
Pikiranku tertuju pada anakku, jika Tuan Nathan menginginkan anakku untuk membayar kebaikannya, maka aku pastikan akan kabur. Bagaimanapun caranya aku benar-benar akan lari.
"Tuan, apa yang anda inginkan dariku? aku sudah tidak punya apa-apa lagi!" aku menatapnya tajam.
"Saya tahu itu" Tuan Nathan mengeluarkan selembar kertas, di letakkan di atas meja.
Apa ini? lagi-lagi aku harus berhadapan dengan kertas. Kenapa dia hobi sekali memberi kertas padaku? sudah seperti penggemar yang selalu minta tanda tangan pula.
Tuan Nathan menyodorkan kertas berikut penanya. Dia menyuruhku untuk kembali mengukir nama, berikut coretan hitam di atas putih. Aku membaca dengan teliti setiap tulisan yang tertera. Setiap kata yang keluar adalah aturan bagiku. Apakah ini juga termasuk aturan bagiku?
Ini adalah hidupku, aku punya hak atas hidupku sendiri. Tapi sejak bertemu dengannya aku hanya seperti sebuah mainan baginya yang dapat di mainkan sesuka hatinya. Aku seperti tidak punya hak lagi atas diriku sendiri.
Dan sekarang permintaannya lebih menggila dari sebelumnya. Aku tidak habis pikir takdir akan membuatku begini. Setelah aku lepas dari hubungan yang tidak sehat dengan mas Arsya, sekarang aku harus memulai hubungan rumit dengan seorang Nathan Darwin Erlangga, penguasa sekaligus pemilik beberapa perusahaan.
"Tu_tuan, in_ni, tidak salah?" suaraku tercekat menanyakan isi tulisannya.
"Tidak" jawabnya singkat sembari menutup laptopnya.
Aku seperti tidak percaya dengan keinginannya. Dia mempercepat perceraian ku dan membuat segalanya mudah hanya untuk membuat pernikahan kontrak denganku.
Dalam suratnya dia berjanji akan menggaji ku setiap bulan, dan akan menjamin masa depan putriku. Jika seperti itu bukankah sama saja dia memandang rendah diriku, tapi kalau aku menolak, aku tidak tahu harus kemana? terlebih dia menjamin bahwa aku tidak akan mendapat pekerjaan di manapun. Dia akan mem-blacklist namaku. Dia juga jadikan anakku sebagai ancaman.
"Apa kau bersedia?" tanya Tuan Nathan.
"Apa saya bisa menolak? tentu saja tidak kan!" ucapku sedikit ketus.
"Bagus! status mu adalah istriku tapi tetap pelayan bagiku." Ucapnya dengan sudut bibir yang mengembang.
Aku kembali memberikan persetujuan atas tindakan nya yang memaksaku untuk menjadi istrinya, bahkan aku di jadikan istri kedua olehnya. Aku benar-benar sudah tidak punya harga diri lagi karena aku tidak bisa menolaknya.
Masa bodoh dengan harga diri, apapun aku lakukan demi putriku tetap baik-baik saja.
"Berakting Lah dengan baik, jika kau berada di rumah, layaknya seorang artis profesional"
Tuan Nathan benar-benar berkuasa, apa jadinya nanti kalau sampai Nyonya Sonya tahu? pasti aku akan di tuduh sebagai pelakor. Aku tidak menyangka akan menyandang status itu, aku sudah seperti Karla yang merebut suami orang.
Aku akan menyakiti perasaan seorang istri yang baik seperti Nyonya Sonya, dia baik kepada siapapun tanpa memandang status.
"Apa kau bisa?" tanya tuan Nathan tegas.
"Baik, Tuan" jawabku dengan menunduk, sedih dengan takdir hidup yang seperti mempermainkan aku.
"Ken, ayo kita pulang. kita akan bawa kabar gembira ini ke rumah"
"Baik, Tuan" jawab sekertaris Ken
Kemudian Tuan Nathan beranjak dari tempat duduknya, di ikuti sekertaris Ken dan aku mengikut di belakangnya. Langkah kakinya yang cepat selalu saja membuatku sedikit berlari agar tidak tertinggal jauh di belakang.
"Pak Ken, kenapa anda tidak bilang tadi tentang masalah ini?" suaraku terengah-engah karena jalan cepat.
Sekertaris Ken hanya tersenyum tanpa menjawab sedikit saja kata. Sesampainya di meja resepsionis aku lupa mengembalikan ID yang ada di leherku hingga membuatku harus berlari balik, saat teringat di pintu keluar.
Sekertaris Ken membukakan pintu belakang mobil untuk Tuan Nathan, lalu pintu depan untukku. Dalam perjalanan menuju rumah Tuan Nathan suasana mobil hanya sepi, semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing.
Aku akan menjadi istri seorang Tuan Nathan, seperti hal yang mustahil dalam pikiranku. Menjadi istri yang berkedok pelayan, bukan benar-benar istri yang sebenarnya. Aku tidak tahu tujuannya apa, kenapa dia memilihku?
Sekertaris Ken memberhentikan laju mobil di depan sebuah toko bunga, Tuan Nathan ingin membelikan bunga untuk Nyonya Sonya.
"Turunlah, belikan bunga!" perintahnya padaku, lalu sekertaris Ken memberikan aku beberapa lembar uang kertas.
Apakah dia lupa kalau aku alergi dengan bunga?
