku. Hembusan angin sepoi-sepoi menyapu wajahku dan menyibakkan rambut panjang ku ke belakang saat aku sudah berdiri di bibir pantai, netra ku sudah jauh menerawang ke arah laut yang tidak tahu di mana ujungnya. Energi positif mulai memenuhi pikiran ku yang akhir-akhir ini kacau.
Aku merentangkan tangan sembari memejamkan mata, menghirup nafas dalam dan mengeluarkan perlahan. Sungguh nikmat rasanya berada di tengah keindahan alam untuk sejenak melepaskan penat. Rasanya semua masalah yang memenuhi pikiran menghilang begitu saja.
Tring...tring...
Di saat aku sedang menikmati semilirnya angin laut, tiba-tiba dering ponsel membuyarkan angan-angan dalam otakku. Aku ambil ponsel dan terlihat panggilan dari sekertaris Ken.
"Kenapa Pak Ken mengganggu waktuku?" gerutu ku sembari menggeser tombol hijau, untuk menerima panggilan.
"Hallo, Pak Ken, ada apa?" Tanyaku langsung.
"Nyonya, apakah Nyonya sudah sampai?"
"Nyonya, bisa kirim foto kalau sudah sampai. Bukankah tadi saya sudah berpesan, untuk mengabari saya kalau sudah sampai!"
Bukannya aku lupa, tapi aku sengaja tidak mengabarinya.
"Tapi, untuk apa? Pak Ken."
"Ini perintah Tuan Nathan, Nyonya?"
"Apakah itu harus?"
"Bukankah Nyonya tahu aturan dari Tuan Nathan!"
Aku berpikir sejenak, aku juga tidak pernah lupa tentang aturan yang di berikan untukku. Masalahnya kalau seperti ini, sama saja aku tidak merasakan liburan yang sesungguhnya. Bentar-bentar harus melapor semua kegiatan yang aku lakukan.
"Nyonya..." panggil Pak Ken, karena tidak mendengar suaraku.
"Iya, iya, ok. Pak Ken, akan aku kirim foto ke Pak Ken" jawabku sudah merasa kesal.
"Terimakasih Nyonya, anda mempermudah kerja saya."
Setelah itu aku matikan panggilan dari sekertaris Ken. Aku memanggil anakku dan juga Doni yang tengah asyik bermain air untuk mengajak foto bersama. Mereka pun sangat antusias untuk berfoto mengabadikan setiap moments yang tidak akan terlupakan.
Dengan pose Doni yang tengah menggendong Sisi dan aku berada dekat di samping Sisi, senyum lebar tidak lupa kami sematkan. Latar belakang laut yang luas dan langit yang biru menambah kecerahan hasil fotonya. Foto yang memuaskan, kami terlihat seperti keluarga bahagia. Walaupun usia Doni lebih muda dariku namun kami terlihat seperti seumuran, karena jarak di antara kami tidak jauh. Bukan hanya sekali saja mengambil foto tapi beberapa kali, karena Pak Ken pun sempat berpesan untuk memberitahunya setiap hal yang aku lakukan.
Menyebalkan sekali bukan?
Selesai aku kirimkan beberapa foto kepada sekertaris Ken dengan gaya yang berbeda-beda. Semua hasil foto aku kirimkan tanpa ku pilih-pilih terlebih dahulu. Sengaja aku lakukan supaya sekertaris Ken bisa merasa puas.
Tring...tring...
Kembali ponselku berbunyi setelah sesaat aku selesai mengirim foto pada sekertaris Ken. Aku benar-benar malas untuk mengangkatnya setelah tahu sekertaris Ken yang menelfon, tapi jika tidak aku angkat pasti akan jadi masalah.
"Iya, Pak Ken... Ada apa lagi?" Tanyaku dengan malas.
"Nyonya, kenapa mempersulit pekerjaan saya?" Sekertaris Ken malah balik bertanya.
"Maksudnya? Bukankah saya sudah melakukan apa yang Pak Ken suruh?" Aku tidak mengerti kenapa sekertaris Ken bilang aku mempersulitnya?
"Nyonya, kenapa anda juga tidak mengerti?"
"Apa?" aku semakin bingung dengan ucapan sekertaris Ken.
"Kenapa Nyonya mengirimkan foto mesra berdua dengan Doni?" ucap sekertaris Ken terdengar sedikit geregetan.
"Hah, foto mesra...? Tidak ada foto mesra berdua, Pak Ken" sedikit terkejut tapi tidak percaya dengan ucapan sekertaris Ken.
"Apa Nyonya sudah memeriksanya?"
"Belum, saya sengaja tidak memilihnya"
"Nyonya, ternyata anda benar_" sekertaris Ken menghentikan ucapannya, terdengar dia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Sebaiknya Nyonya periksa kembali"
Kemudian sekertaris Ken mematikan panggilannya. Aku mulai memeriksa satu persatu foto yang ku kirim tadi, tidak ada foto mesra menurutku. Memang benar ada foto berdua dengan Doni, tapi aku juga tidak tahu kalau pada saat Doni dan aku sedang membuat istana pasir telah di foto oleh Sisi dan saat itu Doni sedang meniup mataku dengan jarak yang dekat.
"Apakah foto ini yang jadi masalah?" ucapku seraya melihat dengan jelas foto kebersamaan ku dengan Doni.
Aku tersenyum puas melihatnya, otakku seperti mendapat pencerahan. Ini adalah momen yang tepat untuk aku gunakan supaya Tuan Nathan membatalkan perjanjian nikah kontraknya dengan ku. Akan ku kirimkan foto yang lebih mesra dari ini biar dia benar-benar membenciku dan melepaskan aku.
Aku yakin, jika aku terlihat bahagia dia akan sebal padaku, sebaliknya jika aku terlihat kesal maka dia akan bahagia.
.
.
Happy reading 🤗