
Sampailah di pinggir jalan depan toko, sengaja aku tidak ingin di antar masuk karena pasti semua orang di dalam kecuali Doni, akan heboh jika melihat aku bersama lelaki yang tampan yang terkenal. Dan mungkin mereka juga sudah mendengar kabar tentang perpisahan ku dengan Mas Arsya.
"Bekerjalah dengan baik, jangan cuma berduaan dan mengenang masa lalu saja." Pesannya padaku sesaat sebelum aku turun dari mobilnya.
Berduaan? Kau pikir aku pacaran.
"Baik, Tuan..."
"Apa?" Terlihat dia tidak terima dengan panggilan Tuan.
"Kesalahan pertamamu hari ini. Nanti siang aku tunggu di kantor. Ken akan menjemputmu."
"Hem, iya baiklah. Sayang..." Ucapku seraya tersenyum lalu turun.
Menyuruhku ke kantornya lagi, sebenarnya aku malas ke sana. Di sana pasti hanya menunggunya bekerja dan pasti aku akan di bolehin buat balik ke toko lagi. Tidak hanya itu, karyawan di sana pasti akan lebih penasaran kalau aku sering ke sana.
"Pagi..." Salam ku pada mereka.
"Pagi, Bu..." Sapa Evi dan juga Rara.
"Di mana Tika? Ko gak kelihatan" Aku tidak melihat sosok Tika yang selalu cerewet.
"Apa dia belum kasih kabar ke Ibu kalau dia hari ini izin?"
"Oh, enggak tuh!"
Tidak ada pesan apapun di ponsel dari Tika. Mungkin saja dia belum tahu no ku yang baru, karena aku lupa belum memberitahunya.
"Ya sudah berarti hari ini kita akan sedikit sibuk karena kurang orang."
"Iya, Bu gak apa-apa." Jawab Rara.
"Tapi Doni udah ada kan di atas?"
"Belum Bu, belum datang orangnya."
"Tumben bener tuh bocah belum datang" Ucapku sembari berjalan masuk ke ruangan ku.
Aku mencoba untuk menghubungi Doni tapi tidak di angkat. Aku chat dia tidak di balas padahal sedang online. Aku mencoba telepon lagi malah terus gak aktif.
"Doni kenapa ya...?"
Aku jadi kepikiran padanya, tidak biasanya dia begini. Biasanya dia juga ngasih kabar,dan biasanya juga dia angkat telepon dari ku.
"Ada apa dengannya? ck, bikin kepikiran aja terus." Setelah ku letakkan ponsel, aku mulai membuka laptopku.
"Doni nggak ada, Tika juga nggak ada. Terus pekerjaan gimana?"
Pesanan barang hari ini lumayan banyak, tapi orang yang kerja sedikit. Aku harus turun tangan bantuin mereka.
Saat aku tengah sibuk di lantai atas, aku di kejutkan dengan suara seseorang.
"Apa kau sedang sibuk?"
Aku pun menoleh ke arah suara yang muncul.
"Mas Arsya..." Lirihku, datang-datang langsung ke atas tidak menunggu di bawah.
"Ya, maaf jika mengagetkan mu."
"Ada apa, kau datang kemari?" Tanyaku sedikit dingin padanya.
"Apa bisa bicara sebentar?"
"Tidak, aku sedang sangat sibuk hari ini." Tolak ku tegas.
"Jesi, sebentar saja. Aku janji tidak akan lama. Aku hanya menyampaikan pesan Karla untuk mu"
"Baiklah ayo kita turun, aku tidak mau nanti ada yang salah sangka karena kita hanya berdua di atas."
"Iya."
Aku mengajaknya untuk berbincang di ruang kerjaku.
"Silahkan duduk." Ucapku setelah sampai di dalam.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" Tanyaku langsung setelah dia duduk.
"Karla ingin bertemu denganmu."
"Untuk apa?"
"Aku juga tidak tahu."
"Lalu, di mana dia? Kenapa dia tidak datang langsung ke sini?"
"Dia_, dia ada di rumah sakit. Dia sedang sakit."
Aku sempat bengong mendengar Karla ada di rawat di rumah sakit. Setahuku dia itu wanita yang sehat, dan tidak punya penyakit apa-apa.
"Dia habis operasi pengangkatan rahim."
"Hah!"
Aku terkejut mendengar Karla di angkat rahimnya, itu berarti dia tidak akan bisa punya anak lagi.
"Saat ini dia ingin bertemu denganmu, apa kau bisa menyempatkan waktumu sebentar untuk menjenguknya?"
"Aku..." Bingung, jika aku pergi pekerjaan ku gimana? jika tidak, aku juga tidak tega. Sesama wanita aku merasa kasihan.
"Kasihan dia, setelah rahimnya di angkat dia sangat sedih sekali. Berkali dia bilang ingin menyerah dan tak mau hidup lagi."
