Second Marriage

Second Marriage
Bab 61 Di bawa kabur



Hidup bukan sekedar hidup saja semua butuh proses dan perjuangan. Dalam setiap proses tidaklah selalu bejalan dengan mulus atau baik-baik saja, pasti juga akan ada saatnya kita berada di titik yang paling sulit. Di situlah perjuangan keras yang harus di lakukan agar kita menjadi kuat untuk mampu bangkit dan menikmati hidup dengan bahagia.


Bahagia itu kita ciptakan sendiri, bukan dari orang terdekat atau dari orang lain. Jika aku merasa bahagia bersamanya maka aku akan berjuang untuk tetap bertahan dengannya. Tapi jika tidak, aku akan mundur dan menyerah. Namun sayangnya aku belum sepenuhnya punya kepastian tentang hal itu.


Dan sekarang ini tak mudah untuk aku lakukan sesuai dengan keinginan hatiku. Aku belum bisa menimang perasaan ku sendiri padanya, yang aku tahu aku hanya tidak ingin terluka kali ke dua saat aku mencintai seseorang. Membuka hati yang pernah terluka bukanlah perkara mudah, kembali lagi semua butuh proses dan perjuangan agar tidak terulang peristiwa pahit yang bisa membuat hati terluka.


Hal yang harus aku lakukan sekarang adalah berusaha bersikap cuek padanya. Biarlah dia menikmati waktu untuk bernostalgia atau bernostalgila sekalipun pada perempuan itu. Akan ku tunjukkan padanya kalau aku baik-baik saja dan tidak terpengaruh akan kehadirannya.


Setelah sambungan telepon itu terputus tak lama kemudian aku beranjak dari tempat itu. Aku harus segera kembali ke rumahnya karena dia sudah tahu aku telah melanggar perintahnya untuk langsung pulang dan menunggunya.


Sesaat aku akan sampai di depan pintu gerbang utama perumahan, tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil beberapa kali. Bunyi yang seperti memperingatkan aku untuk menepi.


Akhirnya aku berhenti karena suara klakson itu sangat menggangu. Aku berhenti dan mematikan mesin motor, menunggu siapa yang akan keluar dari mobil itu.


Dua orang pria yang tidak ku kenal turun dan menghampiri ku. Untuk apa mereka mendekat?


Mungkinkah mereka suruhan Tuan Nathan?


"Ada apa ya...?" Tanyaku pada mereka setelah mereka mendekat.


"Nyonya, kami di perintahkan untuk menjemput Anda" Jawab salah satu pria yang berkaos hitam dan celana jeans.


"Tapi, saya kan juga sudah mau sampai rumah. Tidak perlu di jemput segala" Ucapku sedikit kesal karena tidak di percayai.


"Ini perintah, Nyonya" Lagi-lagi kata itu yang di pakai senjata.


"Lalu motornya gimana?"


"Tinggalkan saja nanti ada yang ambil ke sini."


Dengan terpaksa aku mengikuti mereka untuk naik mobil. Setelah aku masuk mereka pun mengunci rapat semua pintu. Aku tidak curiga sedikitpun pada mereka karena Tuan Nathan punya mata di mana-mana.


Namun setelah mobil menyala, sang sopir memutar arah balik mobilnya dan membawaku menjauh dari perumahan Erlangga. Dari situ aku mulai merasa curiga pada mereka, kenapa mereka tidak membawaku pulang? Sedangkan Tuan Nathan sepertinya sudah ada di rumah.


"Siapa kalian, mau di bawa kemana saya?" Aku memicingkan mata pada mereka.


"Tenanglah Nyonya, kami tidak akan menyakiti anda" Jawab pria yang berbadan kekar dan berkulit hitam.


"Sekali lagi saya tanya, siapa kalian? Dan mau di bawa kemana saya?" Meski aku sudah terlihat garang tapi tetaplah mereka tidak takut karena aku hanyalah seorang wanita. Mereka diam dengan senyum menyeringai.


Sepertinya mereka berniat menculik ku. Tapi untuk apa mereka lakukan hal itu padaku? Aku juga tidak merasa punya musuh atau masalah dengan orang lain. Satu-satunya orang yang bisa lakukan seperti ini adalah Tuan Nathan. Tapi apakah mungkin dia yang melakukannya?


"Kenapa tidak menjawab, bukankah kalian punya mulut untuk bicara?" Sarkas ku pada mereka.


"Siapa yang menyuruh kalian?" aku sungguh penasaran siapa yang melakukan tindakan keji seperti ini.


