Second Marriage

Second Marriage
Bab 46 Dokter Arga



"Cepatlah datang, aku butuh bantuan mu. Jangan lupa bawa semua peralatan yang kau punya." Dia terlihat berbicara dengan seseorang lewat telepon.


"Sekarang juga, aku tidak menerima penawaran!" Ucapnya tegas lalu mematikan panggilannya.


Setelah itu dia berjalan mondar-mandir dan sesekali melirik ku yang masih sibuk meniup tangan. Tiba-tiba dia berjongkok di depanku lalu menarik tanganku yang terluka.


"Bagaimana, apa masih sakit?" Tanya Tuan Nathan sembari meniup tanganku yang tampak merah karena gigitannya. Dia melakukannya dengan hati-hati.


"Sudah tidak terlalu" Jawabku masih sedikit takut. Kalau dia akan melakukan gigitan yang ke dua.


"Maaf, maafkan saya" Aku menunduk, mengakui kesalahan karena lupa dengan yang sudah pernah di katakan Pak Didi.


Aku berharap dengan minta maaf, suasana hatinya akan lebih baik dan tidak membuat luka yang baru. Dari awal dia memang sanggup melakukan tindakan kasar, tidak hanya itu tapi temperamennya juga tinggi.


"Ck, sudahlah jangan di bahas lagi" Sepertinya dia sedikit menyesali perbuatannya. Tuan bisakah kau tidak bersikap seperti ini? Sikapmu yang terkadang lembut dan kasar membuatku bingung dengan dirimu yang sebenarnya.


Tok, tok.


Sesaat kemudian terdengar pintu di ketuk dari luar.


"Tuan, Tuan Arga sudah datang" Seru Pak Didi dari luar kamar.


Kemudian dengan langkah cepatnya dia membuka pintu. Masuklah seorang pria yang berjas putih dengan stetoskop di lehernya membawa tas ransel dan juga sebuah kotak.


Hah, dia panggil dokter...


"Nathan, apa kau sakit?" Seorang dokter datang menanyakan keadaannya, karena mendapat panggilan dadakan.


"Tidak, bukan aku" Jawab Tuan Nathan.


"Lalu, siapa yang sakit? Kau bahkan tidak mau menunggu meski hanya lima belas menit saja" Dokter itu berjalan masuk sejajar dengannya, sesaat kemudian dia terkejut melihatku yang duduk di sofa.


"Siapa dia?" Tanya dokter itu lirih. "Apa dia pacarmu?" Lanjutnya ingin tahu.


"Dia yang sakit" Jawab Tuan Nathan.


"Hai Nona, kenalkan saya Arga" dokter itu memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangan.


"Arga, tangannya sedang sakit tidak perlu kau menjabat tangannya" Tuan Nathan langsung menarik tangan dokter yang menjulur.


"Ck, pelit sekali kau!" gerutu dokter Arga.


"Saya, Jesi" Jawabku sembari tersenyum.


"Baiklah, silahkan rebahan dulu" Dokter Arga sudah memasang stetoskopnya bersiap untuk memeriksa.


"Hey, kenapa harus rebahan? Kan bisa sambil duduk" Tuan Nathan langsung menolak, menimpali dengan ucapannya.


"Huh, kau ini" dokter itu menggeleng.


Saat dokter Arga sudah bersiap menempelkan stetoskopnya ke arahku, lagi-lagi Tuan Nathan mencegahnya.


"Hey, hey, stop! mau apa kau?"


"Ya, mau memeriksa. Apalagi?" Dokter Arga sudah mulai terlihat kesal.


"Yang sakit itu tangannya bukan dadanya, tahu!" Tuan Nathan memperjelas bagian yang terluka.


"Apa kau tidak punya kawan dokter wanita, hah? kenapa kau tidak bawa perawat perempuan saja" belum jadi aku di periksa dia malah ngomong terus gak jelas.


"Iya, benar dokter. Tangan saya yang sakit" Lebih baik aku bicara daripada dia terus bicara yang gak masuk akal.


"Baiklah, mana coba saya lihat"


Aku memperlihatkan punggung tanganku yang memerah, kemudian dokter Arga hendak memegang tanganku namun lagi-lagi Tuan Nathan kembali mencegahnya. Dokter Arga benar-benar tidak boleh menyentuhku.


"Biar aku saja yang memegang, kau cukup lihat saja" Tuan Nathan langsung memegang tanganku yang terluka.


"Nathan, apa ini? Kau gila? Kenapa tangannya ada bekas gigitan harimau?" Dokter Arga terkejut saat melihat tanganku yang ada bekas gigi.


Baru kali ini ada orang yang berani mengumpatnya secara terang-terangan, siapakah dokter Arga? Kenapa dia begitu berani dengan Tuan Nathan?


"Sudahlah, jangan banyak bicara. Apa kau sudah bosan dengan profesi mu, hah?" Suamiku mulai mengeluarkan kekuasaannya.


"Oh, tentu tidak. Aku akan berikan salep untuk radangnya" Dokter Arga mengeluarkan sebuah saleh berbentuk panjang dari kotak obatnya.


"Biar aku saja yang nanti mengoleskannya" Tuan Nathan langsung menyambar salep dari tangan dokter Arga.