Kasihan sekali...
"Baiklah, aku akan ke sana tapi tidak sekarang. Pekerjaan ku sangat banyak, mungkin nanti siang pas jam makan siang aku bisa ke sana sebentar."
"Terimakasih, Nyonya Nathan."
"Ya, sebaiknya kau cepat kembali ke rumah sakit. Kasihan istrimu."
Setelah kepergian Mas Arsya aku kembali melanjutkan pekerjaan yang menumpuk. Bekerja dengan pikiran yang terbagi-bagi. Karla yang nasibnya kurang beruntung harus menerima takdirnya sekarang, Doni yang entah kemana juga, aku tidak tahu.
Sampailah aku di rumah sakit tempat Karla di rawat. Aku sudah berada di depan pintu kamarnya setelah aku mencari sebelumya.
Setelah ku buka pintu, terlihat tubuh lemah dan tak berdaya terbaring di sebuah ranjang pasien. Wajah cantik yang biasanya berhias dengan make up, kini nampak kelihatan pucat dan tidak bercahaya.
Benar-benar kasihan wanita ini.
Aku sebagai perempuan bisa merasakan apa yang di alaminya saat ini. Rahim wanita adalah hal yang paling berharga, tanpa itu hidup akan terasa hampa karena dari situlah darah kita akan mengalir menjelma menjadi seseorang yang paling dekat dan berharga bagi wanita.
"Jesi, kau sudah datang rupanya." Ucap mas Arsya saat melihatku yang masih berdiri di depan pintu.
"Masuklah..."
Kemudian aku masuk dan meletakkan buah yang ku bawa di atas meja dekat ranjang pasien.
"Duduklah di sini, aku akan keluar sebentar" Ucap Mas Arsya memberikan kursi yang sebelumnya ia duduki di samping ranjang.
"Iya, baiklah. Apa dia sudah tidur dari tadi? Aku takut mengganggunya."
"Tidak apa-apa, aku yakin jika dia bangun dia akan senang melihat mu."
"Ya sudah, pergilah."
Memandang wajah pucatnya membuat aku merasa sangat iba. Seolah aku lupa akan setiap perlakuan buruknya padaku.
"Karla, apa yang terjadi padamu? Kenapa bisa jadi seperti ini?" Ucapku lirih sembari ku nggenggam tangannya pelan agar tidak membangunkannya.
"Harusnya kau tidak seperti ini, entah kenapa aku lebih suka melihatmu seperti dulu, meski kadang ucapanmu menyakitiku."
Aku merasakan pergerakan jarinya satu persatu, dan perlahan mengerat. Matanya pun juga mulai terbuka.
"Jesi, kau datang. Lihatlah aku sudah tidak tidak berdaya lagi, aku sudah tidak sempurna lagi. Aku tidak berguna sekarang sebagai istri Mas Arsya." Ucapnya sembari terisak.
"Karla, tenanglah. Kau sebentar lagi akan pulih, tidak ada yang bilang kau tidak berguna. Percaya padaku semua akan berlalu, Mas Arsya masih mencintaimu seperti dulu."
"Bagaimana dia akan mencintaiku kalau aku tidak bisa memberikan keturunan padanya?" Karla saat ini sudah merasa sangat pesimis sekali.
"Karla, tidak seperti itu. Aku yakin dia masih mencintaimu."
"Apa kau yakin dia tidak akan menceraikan aku dan ingin kembali padamu?"
"Tentu saja!" Ucapku menenangkannya, meski aku sendiri tidak yakin untuk kedepannya mereka akan seperti apa.
"Karla, jangan kau berpikir macam-macam yang tidak akan terjadi. Kau harus pulih dan sembuh. Hidupmu masih panjang dan harus terus berlanjut."
"Jesi, apa boleh aku meminta sesuatu padamu?"
"Katakanlah, aku akan memberikannya jika aku bisa."
"Kau bisa, sangat bisa."
Entah apa yang di inginkan Karla hingga dia sangat yakin aku bisa memberikannya? Akan aku usahakan mengabulkan permintaannya, asalkan dia tidak meminta aku untuk kembali pada Mas Arsya. Tidak, tidak akan aku lakukan, demi apapun.
"Katakan saja, aku berharap kau tidak minta sesuatu yang tidak mungkin bisa aku lakukan."
Terlihat dia ragu dan takut untuk mengatakannya. Membuatku berpikir ulang kembali untuk mengabulkan permintaannya. Aku berharap apa yang aku pikirkan bukanlah apa yang akan dia minta.
.
.
Bersambung☺️
Sampai sini dulu ya teman, terimakasih buat yang selalu setia ngikutin karya ini🙏Inilah kekurangan author yang belum bisa konsisten buat up tiap hari😔