
Akhirnya rasa ingin tahuku tentang siapa Nesa terjawab sudah. Vanesa Pricilla, nama yang masih selalu terngiang di benak suamiku. Seorang wanita yang berparas cantik dan elegan, mungkin juga seorang yang terkenal dan populer yang pasti dia sepadan dengan Tuan Nathan. Jauh jika di bandingkan denganku.
Sarapan yang biasanya hanya sebentar harus berlasung lama karena aku dan Ibu mertua terlibat perbincangan yang serius. Setelah Ibu selesai bercerita kemudian Ibu kembali mengajakku pergi bersama untuk bertemu teman-temannya.
Ibu membawaku ke sebuah rumah makan yang terletak di tengah kota. Saat kami memasuki tempat ini sudah terlihat beberapa teman Ibu yang sudah menunggu.
"Ibu, saya duduk di sini saja, ya..." Menghentikan langkah, aku tidak enak kalau nanti Ibu merasa malu karena aku.
"Tidak Jesi, aku akan kenalkan kau dengan teman-teman Ibu."
"Tapi Bu...,saya belum siap kalau teman-teman Ibu tahu siapa saya sebenarnya."
"Sudahlah tenang saja, percaya sama Ibu" Ibu mertuaku kembali mengajak ku berjalan ke arah teman-temannya.
"Hai, hai, hallo..." Sapa Ibu dengan senyum sumringah seraya menjabat tangan lalu cipika-cipiki.
"Hai...Gimana kabarnya Nyonya Er? Sapa salah satu teman Ibu.
"Baik, jeng..." Jawab Ibu, lalu medaratkan pantatnya di kursi.
"Nyonya Er, ngomong-ngomong, siapa yang di bawa ini?"
"Oh, kenalkan. Namanya Jesika" Ibu memperkenalkan aku dengan kedua temannya.
"Salam kenal Tante, saya Jesi" Ucapku memperkenalkan diri sembari tersenyum dan sedikit menunduk.
"Duduklah Jesi" Salah satu teman Ibu mertua menyuruhku dudu.
"Terimakasih, Tante" Aku duduk di samping Ibu mertua.
Setelah aku duduk, kami semua saling bertukar cerita tapi tidak termasuk aku. Di sini aku hanya menjadi pendengar yang baik yang sesekali tersenyum dan menjawab tiap kali di tanya.
Aku lega karena Ibu tidak memperkenalkan aku sebagai menantunya, melainkan sebagai keponakannya. Beruntung mereka sepertinya juga percaya dan tidak bertanya-tanya lebih jauh.
Selang beberapa menit, terlihat dari jauh dua sosok wanita yang sepertinya ku kenal. Langkahnya yang gemulai menuju ke arah kami.
Jangan-jangan, mereka juga termasuk teman Ibu?
Semakin dekat semakin jelas kalau apa yang ku lihat tidaklah salah. Benar, mereka adalah mantan mertua dan istri Mas Arsya. Mungkinkah benar mereka juga akrab dengan Ibu mertuaku sekarang? Kenapa aku tidak tahu selama ini?
Mereka berhenti sejenak saat mata kami saling bertemu pandang. Kami sama-sama terkejut dengan situasi yang seperti ini. Apa Ibu Sonya tahu kalau aku adalah mantan menantunya? Jadi dia sengaja mengundang Ibu Widya. Tapi apa tujuannya?
Mudah-mudahan tidak terjadi hal yang buruk.
"Selamat siang, Nyonya Erlangga" Sapa Ibu Widya seraya mengulurkan tangannya.
"Siang, Bu Widya Sanjaya" Ucap Ibu mertuaku menyambut uluran tangannya.
"Siang Nyonya Er" Sapa Karla yang juga menjabat tangan Ibu Sonya.
"Siang, ini pasti menantunya Bu Widya?" Ibu Sonya langsung bertanya.
"Benar, Nyonya Er" jawab Karla tanpa ragu.
"Ayo, duduklah Bu wid dan_?" Ucap salah satu teman Ibu Sonya.
"Karla, Tante" Ucap Karla seraya menarik kursi lalu duduk.
Situasi ini membuatku sedikit tegang. Mengingat Ibu Widya yang selalu bicara ceplas-ceplos, aku takut Ibu Sonya akan tersinggung saat dia tahu kalau aku adalah mantan menantu Bu Widya.
Setelah bicara basa-basi menanyakan kabar dan sebagainya. Ibu Widya menatapku dengan sinis, dan akhirnya dia bertanya pada Ibu Sonya.
