
"Apa yang kau lakukan di luar sana? Lama sekali!"
Belum aku juga duduk sudah di berikan pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang mengandung kecurigaan pula di dalam.
Sepertinya aku tidak lama, hanya mengantar saja dan bicara sedikit dengan Doni karena dia mau pulang.
"Saya hanya mengantar saja, setelah itu langsung ke sini."
"Mengantar saja ya, lalu Doni keluar dan berpamitan padamu. Apa kau tidak melakukan apapun di belakangku bersama Doni?"
"Tidak, memang apa yang bisa saya lakukan bersamanya?" Aku justru bertanya balik padanya sembari duduk di sampingnya.
"Bisa saja kalian saling memberikan salam selamat malam dengan berpelukan atau kissing?"
"Ah, yang benar saja..., aku wanita yang sudah bersuami tidak mau aku melakukan hal itu apalagi di rumah suamiku." Walaupun harus ku akui dalam hati aku tadi di peluk olehnya sewaktu di toko.
"Atau bisa jadi kau berencana kabur bersamanya karena tahu wanita yang ku cintai sudah kembali?"
Apa sih yang ada di otakmu sebenarnya? Mana mungkin aku bisa kabur jika tiap kali keluar selalu saja ada orang yang mengikuti ku. Meski tidak terlihat oleh mataku tapi aku tahu.
Dan apa yang barusan ku dengar? 'wanita yang ku cintai' .
Untuk apa dia mengakui ku sebagai istrinya kalau dia masih mencintai wanita itu?
"Apa Tuan berharap saya kabur dengannya? Seharusnya Tuan tahu, aku akan pergi jika Tuan yang menginginkannya." Aku ucapkan dengan serius sembari berdiri.
"Tuan, Tuan! Apa kau tidak bisa memanggilku dengan benar, ha?"
Sekarang mengalihkan pembicaraan, kenapa sih harus berpura-pura cemburu kalau tidak mencintai?
Aku kembali menghadapnya dan memegang kedua lengannya untuk mengajaknya berdiri. Aku beranikan mengunci pandanganku padanya setelah dia benar-benar berdiri.
"Baiklah, suamiku sayang..." Tanganku tak tinggal diam, ku pegang-pegang bajunya dan merapikannya.
"Apa kau berharap aku kabur dengannya? hem." Satu pertanyaan saja untuk tahu isi hatinya.
"Apa kau tidak ingin mengucapkan sesuatu?" Bukannya menjawab malah balik bertanya. Dan bukan hanya itu, kedua tangannya ikut bergerak menarik pinggangku agar lebih dekat dengannya hingga tidak ada jarak lagi.
Apa-apaan ini? Kenapa malah jadi begini? Jantungku seperti mau copot.
Apa aku juga harus mengakui kalau saat ini aku terpesona dengan matanya dan semua yang ada di dirinya? Aku belum siap untuk itu tapi jantung ini tidak bisa membohongi pikiranku.
"Katakanlah, jantungmu sudah tidak baik-baik saja."
Haaaa, dia bahkan bisa merasakan debaran jantungku.
"Ak_aku..." Kenapa malah dia yang mendesak ku?
"Hehehe, terimakasih sudah mengakui ku sebagi istri di depan Vanesa" Hanya itu yang terlintas di otakku. Aku meringis berusaha mengusir debaran jantung ini.
"Ck, hanya itu?" Dia melepaskan tangannya dan berdecak kesal lalu naik ke ranjang.
Eh, kenapa dia, kenapa marah? Bukannya aku sudah mengatakan sesuatu yang dia inginkan.
Dia meminta aku untuk mengucapkan sesuatu dan aku pikir terimakasih sudah cukup baginya. Karena dengan begitu Vanesa tidak akan memandang rendah diriku.
kalau bukan terimakasih, lalu apa? Aku di buat bingung dengan sikapnya, harusnya tadi aku yang ngambek. Kenapa jadi dia?
Mungkin aku coba tanya lagi.
"Sayang..." Dalam hati aku malu sendiri karena sikapku yang mencoba merayunya.
Aku duduk lagi di tepi ranjang mendekatinya yang sekarang sudah memegang ponselnya dan seperti mengacuhkan aku.
"Em, apa mau saya pijitin. Kelihatannya hari ini capek banget?"
"Hem."
Aku mulai memijit kakinya yang sedang di luruskan, walaupun aku tidak pandai memijit aku berusaha memijitnya dengan baik.
"Kenapa tidak terasa?"
"Terlalu pelan ya?"
"Hem."
