Second Marriage

Second Marriage
Bab 11 Map warna merah



Suara langkah yang semakin mendekat membuat jantungku memompa lebih cepat, aku hanya berdiri mematung, menatap lurus ke depan tanpa berani menoleh ke arah pintu yang berada di belakangku, melihat siapa yang datang. Aku menunduk saat seseorang itu melewati ku dan duduk di kursi memposisikan dirinya tepat di depanku.


Aku tercengang saat seseorang itu membuka suara.


"Nyonya Arsya, silahkan duduk" suara sekertaris Ken yang kudengar membuat detak jantungku yang tadinya berlarian kini mulai berdetak normal. Aku melihatnya dengan perasaan lega karena bukan sang Tuan sombong yang datang menemui ku.


"Terimakasih, Pak Ken" ucapku datar, aku bisa duduk dengan tenang jika berhadapan dengan sekertaris ken, karena bagiku dia masih sama sepertiku, manusia yang masih berperasaan di banding Tuan Nathan.


"Apa yang membuat anda berubah pikiran dan menghubungi saya? ini bahkan belum ada dua puluh empat jam"


Aku menghentikan gerakan tanganku saat akan menyeruput segelas jus setelah sebelumnya sekertaris Ken mempersilahkan untuk minum. Aku merasa bingung untuk menjawabnya, haruskah bertanya langsung dan menghubungkan penolakan ku pada Tuan Nathan dengan keadaan toko saat ini. Mengingat sekertaris Ken pernah memberiku peringatan, mungkin benar ini ada hubungannya dengan penolakan itu.


"Pak Ken, ada yang ingin saya tanyakan langsung pada anda" jawabku seraya meletakkan secangkir teh yang belum sempat terminum.


"Silahkan"


"Pak Ken, apakah anda ada hubungannya dengan keadaan toko saya saat ini?" dia tidak menjawab namun hanya tersenyum, senyum kebiasaan yang membuatku menahan rasa kesal setengah mati, andai dia orang yang dekat denganku pasti sudah ku remas muka tampannya itu.


"Pak Ken, saya menyempatkan waktu untuk datang menemui anda karena saya ingin tahu langsung jawaban anda!" lagi-lagi dia hanya tersenyum seraya mengambil segelas jus lemon lalu meminumnya.


Oh astaga murah senyum sekali dia, namun sayang senyumnya itu membuatku bergidik ngeri sekaligus kesal.


"Nyonya Arsya, saya tidak punya kuasa apapun untuk membuat masalah di toko anda." jawabnya dengan tenang. "Anda tahu persis siapa saya, dan siapa yang berkuasa" ucapan sekertaris Ken kembali mengingatkan bahwa Tuan Nathan lah yang sanggup melakukan hal apapun dan dia hanya sebagai tangan kanannya.


Aku terdiam mendengar jawaban sekertaris Ken, mencerna setiap kata yang mengandung penekanan.


Sungguh sudah jelas bukan dengan perkataannya, membuat aku mengerti bahwa benar dia yang melakukannya. Karena aku menolak permintaan Tuan Nathan hingga berakibat fatal untuk usahaku, haruskah aku memohon maaf padanya agar semua kembali seperti semula, dan berjalan semestinya.


"Ah, kenapa bertemu dengannya membuatku sial begini, apa yang sebenarnya Tuan Nathan inginkan? bukankah usahaku hanya seujung kuku baginya di banding dengan perusahaan besar miliknya, mungkinkah dia tertarik untuk berjualan online juga?"


Aku hanya mampu menggerutu dalam hati, agar sekertaris itu tak mendengar dan mengadukannya yang bisa menambah besar masalah.


"Nyonya Arsya, anda tidak perlu membuang energi dengan mengumpat dalam hati" ucap sekertaris Ken yang seolah tahu apa yang ku pikirkan, dan itu memang benar sih.


