
Kepanikan dan kebingungan akhirnya membuatku tercebur ke dalam bathtub. Aku merasakan badanku menindih tubuh Tuan Nathan hingga tubuh kami saling bersentuhan. Beruntung aku masih berpakaian lengkap jadi masih aman saat aku bersentuhan dengannya. Meski sesaat terdiam dengan posisi yang duduk di atasnya, ada rasa yang aneh di bawah sana, sedikit bergerak-gerak.
"Oh, ya ampun Tuan. Saya jadi basah deh sekarang" Keluh ku saat sudah di dalam bathtub. Berusaha menghilangkan rasa canggung ku.
"Gimana kau ini, kenapa bisa terjatuh? Cepat berdiri!"
"Terpeleset, Tuan. Ayo bantu saya bangun"
"Tunggu, saya yang bangun duluan. Saya pakai handuk dulu" Dia berusaha berdiri dengan menyingkirkan tubuhku.
Terserahlah mau pakai handuk atau telanjang, bagiku bukan hal yang baru untuk melihat aset seperti milikmu.
"Saya tahu, kau sudah pernah melihat benda seperti milikku, tapi bukan berarti kau akan mudah untuk melihatnya lagi" Dia sudah keluar dari bathub dan membantuku membuka penutup mata.
Aku juga tidak berharap melihatnya.
"Nathan, kau di dalam?" Suara Ibu sekali lagi memanggil.
"Cepat, kau keluar dan temui Ibu" titahnya padaku.
"Tapi, saya malu, Tuan. Lihat saya basah seperti ini dan kita sedang di dalam berdua, nanti Ibu berpikir kita sedang_"
"Sedang apa?"
"Sedang itu...Aih, baiklah saya yang buka" Percuma ngomong sama orang yang pura-pura tidak mengerti, aku yakin dia tahu apa maksud perkataan ku.
Aku hentakkan kaki ku lalu cepat pergi membuka pintu kamar mandi yang terkunci, Ibu yang di luar terus memanggil.
"Ibu, hehehe...Ada apa?" Aku tersenyum malu padanya, ku keluarkan kepalaku untuk bertanya padanya.
"Jesi? Kau, kebetulan ayo keluarlah" Ibu sedikit memaksa mendorong pintu untuk menarik ku keluar.
"Kau, kenapa basah kuyup begini. Kalau mandi harusnya tidak begini bukan?" Ibu heran saat pintu terbuka lebar dan melihat seluruh pakaianku basah.
"Ada apa?" Tanya Tuan Nathan sembari mendekat.
"Nathan?" Ibu sedikit terkejut mendapati kami berdua di kamar mandi.
"Maaf, I_Ibu mengganggu ya? Kalau begitu lanjutan kegiatan kalian" Ucap Ibu sedikit terbata dan tersenyum lalu menutup pintu kamar mandi.
"Ibu, ini tidak seperti yang Ibu pikirkan" Teriakku dari dalam.
"Jangan terlalu lama ya, Ibu menunggu. Ada kabar yang penting mau di sampaikan" Teriak Ibu dari luar pintu kamar mandi.
Entah hal apa yang mau di sampaikan hingga Ibu masuk ke kamar dan mencari Tuan Nathan. Sepertinya hal yang penting jika tidak, mungkin Ibu tidak sampai masuk ke kamar dan mencari sampai kamar mandi.
"Gara-gara Tuan saya jadi basah seperti ini, dan lihat Ibu. Ibu sepertinya berpikir yang tidak-tidak pada kita" Aku kesal tiap kali selalu aku yang kena sial.
"Ck, apa kau bilang? Gara-gara saya? Kau sendiri yang ceroboh! Dan Ibu, wajar dia berpikir kalau kita sedang_" Dia sedikit enggan melanjutkan kalimatnya. Aku mengangkat kedua alisku bermaksud untuk bertanya selanjutnya.
"Ehem, ehem. Karena kita suami istri" Sambungnya dengan cepat.
"Iya, ya, tapi aku hanya istri kontrak anda Tuan, jadi_" ku tekankan kata pada istri kontrak
"Jangan kau pikir saya tidak berhak meminta hak ku sebagai suami, ha?" Timpalnya langsung.
Itu artinya suatu saat dia akan meminta aku untuk melayani di ranjang juga.
Glek
Aku menelan kasar ludahku saat mendengar ucapannya yang terlihat serius, dengan mata tajamnya yang mendekat ke wajahku.
"Ingat, saya tidak pernah membuat aturan untuk tidak menyentuhmu!" Sambungnya lagi lalu keluar.
Aku terdiam menelaah setiap kata yang keluar dari mulutnya. Kata-kata yang enggan ku pikirkan selama ini. Jika itu sampai terjadi berarti aku harus siap untuk kemungkinan yang paling buruk sekalipun.
"Cepat mandilah, nanti kau masuk angin" Ucapnya tanpa menoleh saat sudah memegang daun pintu, lalu keluar.