"Nyonya Erlangga, siapa yang ada di samping anda?" Ibu Widya pura-pura tidak mengenalku.
Aku hanya tersenyum pada Ibu Widya dan ikut berpura-pura tidak mengenalnya. Aku justru senang saat mereka berpura-pura tidak mengenalku karena aku berniat akan bercerita pada mertuaku setelah ini.
"Benarkah? Nyonya Er" Karla tampak tersenyum simpul.
Mungkin Karla pikir aku yang telah membuat kebohongan, karena dia tahu persis siapa aku sebenarnya.
"Hati-hati, sekarang banyak penipuan dengan modus baru" Timpal Bu Widya. Aku tahu maksudnya adalah menyidirku.
"Oh ya?" Teman Ibu Sonya yang lain terlihat antusias.
"Apa Bu Widya sudah pernah mengalaminya?" Tanya Ibu Sonya.
"Hehehe, belum si Nyonya. Cuma dulu saya pernah punya menantu yang terlihat baik di luar tapi jahat di dalamnya" Jawab Ibu Widya matanya sambil melirik ke arahku.
Apa-apaan, kenapa dia justru memfitnah ku? Aku merasa tidak pernah jahat padanya, aku selalu menghormati dia sebagai orang tua.
"Setelah mendapat laki-laki yang lebih kaya dari anak saya, dia meminta cerai dan memilih selingkuhannya. Beruntung saya mendapat ganti yang lebih baik." Lanjut Bu Widya yang terus menyindirku langsung di depanku.
Ah, benar-benar gila, ternyata dia juga termakan oleh omongan Karla. Kenapa dulu kalian tidak mau mendengar penjelasanku?
"Ibu Widya yakin tidak salah paham?" Mertuaku sepertinya kurang percaya dengan ucapan Bu Widya.
Aku sengaja hanya diam saja meski aku tahu mereka secara terang-terangan menjelekkan namaku. Aku tidak mau jika aku berbicara nanti justru akan membuat malu Ibu mertuaku. Biarlah sejauh mana mereka akan bergosip.
"Saya yakin, karena saya sudah mengenal lama wanita itu" Lagi-lagi sorot matanya mengarah padaku.
"Apa dia sudah punya seorang anak dari anak Bu Widya?"
Ibu mertuaku malah bertanya lebih jauh lagi, seolah-olah dia sangat ingin tahu tentang kehidupanku.
"Sudah, mereka punya seorang putri" Jawab Bu Widya dengan mimik wajah sedih.
"Tapi, wanita itu membawanya pergi dan tidak mengizinkan kami bertemu dengan putrinya. Padahal kami sangat rindu" Ibu mertuaku kembali berbicara hal yang tidak benar.
Aku mulai terasa panas, sedikit demi sedikit dia sengaja memancing emosiku. Tanganku sudah mengepal erat di bawah meja. Andai saja saat ini tidak ada mertuaku, aku pasti sudah melawannya.
Suasana yang tadinya santai dan penuh canda menjadi lebih sunyi, semua orang menatap dan mendengarkan omongan mantan mertuaku yang melantur.
Jika terlalu lama di sini, aku bisa hilang akal. Takut tidak bisa menahan lagi amarah yang sudah mulai memanas di dada.
Di saat aku sudah mulai menegang dengan situasi yang menyudutkan ku, muncullah tiba-tiba sekertaris Ken. Aku sedikit lega karena kedatangannya karena aku tahu dia pasti akan membawaku keluar dari sini.
"Nyonya besar" Sapa sekertaris Ken.
"Loh ken? Ada apa? Kenpa kau ada di sini?" Beberapa pertanyaan langsung muncul dari Bu Sonya.
"Saya sedang mengadakan pertemuan di tempat ini. Tuan Nathan meminta saya untuk mengantarkan Nyonya Jesi pulang" Jawab sekertaris Ken.
Benar dugaaannku kalau sekertaris Ken akan membawaku pulang. Setidaknya aku merasa sedikit lega karena tidak akan mendengar mereka membuat statement yang tidak benar. Meskipun aku akan mendapati Tuanku marah lagi setibanya di rumah karena aku pergi tanpa seizinnya.
Wajah Karla dan Bu Widya nampak terkejut saat kedatangan sekertaris Ken yang hendak membawaku pergi. Tapi tidak dengan teman Ibu Sonya yang lain, mereka tampak biasa saja.
.
.
Bersambung 😊
Teimaksih buat dukungan semuanya 🙏
Maaf jika ada part-part yang kurang ngena di hati 🙏