"Pak Ken, apa yang sebenarnya anda inginkan?" tanyaku yang sudah tidak tahu harus bagaimana, karena yang ku hadapi bukanlah orang biasa tapi ini luar biasa, seseorang yang tidak bisa di tawar lagi perintahnya. Seseorang yang seperti singa hutan yang sanggup memangsa lawannya kapanpun dia mau.


"Bukankah sudah jelas nyonya Arsya!"


Memang benar sudah jelas apa yang di inginkan oleh Tuannya, bertemu denganku. Aku juga tidak keberatan jika hanya bertemu tapi yang aku takutkan adalah perlakuan kasarnya. Lagian untuk apalagi dia ingin bertemu, bukankah masalah jas sudah selesai. Dan jika dia meminta ganti rugi aku pasti akan menggantinya, tidak perlu harus sampai seperti ini, menghancurkan usaha yang aku bangun dengan susah payah.


Setelah aku lihat sekertaris Ken memandangi jam mewah di pergelangan tangannya, suara pintu terbuka, sekretaris Ken berdiri dan aku pun reflek menoleh ke belakang untuk tahu siapa yang datang.


gleg


Aku menelan Saliva ku, melihat sosok yang datang, dengan langkah tegap dan tegasnya dia berjalan sambil melirikku dengan sinis, aku sedikit membungkuk hormat padanya, ternyata sang Tuan sombong itu akhirnya datang. Aku berpikir tidak akan bertemu dengannya hari ini, tapi nyatanya salah. Aku merasakan aura dalam ruangan ini tiba-tiba menjadi dingin.


"Silahkan Tuan" Ken menarik kursi lalu mempersilahkan Tuan Nathan duduk.


"Bagaimana Ken, apakah wanita ini sudah mengerti?"


"Sudah, Tuan" jawab sekertaris Ken.


Mengerti, ya aku sudah mengerti betapa berkuasanya dia dalam segala hal, termasuk memaksaku untuk menuruti perintahnya.


Aku memberanikan diri untuk menatapnya, tapi tatapan matanya yang tajam membuat aku mengalihkan pandanganku. Aku melihat sekertaris Ken mengeluarkan map merah dari dalam tas, dia menyerahkan map itu kepadaku.


Aku menerima dengan penasaran, apa isi dalam map itu.


"Bacalah, jika ada yang kurang jelas, tanyakan" ucap Tuan Nathan.


Melihat senyum menyeringai dari Tuan Nathan, membuatku gelisah, detak jantung yang tadi sudah normal kini kembali berpacu dengan cepat. Aku membuka map itu dengan gugup, sedikit gemetar bahkan ingin menarik nafas dalam pun aku tak bisa.


Mataku terbelalak melihat isinya, selembar kertas putih yang di beri judul, dengan tulisan yang di cetak tebal warna hitam.


Deg


Jantungku seakan berhenti, aku menjatuhkan map itu di atas meja. Aku merasakan hidupku bukan lagi milikku, sebesar itukah kuasanya hingga bisa membolak-balikkan nasib seseorang dengan mudahnya, seperti membalikkan telapak tangan. Aku teringat akan suamiku, tapi akankah dia bisa menolongku? sedangkan penanam modal terbesar di perusahaannya adalah Tuan Nathan.


Aku memegang kembali map itu, sebisa mungkin aku menyembunyikan rasa takutku, agar terlihat kuat di hadapannya. Aku menatap kembali tulisan yang ada, memastikan kembali isi dari kertas itu ,apakah masih sama seperti pertama kali aku baca, dan berharap tulisan itu bisa berubah dalam sekejap.


Sekertaris Ken menyodorkan sebuah pena berwarna perak, setelah aku memberanikan diri untuk menatap Tuan Nathan lalu beralih ke sekertaris Ken, dia menganggukkan kepala supaya aku menyetujui permintaan Tuan Nathan dan bersedia tanda tangan. Tapi aku masih ragu, dan ingin sekali menanyakan alasannya.


Bisakah aku punya pilihan lain?


Next👉


Happy reading 😚