Second Marriage

Second Marriage
Bab 73 Hampir kena tamparan



"Aaaaa....Tuan." Suaraku tertahan di bawah bantal.


"Dasar manusia bunglon." Lirihku menggerutu kesal, kemudian ku lemparkan bantal yang menindih mukaku ke kursi yang lain.


Kenapa sih, gak mau bicara jujur saja? Apa susahnya coba? Kalaupun memang harus berpisah, aku juga tidak masalah ketimbang nantinya aku di madu. Tapi, kalau ingin aku tetap di sampingmu, akan ku pastikan tidak ada wanita lain di keluarga kita.


"Tidak perlu melihatku seperti itu, mau bagaimanapun aku akan tetap tampan."


Wah, ternyata dia sadar kalau sedang ku perhatikan meski tengah fokus pada laptopnya.


Melihat wajah tenangnya saat bekerja, membuatku tertegun dan hanyut dalam lamunan. Orang yang awalnya terlihat mengerikan sekarang terlihat menenangkan walaupun masih menyebalkan.


"Ingat, tidak usah mikir macam-macam. Cukup satu macam saja!" Berbicara sembari matanya menatap lurus ke layar sedangkan jarinya terus bergerak di atas keyboard.


"Apa iya, pikiranku juga harus kau atur?"


"Hem, diamlah. Aku sedang fokus."


Siapa juga dari tadi yang bicara? Bukankah dia duluan.


Lama-kelamaan aku juga bosen hanya menunggunya bekerja, sudah minta izin keluar sebentar saja tidak boleh apalagi minta izin untuk pulang duluan.


Dia benar-benar fokus saat ini, bahkan untuk melirikku saja tidak ada waktu. Suasana ruangan menjadi sunyi, hanya terdengar ketukan jari yang tengah sibuk bekerja.


Bicaralah, bertanyalah meski hanya sekedar basa-basi saja. Biar gak jenuh.


Bangun, duduk, tiduran lagi sembari bermain ponsel, kegiatan itu yang aku lakukan saat ini. Sampai aku merasa di puncak kejenuhan dan memutuskan untuk keliling ruangan, melihat-lihat semua benda yang ada di ruangannya.


"Kau bisa duduk atau tiduran saja tidak? Aku pusing melihatmu seperti itu." Ucapnya melirikku sekilas.


"Huf, saya bosen tahu!"


Mendengar aku medumel, dia menghentikan aktivitasnya tangannya. Matanya beralih menatap ku, dia diam sorot matanya tajam.


"Apa aku harus memaksamu, ha?"


"Tidak, saya bisa sendiri." Aku pun duduk kembali di sofa, membuka lagi ponsel yang sudah dari tadi aku mainkan.


Melihat lagi aplikasi yang tertera di dalamnya, membaca berita-berita terkini dan yang masih viral. Dan aku temukan aplikasi cerita online, ku mulai membaca salah satu cerita yang menarik. Aku bisa senyum-senyum sendiri dan sesekali tertawa kecil karena kelucuan dari ceritanya.


Merasa lelah aku pun tiduran sembari terus membacanya hingga aku merasakan mata lelah minta untuk di pejamkan. Beberapa kali aku sudah menguap dan mencoba melebarkan mata agar tetap tersadar.


"Tidurlah! Jika mengantuk" Suara Tuan Nathan yang tidak keras masih bisa ku dengar.


Sepertinya aku memang harus pejamkan mata, sebentar saja. Aku rasa dia juga masih lama.


Akhirnya aku melakukan keinginan mata untuk beristirahat sekejap dalam melihat dunia.


.


.


Terdengar suara orang yang tengah berbincang yang membangunkan aku. Namun saat aku membuka mata, aku tidak tahu sedang di mana? Aku sudah berpindah tempat di suatu kamar, mataku memindai tiap sudut ruangan dan aku tidak mengenalinya sama sekali. Tapi telingaku masih mendengar suara Tuan Nathan di luar.


Apa mungkin aku masih berada di ruangan yang sama? Kenapa aku sampai gak kerasa sih kalau di pindahkan ke sini? Tidurku pasti sangat lelap dan mendengkur seperti suara gergaji.


"Kenapa kau datang lagi?" Suara Tuan Nathan bertanya pada seseorang.


"Sayang, aku selalu ingin bersamamu dan tidak bisa jauh lagi. Aku selalu merindukanmu." Jawab wanita itu.


"Oh, suara Vanesa yang datang rupanya. Ku pikir Mas Arsya dan Karla lagi." Aku sudah berpikir Mas Arsya datang lagi untuk memohon.


"Apa aku harus keluar atau diam saja di sini?" Ucapku sembari berpikir.


"Ah, sebaiknya aku di sini saja. Akan ku dengarkan setiap kata yang keluar dari mereka. Bukan bermaksud untuk menguping tapi karena aku sudah bangun otomatis aku telingaku pasti mendengar, bukan?" Akhirnya ku putuskan untuk tetap diam.


"Sayang, come on..., jangan bersikap seperti itu padaku?"


"Kenapa? Secepat itukah kau merindukanku? Sedangkan bertahun lamanya kau bisa tahan untuk sembunyi!"


"Apa alasanmu? Kau sudah mengacaukan pikiranku dan membuatku seperti orang bodoh selama ini, yang percaya begitu saja dengan sandiwara yang kau dan keluarga mu buat."


