
Terlihat Ibu ragu untuk mengatakan sesuatu yang ada di pikirannya. Dia nampak sedikit gelisah saat memandangku, seperti ada kekhawatiran yang menyelimuti di wajahnya. Aku semakin penasaran melihat sikap Ibu seperti itu.
"Ibu, ada apa? Kenapa ragu untuk mengatakannya?" Tanyaku sembari mendekatinya.
"Jesi, apa kau sudah tahu?"
"Tahu apa?" Aku menggeleng sebelum bertanya balik.
"Ibu baru mendapat kabar duka dari salah satu teman Ibu" Ternyata yang ingin Ibu mertua sampaikan adalah kabar duka dari temannya, tapi kenapa harus terlihat khawatir?
"Memang kabar dari teman yang mana, sampai Ibu ragu untuk mengatakannya?"
"Dari keluarga Sanjaya" Jawab Ibu langsung.
"Sanjaya" Ucapku lirih, aku terkesiap mendengar nama Sanjaya. Nama yang dulu pernah ku sandang sebagai nama belakangku. Nama sebuah keluarga yang dulu bisa menerimaku apa adanya namun juga keluarga yang menghempaskan ku begitu saja.
"Sanjaya!" ucap Tuan Nathan seraya tersenyum sinis.
Mungkinkah ponselku di buang gara-gara Mas Arsya menelfon ku? Memang tadi terlihat ada beberapa panggilan yang belum sempat terbaca. Lalu, kenapa Ibu khawatir? Apa Ibu tahu tentang hubunganku dengan keluarga Sanjaya?
"Jesi, kau tidak apa-apa?" Suara Ibu membuatku tersadar dari lamunan sejenak.
"Eh, tidak Bu. Memang siapa yang meninggal?" Ku buat ucapanku sesantai mungkin, meskipun dalam hatiku benar-benar terkejut.
"Cucu laki-lakinya"
Astaga, itu berarti Deri! Kasihan sekali, dia masih terlalu kecil untuk pergi selamanya.
Aku merasa gelisah, ingin sekali untuk datang melayat. Walaupun orang tuanya telah berbuat buruk padaku, tapi itu tidak ada kaitannya dengan anaknya. Dia tidak bersalah atas perbuatan orang tuanya. Tapi, mungkinkah aku di izinkan untuk pergi?
"Jesi, kau boleh pergi untuk melayat" Perkataan Ibu mertua membuatku menyadari sesuatu.
"Ibu, apa Ibu sudah tahu tentang_" Sebelum aku selesai dengan pertanyaanku, Ibu sudah menjawab dengan anggukan.
Aku merasa terharu sekaligus bersalah karena belum menceritakan tentang hubunganku dengan keluarga Sanjaya, tetapi Ibu sudah tahu terlebih dahulu.
"Ibu, maafkan aku!" Ku peluk Ibu mertua dengan hangat, begitu juga dengannya yang menyambut pelukkan ku.
"Sudahlah sayang, jangan menangis" Tanpa terasa memang airmataku keluar begitu saja. Ibu mertua mengusap punggungku dengan lembut.
"Ibu sudah tahu dari awal, Ibu sengaja mempertemukan mu dengan mereka, karena Ibu ingin tahu langsung seperti apa keluargamu dulu." Terang Ibu padaku setelah mengurangi pelukakanku.
"Terimakasih Ibu, karena Ibu tidak marah padaku" Senangnya hati mendapatkan Ibu mertua seperti beliau, kasih sayangnya dan pengertiannya seperti Ibu kandung sendiri.
"Harusnya kau sudah tahu, siapa keluarga Erlangga!" Ucap Tuan Nathan.
Benar harusnya aku memang mengerti siapa keluarga Erlangga, mereka mampu bertindak apapun tanpa orang lain tahu. Dan aku memang tidak bisa di bandingkan dengan mereka, aku hanya seperti debu yang menempel pada berlian.
"Ibu hanya meminta kau untuk merawat Nathan dengan baik" Pesan Ibu padaku.
"Tapi, aku tidak sakit dan tidak perlu di rawat" Timpal langsung Tuan Nathan.
"Benar... Ibu"
"Tidak, dia sakit jiwanya" Ucapan Ibu membuatku menahan tawa.
"Puffff..."
"Ck!" Dia berdecak kesal mendengar ucapan ibu apalagi dia tahu aku ingin menertawakannya.
"Gimana, apa kau ingin pergi?" Kembali Ibu bertanya padaku.
