Second Marriage

Second Marriage
Bab 63 Mengakui



Bukan cuma wajah yang merah padam tapi tangannya juga mengepal erat, hingga buku-buku jarinya berbunyi 'krek, krek'. Dia sangat terlihat marah sekali.


Tapi entah marah yang bagaimana, mungkin marah karena aku berduaan dan mungkin juga marah karena aku telah di bawa mantan suami tanpa seizinnya?


"Dasar bajingan...!"


Bag, bug, bag, bug.


Sekertaris Ken langsung menarik Mas Arsya dan memukulnya berulang kali. Mas Arsya yang tidak siap pun tidak bisa melawan serangan dari sekertaris Ken yang membabi-buta.


"Pria brengsek, pengecut, pecundang!" Banyak umpatan yang keluar dari mulutnya tanpa pikir panjang.


Aku yang melihatnya langsung merasa ngeri dan takut. Aku takut Mas Arsya akan mati konyol di tangan sekertaris Ken. Di saat aku sedang menjerit karena takut, Tuan Nathan langsung menghampiriku dan memeluk tubuhku yang gemetar lalu membenamkan wajahku di bidang dadanya yang lebar.


"Tuan, tolong hentikan" aku berusaha bicara agar sekertaris Ken menghentikan pukulannya. Namun sepertinya sia-sia, Tuan Nathan tetap bergeming dan justru mengeratkan pelukannya. Tanpa sadar pun aku melakukan hal yang sama yakni memeluknya dengan erat.


Kaki ku sudah terasa lemas, menyaksikan langsung kekerasan yang dilakukan oleh sekertaris Ken. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhku, aku hampir kehilangan keseimbangan dalam pijakan kaki yang gemetar. Beruntung tangan kokoh Tuan Nathan mampu menyanggah tubuhku.


"Tu_Tuan, aku mohon hentikan. Jangan kotori tangan Anda untuk orang seperti dia" Dengan suara yang melemah aku kembali meminta padanya untuk melepaskan Mas Arsya.


"Ken, cukup!" Sedikit lega aku mendengarnya meskipun aku masih takut, dia pasti akan terluka parah.


"Dan kau, jangan coba-coba untuk menyentuh istriku!"


Deg


Aku terkesiap di tengah rasa takutku, dia mengeluarkan peringatan keras dan mengakui ku sebagai istrinya.


Benarkah ini? Ataukah dia hanya main-main saja?


Perasaan bahagia muncul begitu saja, tanpa aku tahu perasaan ini salah atau benar. Mendengar dia mengatakan itu membuatku tanpa sadar tersenyum.


Saat aku ingin menoleh ke arah mas Arsya Tuan Nathan menahan kepalaku agar tetap bersandar dan tidak boleh melihatnya. Setelah itu ku rasakan tubuhku seperti melayang, ternyata Tuan Nathan mengangkat tubuhku dan membawa pergi dari tempat itu.


Dia membawaku masuk ke mobilnya dan menemaniku duduk di belakang. Sepanjang perjalanan dia hanya diam, tidak ada sedikit pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Tangan kekarnya masih tetap memelukku dengan erat, pandangan matanya tajam dan lurus ke depan.


"Ma_maafkan saya, Tuan" Sedikit terisak, entah perasaan apa saat ini? Sedih, terharu atau senang karena dia masih peduli denganku dan sudah mengakui ku sebagai istrinya di hadapan mantan suamiku, atau mungkin takut akan kemarahannya? Semua masih terasa abu-abu di hatiku.


Tuan Nathan tetap diam tak menjawab meski hanya dengan satu kata 'Hem' saja. Itu biasa dia lakukan saat malas menjawab pertanyaan ku.


Aku tahu dia sangat, sangat marah kali ini. Tapi yang tidak aku tahu alasan di marah itu apa? Mungkinkah dia benar-benar khawatir padaku atau hanya karena rasa perikemanusiaan di hatinya? Kenapa juga sikapnya terlihat abu-abu, gak jelas gitu.


Setelah dia tidak bersedia menjawab pertanyaan, aku sudah tidak berani bertanya lebih lagi padanya. Susana hatinya mungkin saat ini sedang buruk, hingga dia tidak bisa berkata-kata lagi.


Dalam perjalanan yang lumayan jauh, aku terus bisa merasakan detak jantungnya. Detak jantung yang tadinya berlarian perlahan mulai normal kembali. Aku merasa lelah tapi mataku sulit terpejam, pikiranku terbagi antara sikap Tuan Nathan saat ini dan keadaan Mas Arsya sekarang. Dia pasti sangat terluka dan bisa jadi lukanya itu parah dan memerlukan penanganan seorang Dokter.


