
Semakin lama perjalanan semakin dekat sampai ke rumah megah itu, tapi di tengah perasaan lega terselip perasaan yang tidak menentu di hatiku. Perlakuan Tuan Nathan sangat berbeda jauh dari hari sebelumnya, padahal dia baru saja bertemu dengan kekasih lamanya. Dan tanpa rasa canggung atau kasar dia berani mencium bibirku.
Aku benar-benar di buat terpaku karena tindakannya yang di luar batas pikiranku. Bibir nya yang belum lama ini di sesap oleh kekasihnya telah di tempelkan langsung ke bibirku yang sudah lama tidak merasakan sentuhan seperti itu.
Harusnya aku marah padanya, karena dia berani mencium ku tanpa izin. Tapi, aku ini sudah jadi miliknya meski hanya status palsu. Dan harusnya aku juga marah karena jejak wanita itu masih tertinggal di mulutnya, seperti dia marah padaku saat mantan suamiku memegang tanganku, namun aku malah hanya diam seperti orang terkesima.
Mobil sudah memasuki halaman rumah dan berhenti di depan pintu. Pak Didi pun sudah menyambut kedatangan kami di sana. Kepala pelayan itu menunduk hormat saat aku keluar setelah sebelumnya di bukakan pintu olehnya.
"Terimakasih, Pak Didi..." Ucapku seraya tersenyum padanya.
"Sudah tugas saya, Nyonya. Sungguh senang melihat Nyonya pulang dengan selamat dan dalam keadaan baik-baik saja."
"Iya Pak, saya tidak apa-apa. Terimakasih sudah mengkhawatirkan saya."
"Maaf Nyonya, saya lalai dalam menjaga anda" Sebagai kepala pelayan Pak Didi merasa bersalah karena tidak mengutus orang untuk mengawasi ku.
"Tidak, ini bukan salah Pak Didi. Maaf sudah membuat khawatir" Aku jadi tidak enak karena dengan menghilangnya aku, sudah membuat repot banyak pelayan di rumah ini. Mungkin juga mereka terkena amarah dari Tuan Nathan.
"Pak Didi, apakah semua sudah siap?" Tanya Tuan Nathan yang baru saja berdiri di sampingku.
"Sudah, Tuan" Jawabnya sembari sedikit membungkuk.
"Mari silahkan" Ucap Pak Didi memberikan jalan untuk kami masuk.
Saat aku sudah mulai melangkah tiba-tiba tanganku di cekal oleh Tuan Nathan.
"Tunggu dulu..." Ucapnya memberhentikan langkahku dan aku menoleh ke arahnya.
"Apa saya mengizinkan kau masuk?"
"Hah?" Aku menatapnya heran seraya mengerutkan dahi, tidak mengerti maksud ucapannya itu. Apa benar dia melarang ku masuk ke rumah? Lalu untuk apa dia bawa aku pulang?
"Maksud Tuan apa?" Dia diam dengan ekspresi datarnya dan hanya menatapku lalu melepaskan tanganku.
"Mendekat-lah" Sesaat kemudian perintahnya padaku.
Untuk apa dia menyuruhku mendekat? Jangan bilang dia mau berbuat senonoh lagi. Ini di luar, banyak pelayan berkeliaran yang akan melihat jika dia sampai nekat mencium ku lagi.
Aku sudah merasa was-was saat dia menyuruhku mendekat, bahkan aku sudah menyiapkan diri kalau sampai kemungkinan itu terjadi.
Lihat saja, apa yang bisa ku lakukan padamu kalau kau sampai berbuat itu padaku di sini.
Sedikit geram memikirkan hal itu terjadi tanpa seizin ku. Aku pun mendekat padanya walau dengan sedikit ragu, setelah di rasa badanku mendekat tiba-tiba.
Tuwiiiiing...
"Aaaaa..." Aku menjerit seketika saat tubuh ini kembali melayang di angkat oleh-nya. Sudah pasti tau-lah gimana dia mengangkat ku. Lagi-lagi aksi dadakan yang membuat taktik dalam otakku salah kaprah.
"Tuan, saya bisa jalan sendiri!" Aku menolak karena malu. Suara pekikan ku ternyata mengalihkan perhatian pelayan yang ada di luar rumah begitu juga Pak Didi, dia tersenyum padaku.
Ah, aku benar-benar malu.
"Apa kau tidak dengar ucapan ku?" Ucapannya sembari berjalan masuk ke dalam.
"Apa?"
"Kau tidak saya izinkan masuk kalau jalan kaki!"
Heh, kapan dia bilang begitu?
"Tapi, Tuan tidak bilang begitu tadi" Protes ku padanya karena memang tidak seperti itu yang dia bilang.
"Apa kau mau menyalahkan ku, hah?" Kalau dia sudah begini nih, artinya sudah tidak bisa di bantah lagi.
"Tidak, Tuan..." Aku menahan kesal padanya.
