
Paha putih mulus jelas terekspos di depan mata dengan rok mini yang ia kenakan. Dia berdiri tepat di depan suamiku yang sedang duduk di ujung meja sembari menyilangkan tangannya di dada.
Belum lagi tangan yang dia letakkan di pundak suamiku, terlihat sekali dia sedang menggoda suamiku.
Wanita gak tahu malu, menggoda lagi rupanya.
Meski dalam hati aku sangat geregetan, dan ingin menggunting roknya itu agar sekalian saja terlihat semuanya, namun itu tidak akan aku lakukan. Hanya akan membuat malu diri sendiri saja, melawannya tidak perlu dengan cara yang arogan.
Dan lihat suamiku, kenapa dia diam saja? Apa dia menikmati pemandangan indah di depannya itu? Hah, dasar pria tidak mungkin dia menutup mata jika ada hal yang menarik di depannya.
Menyuruhku hanya untuk melihat mereka seperti ini..., benar-benar menjijikkan.
"Kau sudah datang, kemarilah..." Ucapnya sembari menurunkan sebuah tangan yang berada di pundaknya.
"Iya sayang, maaf saya terlambat" Ucapku sembari berjalan dan sedikit menggeser tubuh wanita itu lalu mencium pipinya.
"Auw, auw," dia sedikit terhuyung badannya.
"Apa ada masalah?"
"Iya, sedikit." Jawabku bergelayutan manja di lengannya.
"Hai Nesa, saya pikir tadi wanita malam mana yang berani menggoda suami orang, siang bolong begini." Sindir ku langsung.
"Apa kau buta?"
"Tidak, hanya saja apa yang kau pakai saat ini sudah seperti wanita yang sering di jumpai di pinggir jalan tiap tengah malam."
"Dasar wanita enggak ngerti fashion!" Hardiknya langsung.
"Maaf Nona Vanesa, tapi di sini bukan catwalk atau panggung artis. Di sini kantor! Saya rasa, anda sangat paham saat orang harus pergi ke kantor itu seperti apa?"
"Nathan, istri mu sudah menghinaku."
"Apa yang dia bilang itu benar, Nesa. Lain kali kau bisa menggunakan pakaian yang lebih sopan." Suamiku membenarkan perkataan ku, bukan berarti aku sudah tidak ingin marah dengannya.
"Nathan, kau menyalahkan aku? Tidak ku sangka kau berubah sekarang." Muka Vanesa sudah kelihatan merah menahan marahnya.
Suamiku tidak menjawabnya, hanya mengangkat kedua bahunya.
Kemudian Vanesa pergi meninggalkan kami, sudah tidak tahan lagi terlebih melihat ekspresi yang sangat tidak di harapkan dari suamiku.
"Apa aku mengganggu waktu meeting-nya?" Aku bertanya sembari berjalan ke arah sofa.
"Tidak, kami tidak sedang meeting." jawabnya santai.
"Oh, tidak sedang meeting." Aku pun santai menanggapinya.
Tidak sedang meeting, tapi sedang bermesraan.
"Apa kau sedang cemburu?" Dia juga ikut duduk di sampingku.
"Cemburu? Tidak!"
Mungkin aku sudah cemburu, tiap kali aku melihat wanita itu mencoba selalu ingin dekat dengan suamiku, membuat ku naik darah dan ingin rasanya marah.
"Baiklah, kenapa kau bisa lupa dengan pesanku?"
Dia mengingat kenapa aku tidak datang tepat waktu.
"Itu..., karena_" Belum sempat aku memberikan penjelasan sudah di potong dengan pertanyaannya.
"Apa bertemu mereka lebih penting daripada bertemu dengan ku, hem?"
Tanpa aku jelaskan dia sudah pasti tahu, kan...
"Apa kau masih peduli dengan mereka?" Satu pertanyaan belum aku jawab sudah di tanya lagi.
"Bukan begitu, aku hanya merasa kasihan padanya."
"Tidak perlu sebaik itu, mereka belum tentu mengerti akan perasaanmu."
"Iya." Mungkin benar yang di katakannya.
"Sulit sekali membuatmu menurut, aku rasa kau perlu istirahat di rumah untuk satu Minggu ini."
"Hah! tidak-tidak, sayang." Tolak ku cepat
Yah, dia mau mengurungku lagi.
"Tidak ada penolakan!" Ucapnya tegas sembari berdiri dan kembali bekerja.
Sudah jadi keputusannya untuk menghukum ku dengan cara tidak membiarkan aku keluar rumah.
Membosankan pasti sangat membosankan, terus berada di rumah selama satu Minggu tanpa melakukan apapun. Seperti yang sudah-sudah.
Ku buka ponsel, teringat kembali dengan Doni yang tidak bisa di hubungi tadi pagi. Aku mencoba untuk menghubunginya lagi, namun masih sama. Tetap tidak tersambung.