Setelah satu jam perjalanan ku rasakan hembusan nafas hangat dan teratur darinya. Mataku melirik ke atas untuk melihat wajahnya ternyata dia tertidur, dengan perlahan aku ingin melepaskan diri dari pelukannya. Karena sudah mulai merasa sesak, tidak leluasa bergerak.


Perlahan aku mulai menggerakkan tubuhku agar dia tidak terbangun. Dengan tangan satu dia memelukku sedangkan tangan yang lain sudah menggelantung. Namun dia masih bisa merasakan pergerakan badanku hingga dia menahan tangannya kuat di bahuku. Dan aku tidak bisa lepas dari pelukannya.


Aku mencoba merilekskan diri dalam dekapannya agar dia juga tidak terusik dalam tidurnya. Rasa hangat yang dia berikan membuatku sedikit demi sedikit merasa nyaman. Perjalanan yang masih jauh membuatku merasakan kantuk yang berat, dan akhirnya aku mencoba memejamkan mata juga.


Berharap hari ini akan cepat berakhir. Hari yang berat ku lalui, pertama aku melihat kenyataan kekasih suamiku telah kembali. Dan kedua aku mendapati mantan suamiku telah berbuat nekat yang akhirnya membuatnya terluka dirinya sendiri. Dan ketiga aku mendengar suami kontrakku telah mengakui aku sebagai istrinya di hadapan mantan suamiku yang belum tahu kalau aku sudah menikah. Tapi entah pengakuan macam apa itu? Apakah hanya di mulut saja atau memang dari hati?


Aku buka mata merasakan sebuah pergerakan tangan yang melingkar dalam tubuhku. Ternyata aku juga tertidur dalam pelukannya.


Tiba-tiba aku teringat, terkadang aku tidur suka mengeluarkan air liur. Aku langsung bangun dari pelukannya, tanganku dengan cepat mengusap mulutku.


"Apa yang kau coba hapus? Air liur?" Tanya Tuan Nathan.


"Ma_maaf, Tuan. Baju anda terkena air_" Aku sungguh malu sekali telah kedapatan tidur di pelukannya bahkan mengeluarkan air liur. Ah, menjijikkan sekali bukan?


"Tidak apa"


"Hah?" Aku terkejut mendengar jawabannya, aku harap dia tidak salah minum obat atau kesambet setan baik saat tertidur tadi. Kenapa dia tidak marah?


Aku mengusap-usap pakaiannya dengan tanganku sembari tersenyum malu.


"Maaf sekali lagi maaf"


"Hem" Jawanya sembari membuka ponselnya dan menelpon seseorang.


"Pak Didi, persiapkan air hangat untuk Nyonya. Sebentar lagi kami akan sampai."


Oh ternyata dia menelepon kepala pelayan dan menyuruh untuk mempersiapkan air mandi untukku. Aku menatapnya heran, kenapa dia jadi sangat baik seperti ini? Dia bahkan tidak marah padaku.


"Jangan lupa pakaiannya!"


Apa tidak salah? Pak Didi di suruh menyiapkan pakaian ganti untukku. Memang Pak Didi tahu pakaian mana yang ingin aku pakai?


"Tu_Tuan, saya rasa kalau untuk itu saya bisa siapkan sendiri" Pintaku, aku akan malu kalau sampai Pak Didi juga mempersiapkan pakaian dalamku.


"Tidak perlu, kau harus banyak istirahat" Ucapnya setelah mematikan sambungan telepon.


"Ta_tapi aku baik-baik saja"


"Jangan pernah kau bilang baik-baik saja, setelah yang terjadi padamu"


"Tapi benar aku ba_"


Cup


Aku langsung terdiam saat dia mengecup kilat bibirku. Aku mematung mendapat serangan dadakan seperti itu.


"Pembangkang!" Umpatnya padaku.


Jantungku seperti berhenti sejenak saat dia menciumku.


"Tak perlu terkejut, aku ini suamimu bukan selingkuhan mu!" Dia masih setia menatap ponselnya.


*Bagaimana aku tidak terkejut? Kelakuannya itu loh, tidak seperti Tuan Nathan yang ku kenal.


Aku justru malah takut, membayangkan apa yang akan terjadi setelah sampai di rumah?


.


.


Bersambung😊*