Apa dia perhatian padaku? Please Tuan, jangan bersikap seperti itu, aku bisa salah artikan perhatianmu.
Selepas kepergiannya kemudian aku selesaikan mandi dengan cepat, agar Ibu tidak menunggu lama. Aku juga penasaran apa yang sebenarnya yang ingin Ibu sampaikan.
Aku keluar dari kamar mandi dengan menggunakan towel bath atau baju handuk yang tersedia di kamar mandi. Ku lihat Tuan Nathan sudah berpakaian santai dan duduk bersandar di atas ranjang sembari memainkan benda pipih yang berwarna hitam.
"Loh Tuan, bukannya Ibu sudah menunggu di bawah. Kenapa malah bermain ponsel?"
"Di mana ponselmu? Berikan padaku!" Bukannya menjawab malah menanyakan keberadaan handphone ku.
"Ada, untuk apa?" Enggan rasanya untuk memberikan ponselku. Untuk apa dia tiba-tiba meminta ponselku.
"Tapi, itu kan privasi saya!"
"Ck, haruskah saya memaksamu?" Tuan Nathan turun dari ranjang lalu mendekatiku.
Eh, mau apa dia? kenapa tatapannya seperti itu?
"Ingat! Saya bisa melakukan apapun juga saat ini. Satu tarikan saja, maka kau akan telanjang di depan saya" Yah, dia mulai mengancam ku. Tangan kanannya sudah memegang tali baju handuk yang melilit di samping.
Tanganku pun reflek memegang erat tali handuknya. Aku tahu dia tidak pernah bermain dengan ancamannya, jadi dengan terpaksa aku harus memberikannya.
"Ok, ok, sebentar saya ambilkan" Ku berjalan menuju ke sebuah meja, di sana ku letakkan ponselku di dalam tas di atas meja.
" Ini, Tuan" Ku letakkan ponselku di tangannya.
"Apa password-nya?" Kembali menyerahkan ponsel yang memang masih terkunci.
"Saya kira hanya butuh ponselnya saja" Ucapku sembari membuka dengan menempelkan jari telunjuk di bagian belakang ponsel.
"Untuk apa ponsel busuk seperti ini? Saya hanya ingin lihat isinya"
Dia bilang ponsel busuk, padahal itu aku baru beli belum lama untuk mengganti ponsel ku yang rusak, dan itu aku beli dengan hasil keringat sendiri.
"Kenapa masih di sini? Cepat pakai bajumu! Lalu turun ke bawah" Dia menyuruhku yang masih bergeming.
"Iya, baiklah" Ku tinggalkan dia bersama ponselku yang sedang di periksa-nya, entahlah apa yang dia cari?
*
*
"Tuan sudah selesai?" Ku lihat dia sudah tidak memegang ponselku lagi.
"Mana ponsel saya?" Aku meminta ponsel ku kembali.
"Sudah saya buang" Ucap santainya.
"Apa?" Aku syok mendengar dia bilang membuang ponselku. "Di buang kemana?"
"Saya buang ke luar" Jawabnya santai.
Aku langsung berlari ke arah balkon, dan benar saja benda pipih milikku terlihat dari atas sudah hancur layarnya.
"Tidak perlu sedih sebentar lagi Ken akan membawakan yang baru"
"Tapi, itu ponsel saya beli sendiri bukan di belikan oleh_" Mungkin dia pikir ponsel itu yang belikan Mas Arsya.
"Aku tahu" Ucapnya seraya berlalu keluar kamar.
"Lalu, kenapa mesti di buang?" Teriakku benar-benar merasa kesal padanya telah membuang ponselku tanpa izin.
Hah, dasar kampret.
Aku sampai mengumpat kasar dalam batinku. Dia bahkan tidak memberikan alasan kenapa membuang seenak jidatnya. Ah kenapa ada manusia se-egois itu?
"Tuan, tunggu!" kemudian aku menyusulnya keluar kamar.
"Apa alasannya ponsel saya di buang?" Tanyaku saat berhasil mengejarnya di tangga.
"Tidak ada" jawabnya singkat. Dia masih saja tidak mau memberikan alasannya.
"Ada apa Jesi? Kenapa kau cemberut?" Tanya Ibu saat kami sudah berada di ruang keluarga.
"Tidak ada, Bu" kilah ku seraya tersenyum.
"Nathan, bukankah kalian barusan bersenang-senang. Kenapa lagi-lagi kau buat Jesi terlihat kesal?"
"Sudahlah, bukan hal yang penting. Sekarang kabar apa yang ingin di sampaikan? Sepertinya penting sekali?"
Entah kenapa sekarang Ibu seperti enggan mengatakannya? Padahal beliau tadi terlihat sangat ingin memberitahukannya. Sorot matanya mengarah padaku, seperti ingin mengatakan kabar yang berhubungan denganku.
*
*
Bersambung😊