
Betapa terkejutnya aku melihat seseorang yang dengan santainya membuka pintu belakang dan duduk dengan tenang. Melihat ponselnya dan tidak perduli dengan mata yang sedang menatapnya.
...Bukankah dia tadi sudah keluar duluan, kenapa bisa masih ada di sini sih?...
Gerutu ku dalam hati seraya mengusap air mata dengan cepat.
"Tu_Tuan, kenapa anda masuk ke mobil saya?"
"Kenapa? tidak boleh" malah bertanya balik tanpa menatap lawan bicara.
"Bu_kan, bukan, maksud saya kenapa Tuan masih ada di sini, bukankah tadi Tuan sudah pergi?"
"Apa perlu saya menjawab pertanyaan mu?"
Oh, ya ampun...bisa tidak bersikap normal sebentar? biar aku tidak tegang.
"Kenapa diam? ayo jalan!"
"Ah, i_ya baik Tuan" ucapku kemudian menyalakan mesin mobil meninggalkan restoran.
Dalam perjalanan malam yang dingin bersama dengan sang Tuan sombong, membuatku melupakan sejenak kejadian bersama Mas Arsya tadi. Karena sekarang yang ada di pikiranku ialah harus kemana aku membawanya? harusnya aku pulang dan jam kerjaku di mulai besok bukan sekarang.
"Tu_an, mau kemana?"
"Antar kan saya pulang" jawabnya yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Tapi, rumah saya dan Tuan beda arah" aku mencoba mencari alasan agar bisa lepas darinya malam ini tapi sepertinya percuma saja, itu tidak mungkin. Dia diam seperti tak mendengar perkataan ku.
"Em...Pak Ken kemana? Tuan" lanjut ku bertanya seraya melihat ke arahnya lewat kaca spion.
"Apa penting buatmu tahu di mana dia?"
Gerrr
Kenapa selalu bertanya balik jika di tanya sih, aku tidak bermaksud ingin tahu di mana sekertaris Ken berada sekarang, yang ingin aku tahu kenapa dia tidak bersama dengan Tuan Nathan?
"Hehehe, tidak Tuan" jawabku tersipu malu, lebih baik aku diam dari pada bertanya tapi tidak ada jawaban.
Mobil aku lajukan dengan menambah sedikit kecepatan agar cepat sampai di rumahnya. Suasana dalam mobil menjadi sepi saat aku hanya diam sedangkan Tuan Nathan hanya sibuk dengan ponselnya saja. Aku berinisiatif untuk memutar musik slow supaya suasana yang dingin sedikit menghangat.
"Ck, berisik sekali...bisa kau matikan?"
Aku benar-benar menikmati alunan musiknya yang membuat hati ku sedikit tenang, dan santai sampai aku tidak mendengar suara kecil di belakang kemudi.
"Hey, saya bilang matikan!" Tuan Nathan sudah berteriak karena aku tidak mendengar permintaannya namun sayang teriakannya membuatku kaget dan reflek menginjak rem mendadak, untung saja jalanan sepi.
*Ciiiittt
Dug*
Suara kepala Tuan Nathan membentur kursi pengemudi.
"Apa yang kau lakukan, ingin membunuhku? ha!" dia benar marah karena tindakanku yang ceroboh.
"Maaf, Tuan" ucapku seraya mematikan musik, namun dalam batinku tertawa puas, meskipun aku memang tidak sengaja melakukannya tapi membuatku sedikit memberi pembalasan atas semua kelakuannya.
"Ck, dasar ceroboh!" umpatnya padaku seraya mengusap keningnya.
Aku kembali menyalakan mesin mobil, sebelum ku dengar banyak klakson berbunyi dari belakang. Suasana pun kembali sunyi setelah musik mati, aku meliriknya lewat kaca spion, Tuan Nathan kembali sibuk dengan ponselnya yang sempat terjatuh. Tidak berselang lama suara dering ponsel terdengar mengisi kesunyian dalam mobil. Aku sadar itu suara ponsel milikku yang ada di atas dashboard.
"Jangan angkat telfon saat sedang menyetir" ucapnya, membuat tanganku yang sudah terangkat hendak mengambil ponsel akhirnya ku tarik kembali.
"Fokus menyetir!" ucapnya tegas.