Bagaimana dia bisa ngerasain, otot kakinya aja sangat keras. Pijitan lembut ku pasti cuma kaya usapan belaka. Sepertinya harus dengan tenaga ekstra.
"Aauw, kau ini mijit apa nyubit? ha!" Pekikan nya membuatku kaget.
"Ya mijitlah..., masak iya saya nyubit."
Aku naik dan ikut menyender di head board. Tidak berani lagi menatap wajahnya, pandanganku lurus ke depan.
"Apa yang kau lihat? Bukannya tadi berusaha merayu, lakukanlah hal yang lain. Aku ingin tahu sepintar apa kau merayu."
Mana bisa, dulu aku yang selalu di rayu bukannya aku yang merayu.
"Tidak sayang, bukan itu maksudku."
"Lantas apa?"
"Emmm, aku hanya tidak mengerti kenapa suamiku tiba-tiba kesal. Padahal aku sudah mengucapkan terimakasih." Jawabku jujur.
"Apa kau tidak bisa berterimakasih dengan benar pada suamimu?"
"Maksudnya?"
"Apa kau masih polos untuk tahu apa yang ku inginkan?" Selalu saja balik bertanya.
Kenapa sih gak to the poin aja. Jadi minta di peluk, di cium gitu.
"Baiklah, terimakasih suamiku sayang..." Ucapku sembari memeluknya.
"Hahahaha..., apa ini yang ku minta?"
"Hah!" Aku langsung melepaskan pelukanku dan menatapnya tak mengerti.
"Nih, nih dan nih." tangannya menunjuk pipi kanan kiri dan yang terakhir adalah keningnya.
Aku melakukan kissing dengan cepat dan memutus urat malu ku. Positif thinking aja, entah bagaimana cara kami bersama? Sekarang dia adalah suamiku.
"Sudah" Ucapku langsung melorot dan menutupi wajahku dengan selimut.
"Hey, apa aku bilang cukup? Kenapa malah sembunyi?"
"Maaf, aku tidak sanggup. Suamiku sayang." Ucapku di bawah selimut.
Ku dengar dia tertawa terpingkal melihat kelakuanku yang mungkin seperti baru pertama kali melakukan hal serupa.
"Apa, aku harus memaksamu?" Dia menarik paksa selimut yang membungkus tubuhku dari ujung rambut sampai kaki.
Dan sekarang selimut sudah tidak lagi menempel di tubuhku. Tuan Nathan ikut merosot kan dirinya mensejajarkan dengan tubuhku.
"Hey, kenapa kau pejamkan mata? Apa kau tidak ingin melihatku dengan jarak yang dekat seperti yang kau lakukan tadi?"
Jujur aku takut, takut tidak bisa menahan diri.
Hup
Baru saja aku membuka mata, aku langsung di kejutkan dengan serangan bibirnya yang mendadak. Aku yang terkejut hingga bola mataku membulat sempurna.
Perlahan aku benar tidak bisa menahan untuk tidak membalas ciumannya. Kembali aku merasakan bermain lidah dengannya seperti waktu itu.
Ciuman yang awalnya biasa akhirnya menjadi ciuman yang panas. Aku bisa merasakan nafas yang memburu karena ada rasa yang harus di tuntaskan.
Sentuhan bibirnya terus menjelajahi setiap sudut yang dia inginkan, membuatku tidak bisa menahan lenguhan yang keluar begitu saja. Sudah ku coba untuk menggigit bibir agar tak bersuara, tapi ternyata aku tidak mampu menahan tiap kenikmatan yang aku rasakan.
Dia Laki-laki yang sudah dewasa dan aku perempuannya yang sudah pernah merasakan hal yang sama. Aku tidak memungkiri bahwa aku juga menginginkan hal yang sama dengannya saat ini, meski otakku masih menolak tapi tubuh ini menerimanya dengan senang hati.
"Apa aku boleh?" Tanyanya dengan nafas yang sudah tidak teratur.
Pikiran ku mengatakan tidak karena butuh kepastian cinta darinya, tapi kepalaku mengangguk pasti.
Akhirnya semua terjadi dengan kesadaran kami. Tidak ada perlakuan kasarnya sedikitpun aku rasakan dalam malam pertempuran pertama kami.
Justru kekuatan yang dia keluarkan membuatku semakin terbuai dalam permainannya.
Entahlah apa dia masih perjaka atau tidak? Karena aku juga bukan perawan lagi jadi aku tidak akan mempermasalahkan hal itu.
.
.
Bersambung☺️
Haredang, haredang nih😁
Kasih kopi dingin kaya nya enak ya...🥰🥰