"Sayang aku tidak bermaksud untuk membuatmu seperti itu, aku hanya tidak ingin kau kecewa dan meninggalkan aku saat tahu wajahku penuh dengan luka dan menjadi jelek." Vanesa mencoba menjelaskan tentang kepergiannya selama ini.


"Alasan yang tidak masuk akal. Apa aku pernah menuntut mu untuk selalu tampil sempurna di hadapanku?"


"Tidak, tapi_"


"Itu artinya kau tidak percaya padaku, tidak percaya dengan cinta dan ketulusanku selama ini."


"Sayang, maafkan aku."


Apa aku tidak salah dengar?


Kenapa sikap Tuan Nathan kelihatannya dingin pada Vanesa? Sedangkan tiap kali ku lihat mereka selalu mesra. Apa sebenarnya yang ada dalam pikirannya sih? Harusnya dia merasa bahagia karena kekasihnya sudah kembali, apapun alasan di balik kebohongannya itu.


"Masuk!" Seru Tuan Nathan.


"Tuan, ada Tuan Doni datang."


"Suruh saja masuk."


Pak Ken yang datang dan dia bilang kalau Doni kemari. Mau apa anak itu datang? Jangan-jangan dia mencari ku. Kebetulan, aku bisa pulang bersamanya dan keluar dari sini secepatnya.


"Kak Nathan, kak Nesa..." Sapa nya.


"Ada apa kau kemari?"


"Kak, bukankah tadi kau bersama dengan Mbak Jesi? Kemana dia, kok tidak ada di sini?"


"Hah, perempuan itu lagi. Sebenernya siapa dia sih? Pacarmu Don?" Tanya Vanesa.


"Jadi kak Nesa belum tahu?" Tanya balik Doni.


"Don, untuk apa kau mencarinya?" Sebelum dapat jawaban, Tuan Nathan langsung bertanya duluan.


Sepertinya aku harus keluar dari sini, tapi bagaimana caranya?


"Don, Don, aku di sini." Aku coba berteriak agar dia mendengar.


"Kak, itu suara Mbak Jesi kan? Di mana dia?"


"Tadi dia sedang tidur, ternyata sudah bangun rupanya"


Tidak lama kemudian benda yang seperti dinding itu bergeser.


Sreeeek...


Aku pun keluar setelah pintu itu terbuka, pertama ku tampilkan senyum yang manis pada Doni dan vanesa yang tengah melihatku heran, terutama Vanesa. Melihat ekspresi yang terkejut saat aku keluar dari ruangan itu.


"Hai..., aku tadi lelah lalu istirahat di dalam."


"Nathan, kenapa aku tidak tahu kau punya ruang istirahat di sini?" Ternyata Vanesa tidak tahu kalau ada sebuah ruang tersembunyi di sini.


"Dan kau, siapa kau sebenarnya? Lancang sekali kau sebagai pelayan ada di ruang pribadi Tuan mu!"


"Saya? Silahkan, anda tanya pada Tuan, siapa saya sebenarnya karena hanya dia yang paling tahu siapa saya sebenarnya" Ucapku.


"Kau ya, benar-benar lancang! Saya bertanya padamu bukan Nathan" Vanesa yang tadi sudah kesal sekarang bertambah emosi saat aku tidak menjawab pertanyaannya dengan benar.


"Nesa, kau bisa pelan kan suaramu, kan?" Ucap tuan Nathan.


"Maaf Nona Vanesa, saya tidak pernah lancang dari awal kita bertemu. Mungkin anda yang terlalu sensitif saat ini, dan apa yang saya bilang benar adanya."


"Ka_kau..." Dengan mengeratkan giginya sembari tangannya mengudara hendak menamparku.


Beruntung tangan Doni dan Tuan Nathan bersamaan menahan tangan Vanesa. Terlihat Vanesa sudah sangat emosi dengan wajah memerah tampak jelas di kulit putihnya.


"Doni, antar aku pulang" Pintaku pada Doni. Aku tidak ingin mendengar pertengkaran mereka yang mungkin ujungnya akan sama, Tuan Nathan tidak mau bicara yang sesungguhnya.


"Ayo, Mbak kita pulang sekarang" Kemudian Doni menggandengku dan mengajak ku keluar.


"Tunggu!" Tuan Nathan menghentikan langkah kami.


"Kalian tidak perlu bergandengan tangan juga." Masih sempat dia memisahkan tanganku yang di pegang Doni.


"CK!" Doni pun berdecak kesal.


"Antar dia pulang tepat waktu. Pak Didi akan mempersiapkan makan malam, kita akan makan bersama."


"Urus tuh, wanita kak Nathan!" Ucap Doni.


"Hati-hati di jalan, jangan sampai sedikit saja lecet!" Pesan sekaligus peringatan untuk Doni.


"Ayo Doni" Setelah itu ku tinggal Doni yang masih berdiri menghadap Tuan Nathan.


Ternyata mereka sangat cocok, sama-sama kasar pada orang lain.


Mengingat wanita itu yang hendak menamparku membuat ku naik darah. Aku sudah bilang apa adanya, kalaup aku juga tidak tahu persis posisiku seperti apa? Dan yang tahu hanya Tuan Nathan.


Dalamnya hati seseorang, tidak akan bisa kita Selami.


.


.


Bersambung☺️


Terimakasih buat like, vote plus hadiahnya 🙏. Dukung terus cerita Second marriage biar nambah view-nya.


Sorry belum bisa up tiap hari dan belum bisa Dobel up 🙏🙏