Second Marriage

Second Marriage
Bab 30 Muncul tiba-tiba



Kali ini aku benar-benar melakukan sesi foto mesra dengan Doni, dengan sebelah tangan kekar Doni yang melingkar di pinggang ramping ku dan tubuh kami yang sudah menempel berdekatan, tidak ada jarak lagi. Doni memelukku dari samping kiri, kepalanya menyender manja di bahuku. Saat ini aku dan Doni tengah duduk di atas hamparan pasir putih menghadap deburan ombak yang tak begitu tinggi. Pemotretan di lakukan dari arah belakang oleh seseorang pengunjung pantai.


Tujuannya ialah untuk membuat calon suami kontrak ku membatalkan surat perjanjian yang di layangkan padaku. Dengan melihat foto itu aku berharap dia akan melepaskan bahkan kalau perlu mengusirku pun aku akan sangat bersorak kegirangan.


Doni yang terlihat nyaman di pundak ku perlahan mulai bercerita tentang hal yang membuatnya sampai sekarang masih melajang. Ternyata dia mencintai dalam diam, rasa cintanya pada wanita itu membuatnya bertahan sampai saat ini. Doni sangat berharap besar bahwa suatu saat akan di persatukan dengan wanita pujaannya.


Saat aku bertanya padanya tentang wanita itu, entah kenapa dia tidak mau menjawabnya? Aku juga tidak mau terlalu jauh untuk tahu yang sebenarnya. Semua itu adalah privasi Doni, aku hanya percaya tentang apa yang sudah menjadi keputusannya. Apakah dia akan terus menunggu tanpa kepastian? Atau dia akan berhenti dan mencari yang lain.


"Maaf mengganggu" suara seseorang dari arah belakang mengejutkan kami.


Aku dan doni menoleh bersamaan untuk tahu siapa pemilik suara itu. Ternyata dia salah satu pegawai rumah makan di resort ini.


"Ada apa, Mas?" Tanya Doni.


"Nona di tunggu seseorang di tempat makan kami" jawab laki-laki yang memakai celemek dan menunjuk ke arah rumah makan.


Aku dan Doni saling pandang, tatapan mata kami saling bertanya heran. Lalu aku ingat mungkin itu Sisi.


"Sisi!" ucap ku dan Doni bersamaan lalu tersenyum.


"Iya Mas, kami akan segera ke sana" ucapku seraya berdiri.


"Terimakasih, Mas" ucap Doni sebelum pria itu kembali ke tempat kerjanya.


"Sisi selalu begitu, bukankah dia tadi masih asyik main pasir di belakang kita?" ucapku seraya berjalan seiring dengan Doni.


"Mungkin dia sudah lapar lagi, Mbak"


"Lapar? belum lama kita selesai makan bekal, dia sudah lapar!" terkekeh, aku mengingat Sisi yang memang sedikit doyan makan, makanya badannya juga berisi.


Aku dan Doni berhenti di ambang pintu masuk saat melihat Sisi yang duduk tidak hanya sendirian. Seseorang duduk di sampingnya mengajak bicara dan bercanda, bahkan dia tidak segan mengusap-usap kepala Sisi.


Aku sudah menegang dengan situasi ini, mungkinkah orang itu berkamuflase menjadi seseorang yang hangat? Apakah seekor singa hutan berubah menjadi siluman ruba?


Ah, pikiran ku sudah mulai kacau lagi.


Seorang yang yang biasa terlihat dingin dan pemarah tiba-tiba lembut dan penyayang. Yah benar dia adalah Tuan Nathan. Seseorang yang seharusnya tidak ada di sini, sekarang tiba-tiba muncul di depan mataku. Belum ada satu jam yang lalu aku mengirimkan foto terakhir dia sudah sampai di sini.


Doni yang juga melihat ikut terperangah, Doni menggenggam erat tanganku dan mengajak berjalan ke arah mereka.


"Tuan! Kenapa Tuan ada di sini?" Tuan Nathan yang mendengar langsung menengok ke arahku.


Tatapan tajamnya mengarah ke tanganku yang sedang di genggam erat, Doni yang sadar pun jika sedang di lihat justru malah mengeratkan genggamannya. Seperti ingin melindungi ku.


"Kenapa? Tidak ada yang bisa melarang ku untuk pergi kemanapun" jawab Tuan Nathan sinis.