"Nanti anda juga akan tahu, jadi diamlah tidak perlu berisik!"


"Kalau kalian masih tetap tidak mau bicara, maka aku akan berteriak sekarang. Dan akan aku akan panggilkan polisi." Aku berusaha untuk tidak takut pada mereka, meski dalam hatiku sudah merasa takut. Aku mencoba mengancam mereka, tapi mereka justru tergelak mendengar ancaman ku.


Aku berpikir untuk benar-benar berteriak sekencang mungkin agar ada orang tahu dan menolongku. Meski kemungkinan kecil orang akan bisa mendengar.


"Tolong...tolong..." Aku berteriak sembari menggedor kaca mobil. Aku mulai panik saat mobil sepertinya akan meninggalkan kota.


"Nyonya, tenanglah. Tidak perlu menghubungi siapapun!"


"Kalian gila, mau apa sebenarnya kalian? Aku tidak punya apapun!" Aku marah pada mereka karena tidak mau memberitahu tujuannya membawaku.


"Bukan kami yang menginginkan anda, tapi Bos kami"


"Bos? Siapa Bos kalian, ha?"


"Anda, akan tahu nanti" Lagi pria itu menjawab hal yang sama.


Adakah seseorang yang bisa menolongku sekarang ini, aku tidak tahu mau di apakan dan di bawa kemana.


"Arghhh, aku tidak perduli dengan Bos kalian. Sekarang hentikan mobilnya dan turunkan aku!"


"Tidak Nyonya!" Namanya penculik pasti akan tetap mempertahankan tawanannya. Aku kembali berteriak dan menggedor kaca mobil, aku pikir ini satu-satunya cara agar orang lain tahu. Karena ponselku pun sudah ada di tangan mereka saat ini.


Aku terus saja berteriak dan membuat kebisingan dalam mobil berharap dengan begitu mereka akan menghentikan laju mobilnya. Tapi dugaan ku salah, ada sebuah tangan besar dari belakang yang mencoba menghentikan aksiku dengan membekap mulutku menggunakan sapu tangan. Aku sudah berusaha untuk melawan namun lama-kelamaan aku merasakan lemah tubuhku, tenagaku perlahan mulai hilang dan seperti tidak akan sadar diri.


*


*


Saat aku mulai merasakan mata tertutup, aku mulai membuka perlahan mataku. Dengan masih samar-samar melihat aku mencoba mengembalikan kesadaran diriku, yang entah sudah berapa lama aku tertidur pulas.


Setelah penglihatan ku sempurna, aku terkesiap, pemandangan yang pertama terlihat adalah langit-langit yang berwarna putih. Aku bangun dan duduk di atas ranjang, ku lihat sekelilingku ternyata aku ada di sebuah kamar yang sepertinya jarang di tempati.


"Kamar siapa ini?" aku merasa sangat asing di tempat ini. Perlahan aku ingat kembali kalau aku sudah di bawa kabur oleh beberapa orang pria dan mereka membawaku jauh dari kota.


"Ah sial, pintu juga terkunci?" Aku mencoba membuka pintu kamar setelah turun dari ranjang. Aku menuju ke jendela ternyata jendela pun bukan jendela yang bisa di buka. Ingin memecah kaca namun ternyata jendelanya juga di teralis.


"Benar-benar sudah di persiapkan agar aku tidak bisa keluar. Bagaimana ini?" Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang, hanya bisa berjalan mondar-mandir dan sesekali duduk untuk terus berpikir. Tapi tidak ku temukan juga ide untuk bisa keluar dari sini.


Sedikit menyesal karena tidak menuruti perintah suami untuk langsung pulang. Andai aku menurutinya mungkin tidak akan jadi begini akhirnya.


"Huh, menyesal memang selalu saja datang terlambat"


Aku tidak tahu sampai kapan aku akan di sekap di tempat ini? Aku hanya takut kalau tidak bisa bertemu anakku lagi.


"Tuan Nathan... Aku membutuhkan mu saat ini, dimana anda sekarang? Akankah anda masih peduli denganku" Aku selalu bergumam sendiri dari tadi.


Di saat seperti ini hanya dia yang bisa menolongku, dengan kekuasaannya dia bisa menemukanku. Tapi bagaimana dia tahu keberadaan ku sedangkan ponsel saja tidak ada di tanganku.


Mudah-mudahan ponselku tidak mati atau sengaja di matikan oleh mereka. Sampai ada seseorang yang bisa menemukanku.


.


.


Bersambung☺️