Dokter Arga tergelak melihat tingkah Tuan Nathan yang pastinya sangat berlebihan menurutnya.


"Kakak, tenang saja. Lukanya tidak akan terasa sakit lagi setelah di oles dengan salep itu."


"Kakak, dia bukan kakakmu!" Suamiku tidak terima lagi dokter Arga memanggilku kakak.


"Arga!" Seru Tuan Nathan.


"Ups, Sorry" Dokter Arga baru menyadari bahwa dirinya salah bicara.


"Tuan Arga, mari saya antar keluar" Pak Didi yang dari tadi hanya diam berdiri dan melihat akhirnya bicara, dan dia tahu kalau Tuannya sudah terlihat akan meledak amarahnya.


"Ya, ya, baiklah. Cepat sembuh ya kakak, lain kali kita bisa ngobrol lebih lama" Dokter itu pamit undur diri karena telah di usir secara tidak langsung, namun sepertinya dia sengaja meledek Tuan Nathan.


"Pak Didi, cepatlah bawa dia keluar"


"Baik, Tuan."


"Bye, kakak" Dokter Arga beranjak pergi sembari menunjukkan mimik wajah lucunya.


Setelah kepergian dokter Arga dan Pak Didi Tuan Nathan lalu membuka penutup salep dan mengoleskan ke lukaku dengan perlahan sembari sesekali meniupnya.


"Masih sakit ya? tenanglah sebentar lagi akan sembuh setelah ini" Tuan Nathan mendengar rintihan lirihku saat tangannya menyentuh lukaku. Sakit memang terasa.


"Sudah, terimakasih, Tuan"


"Berbaringlah saja, jangan turun. Biar pak Didi antar makan malam ke atas" Dia menyuruhku berbaring di sofa untuk istirahat.


"Tidak, tidak perlu Tuan. Saya masih bisa turun" Aku menolaknya.


"Bisakah kau menurut pada saya!" Dia mulai memperlihatkan ketegasannya lagi.


Jika dia sudah seperti itu, aku bisa apa? Akhirnya aku menuruti permintaannya, lagian ini akan baik untukku juga, karena Sisi tidak akan melihat luka ku ini. Kalau sampai dia melihat pasti akan sedih dan kalau sampai Ibu juga tahu pasti beliau juga akan bertanya terus-terusan. Aku tidak mau kalau masalah ini Ibu dan suamiku akan bertengkar.


Sesaat kemudian Pak Didi datang membawa makanan ke dalam kamar. Aku melihat makanan hanya ada satu porsi saja, yang membuatku sampai menelan ludah adalah porsi dalam satu piringnya.


Terlihat nasi yang menggunung dengan sayur dan lauk pauk yang terpisah, menurutku itu porsi untuk dua orang. Tidak mungkin aku bisa menghabiskan sendirian.


"Kenapa kau melihatnya begitu? Tidak suka?"


"Tidak"


"Hah, tidak!?"


"Bukan, hanya saja terlalu banyak..."


"Ini bukan hanya kau saja yang makan" Dia yang sudah memegang piring lalu memakan sendiri makanannya.


Yah, katanya makanan untukku, kenapa dia makan sendiri?


Aku mulai sebal jika melihatnya seperti itu. Sebenarnya aku juga sudah lapar, apalagi saat aku melihatnya makan yang sepertinya sangat enak. Perutku pun tidak bisa di ajak berbohong dan tiba-tiba saja berbunyi seperti ayam.


Kruk, Kruk.


"Hemm, ternyata kau sudah lapar juga rupanya" Dia tergelak mendengar bunyi perutku yang lancang.


"Tidak..." Aku menyangkalnya dengan mengerucutkan bibirku.


"Baiklah, kau boleh makan ini" Dia memberiku makanan yang sudah dia makan.


Apa-apaan ini, dia memberiku makanan sisany


"Kenapa malah bengong?" Dia ambil lagi piring yang ada di pangkuanku.


"Oh, tangannya masih sakit ya. Biar saya suapin"


"Tidak, saya belum lapar" Aku tidak mau di suapin karena aku masih bisa makan sendiri.


"Buka mulutnya" Dia mulai memaksaku, dan aku masih bungkam.


"Ayolah, apa kau merasa jijik pada saya? Ingat aku suamimu bukan orang lain" Aku hanya menggeleng dan menatapnya serius.


Aku ingin melihat dari mimik wajahnya, adakah rencana busuk yang akan di berikan lagi padaku setelah perlakuan manisnya?


"Tenanglah, saya tidak akan menggigit mu lagi" Dia meyakinkanku tidak akan berbuat kasar lagi.


Dia menyodorkan lagi sendok yang sudah berisi makanan ke mulutku, perlahan aku pun membuka mulut dan mengunyah makanannya. Ku lihat dia tersenyum saat aku mau menguyah makanannya.


Senyum yang jarang dia tunjukkan pada orang, dan nampak lesung pipi di kanan kirinya yang menambah daya tariknya. Tatapan matanya melembut saat dia menyuapiku membuatku merasa nyaman dan tidak takut.


Ya Tuhan, apakah salah jika suatu saat nanti aku jatuh cinta padanya? Mungkinkah aku jadi wanita serakah saat aku benar-benar memiliknya, seutuhnya dengan segala yang dia punya?


.


.


Bersambung 😊