Aku sudah cemas menerima uang itu, bagaimana nanti jika aku bersin-bersin? Tuan Nathan pasti akan marah, tapi jika aku tidak mau juga pasti akan marah.
"Bunga apa? Tuan" aku menoleh ke arah Tuan Nathan yang sedang memandang ke toko bunga.
Apa yang ku suka? sebenarnya aku suka semuanya tapi bukankah bunganya untuk **Ny**onya Sonya?
"Ayo, cepat turun!" melihatku yang masih bergeming.
"Ta_pi, saya" aku rasa percuma mengingatkannya kalau aku alergi dengan bunga.
Lalu aku turun dengan sedikit kesal, aku menoleh melihatnya ternyata dia sedang terkekeh melihatku. Mungkin dia sengaja menyuruhku bersentuhan dengan bunga.
Bunga apa yang harus ku beli? aku bingung semuanya indah dan harum. Tidak ada kan bunga yang tidak harum?
"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya seorang laki-laki yang masih muda dan berparas tampan.
"Iya, saya mau cari bunga" aku tersenyum ramah padanya.
"Bunga apa? Mbak"
"Apa ya...?" ucapku seraya menempelkan jari telunjuk dan mengetuk-ngetuk kan di bibir, mataku tak lepas memandangi bunga yang agak jauh dariku.
"Itu aja deh Mas" jari telunjukku menunjuk bunga lili putih.
"Oh, bunga Lili..." ucap pegawai itu lalu mengambilkan sebuket bunga lili putih.
"Stop Mas!" ucapku saat dia akan menyerahkan bunganya langsung. "Bisa di bungkus bunganya, Mas?" aku menyuruh untuk membungkus rapat bunga Lili itu.
Pegawai itu sempat melongo, menatapku heran sesaat kemudian dia mengerti dengan yang aku maksudkan. Walaupun bunga sudah di tutup rapat tapi aku masih mencium aromanya dan itu membuatku bersin meskipun tak separah saat aku mencium aromanya langsung.
"Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Tuan Nathan saat aku sudah duduk di dalam mobil. "Lama sekali."
"Saya_, huachi" belum sempat aku menjawabnya sudah bersin karena bunga masih ada di tanganku.
"Jangan keganjenan sama berondong" ucapnya, kini matanya fokus dengan layar ponsel.
"Apa? ganjen!" aku kasih paksa bunga itu pada sekertaris Ken. "Tadi saya hanya meminta bungkus saja, Tuan"
"Senyummu itu jelek, tidak akan bisa menggodanya" bukan pertamakali Tuan Nathan mengejekku, dan sepertinya aku sudah kebal.
Menghina sekali dia, benar-benar sombong! apa dia pikir senyumnya manis. Lebih baik aku diam saja daripada adu mulut gak jelas.
Terlihat sekertaris Ken pun tersenyum melihat perdebatan kecil ku dengan Tuan Nathan. kedua pundaknya bergetar, dia tertawa seraya menggelengkan kepalanya. Kemudian dia melajukan mobilnya, dia menyerahkan bunga itu kembali padaku. Aku kembali mengeluarkan bersin saat bunga sudah di tanganku, dan itu akan berlangsung terus hingga sampai di rumah Tuan Nathan jika tidak di buang.
Akhirnya sebelum sampai di rumah Tuan Nathan, dia menyuruhku untuk membuangnya. Meskipun sayang untuk di buang karena selain indah tapi juga sudah di beli dengan harga yang tidak murah.
Detak jantungku sudah mulai naik saat aku turun dari mobil dan berjalan masuk mengikuti Tuan Nathan. Pak Didi yang membukakan pintu, matanya tertuju padaku, seolah bertanya kenapa aku bisa datang bersama Tuan Nathan?
Aku melihat Nyonya Sonya sedang berada di ruang keluarga menonton berita bisnis. Dia terlihat sangat serius saat menonton. Jantungku kembali memompa lebih cepat saat aku berhadapan dengannya. Aku benar-benar akan menyakitinya karena aku bersedia menikah dengan suaminya. Aku terpaksa melakukannya, ini demi anakku dan tidak akan berlangsung lama. Status ku memang istri, tapi aku hanya pelayan baginya.
"Eh, Nathan..., tumben sudah pulang. Sini duduklah ada berita, cabang perusahaan kita yang ada di kota A mengalami penurunan" nyonya Sonya sadar akan kedatangan kami.
"Biarkan saja, ada yang penting yang ingin ku sampaikan" ucap Tuan Nathan yang semakin membuatku takut.
"Nyo_nya, maafkan saya" ucapku sebelum Tuan Nathan mengatakan maksudnya.
"Jesi, ada apa? kenapa kau tegang sekali?" aku menunduk saat Nyonya Sonya bertanya padaku.
Aku semakin gugup saat Nyonya Sonya berdiri, tanganku sudah terasa dingin karena takut. Nyonya Sonya pasti akan marah besar saat tahu Tuan Nathan ingin menikahi ku. Aku yang hanya pelayan di rumah ini tidak pantas aku bersanding dengannya. Apalagi aku seorang janda beranak satu yang baru saja bercerai. Apa kata nyonya Sonya nanti terhadapku, belum lagi opini publik. Mereka semua pasti akan menghinaku habis-habisan.
Bersambung...
Happy reading 😊
Author mengucapakan selamat menunaikan ibadah puasa buat yang menjalankannya🙏
Marhaban ya Ramadhan