"Diamlah! Kalau tidak, saya akan menjatuhkan mu di lantai!" Ancamnya padaku kalau aku masih saja terus bicara, apalagi mengeluarkan protes padanya.
"Kenapa tubuhmu terasa sangat ringan sekali?" Dia bertanya padaku seolah baru pertama mengangkat ku saja, padahal sebelum ini diakan sudah mengangkat ku. Kenapa baru sekarang kerasa?
"Apa Pak Didi tidak memberikan makanan dengan baik?" Tanyanya lagi.
"Hey, kenapa kau diam saja?" Aku sengaja diam karena dia sendiri yang sudah melarang ku bicara tadi.
"Bukankah Tuan yang menyuruhku diam tadi?"
"Ka_kau ya, sudah berani sekarang, hah? Sudah berani tidak menurut lagi?"
"Hehehe, tidak...bukan begitu maksud saya"
Sampailah kami di depan pintu kamar yang masih tertutup, kemudian dengan sigap Pak Didi yang dari tadi mengekor membukakan pintunya.
"Silahkan, Tuan" Ucap Pak Didi.
Lalu kami masuk dan Pak Didi menutup pintu dari luar. Tuan Nathan langsung membawaku ke kamar mandi. Dia menurunkan aku di samping bathtub lalu mengguyur ku dengan air shower.
"Kau harus mandi dengan bersih, saya tidak suka bau laki-laki lain di tubuhmu" Ucapnya sembari menyirami tubuhku dengan air dingin.
Aku pikir dia sudah tidak akan berbuat kasar lagi setelah perlakuan manis yang di tunjukkan padaku tadi. Nyatanya dia kembali menjadi sosok Tuan Nathan yang bisa berbuat kasar, aku menyesal sempat terbawa perasaan atas perlakuan baiknya.
"Tuan, hentikan! Saya bisa sendiri" Ucapku sembari gelagapan karena air yang terus mengalir di atas kepalaku.
Aku juga tidak tinggal diam, tanganku berusaha terus untuk menggapai tangannya yang memegang gagang shower.
"Tenanglah, saya akan membersihkan semua kotoran di tubuhmu!"
Dasar pria kasar! Bagaimana bisa kekasihmu mencintai pria seperti mu.
"Cukup!" Tanpa sadar aku sudah berani berteriak padanya hingga mampu membuatnya menghentikan aksi gilanya kali ini.
"Tuan, sebenarnya apa yang kau inginkan? Tadi kau bisa berbuat begitu manis padaku dan sekarang kau berbuat kasar padaku. Sebenarnya apa salahku padamu?" Aku terus berbicara meluapkan kemarahan ku dan kebencian karena tindakannya.
Dia diam dan hanya menatapku lekat, bola mata kami saling beradu memancarkan tatapan yang membunuh satu sama lain. Entah keberanian darimana yang ku dapat sampai aku berani menantangnya secara langsung kali ini.
Aku tidak peduli apa tindakannya setelah aku berani melawannya. Bersyukur jika dia mau melepaskan aku dan membiarkan aku hidup tenang bersama anakku meski nantinya aku harus tertatih-tatih.
"Cepat berendam air hangat. Saya menunggumu di luar!" Perintahnya lalu beranjak dari hadapanku.
"Pakaian mu sudah ada di sini!" Ucapnya lagi dengan dingin tanpa menoleh mengingatkan aku agar langsung memakainya setelah mandi.
Sekarang dia keluar dari kamar mandi, dan aku melanjutkan mandi dengan berendam air hangat. Pikiranku kacau setelah mendapat perlakuan kasarnya lagi, padahal aku sudah sempat merasa senang karena dia telah mengakui aku sebagai istrinya di hadapan Mas Arsya.
Aku lelah amatlah lelah hari ini, ku pejamkan mata yang hampir menangis dan menyandarkan kepalaku di belakang. Otakku terus berputar mengingat semua hal yang terjadi di hidupku dari kekacauan berumah tangga dengan Mas Arsya sampai aku bisa masuk dan terjerat dalam kandang singa.
Lama aku berendam dan berpikir hingga air yang tadinya hangat sudah tidak terasa hangat lagi. Aku keluar dari bathtub lalu berjalan ke arah pakaian ganti yang masih terlipat rapi.
"Baju ini?" Sekali lihat saja aku tahu baju itu seperti apa.
"Astaga, apa ini tidak salah? Aku harus memakai pakaian ini?" Ku ambil dan ku lihat lingerie seksi warna merah cerah.
"Apa maksudnya? Akankah dia akan memakan ku malam ini?"
Aku tidak menyangka dia akan menuntut hak nya sebagai suami malam ini, lalu bagaimana dengan diriku? Aku belum siap untuk hal itu, apalagi sekarang sudah muncul wanita yang dia cintai.
Haruskah aku melakukan hal itu tanpa cinta dan perasaan lainnya? Jika aku mau melakukannya akankah setelah itu dia mencampakkan aku seperti wanita ******?
.
.
Bersambung 😊