Ada apa dengannya? Kenapa sampai saat ini belum juga aktif?
"Siapa yang sedang kau coba hubungi?"
"Doni, hari ini dia tidak masuk kerja dan tidak bisa di hubungi." Jawabku terus terang.
Sejujurnya aku sangat khawatir, takut terjadi sesuatu pada Doni. Dia tinggal sendiri di apartemen, kalau sampai terjadi sesuatu padanya tidak ada yang tahu.
"Suamiku sayang, apa saya bisa pulang lebih dulu?" Berharap dia izinkan, karena aku berniat ke apartemen Doni untuk melihat keadaannya.
"Tidak! Jangan pikir kau bisa pergi menemui Doni." Jawabnya masih sembari fokus dengan pekerjaannya.
"Tapi, sayang. Kalau terjadi sesuatu padanya bagaimana?"
"Tidak perlu khawatir, dia sudah dewasa. Dia tahu apa yang harus dia lakukan."
Percuma, percuma, kalau aku bilang jujur.
"Cuma ingin lihat saudara dan tidak mungkin ngapa-ngapain, bukan ketemu mantan yang seenaknya saja." Sengaja menggerutu dengan keras.
"Hey, kau ini kenapa?" Bertanya sembari tersenyum.
Bertanya kenapa? Apa tidak merasa tersindir? Tersenyum pula, benar-benar tidak merasa bersalah.
"Tidak apa-apa!"
"Apa kau bosan?" Dia mendekatiku.
"Sangat!"
"Ayo, kita melakukan hal yang tidak membosankan" Setelah dekat dia langsung mengangkat ku.
"Aaaaaa...." Selalu saja membuatku kaget, sedikit panik karena sedang berada di kantor. Bagaimana kalau ada yang lihat? Aku akan sangat malu.
Sesaat kemudian dering telepon dan ketukan pintu bersamaan terdengar. Dan itu berhasil membuatnya menurunkan aku, lega rasanya.
"Ck, siapa?"
"Ibu," Ku lihat Ibu mertua yang melakukan panggilan. Tidak biasanya Ibu menelpon.
"Halo, Ibu. Ada apa?"
"Kau di mana? Apa Sisi bersamamu?"
"Tidak, Ibu."
"Ibu pikir kau jemput Sisi, karena Ibu sampai sana Sisi sudah tidak ada, katanya gurunya sudah di jemput." Kedengarannya Ibu sangat khawatir.
"Jadi, ada orang lain yang menjemputnya. Siapa, Ibu?" Aku juga khawatir mendengar Sisi sudah tidak ada di sekolah.
Siapa yang membawa anakku? Di mana dia sekarang? Apa dia baik-baik saja.
Banyak pertanyaan yang terlintas di pikiranku. Resah, gelisah, takut, semua itu jadi satu menumpuk di dadaku.
Aku terdiam langsung setelah menutup telepon dari Ibu. Pikiran terus melayang, pandangan ku jauh menerawang. Jantungku pun berdegup kencang.
"Ada apa dengan Ibu?" Tanyanya sembari memegang kedua bahuku.
"Tidak, bukan Ibu. Melainkan Sisi, dia di jemput oleh orang lain."
"Apa...! Bagaimana bisa?" Suamiku pun terkejut mendengarnya.
Aku hanya menggelengkan kepala. Selama ini aku merasa tenang karena selalu ada orang yang menjaga Sisi. Tapi sekarang, kenapa bisa terjadi? Lalu kemana orang-orang yang menjaga sisi?
"Ken!" Seru Tuan Nathan, memanggil sekertaris Ken yang belum lama masuk.
"Iya, Tuan..."
"Ken, bagaimana bisa anakku di jemput orang lain? Di mana orang-orang yang kau suruh selama ini? Ha...!"
"Maaf, Tuan."
"Kau sudah lalai dengan tugasmu, Ken."
"Iya, Tuan. Saya janji akan segera membawa Nona Sisi ke rumah dengan selamat."
"Ingat, dengan selamat!" Ucapnya dengan penuh penekanan.
"Ba_baik, Tuan."
Suamiku sudah terlihat marah pada sekertaris Ken, dan itu membuat wajah sekertaris Ken pun memucat. Dia sangat merasa bersalah karena sudah tidak bekerja dengan baik.
Setelah itu, buru-buru sekertaris Ken pergi dan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Menemukan keberadaan anakku lalu membawanya pulang dengan selamat.
Meski begitu, aku tetap saja khawatir. Belum bisa tenang sebelum mendengar kalau anakku baik-baik saja.
.
.
Bersambung☺️
Jangan lupa tekan gambar jempol nya ya...🤗
Terimakasih 🙏