Akhirnya mobil ini sudah memasuki kawasan elit rumahnya yang artinya sebentar lagi aku akan sampai di rumahnya, tapi saat aku akan masuk ke gerbang kawasannya, ada seorang satpam yang memberhentikan laju mobilku, dia mengetuk kaca mobilku.
"Ada apa ya, Pak?" tanyaku saat kaca mobil sudah terbuka.
"Maaf Mbak, anda memasuki kawasan perumahan Erlangga" kata pak satpam
"Iya Pak, kenapa ya...?"
"Mbak mau bertemu dengan siapa ya?"
"Saya mau_"
"Sudah membuat janji terlebih dahulu?"
"Belum Pak, tapi saya_"
"Sebaiknya Mbak membuat janji terlebih dahulu sebelum masuk ke sini, karena jika tidak, saya tidak bisa mengizinkan mbak masuk lebih jauh" Pak satpam selalu memotong ucapan ku, sedangkan yang punya rumah di tempat ini diam saja dan tetap tenang duduk di belakang, seolah membiarkanku untuk berdebat dengan orang yang berjaga di kawasan ini.
"Begitu ya Pak, tapi saya sedang_" aku masih tetap sabar dan tersenyum mendengar penjelasan pak satpam.
"Meskipun Mbak sedang terburu-buru, tetap saya tidak bisa mengizinkan mbak masuk, mengerti!"
"Iya Pak saya mengerti tapi_" ucapku dengan pelan namun di potong lagi oleh pak satpam.
"Tapi, apalagi Mbak, apa kurang jelas penjelasan saya?"
Aku benar-benar merasa kesal pada satpam sekaligus geram dengan seseorang yang duduk di belakang, aku meliriknya dan dia hanya tersenyum tipis tanpa mau keluar untuk menjelaskan bahwa aku membawa sang empunya yang punya tempat ini.
"Pak satpam, lihat orang yang sedang saya bawa" Ucapku sudah bernada kesal, aku buka kaca mobil belakang supaya pak satpam melihat orang yang aku bawa.
Pak satpam menggeser badannya untuk melihat orang yang tengah duduk di belakang. Dia terkejut, wajahnya memucat seketika melihat bahwa Tuan Nathan yang ada di dalam mobil ku. Dengan cepat dia menundukkan kepala dan meminta maaf padanya karena sudah menghalangi jalan mobil yang di tumpanginya.
"Hem" ucap singkat Tuan Nathan pada pak satpam.
Setelah itu aku menyalakan lagi mesin mobil yang tadi aku matikan, namun lagi-lagi aku harus di buat geram karena harus mematikan mesin mobil lagi.
"Tunggu" ucap Tuan Nathan. "Pak, ingat mobil ini, lain kali jika mobil ini mau masuk biarkan saja" pesan Tuan Nathan pada pak Satpam.
Sial, sepertinya dia sengaja mengerjai ku. Aaaaah baru juga sebentar, aku sudah di buatnya gila.
Akhirnya drama di pos satpam telah usai, aku kembali melajukan mobil menuju ke kediaman Sang Tuan sombong, yang seharusnya lima belas menit tadi sudah sampai. Tapi sekarang sudah lewat dari perkiraan ku baru sampai.
Aku bunyikan klakson supaya ada orang yang membuka pintu gerbangnya dari dalam, namun beberapa kali aku bunyikan tak ada juga yang membukanya.
"Apa yang kau lakukan? berisik sekali" tanya Tuan Nathan.
"Kenapa tidak ada yang membukanya, Tuan?"
"Turun, pencet belnya?"
"Kenapa tidak bilang dari tadi sih" gerutu ku sembari membuka pintu mobil. Aku menunggu agar pintu gerbang terbuka terlebih dahulu. Sesaat kemudian pintu gerbang kecil yang terbuka, memunculkan seseorang berpakaian serba hitam.
"Pak satpam lagi" ucapku lirih. Berhadapan dengan pak satpam lagi, satu tadi sudah membuatku kesal sekarang di tambah lagi, tapi mudah-mudahan pak satpam yang ini, tidak akan membuat aku kesal berdiri. Di lihat dari tampangnya yang sudah paruh baya, orangnya baik dan bijaksana terpenting tidak banyak tanya, yang akan membuatku lebih lama mengantarkan Sang Tuan untuk masuk ke dalam istana.
Bersambung๐
Happy reading ๐
Terimakasih ๐
Maaf ya...kalau kemarin banyak typo ๐