"Mama, kenapa bilang seperti itu? Bukankah Om ini teman baik Mama?" tanya Sisi yang terlihat bingung dengan ucapan ku.


"Om, teman baikkkk?" ucapku bingung.


Apa sebenarnya yang sudah dia katakan pada anakku? Sejak kapan dia akrab dengan anakku?


"Sudahlah..., ayo duduklah" ucap Tuan Nathan melembut seraya mempersilahkan aku dan Doni duduk.


"Kenapa berlibur tidak mengajakku?" tanya Tuan Nathan saat aku dan Doni sudah duduk berhadapan dengannya.


Apa maksud pertanyaannya itu? bukankah dia sendiri yang memberikan waktu libur ini?


"Apa maksud mu? Tuan Nathan!" tanya Doni yang sedari tadi hanya diam.


"Doni, apa kabarmu?" Tuan Nathan mengulurkan tangannya seraya tersenyum.


Kemudian Doni menyambut uluran tangan Tuan Nathan. Dia juga mulai bersikap biasa saja tidak menampakkan wajah yang tidak bersahabat.


"Tuan, di mana sekertaris Ken?" tanyaku karena tidak melihat keberadaan sekertaris Ken di sampingnya.


"Saya sudah di sini, kenapa malah bertanya tentang orang lain?" jawab Tuan Nathan.


Eh, apa aku salah bertanya?


"Ayo, mari makan, semua sudah di sediakan. Sayang jika di biarkan saja" ucap Tuan Nathan.


Memang benar sudah banyak makanan tertata rapi di atas meja saat aku dan Doni datang. Entah apa maksud kedatangannya kemari, Mungkinkah dia akan melampiaskan kemarahannya?


"Oh ya, Doni. Apa kabarmu selama ini?" Tanya Tuan Nathan tentang kabar Doni sekali lagi.


Aku dan Doni menghentikan mulut yang sedang mengunyah makanan, aku menatap Doni yang terlihat sedikit gugup, mendengar pertanyaan Tuan Nathan.


"Ba_baik" jawab Doni.


"Baguslah" ucap Tuan nathan


Ini kenapa Doni jadi gugup? Biasanya juga dia berani dan percaya diri.


"Sisi, apa Sisi mau main ke rumah?" tanya Tuan Nathan pada Sisi sembari tersenyum manis.


"Ke rumah Om?" pertanyaan balik Sisi. Tuan Nathan menganggukkan kepalanya.


"Mau dong, Om..." jawab Sisi senang.


"Anak pintar" ucapnya sembari mengusap kepala Sisi lagi. "Besok datang bersama mama" lanjutnya dan di jawab dengan anggukan kepala.


Astaga, apalagi yang dia rencanakan?


"Tuan Nathan, apa tidak sebaiknya anda balik ke kantor? saya rasa anda punya banyak kesibukan" ucap Doni yang bermaksud mengusirnya.


"Benar Tuan" sambung ku langsung sembari tersenyum.


"Hari ini weekend, saya juga butuh liburan" jawab Tuan Nathan santai.


"Mama...Om itu mau bermain pasir sama Sisi. Kenapa di suruh kerja lagi?"


"Apa?" aku terkejut mendengarnya akan bermain pasir.


Bagaimana aku tidak terkejut, dengan pakaian kerja lengkapnya layaknya Tuan besar dia akan bergelut dengan butiran pasir. Apa kata orang nanti?


"Tapi, Tuan, pakaian anda?" Kataku sembari menunjuk pakaian Tuan Nathan.


"Kenapa? tidak masalah karena saya sudah membawa ganti. Semua pakaian saya ada di kamar, tepat sebelah kamar kau."


"Apa?" pekikan suara keluar dari mulutku dan Doni.


Terlihat seringai senyum Tuan Nathan menghiasi wajahnya. Ini lebih mengejutkan lagi dari yang ku kira, firasat ku sudah mengatakan tidak baik-baik saja. Tuan Nathan datang seorang diri tanpa pengawal satu pun, bahkan sekertaris Ken yang selalu di sampingnya juga tidak ada.


Mungkinkah dia akan menghakimi aku nanti malam? Jika benar, aku masih berharap dia akan marah dan membiarkan aku pergi.


.


.


Happy reading 🥰