"Iya Bu, aku ingin mengucapkan belasungkawa. Bagaimanapun mereka pernah berbuat baik padaku."
"Tidak, aku tidak mengizinkannya!" Tuan Nathan tidak mengizinkan ku pergi.
"Nathan, Ibu yang akan mengantar. Kau tidak perlu khawatir"
"Aku tidak khawatir, tapi hanya_" Sepertinya dia bingung untuk mendapatkan alasan.
"Apa?" Tanya Ibu.
"Terserahlah..." Akhirnya dia memberikan izin meski dengan terpaksa, lalu beranjak pergi.
"Iya, cepatlah"
Kemudian aku pergi ke kamar tapi sebelumnya aku menyusul Tuan Nathan yang berjalan menuju ruang kerjanya.
"Tuan, tunggu!" Dia menghentikan langkahnya saat mendengar suaraku.
"Terimakasih" Ucapku tulus padanya.
"Hem" Hanya kata itu yang keluar.
Meski dia cuma bilang 'hem' aja, tapi aku senang karena di saat seperti ini dia tidak menunjukkan egonya. Ternyata di balik sifatnya yang keras, dia masih punya empati.
*
*
Akhirnya kami sampai di rumah yang dulu pernah aku tinggali beberapa tahun lalu. Rumah yang penuh kenangan, bukan cuma kenangan indah tapi kenangan pahit juga tercipta di sini. Aku masih ingat betul terakhir kali berada di rumah ini, aku telah di usir dengan kesalahpahaman yang sampai sekarang belum juga mereka percaya.
"Jesi, kau tunggulah di sini. Ada banyak bunga di sana kau tidak akan tahan nantinya" Ujar Ibu yang penuh pengertian padaku. Menyuruhku untuk menunggu di mobil saja.
"Tapi Bu, aku bisa pakai masker. Aku tidak enak jika mereka nanti melihat ku di sini, tapi tidak ikut masuk"
"Tidak sayang tetaplah di sini. Bukankah mereka juga tahu kau alergi dengan bunga, jadi jangan khawatir" Ibu tetap tidak membiarkan ku pergi, meski aku sudah punya alasan yang tepat. Tetapi ada baiknya juga aku tetap di sini, karena di luar juga banyak media yang meliput, aku yakin Ibu akan menjadi sorotan utama setelah orang yang berduka.
"Iya, Mama tunggu di sini saja ya" Sambung Sisi. Ya anakku tadi sempat merengek untuk ikut, mungkin dia juga merindukan keluarga kandungnya, terlebih pada Papanya.
"Iya, baiklah sayang. Ingat pesan Mama, kau harus sopan pada mereka" Aku takut Sisi akan bertindak buruk.
"Siaaap, Mama" Ucap sisi.
"Ibu, saya titip Sisi ya..."
"Tanpa kau minta, Ibu akan menjaganya"
"Terimakasih, Ibu."
Kemudian mereka pergi dan masuk ke dalam rumah itu dan benar saja, ketika para awak media melihat kedatangan Ibu, mereka langsung berkerumun. Untung Ibu tidak pernah ketinggalan pengawalan jadi mudah saja untuk mengatasinya.
Beberapa menit kemudian aku melihat Sisi berada di gendongan Papanya. Mereka berjalan menuju ke arahku, cepat aku turun dari mobil mewah Ibu.
"Sisi, kenapa cepat sekali? Apa sudah mendoakan adik Deri tadi?"
"Sudah, Mama" jawab Sisi setelah turun dari gendongan Papanya.
"Mas, aku turut berdukacita. Aku sedih mendengar kalau anak laki-laki mu telah tiada." Ku ulurkan tangan pada Mas Arsya.
"Nyonya, ingat!" Ucap lirih sekertaris Ken yang berada di sampingku.
"Diamlah kau, Pak ken. Hanya sebentar saja" Aku pun setengah berbisik padanya.
"Terimakasih Jesi, kau sudah mau datang"
"Tentu aku akan datang. Apa yang terjadi, kenapa Deri meninggal?"
"Entahlah, awalnya hanya demam tinggi kemudian kejang-kejang, saat dalam perjalanan rumah sakit, dia sudah tidak tertolong lagi"
"Kasihan ya Ma, adik Deri" Ucap Sisi.
"Iya sayang"
"Jesi, kenapa Sisi bisa bersama dengan Nyonya Erlangga? Apa kau juga datang bersama dengannya?"
"Emm..." Apa perlu kau mengatakannya?
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Suara seseorang yang tiba-tiba terdengar mengagetkan ku.
*
*
Bersambung😊